Berkali-kali istri saya bertanya kepada saya. Pertanyaan yang menukik menjadi saran. Pertanyaan yang dimuati harapan agar saya menjawab "Iya." Tapi saya sendiri sulit menyediakan jawaban yang demikian. Justru yang keluar semacam pembentengan diri. Setiap istri menanyakan pertanyaan serupa, jawaban saya maksimal hanya senyuman. Sampai akhirnya saya tak kuat untuk tidak menjawab. Di suatu siang yang terik di tengah bulan puasa istri saya kembali menyodorkan pertanyaan itu.
"Yah, kamu nggak pengen beli baju lebaran apa?"
"Nggak."
"Kenapa?"
"Kepikiran ganti baju aja nggak. Apalagi beli."
Istri saya menghela nafas cukup panjang. Sepanjang jalan kenangan.
Tapi bukan istri saya kalau tak cerdik. Di suatu sore menjelang berbuka dia kembali mengemukakan pertanyaan. Namun pertanyaan kali ini agak sedikit berbeda dengan pertanyaan sebelumnya.
"Yah.."
"Apa bun?"
"Kamu nggak beli sandal?"
"Ehmmm.." saya tak langsung menjawab. Karena memang saya tak memiliki argumen pembelaan yang cukup kuat.
Istri saya bertanya berdasarkan fakta bahwa sandal yang sering saya gunakan keadaannya memprihatinkan. Yang kanan tidak ada masalah. Masalahnya sandal yang sebelah kiri. Entah kenapa kiri selalu dipermasalahkan. Sandal sebelah kiri sudah hampir terbelah menjadi dua bagian. Keadaannya mirip kapal Titanic setelah menabrak gunung es. Jadi dua bagian pemirsa. Padahal sewaktu saya beli di outlet perlengkapan mendako gunung, sandal tersebut terlihat kokoh. Kasarnya, seribu tikus tak akan sanggup mengerat sandal ini sampai putus. Makanya saya beli. Namun seiring waktu berlari, kekokohan sandal tersebut terkikis. Kalah oleh keadaan. Kalah oleh pusaran waktu. Terutama sandal di bagian kiri. Maka, saya pikir-pikir dulu sebelum menjawab pertanyaan istri.
"Gimana yah?"
"Ehmm.. ini masih bisa dipakai kok bun. Belum putus bener. Baru separoh."
"Itu namanya putus."
"Bisa dilem."
"Namanya putus ya putus yah."
Karena argument istri lebih kokoh daripada sandal saya, lalu saya putuskan sehabis sholat tarawih mengajak istri saya pergi ke outlet perlengkapan pendakian. Tempat yang sama dengan tempat saya beli sandal saya sebelumnya.
Jalanan cukup ramai karena malam minggu. Ditambah dengan lokasinya yang berada didekat kampus UMS. Kampus mana itu? Ya kampus UMS. Dengan sangat berhati-hati saya melakukan gerakan memutar dari arah selatan barat ke timur menuju lampu merah. Outletnya ada di dekat lampu merah.
Kami masuk. Saya melihat-lihat koleksi tas punggungnya. Istri saya melirik saya. Mungkin dia bingung, katanya mau beli sandal kok yang dilihat tas. Sebelum ditanya saya sudah merasa.
"Ini namanya pura-pura ay. Biar dikira kita beli tas. Padahal bukan." Argument yang nggak nyambung saya paparkan. Istri saya tersenyum kecut.
"Udah sana milih."
Saya menuju rak sandal. Ada banyak varian dari berbagai macam merk. Saya memilih. Anehnya kelakuan saya adalah, setiap membeli sesuatu di tempat yang pernah saya singgahi sebelumnya, maka hal yang sering saya lakukan adalah mencari barang yang sudah pernah saya beli dulu. Setelah ketemu dengan sandal yang sama dengan sandal saya yang rusak rasanya puas sekali.
Saya biarkan istrinya memilihkan untuk saya. Kalau saya yang milih pasti yang dilihat pertama harganya. Kalau istri saya model dan kekokohannya.
"Yang ini aja ay. Cocok buat kamu."
"Mana bun?"
"Ini."
"Mas ini yang item ada?" Saya berbicara kepada pelayannya.
"Ada mas. Ukuran berapa?"
"42."
"Yah. Mbok sekali-kali ganti warna gitu lho. Item terus. Yang cokelat aja elegan."
"Mas nggak jadi. Yang cokelat aja. Ukuran 42."
Saya mencobanya dan ternyata kekecilan.
"Mas yang 43 aja."
"Warnanya?"
"Cokelat mas."
Saya coba dan pas. Istri saya tersenyum.
"Ini aja mas. Yang 43 aja."
Kemudian mas-mas pelayan itu membungkusnya. Sebelum ke kasir saya melihat-lihat celana pendek. Lagi-lagi saya mencari merk yang sama dengan celana pendek yang ada di rumah. Entahlah. Mungkin saya terlampau istiqamah. Maunya sama terus yang dipakai.
"Yah ini aja buat ganti-ganti dipakai di rumah."
"Bun yang merknya K****** ada?"
"Nggak ada yah."
Celana pendek merk itu saya punya dua di rumah. Sudah pernah sobek di bagian selangkangan. Dan sudah saya jahitkan. Saya, kalau itu bisa diperbaiki, saya perbaiki sampai tak bisa diperbaiki lagi.
Lebaran memacu untuk kembali suci. Disimbolkan dengan pakaian yang rapi bersih wangi. Syukur baru. Muatan pokoknya ada di jarak baju kita terhadap kenajisan. Pikiran kita, baju baru mesti jauh dari kotor. Apalagi najis. Makanya menjelang lebaran kita sering beli baju yang baru. Padahal bukan sekedar baju atau pakaian yang kita perlukan. Kita mau berpakaian, itu sudah cukup bermartabat. Kita mau menutup aurat, derajat kita meningkat. Harapannya pakaian yang kita pakai juga bisa menaikkan kadar kesucian luar dalam tubuh kita di hari yang 'fitri'.
Pakaian yang kita beli bukan sekedar pakaian. Melainkan pakaian kesucian. Syukur-syukur dapat diskonan.
Komentar
Posting Komentar