Beberapa tahun belakangan ini saya memang tidak terlalu ambil pusing terhadap perayaan lebaran. Terbesit untuk beli baju aja nggak. Apalagi beli cemilan, jajanan, atau apapun itu yang lazim ada di ruang tamu rumah-rumah pada saat lebaran. Lebaran salah satu indikatornya adalah menyebarnya beberapa jenis kue, biskuit, roti, yang dikemas dalam kaleng atau toples dan disajikan di meja ruang tamu.
Pertama memang saya dan istri punya pikiran yang sama. Yaitu "memangnya siapa yang mau bertamu?"
Hal itu semakin menguatkan keyakinan saya bahwa lebaran kali ini nggak usah beli makanan-makanan yang saya sebutkan tadi. Yang akan saya suguhkan adalah krupuk rambak. Tau? Jangan pura-pura nggak tau. Itu krupuk poluler banget. Murah memang. Sangat murah. Tapi urusan rasa. Beeehh... nggak ada duanya. Terlebih yang jual adalah tetangga sendiri. Jadi deket.
Itu rencana saya. Namun, sekali lagi apa yang sudah saya rencanakan itu agak agak kurang berhasil. Popularitas rambak belum berhasil mengalahkan popularitas snack-snack tadi. Awalnya istri mendapat parcel dari sekolahan. Saya sudah panik. Jajanan segitu banyak mau dikemanakan? Perut? Mulut?
Belum berakhir disitu. Giliran saya yang ditawari parcel oleh teman yang bertugas mengurusi pembagian parcel di kantor.
"Pak Didik pengennya apa?"
Saya berikan satu merk wafer. Saya minta satu kaleng saja.
Saya kira selesai disitu. Ternyata. Tiba-tiba ada WA dari seseorang yang baru bertemu dua tiga kali minta ketemuan di kantor. Ada hal yang mau disampaikan katanya. Saya temui utusan orang itu. Urusan selesai kemudian si utusan menyerahkan sesuatu.
"Ini buat Pak Didik."
"Ini apa?"
"Titipan dari bapak."
"Oalah. Maturnuwun.
Bingkisan lagi pemirsa. Sebenarnya pada saat mengambil parcel dari kantor parcel yang tadi itu langsung saya tawarkan ke teman-teman. Nggak. Saya bukan dermawan yang suka berbagi di bulan Ramadhan. Nggak. Saya juga bukan orang yang suka bagi-bagi rezeki saat lebaran.
"Ini saya minta bantuan buat menghabiskan. Tolong saya."
Saya satu teman dengan agak ragu mencoba merespon. Melihat gelagatnya yang ragu saya meminta tolong lagi.
"Ini tolong. Beneran saya minta tolong. Ambil yang mana. Kecuali ini." Saya memegang sirup warna kuning satu dan satu pack wafer.
Akhirnya ada yang mau menolong menghabiskan parcel itu. Saya bawa yang saya seneng aja. Tuh kan egois. Buka dermawan kan?
Sampai di rumah saya dan istri berdiskusi.
"Kita buka toko kelontong aja gimana?" Ide cemerlang dari saya.
"Mbok dikirim ke rumah Kebumen aja yah." Istri saya lebih cemerlang lagi idenya.
"Iya deh. Ambil secukupnya saya. Lagian siapa yang mau bertamu ke rumah."
Akhirnya saya kemasi beberapa makanan dan saya kirim ke Kebumen. Ruang tengah agak lega.
I think it's over. Yet.
Satu teman mengkontak. Ada perlu mau bertamu. Mau bincang soal proyek menulis dia. Ada satu seniman 'alamiah' yang beberapa waktu menekuni 'bunyi' yang hendak teman saya tulis. Saya sepakati jadwal ketemuan. Malam. Hujan.
Teman saya datang tidak hanya membawa pertanyaan soal apa yang pertama harus dikerjakan dan dilakukan karena dia awam dengan 'bunyi', melainkan juga membawa satu toples makanan sejenis astor.
"Apa ini?"
"Kanggo mas Didik."
Ealah.
Lagi. Sepasang teman yang merantau di luar kota datang. Mereka adalah dua insan yang sudah memantapkan diri untuk menyempurnakan separuh agamanya. Urusannya dengan saya adalah, mereka ingin mendengar penuturan saya terkait bagaimana saya ketika akan menjalani pernikahan. Saya katakan bahwa, ujian terberat adalah saat hati sudah mantap. Godaannya ada aja. Kalau yang nggak paham bahwa itu hanyalah kabut godaan pasti tumbang. Maka tidak heran sudah lama menjalin cinta tapi ujungnya putus tali asmara.
Sayangnya mereka datang dengan membawa buah pisang. Sak lirang. Lirang bahasa Indonesiane opo e?
Pisang itu kita bantai beramai-ramai ketika adzan Maghrib berkumandang. Meski begitu masih banyak tersisa. Ealah.
Lagi. Satu karib saya ingin menyelesaikan transaksi pesanan gitarnya. Saya kira dia hanya datang membawa uang. Ternyata dia juga membawa beberapa makanan kecil.
"Iki mas. Ben nggo bakdan."
Begitulah. Jajanan jajanan itu datang sendiri. Begitu banyak. Dan membuat saya bingung. Saya panggil istri saya.
"Bun. Kalau caranya gini. Kalau setiap tamu yang datang bawa makanan, lama-lama ayah jadi dukun lho. Datang bawa makanan, curhat. Dadi dukun tenan iki."
"Iki genep wong satus sing dolan opo ora kebak omahe bun."
Istri saya tersenyum.
Jajanan jajanan datang tak diundang. Jajanan itu datang sendiri.
Kadang apa yang dinanti tak kunjung datang. Begitu tak dinanti dia datang. Yang jomblo, kuat ya nak.
Komentar
Posting Komentar