Langsung ke konten utama

Sesaji Di Dalam Kulkas

Seperti otomatisasi, kehadiran kulkas di ruang tengah seakan memanggil-manggil makanan untuk berduyun-duyun datang dan tinggal di dalamnya. Kulkas ini jauh dari kata hampa. Selalu terisi, dengan cara yang misterius dan tak terprediksi. Seperti kisah-kisah jaman dulu. Ada periuk yang tiba-tiba berisi nasi padahal tak pernah ada beras satu butirpun di sana.

Di tempat teratas tentu saja ada kotak pembeku. Oleh istri dimanfaatkan untuk membuat batu-batu es. Jaga-jaga kalau ada tamu yang suka makan batu es. Emang ada? Banyak kawan saya berjenis makhluk pemakan batu es. Berapa? Banyak. Laki atau perempuan? Perempuan. Makan es batu seperti ngemil kacang kulit.
Jadi freezer ini merupakan tempat sesaji untuk makhluk-makhluk itu.

Di rak kedua tepat di bawah freezer sering digunakan istri sebagai tempat penyimpanan kaki ayam atau yang lazim kita kenal dengan 'cakar'. Lebih menggugah selera disebut dengan 'ceker'. Saya berada di garda depan untuk urusan ceker ini. Ceker adalah sesaji yang paling nikmat bagi saya. Apalagi kalau dimasak model sop. Akan saya lumat sedahsyat mungkin. Rak kedua dari atas sebagai tempat bahan-bahan mentah.

Rak di bawahnya lagi adalah rak yang berisi sesaji paling random. Kadang ada brownies kukus bersanding dengan puding bersanding dengan, ayam ingkung. Tahu ayam ingkung? Iya ayam utuh gitu. Bukan. Bulunya sih udah nggak ada. Udah dimasak juga. Saya punya memori tersendiri terhadap ingkung. Pertama kali saya berhadapan langsung face to face dengan ayam ingkung adalah saat saya kuliah. Ketika itu teman kuliah saya, seorang aktivis sekaligus demonstran tangguh mengajak saya meeting dengan perempuan di sebuah resto di Solo timur. Kalau nggak Senin ya Kamis sore ketika kami berdua melenggang ke sana. Sampai di resto ternyata si perempuan datang tak sendiri melainkan bersama satu teman perempuannya. Jadi komposisinya, dua lelaki dan dua perempuan. Perbincangan terjadi. Tak banyak yang saya ingat selain bahwa ternyata salah satu perempuan yang bercengkerama dengan teman saya saat itu sedang menjalankan ibadah puasa sunnah Senin Kamis. Dalam hati saya bertanya, ini pasti mau buka bersama. Asyik.
Adzan berkumandang, puasa terbatalkan dan, eits, si perempuan pamit undur diri dari pertemuan. Padahal teman saya sudah memesan satu makanan penting yaitu ayam ingkung. Alhasil, entah dilatari oleh rasa kecewa, teman saya menawarkan satu penawaran yang membuat saya senang.
"Ini kamu bawa pulang."
"Apa ini?"
"Ayam goreng. Bagi sama temen kosmu."

Naluri anak kos pasti tidak akan menolak makanan gratis. Anak kos dan makanan gratis adalah satu kesatuan utuh. Sampai di kos saya panggil salah saty teman kos saya. Saya buka kardusnya, dan saya baru sadar bahwa ayam ingkung mustahil akan habis dimakan oleh dua orang saja. Serakus apapun orang itu tidak akan sanggup. Akhirnya dengan sangat terpaksa dan rasa trauma terhadap ayam, saya duduk di depan pintu kos dan menawari siapa saja yang lewat.
"Ayam ayam ayam.."
"Ayam ayam ayam.."
"Ayam goreng mas.."
"Ayam ayam ayam.."
"Sudah makan mas?"
"Pacarnya sudah dimakan? Eh. Makan?"

Dan dua hari yang lalu saya dipertemukan kembali dengan ayam ingkung. Bukan hanya satu. Tapi dua ayam ingkung sekaligus. Bekal rapat kerja di kantor. Istri dapat satu. Saya dapat satu. Kalau semuanya saya masukkan ke dalam kulkas maka bisa jadi kulkas saya beralih fungsi menjadi kandang ayam goreng.

Kalian pikir ayam goreng itu selalu lezat rasanya? Ayam goreng yang seperti apa dulu? Itulah pentingnya kenapa tubuh dikenalkan dengan pembatasan-pembatasan. Dan itulah kenapa warung fast food yang terkenal dengan ayam gorengnya tidak pernah menjual ayam goreng ingkung. Karena ayam ingkung yang kita kenal selama ini selalu ada di dalam sesaji-sesaji. Padahal, masih ada satu trik untuk mengatasi kebosanan ini. Caranya berbagi. Dapat dua ingkung, satu untuk kami, satu untuk tetangga kami.

Kalau dapat lebih dari lima ingkung? Lebih baik buka warung sesaji di sebelah warung ayam goreng luar negeri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lamaran Laa Roibafiih

Di suatu tempat yang sunyi, tersebut lah salah seorang pemuda yang sedang dirundung pilu. Di tengah-tengah kegelapan yang merubungnya dia tak mau membuka mata. Terpejam sampai tak tahu kapan waktunya. Meringkuk ia di sana. Rambutnya sangat kusut. Pakaiannya juga tak pernah berganti. Bau asam menyeruak dari tubuhnya. Bahkan ia sudah tak bisa melihat beda, mana makanan mana kotoran. Juga hati yang tak mengerti mana jeda, mana kesempatan, dan mana kerterburuan..... Hingga secercah cahaya datang. Cahaya yang kecil tapi cukup menenangkan. Cahaya yang dibawa seorang perempuan. Cahaya yang terpancar dari senyum simpulnya. Cahaya yang mungkin tak akan pernah padam atau dipadamkan. Cahaya yang jumlah tidak hanya 99. Cahaya yang berisi penuh dengan harapan. Tangan terjulur menawarkan kesegaran alur. Uluran yang sangat sayang untuk dilewatkan.  "Kemarilah. Ku temani kamu berjuang." perempuan itu berkata seraya wajahnya diterangi cahaya. "Kamu, mau menemaniku?" pemud...

Reposisi Kegembiraan Nabi

Ini hal yang cukup menggembirakan. Sangat menggembirakan. Iya. Benar-benar menggembirakan. Bagi orang yang tidak punya predikat bahkan pekerjaan apapun ini, 'diajak' kemana-mana adalah hal yang menggembirakan. Saya sudah tidak perlu bersusah payah menjadwal diri saya harus bangun jam sekian, harus makan jam sekian, harus mandi jam sekian, harus ke kantor jam sekian. Karena itu saya malah alhamdulillah. Tidak ada tanggungan apa-apa. Jadi kemana-mana saya ngikut saja sama ajakan teman-teman. Saya tidak punya pendirian yang kuat sebagai laki-laki? Iya, kalau cara berfikirmu lahiriyah. Kalau rohaniyah kamu akan menemukan hal-hal baru jika berinteraksi dengan spesies sejenis saya ini. Nggak percaya? Ketemuan yuk! Sambil ngopi-ngopi gitu. Ngemil-ngemil. Berdua aja sih. Khusus perempuan tapi. Nggak. Becanda. Saya percaya saja bahwa orang-orang yang mengajak saya keliling kemana-mana itu orang-orang baik dan disayang sama Allah sama Rosul. Karena diantara teman-teman, saya adalah yang...

Puasa Tidak Kuat

Ini sudah masuk pergantian tahun Islam dan Jawa. Biasanya paling enak kalau mengingat-ingat masa lalu. Kalau ada yang baru, biasanya yang lama malah bikin rindu. Sedikit membongkar-bongkar file-file usang. Tapi saya tidak akan membahas tentang manuskrip kuno saya yang dari abad ke-4 sampai sekarang belum berhasil saya selesaikan. Huruf depannya S belakangnya I. Betul! SAPI! Skripsi skripsi! Itu barang teraneh yang pernah saya temui dalam hidup. Semoga Desember ini kelar. Februari 2013 bisa ikut adek-adek lima atau enam tingkat di bawah saya wisuda. Nanti gelarnya Sarjana Masbuk saja, tidak usah Sarjana Seni (S.Sn). "Saya nikahkan Didik Wahyu Kurniawan Sarjana Masb..... Lho ini nggak salah?" "Apa pak?" "Ini?! Mana ada gelar Sarjana Masbuk? Jangan guyon ah dek!" "Ada pak penghulu. Serius. Nih!" menyodorkan buku Sarjana Masbuk. Sombong dikit lah. Sekali-kali. Iya, bulan puasa lalu hampir tidak ada catatan. Sayang sekali memang. Tapi a...