Langsung ke konten utama

Tunjangan Setiap Hari

Memang, saya, layaknya manusia pekerja, yang memiliki atasan berlapis-lapis, akan sangat bergembira ria sekali jika mendengar kata THR. Entah kenapa yang namanya THR itu selalu identik dengan ekspresi ceria. Tunjangan Hari Raya dan Taman Hiburan Rakyat. Keduanya, menghibur.

Baru tiga tahun terakhir ini saya akrab dengan THR. Dan bentuknya selalu sama yaitu uang. Dan inilah yang membuat saya gelisah berkepanjangan. Banyak uang baru beredar menjelang puncak peringatan Hari Raya. Saya memang agak sedikit geli dengan uang baru. Kalau saya punya banyak uang baru, rasanya sayang kalau mau digunakan. Kalau nggak dipakai ya terus gimana. Dilema melanda.

Saya penasaran, sejak kapan mulai ada pembagian THR? Kenapa merujuk ke salah satu Hari Raya saja? Dan kenapa pembagiannya pas bulan Ramadlan? Kan kita puasa latihan menahan ya? Kalau digoda dengan THR kok saya rasa banyak yang tumbang di tengah puasa. Kok tidak dibagikan setelah Hari Raya saja? Atau dijadikan dua kali pembagian. Tahap pertama pas Ramadlan, mungkin 20-30% dulu baru setelah itu sisanya pas kita masuk kerja. Ya aneh sih ide ini memang. Dan muatahil. Siapa sih yang mau, kumpul keluarga dalam keadaan tak ber-uang? Siapa sih yang mau, reunian tanpa harus membayar iuran? Siapa sih yang sampai hati sanak saudara handai tolan bercengkerama tanpa berbagi uang?

Maka setiap teman-teman SMA saya mau ngajak ketemuan, kumpul, saya arahkan ke rumah saya saja. Tidak harus di warung ini itu. Tidak harus iuran. Apa yang ada disuguhkan. Masih ada ayam dan kambing di kandang. Tetangga.

Kita butuh penunjang setiap hari, setiap detik, setiap waktu. Tak hanya penunjang hidup, tapi juga penunjang kehidupan demi kehidupan selanjutnya....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...