Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Cerita Seputar Buku 'Maaf, Bapakmu Alien'

"Ini buku apaan sih?" Cara mudah mengidentifikasi buku 'Maaf, Bapakmu Alien' adalah dengan menyodorkan pertanyaan semacam itu. Bagi saya sendiri buku itu memang tergolong 'buku apaan sih'. Karena niat awal adalah membuat e-book sebagai penanda, bahwa saya sudah berstatus suami. Gaya penulisan yang saya gunakan juga gaya personal saya dengan tokoh utama adalah saya dan istri saya, serta beberapa teman yang saya jadikan cameo, dan juga beberapa alien dari planet lain. Setelah e-book nya rilis, saya seperti melupakan kepahitan demi kepahitan hidup yang saya alami. Karena bagi saya terkadang menulis itu dalam rangka menekan besaran tekanan hidup. Saya juga tidak tahu berapa jumlah manusia yang sudah mendownloadnya. Sekian bulan berlalu, hingga saya ketemu dengan Mujix, salah satu komikus asal Boyolali yang kece badai aduhai karyanya. Sebetulnya kami sudah berkawan cukup lama. Sering bertukar pengalaman berkarya. Malam itu, dia mengajak bertemu. Ingin menanyakan...

Bani Siapa? Trah Siapa?

Baru sadar lebaran kemaren. Saudara dari istri saya yang kemudian sudah jelas dan sah menjadi saudara saya juga, jumlahnya, cukup mengejutkan. Khususnya bagi saya pribadi. Melihat latar belakang keluarga saya yang konon agak sulit untuk dilacak detail silsilahnya, maka tatkala saya menemukan bahwa istri saya memiliki saudara yang demikian aduhai jumlahnya, saya lantas bertanya kepada istri saya. "Itu tamu siapa lagi? Kok nggak habis-habis?" "Oh. Saudara di sini kan banyak. Ada keluarganya Kaji.." "Kaji yang mana lagi? Perasaan dari tadi yang bunda sebutkan semua Kaji. Sampai bingung ayah." "Sudah dibilang keluarganya banyak kok. Ada Bani Idris, Bani.." "Bani?" "Keluarga Pati nggak gitu yak?" "Nggak ada Bani-Bani an gitu. Ayah paling pol mentok taunya ya kakek-nenek. Ke atas lagi udah nggak ngerti. Mau melacak sulit. Konon katanya sih saudara banyak juga yang nggak terdeteksi." "Jangan-jangan ayah yang ng...

Runtuhnya Benteng Puasa

Jauh sebelum lebaran, bapak mertua saya sudah menawarkan hal yang cukup menggiyurkan. "Kalau kamu pulang Kebumen nanti tak sembelihkan ayam. Bapak piara ayam. Jumlahnya lebih dari cukup sekarang." Sudah pasti. Imaji tentang bagaimana ayam-ayam kampung itu  tersaji dalam varian olahan masakan. Mungkin opor. Mungkin goreng gurih. Atau bumbu Bali. Bayangan itu meraung-raung memenuhi relung. Ayam kampung memang memiliki daya magis daripada ayam boiler. Teknik yang sangat bagus. Ini bisa menjadi pelajaran bagi teman-teman yang ingin mengundang saya. Kalau ingin saya datang, siapkan saja sesaji, pilih salah satu dari dua ini. Kambing atau ayam. Selesai persoalan kalian. Jadi, jauh sebelum puasa usai sebenarnya puasa saya sudah runtuh. Mungkin soal tahan menahan masih kuat. Namun isi kepala sudah tak karu-karuan. Melebihi acara masak memasak di teve. Baru dapat minggu kedua di bulan puasa aja, undangan buka bersama berdatangan. Apa inti dari buka bersama? Buka (makan dan minum) ...

Pertahanan dan Keamanan Puasa

Sampai di stasiun kereta api Kebumen, kami dijemput oleh keluarga kembaran istri saya. Mereka sudah dikaruniai anak alhamdulillah sehat. Gendut, chubby, laki-laki. Jarak tempuh dari stasiun kereta ke rumah mertua di Kebumen ternyata cukup dekat. Melewati kampus PGSD UNS cabang Kebumen kemudian sampai di jalan besar. Kurang dari sekilo sudah sampai di rumah mertua. Saya diboncengkan ipar sedangkan istri saya dan kembaran beserta anaknya naik becak motor. Sebuah kombinasi sempurna perkawinan antara becak dan motor. Bagi saya ini inovasi. Ini kreativitas yang layak diapresiasi. Nanti ketika waktunya tiba akan ada becak yang punya sayap atau baling-baling. Becak yang bisa terbang. Dan tak ada lagi jarak yang terlalu jauh antara abang-abang becak dengan pilot. Namanya Cak Wat. Becak pesawat tanpa pramugari. Lebaran di sini banyak makanan bertebaran di mana-mana. Setiap rumah menyuguhkan paling tidak menyuguhkan minimal 6 jenis makanan kecil. Jadi bisa dihitung berapa juta makanan kecil yan...

Dan Jajanan Itu Datang Sendiri

Beberapa tahun belakangan ini saya memang tidak terlalu ambil pusing terhadap perayaan lebaran. Terbesit untuk beli baju aja nggak. Apalagi beli cemilan, jajanan, atau apapun itu yang lazim ada di ruang tamu rumah-rumah pada saat lebaran. Lebaran salah satu indikatornya adalah menyebarnya beberapa jenis kue, biskuit, roti, yang dikemas dalam kaleng atau toples dan disajikan di meja ruang tamu. Pertama memang saya dan istri punya pikiran yang sama. Yaitu "memangnya siapa yang mau bertamu?" Hal itu semakin menguatkan keyakinan saya bahwa lebaran kali ini nggak usah beli makanan-makanan yang saya sebutkan tadi. Yang akan saya suguhkan adalah krupuk rambak. Tau? Jangan pura-pura nggak tau. Itu krupuk poluler banget. Murah memang. Sangat murah. Tapi urusan rasa. Beeehh... nggak ada duanya. Terlebih yang jual adalah tetangga sendiri. Jadi deket. Itu rencana saya. Namun, sekali lagi apa yang sudah saya rencanakan itu agak agak kurang berhasil. Popularitas rambak belum berhasil me...

Semburan Kasturi

Kami memutuskan bahwa sebelum tanggal 1 Syawal, kami harus sudah berada di Kebumen. Tak seperti tahun 1436 H. Tahun 1437 H ini kami, akan melakukan perjalanan laiknya sepasang suami-istri yang 'normal'. Karena kadang keputusan saya secara sepihak tergolong aneh bin ajaib. Tahun kemaren tradisi pulang kampung 1 syawal kami lakukan sebagai mana teman-teman pembaca sudah sering ketahui. Saya naik motor dari Solo ke Kebumen, istri saya naik kereta api dari Solo ke Kutoarjo untuk kemudian meneruskan perjalanan dengan menggunakan bus ke Kebumen. Bisa dipahami teman-teman? Ribet dan terlihat kurangnya aura kekompakkan dalam diri kami. Maka, oleh sebab itu kami tak mengulangi hal yang demikian itu tahun ini. Tahun ini kami sepakat bahwa kami akan semakin kompak. Setelah menimbang dan berdiskusi agak lama, mengukur tingkat resiko, memperhatikan dengan seksama dampak apa yang terjadi, akhirnya kami memutuskan untuk bersama-sama melakukan perjalanan dari Solo menuju Kebumen dengan menggu...

Motorku Dipasangi Jimat

Saya tidak mengada-ada. Saya sendiri juga awalnya tidak percaya dengan yang dilakukan teman saya, si pemilik bengkel kecil di Solo Selatan. Ini bermula saat motor kesayangan saya, honda grand astrea impressa 97 mengalami mogok parah yang kedua kalinya. Pada mogok parah yang pertama dulu, kata teman saya si pemilik bengkel, motor saya 'diganggu'. Saya tidak percaya. Pokoknya motor yang hasil pemberian ibu saya itu harus bisa aktif kembali. Mesinnya oke. Si pemilik bengkel itu sendiri yang bilang. Karena saya sudah langganan selama bertahun-tahun untuk sekedar perbaikan ringan dan ganti oli. Maka saya percayakan motor itu kepadanya. Alhasil setelah digarap selama empat hari berturut-turut akhirnya motor yang sudah mangkrak berbulan-bulan di kontrakan saya itu bisa ditunggangi lagi. Sebelum mogok parah yang kedua, motor saya mengalami kejadian memilukan. Kejadiannya setelah maghrib pada saat saya pulang membeli lampu kalau tak keliru. Di tikungan ada mobil antrian mobil dan bebe...

Pakaian Kesucian

Berkali-kali istri saya bertanya kepada saya. Pertanyaan yang menukik menjadi saran. Pertanyaan yang dimuati harapan agar saya menjawab "Iya." Tapi saya sendiri sulit menyediakan jawaban yang demikian. Justru yang keluar semacam pembentengan diri. Setiap istri menanyakan pertanyaan serupa, jawaban saya maksimal hanya senyuman. Sampai akhirnya saya tak kuat untuk tidak menjawab. Di suatu siang yang terik di tengah bulan puasa istri saya kembali menyodorkan pertanyaan itu. "Yah, kamu nggak pengen beli baju lebaran apa?" "Nggak." "Kenapa?" "Kepikiran ganti baju aja nggak. Apalagi beli." Istri saya menghela nafas cukup panjang. Sepanjang jalan kenangan. Tapi bukan istri saya kalau tak cerdik. Di suatu sore menjelang berbuka dia kembali mengemukakan pertanyaan. Namun pertanyaan kali ini agak sedikit berbeda dengan pertanyaan sebelumnya. "Yah.." "Apa bun?" "Kamu nggak beli sandal?" "Ehmmm.." s...

Tunjangan Setiap Hari

Memang, saya, layaknya manusia pekerja, yang memiliki atasan berlapis-lapis, akan sangat bergembira ria sekali jika mendengar kata THR. Entah kenapa yang namanya THR itu selalu identik dengan ekspresi ceria. Tunjangan Hari Raya dan Taman Hiburan Rakyat. Keduanya, menghibur. Baru tiga tahun terakhir ini saya akrab dengan THR. Dan bentuknya selalu sama yaitu uang. Dan inilah yang membuat saya gelisah berkepanjangan. Banyak uang baru beredar menjelang puncak peringatan Hari Raya. Saya memang agak sedikit geli dengan uang baru. Kalau saya punya banyak uang baru, rasanya sayang kalau mau digunakan. Kalau nggak dipakai ya terus gimana. Dilema melanda. Saya penasaran, sejak kapan mulai ada pembagian THR? Kenapa merujuk ke salah satu Hari Raya saja? Dan kenapa pembagiannya pas bulan Ramadlan? Kan kita puasa latihan menahan ya? Kalau digoda dengan THR kok saya rasa banyak yang tumbang di tengah puasa. Kok tidak dibagikan setelah Hari Raya saja? Atau dijadikan dua kali pembagian. Tahap pertama...

Sesaji Di Dalam Kulkas

Seperti otomatisasi, kehadiran kulkas di ruang tengah seakan memanggil-manggil makanan untuk berduyun-duyun datang dan tinggal di dalamnya. Kulkas ini jauh dari kata hampa. Selalu terisi, dengan cara yang misterius dan tak terprediksi. Seperti kisah-kisah jaman dulu. Ada periuk yang tiba-tiba berisi nasi padahal tak pernah ada beras satu butirpun di sana. Di tempat teratas tentu saja ada kotak pembeku. Oleh istri dimanfaatkan untuk membuat batu-batu es. Jaga-jaga kalau ada tamu yang suka makan batu es. Emang ada? Banyak kawan saya berjenis makhluk pemakan batu es. Berapa? Banyak. Laki atau perempuan? Perempuan. Makan es batu seperti ngemil kacang kulit. Jadi freezer ini merupakan tempat sesaji untuk makhluk-makhluk itu. Di rak kedua tepat di bawah freezer sering digunakan istri sebagai tempat penyimpanan kaki ayam atau yang lazim kita kenal dengan 'cakar'. Lebih menggugah selera disebut dengan 'ceker'. Saya berada di garda depan untuk urusan ceker ini. Ceker adalah s...

Nafsu Minum Bertambah

Karena kulkas, kami sekarang mengkonsumsi air rebusan sendiri. Meskipun demikian air galonan tetap ready steady buat jaga-jaga kalau ada tamu yang agak sedikit fanatik terhadap air. Semisal, "Mau minum apa? Anget? Dingi? Teh? Sirup? Apa kopi?" "Air mineral aja kalau ada. Tapi jangan yang isi ulang. Kalau bisa yang A***." "Emang ada air galonan isi ulang?" "Ada. Dan itu tidak sehat. Banyak kandungan zat besi dan..." "Tenang aja. Galonku bukan isi ulang. Tapi isi air." "????" Namanya tamu kan ya macam-macam jenisnya. Kalau nggak ditanya dulu nanti takut menyakiti hati. Kan nggak enak. Ada yang suka kopi gulanya dikit. Ada yang suka es teh esnya dikit. Ada yang suka teh anget dicampuri irisan jeruk. Kalau saya sendiri minum itu yang penting cukup untuk memenuhi kebutuhan cairan di dalam tubuh. Makanya sekarang saya sering menginstruksikan kepada istri agar lebih giat lagi mendukung gerakan 'AyoRebusSendiriAirMinummu...

Butuh Kedinginan

Setelah kulkas bermukim di ruang tengah, istri mulai mengaktivasi kemampuan memasaknya. Setiap pagi selama bulan puasa sebelum berangkat ke tempat kerja, dia menyempatkan berbelanja di tempat mbak Sri yang letaknya mepet dengan kontrakan kami. Katanya mbak Sri belum lama membuka warung si rumahnya. Sekitar empat tiga tahun yang lalu. Namun usahanya tergolong cepat berkembang. Rumah yang sekaligus warungnya baru selesai direnovasi sebelum bulan puasa kemaren. Hampir setiap pagi warung ini ramai pembeli. Mereka membeli berbagai macam kebutuhan. Dari yang pokok hingga yang bersifat pendamping saja. Murah. Kata itu yang mampu mewakili satu alasan kenapa warung mbak Sri berkembang pesat. Mbak Sri selalu mengawali paginya dengan berangkat kulakan ke Pasar Legi sekitar jam empat pagi dan sampai di rumah jam setengah enam pagi. Bagi istri berbelanja di warung tetangga menjadi sarana sosialisasi. Ketemu dengan tetangga yang lain. Membicarakan satu dua tema acak tentang apapun. Katanya istr...

Ada Kulkas Di Rumahku

Memang saya ke Solo 'kosongan'. Nggak bawa bekal apa-apa selain doa restu dan ridho bapak ibu dan kedua mertua saya. Setahun menempati kontrakan dengan trend hidup ala saya. Kalau teman-teman yang pertama kali mampir, pasti komentarnya sama. "Luas banget rumahmu." Lha ora luas piye mas mas. Kosongan model ngene ki ya mesti luas. Keuntungannya adalah saya dan istri bisa guling-guling dimana aja. Ruang tamu, ruang tengah, dapur, bahkan kamar mandi (opsi terakhir ini). Karena kosong ya mesti sejuk. Kalau rumah kalian gerah, dicek barang apa saja yang kalian simpan. Barangnya bisa menimbulkan panas apa nggak? Biasanya barang elektronik. Setelah sekian waktu berlalu, makhluk-makhluk imut yang sudah lama migrasi datang lagi ke rumah. Tikus. Mereka selalu membuat dapur porak poranda. Cabe bertebaran di mana-mana. Tomat sudah berlubang tengahnya. Tisu amburadul menyebar di bawah meja. Dan kabel magic com menjadi kudapan selanjutnya. Ealah. Kok ya tega. "Makanya. Ha...

Suami Magang

Iya. Liburan bagi kami adalah saat yang tepat untuk mengunjungi sanak famili. Namun kali ini kami memanfaatkan liburan dengan cara yang bagi sebagian orang mungkin cukup aneh. Teman sekantor cukup kaget mendengar rencana liburan kami. Respon yang muncul adalah "Kok bisa?!" Dengan ekspresi muka seperti melihat alien jualan nasi liwet di perempatan. "Aku ke Pati. Istri ke Kebumen. Iya bisa saja." Respon saya biasa. Sebiasa melihat birokrasi njlimet di Indonesia. Tapi ya begitu cerita saya. Sesekali boleh kita mengambil jeda. Dan liburan adalah saat yang tepat untuk mengambil jeda itu. Termasuk mengambil jeda untuk bertatap muka dengan istri. Jeda itu salah satu penyebab rindu. Dan rindu adalah bibit unggul untuk cinta. Awalnya istri sangsi. "Nanti kalau ditanya keluarga atau saudara yang lain gimana jawabnya?" "Iya dijawab apa adanya. Ayah kan juga harus ngurus pajak motor. Bunda kangen sama keluarga Kebumen. Jadi ya memang harus dibagi." Se...

Di Balik Layar e-book 'Maaf, Bapakmu Alien'

Begini. Salah satu dorongan munculnya ide e-book ini adalah keinginan saya untuk memperbaiki 'jurus' menulis yang selama ini seperti ala kadarnya. Kegelisahan saya cukup lama. Beberapa kali saya mencoba untuk menemukan cara menulis yang runtut, enak dibaca, serta tidak seperti hasil mutilasi atau berupa potongan-potongan semata. Namun beberapa draft naskah panjang juga tak kunjung menemu hasil akhirnya. Dengan kata lain, saya masih harus banyak belajar. Ketika keinginan untuk memperbaiki itu muncul, saya lantas berpikir, dari sekian file draft naskah, mana yang harus saya selesaikan? Bukan. Ini bukan semata pembuktian atau eksistensi kepenulisan saya. Jujur untuk menulis sesuatu yang panjang dan berkesinambungan saya belum memiliki kemampuan untuk itu. Saya terbiasa dengan cerpen, artikel pendek, opini kilat atau puisi tanpa makna. Setelah membuka draft naskah lama, saya semakin gelisah. Kalau harus menyelesaikannya, berarti saya harus membaca ulang. Maka daripada saya membac...