Langsung ke konten utama

Bani Siapa? Trah Siapa?

Baru sadar lebaran kemaren. Saudara dari istri saya yang kemudian sudah jelas dan sah menjadi saudara saya juga, jumlahnya, cukup mengejutkan. Khususnya bagi saya pribadi. Melihat latar belakang keluarga saya yang konon agak sulit untuk dilacak detail silsilahnya, maka tatkala saya menemukan bahwa istri saya memiliki saudara yang demikian aduhai jumlahnya, saya lantas bertanya kepada istri saya.

"Itu tamu siapa lagi? Kok nggak habis-habis?"
"Oh. Saudara di sini kan banyak. Ada keluarganya Kaji.."
"Kaji yang mana lagi? Perasaan dari tadi yang bunda sebutkan semua Kaji. Sampai bingung ayah."
"Sudah dibilang keluarganya banyak kok. Ada Bani Idris, Bani.."
"Bani?"
"Keluarga Pati nggak gitu yak?"
"Nggak ada Bani-Bani an gitu. Ayah paling pol mentok taunya ya kakek-nenek. Ke atas lagi udah nggak ngerti. Mau melacak sulit. Konon katanya sih saudara banyak juga yang nggak terdeteksi."
"Jangan-jangan ayah yang nggak mau tau?"
"Ya mau lah bun. Ayah seneng mempelajari sejarah. Meski dulu tiap ulangan Pelajaran Sejarah mesti remidi."
"Nggak heran."
"Lha ngapain disuruh mengingat-ingat hari ulang tahun Raja ini Raja itu, wong hari lahir kakek sendiri aja nggak tau. Lha ngapain disuruh mengingat-ingat hari kematian jendral Belanda, lha wong hari meninggalnya kakek aja nggak ngerti."
"Nggak heran. Nggak heran. Pelajaran sejarah itu, sini bunda bilangin. Pelajaran sejarah itu untuk memupuk rasa cinta tanah air. Supaya generasi muda tidak lupa akan siapa yang sudah berjasa kepada bangsa ini. Begitu."
"Bunda lulusan FKIP kok ya?"
"Emang kenapa?"
"Ngomongnya kayak buku diktat."
"Satu lagi yah."
"Apa bun?"
"Ayah pelajari sejarah Raja ini Raja itu."
"Emang kenapa bun?"
"Siapa tau ayah masih keturunan salah satunya?"
"Ini yang sakit siapaaaaa???"

Saking banyaknya saudara yang teridentifikasi sebagai bagian dari sebuah 'Bani' kaki saya sampai pegel keliling desa. Kata istri saya ini belum semuanya. Belum semua? Lha kalau semua gimana?

"Yah sebelah rumah besok menggelar acara silaturahmi Bani-nya."
"Itu acara silaturahmi? Ayah kira mau ada hajatan apa? Kok acaranya gede banget?"
"Kan jumlahnya banyak yah."

Acara yang memakai sound system itu terdengar dari kamar saya. Sayup-sayup saya mendengar bahwa ada baiknya setiap kelahiran dan kematian dari sanak keluarga yang masih se-Bani dicatat dengan baik. Meninggal berapa, lahir berapa. Pun jangan lupa untuk mengundang jika ada yang menikah. Menarik ini. Bagi saya inilah contoh nyata kerja rakyat Indonesia yang memudahkan pemerintah. Sensus penduduk menjadi mudah.

Pemerintah mencoba mengurangi jumlah kepadatan penduduk dengan program KB-nya. Dengan semboyan yang sama dari beberapa puluh tahun silam, 'Dua anak cukup'. Tapi disinyalir program ini kurang begitu berhasil. Jumlah penduduk masih dan selalu banyak. Salah satu contohnya tatkala momen lebaran tiba. Satu Bani berkumpul jumlahnya bisa dihitung sendiri. Itu baru Bani. Belum Trah.

Lha wong Dua anak cukup. Yang dibatasi kan jumlah anaknya. Bukan cucunya, cicitnya, canggahnya, dan seterusnya dan seterusnya....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lamaran Laa Roibafiih

Di suatu tempat yang sunyi, tersebut lah salah seorang pemuda yang sedang dirundung pilu. Di tengah-tengah kegelapan yang merubungnya dia tak mau membuka mata. Terpejam sampai tak tahu kapan waktunya. Meringkuk ia di sana. Rambutnya sangat kusut. Pakaiannya juga tak pernah berganti. Bau asam menyeruak dari tubuhnya. Bahkan ia sudah tak bisa melihat beda, mana makanan mana kotoran. Juga hati yang tak mengerti mana jeda, mana kesempatan, dan mana kerterburuan..... Hingga secercah cahaya datang. Cahaya yang kecil tapi cukup menenangkan. Cahaya yang dibawa seorang perempuan. Cahaya yang terpancar dari senyum simpulnya. Cahaya yang mungkin tak akan pernah padam atau dipadamkan. Cahaya yang jumlah tidak hanya 99. Cahaya yang berisi penuh dengan harapan. Tangan terjulur menawarkan kesegaran alur. Uluran yang sangat sayang untuk dilewatkan.  "Kemarilah. Ku temani kamu berjuang." perempuan itu berkata seraya wajahnya diterangi cahaya. "Kamu, mau menemaniku?" pemud...

Reposisi Kegembiraan Nabi

Ini hal yang cukup menggembirakan. Sangat menggembirakan. Iya. Benar-benar menggembirakan. Bagi orang yang tidak punya predikat bahkan pekerjaan apapun ini, 'diajak' kemana-mana adalah hal yang menggembirakan. Saya sudah tidak perlu bersusah payah menjadwal diri saya harus bangun jam sekian, harus makan jam sekian, harus mandi jam sekian, harus ke kantor jam sekian. Karena itu saya malah alhamdulillah. Tidak ada tanggungan apa-apa. Jadi kemana-mana saya ngikut saja sama ajakan teman-teman. Saya tidak punya pendirian yang kuat sebagai laki-laki? Iya, kalau cara berfikirmu lahiriyah. Kalau rohaniyah kamu akan menemukan hal-hal baru jika berinteraksi dengan spesies sejenis saya ini. Nggak percaya? Ketemuan yuk! Sambil ngopi-ngopi gitu. Ngemil-ngemil. Berdua aja sih. Khusus perempuan tapi. Nggak. Becanda. Saya percaya saja bahwa orang-orang yang mengajak saya keliling kemana-mana itu orang-orang baik dan disayang sama Allah sama Rosul. Karena diantara teman-teman, saya adalah yang...

Puasa Tidak Kuat

Ini sudah masuk pergantian tahun Islam dan Jawa. Biasanya paling enak kalau mengingat-ingat masa lalu. Kalau ada yang baru, biasanya yang lama malah bikin rindu. Sedikit membongkar-bongkar file-file usang. Tapi saya tidak akan membahas tentang manuskrip kuno saya yang dari abad ke-4 sampai sekarang belum berhasil saya selesaikan. Huruf depannya S belakangnya I. Betul! SAPI! Skripsi skripsi! Itu barang teraneh yang pernah saya temui dalam hidup. Semoga Desember ini kelar. Februari 2013 bisa ikut adek-adek lima atau enam tingkat di bawah saya wisuda. Nanti gelarnya Sarjana Masbuk saja, tidak usah Sarjana Seni (S.Sn). "Saya nikahkan Didik Wahyu Kurniawan Sarjana Masb..... Lho ini nggak salah?" "Apa pak?" "Ini?! Mana ada gelar Sarjana Masbuk? Jangan guyon ah dek!" "Ada pak penghulu. Serius. Nih!" menyodorkan buku Sarjana Masbuk. Sombong dikit lah. Sekali-kali. Iya, bulan puasa lalu hampir tidak ada catatan. Sayang sekali memang. Tapi a...