Langsung ke konten utama

Semburan Kasturi

Kami memutuskan bahwa sebelum tanggal 1 Syawal, kami harus sudah berada di Kebumen. Tak seperti tahun 1436 H. Tahun 1437 H ini kami, akan melakukan perjalanan laiknya sepasang suami-istri yang 'normal'. Karena kadang keputusan saya secara sepihak tergolong aneh bin ajaib. Tahun kemaren tradisi pulang kampung 1 syawal kami lakukan sebagai mana teman-teman pembaca sudah sering ketahui. Saya naik motor dari Solo ke Kebumen, istri saya naik kereta api dari Solo ke Kutoarjo untuk kemudian meneruskan perjalanan dengan menggunakan bus ke Kebumen. Bisa dipahami teman-teman? Ribet dan terlihat kurangnya aura kekompakkan dalam diri kami. Maka, oleh sebab itu kami tak mengulangi hal yang demikian itu tahun ini.

Tahun ini kami sepakat bahwa kami akan semakin kompak. Setelah menimbang dan berdiskusi agak lama, mengukur tingkat resiko, memperhatikan dengan seksama dampak apa yang terjadi, akhirnya kami memutuskan untuk bersama-sama melakukan perjalanan dari Solo menuju Kebumen dengan menggunakan jasa PT. KAI. Kereta Joglokerto memiliki rute perjalanan sesuai dengan yang kami kehendaki. Kereta api tersebut juga akan berhenti di stasiun Kebumen. Itu artinya kami bisa menghemat dan menghimpun energi. Pilihan telah diambil dan kesepakatan telah dijalin. Maka, setidaknya kami harus melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Memesan tiket.
Cerita ini saya awali dengan adegan betapa linglungnya saya mondar-mandir di stasiun Purwosari. Seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
"Udah dapat tiket ay?" Sms dari istri saya. Oh iya. Saya sama istri seringnya pakai sms. Bukan BBM, WA, Line, Instagram apalagi telegram.
"Belum bun. Ni masih nyari-nyari tempat ambil nomer antrian. Dimana sih?" Balas saya.
"Coba tanya mbak-mbak atau mas-mas di sekitar situ yah."
"Nggak ada."
"Lha? Ayah di stasiun kan? Bukan di mall Robinson kan?"

Kemudian muncul mbak-mbak yang memakai samir bertulisan 'customer service'. Alhamdulillah.

"Mbak kalau mau ambil nomer antrian di sebelah mana?"
"Mas mau kemana?"
"Ke Kebumen."
"Sudah dicek masih apa nggak?"
"Mbak ambil nomer antrian di sebelah mana?"
"Sudah dicek belum mas?"
"Sudah. Tadi pagi saya suu.."
"Dicek dulu di bagian customer service sana."

Ealah.

Saya masuk ke ruangan customer service.

"Mbak."
"Iya mas."
"Kalau ke Kebumen masih?"
"Buat tanggal berapa mas?"
"5 Juli mbak."
"Bentar mas."
"Masih mas."
"Mbak. Kalau mau ambil nomer antrian dimana ya?"
"Ambil aja di dekat loket 1 mas."
"Makasih mbak."

Ealah.

Saya bergegas ke loket yang dimaksud. Namun saya masih clingak-clinguk. Mana ini?
Setelah mendapat arahan dari petugas loket, akhirnya saya mendapatkan nomer antrian 38. Dan sekarang baru antrian nomer 12. Tahu artinya? Menunggu. Tak apalah. Tinggal di bumi sudah 30-an tahun. Masa nunggu 2-3 jam nggak sanggup.

Duduk di sebelah saya mbak-mbak.
"Mas antrian nomer berapa?"
"38 mbak."
"Pake punyaku aja 31. Tadi aku ambil dua nomer. Yang satu 27 yang satu 31."
"Oh makasih mbak."

Alhasil saya tujuh nomer lebih cepat. Sambil menunggu istri saya sms terus. Mengecek bagaimana keadaan saya. Apakah baik-baik saja atau melakukan hal-hal mengkhawatirkan. Seperti akting sedang menelpon seseorang dengan pembicaraan yang nggak jelas.

Setelah satu setengah jam lebih, saya mendapat dua tiket keberangkatan dari Solo ke Kebumen. Untuk tiket keberangkatan dari Kebumen ke Solo belum bisa saya pesan. Karena minimal harus tujuh hari sebelum keberangkatan. Masih ada pe-er.

2. Memesan tiket (lagi).
Adegan berikut diawali dengan kami bangun kesiangan. Belajar dari kejadian sebelumnya bahwa sebaiknya jam 7 pagi harus sudah mengambil nomer antrian meski loket baru buka jam 9 pagi. Niatnya kami berangkat jam 7, namun fakta berkata lain. Kami bangun jam 8. Mau tak mau harus menerima resikonya. Hidup harus bertanggung jawab saudara!

Dengan mata masih kriyip-kriyip kami melenggang ke stasiun Purwosari. Istri saya turunkan di depan stasiun sedangkan saya bertugas memarkir motor.

"Gimana? Masih ada?"
"Masih ay. Kata mbak customer service ada seratusan kursi masih kosong untuk tanggal 9 Juli dari Kebumen ke Solo."
"Ya udah. Aman berarti."
"Aman gimana? Ini kita dapat antrian nomer 33. Sedangkan loketnya belum dibuka."
"Terus?"
"Lha kalau habis gimana? Mbaknya tadi menyarankan buat booking online dulu aja biar nggak kehabisan."
"Caranya?"
"Ada lah."

Lalu saya buka web PT. KAI.

"Ini masih ada kursi ay. Tanggal 8 juga ada."
"Mana?"
"Nih."
"Booking aja yah."
"Caranya?"
"Nanti ada petunjuknya."

Saya coba registrasi. Hasilnya, gagal. Hape lowbat. Manual aja. Lagian ada romansa tersendiri ketika mengantri. Kesabaran diuji bertubi-tubi. Kadang juga menyalahkan sana-sini. Akan tetapi alangkah nikmat syahdu jika hari-hari yang kita lalui penuh uji, menjadi nikmat tersendiri. Apalagi ditemani istri.

"Tenang bun. Ora kabeh ki kudu online. Ono wektu lan porsine dhewe. Entuk-entuk."

Istri saya tersenyum. Dan apalagi yang bisa dilakukan selain menyimpan hape dalam saku dan menghabiskan waktu sembari guyonan dengan istri.

"Bun nanti nek ditanya petugas tiketnya atas nama siapa, jawab wae bangsa Indonesia."
"Karepmu yah. Aneh ora uwis-uwis."
"Bun nanti kalau..."
"Haisssshh.. ora. Kakehan nonton film ya kayak gini."
"Bunda, nanti pas kita sampe di depan loket terus ditanya mbaknya 'iya ada yang bisa kami bantu?', kita tinggal pergi aja gimana bun?"
"Mbuh yah yah."
"Bun bun..." saya mendesah.
"Eggghh.. bau yah. Mambu."
"E lhaaa.. bau kasturi itu bun."
"Kasturi gimana?"
"Bau mulutnya orang puasa kan seperti..."
"Ya tetep mambu yah."
"Nggak papa. Anggap aja simulasi bau kasturi. Haaaahhh..."
"Egghhh..."

Dan pikiran saya melayang. Di bulan Ramadlan, berapa banyak bau kasturi yang menyebar ke seluruh penjuru bumi. Mungkin sampai menembus langit. Seberapa banyak orang berpuasa, sebanyak itu pula bumi menyemburkan bau kasturi.

Semburan kasturi. Wangi kasturi. Doa-doa terpanjat diiringi dengan wewangian kasturi.

Semoga informasi yang kita dengar, yang kita baca, adalah sejenis informasi yang menyemburkan wangi kasturi. Bukan bau bangkai saudara sendiri.

Demikian, ada kurangnya mohon maaf, wa billahi taufiq wal hidayah...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...