Seperti otomatisasi, kehadiran kulkas di ruang tengah seakan memanggil-manggil makanan untuk berduyun-duyun datang dan tinggal di dalamnya. Kulkas ini jauh dari kata hampa. Selalu terisi, dengan cara yang misterius dan tak terprediksi. Seperti kisah-kisah jaman dulu. Ada periuk yang tiba-tiba berisi nasi padahal tak pernah ada beras satu butirpun di sana.
Di tempat teratas tentu saja ada kotak pembeku. Oleh istri dimanfaatkan untuk membuat batu-batu es. Jaga-jaga kalau ada tamu yang suka makan batu es. Emang ada? Banyak kawan saya berjenis makhluk pemakan batu es. Berapa? Banyak. Laki atau perempuan? Perempuan. Makan es batu seperti ngemil kacang kulit.
Jadi freezer ini merupakan tempat sesaji untuk makhluk-makhluk itu.
Di rak kedua tepat di bawah freezer sering digunakan istri sebagai tempat penyimpanan kaki ayam atau yang lazim kita kenal dengan 'cakar'. Lebih menggugah selera disebut dengan 'ceker'. Saya berada di garda depan untuk urusan ceker ini. Ceker adalah sesaji yang paling nikmat bagi saya. Apalagi kalau dimasak model sop. Akan saya lumat sedahsyat mungkin. Rak kedua dari atas sebagai tempat bahan-bahan mentah.
Rak di bawahnya lagi adalah rak yang berisi sesaji paling random. Kadang ada brownies kukus bersanding dengan puding bersanding dengan, ayam ingkung. Tahu ayam ingkung? Iya ayam utuh gitu. Bukan. Bulunya sih udah nggak ada. Udah dimasak juga. Saya punya memori tersendiri terhadap ingkung. Pertama kali saya berhadapan langsung face to face dengan ayam ingkung adalah saat saya kuliah. Ketika itu teman kuliah saya, seorang aktivis sekaligus demonstran tangguh mengajak saya meeting dengan perempuan di sebuah resto di Solo timur. Kalau nggak Senin ya Kamis sore ketika kami berdua melenggang ke sana. Sampai di resto ternyata si perempuan datang tak sendiri melainkan bersama satu teman perempuannya. Jadi komposisinya, dua lelaki dan dua perempuan. Perbincangan terjadi. Tak banyak yang saya ingat selain bahwa ternyata salah satu perempuan yang bercengkerama dengan teman saya saat itu sedang menjalankan ibadah puasa sunnah Senin Kamis. Dalam hati saya bertanya, ini pasti mau buka bersama. Asyik.
Adzan berkumandang, puasa terbatalkan dan, eits, si perempuan pamit undur diri dari pertemuan. Padahal teman saya sudah memesan satu makanan penting yaitu ayam ingkung. Alhasil, entah dilatari oleh rasa kecewa, teman saya menawarkan satu penawaran yang membuat saya senang.
"Ini kamu bawa pulang."
"Apa ini?"
"Ayam goreng. Bagi sama temen kosmu."
Naluri anak kos pasti tidak akan menolak makanan gratis. Anak kos dan makanan gratis adalah satu kesatuan utuh. Sampai di kos saya panggil salah saty teman kos saya. Saya buka kardusnya, dan saya baru sadar bahwa ayam ingkung mustahil akan habis dimakan oleh dua orang saja. Serakus apapun orang itu tidak akan sanggup. Akhirnya dengan sangat terpaksa dan rasa trauma terhadap ayam, saya duduk di depan pintu kos dan menawari siapa saja yang lewat.
"Ayam ayam ayam.."
"Ayam ayam ayam.."
"Ayam goreng mas.."
"Ayam ayam ayam.."
"Sudah makan mas?"
"Pacarnya sudah dimakan? Eh. Makan?"
Dan dua hari yang lalu saya dipertemukan kembali dengan ayam ingkung. Bukan hanya satu. Tapi dua ayam ingkung sekaligus. Bekal rapat kerja di kantor. Istri dapat satu. Saya dapat satu. Kalau semuanya saya masukkan ke dalam kulkas maka bisa jadi kulkas saya beralih fungsi menjadi kandang ayam goreng.
Kalian pikir ayam goreng itu selalu lezat rasanya? Ayam goreng yang seperti apa dulu? Itulah pentingnya kenapa tubuh dikenalkan dengan pembatasan-pembatasan. Dan itulah kenapa warung fast food yang terkenal dengan ayam gorengnya tidak pernah menjual ayam goreng ingkung. Karena ayam ingkung yang kita kenal selama ini selalu ada di dalam sesaji-sesaji. Padahal, masih ada satu trik untuk mengatasi kebosanan ini. Caranya berbagi. Dapat dua ingkung, satu untuk kami, satu untuk tetangga kami.
Kalau dapat lebih dari lima ingkung? Lebih baik buka warung sesaji di sebelah warung ayam goreng luar negeri.
Komentar
Posting Komentar