Langsung ke konten utama

Cerita Seputar Buku 'Maaf, Bapakmu Alien'

"Ini buku apaan sih?"
Cara mudah mengidentifikasi buku 'Maaf, Bapakmu Alien' adalah dengan menyodorkan pertanyaan semacam itu. Bagi saya sendiri buku itu memang tergolong 'buku apaan sih'. Karena niat awal adalah membuat e-book sebagai penanda, bahwa saya sudah berstatus suami. Gaya penulisan yang saya gunakan juga gaya personal saya dengan tokoh utama adalah saya dan istri saya, serta beberapa teman yang saya jadikan cameo, dan juga beberapa alien dari planet lain.

Setelah e-book nya rilis, saya seperti melupakan kepahitan demi kepahitan hidup yang saya alami. Karena bagi saya terkadang menulis itu dalam rangka menekan besaran tekanan hidup. Saya juga tidak tahu berapa jumlah manusia yang sudah mendownloadnya.

Sekian bulan berlalu, hingga saya ketemu dengan Mujix, salah satu komikus asal Boyolali yang kece badai aduhai karyanya. Sebetulnya kami sudah berkawan cukup lama. Sering bertukar pengalaman berkarya. Malam itu, dia mengajak bertemu. Ingin menanyakan beberapa hal kepada saya soal dunia tulis menulis. Termasuk tentang 'Maaf, Bapakmu Alien'. Jadilah kita berbincang cukup lama di wedangan depan SMA Batik 2 Solo.

"Nggak dicetak aja mas?"
Pertanyaan itu muncul namun tak sekedar pertanyaan. Ada solusi juga atas pertanyaan tersebut. Mujix menyarankan agar saya mencetak dan menjualnya. He has a solution. Saya seneng.

Sayangnya saran itu tak segera saya laksanakan. Ada beberapa pertimbangan, karena sejak saya bekerja, rasanya energi ini menguap begitu saja.
Hingga satu saat saya memutuskan tidak ada salahnya mencoba mencetak naskah MBA.

Dan petualangan baru dimulai....
Dari cetakan buku itu saya dipertemukan kembali dengan teman-teman lama yang aktif berkarya di dunia kreativitas. Sablon, komik, dan tentu saja dunia tulis menulis. Buku MBA menjadi tali panjang silaturahmi. Ada yang minta datang ke rumah, ada juga yang minta didatangi di tempat persinggahannya.

Ada yang membeli tanpa meminta kembalian. Ada yang membeli dua pahadal dia jomblo renta. Ada yang membeli tak minta kembalian, ngasih kaos pula. Yang jelas, persambungan demi persambungan terjalin. Berapa pun yang terjual nanti, saya tetap meraup untung besar. Saya mendapat kekuatan silaturahim persaudaraan. Saudara SeKreativitas.

Temui tali temali antar hati...
Maturnuwun semuanya...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lamaran Laa Roibafiih

Di suatu tempat yang sunyi, tersebut lah salah seorang pemuda yang sedang dirundung pilu. Di tengah-tengah kegelapan yang merubungnya dia tak mau membuka mata. Terpejam sampai tak tahu kapan waktunya. Meringkuk ia di sana. Rambutnya sangat kusut. Pakaiannya juga tak pernah berganti. Bau asam menyeruak dari tubuhnya. Bahkan ia sudah tak bisa melihat beda, mana makanan mana kotoran. Juga hati yang tak mengerti mana jeda, mana kesempatan, dan mana kerterburuan..... Hingga secercah cahaya datang. Cahaya yang kecil tapi cukup menenangkan. Cahaya yang dibawa seorang perempuan. Cahaya yang terpancar dari senyum simpulnya. Cahaya yang mungkin tak akan pernah padam atau dipadamkan. Cahaya yang jumlah tidak hanya 99. Cahaya yang berisi penuh dengan harapan. Tangan terjulur menawarkan kesegaran alur. Uluran yang sangat sayang untuk dilewatkan.  "Kemarilah. Ku temani kamu berjuang." perempuan itu berkata seraya wajahnya diterangi cahaya. "Kamu, mau menemaniku?" pemud...

Reposisi Kegembiraan Nabi

Ini hal yang cukup menggembirakan. Sangat menggembirakan. Iya. Benar-benar menggembirakan. Bagi orang yang tidak punya predikat bahkan pekerjaan apapun ini, 'diajak' kemana-mana adalah hal yang menggembirakan. Saya sudah tidak perlu bersusah payah menjadwal diri saya harus bangun jam sekian, harus makan jam sekian, harus mandi jam sekian, harus ke kantor jam sekian. Karena itu saya malah alhamdulillah. Tidak ada tanggungan apa-apa. Jadi kemana-mana saya ngikut saja sama ajakan teman-teman. Saya tidak punya pendirian yang kuat sebagai laki-laki? Iya, kalau cara berfikirmu lahiriyah. Kalau rohaniyah kamu akan menemukan hal-hal baru jika berinteraksi dengan spesies sejenis saya ini. Nggak percaya? Ketemuan yuk! Sambil ngopi-ngopi gitu. Ngemil-ngemil. Berdua aja sih. Khusus perempuan tapi. Nggak. Becanda. Saya percaya saja bahwa orang-orang yang mengajak saya keliling kemana-mana itu orang-orang baik dan disayang sama Allah sama Rosul. Karena diantara teman-teman, saya adalah yang...

Puasa Tidak Kuat

Ini sudah masuk pergantian tahun Islam dan Jawa. Biasanya paling enak kalau mengingat-ingat masa lalu. Kalau ada yang baru, biasanya yang lama malah bikin rindu. Sedikit membongkar-bongkar file-file usang. Tapi saya tidak akan membahas tentang manuskrip kuno saya yang dari abad ke-4 sampai sekarang belum berhasil saya selesaikan. Huruf depannya S belakangnya I. Betul! SAPI! Skripsi skripsi! Itu barang teraneh yang pernah saya temui dalam hidup. Semoga Desember ini kelar. Februari 2013 bisa ikut adek-adek lima atau enam tingkat di bawah saya wisuda. Nanti gelarnya Sarjana Masbuk saja, tidak usah Sarjana Seni (S.Sn). "Saya nikahkan Didik Wahyu Kurniawan Sarjana Masb..... Lho ini nggak salah?" "Apa pak?" "Ini?! Mana ada gelar Sarjana Masbuk? Jangan guyon ah dek!" "Ada pak penghulu. Serius. Nih!" menyodorkan buku Sarjana Masbuk. Sombong dikit lah. Sekali-kali. Iya, bulan puasa lalu hampir tidak ada catatan. Sayang sekali memang. Tapi a...