Langsung ke konten utama

Motorku Dipasangi Jimat

Saya tidak mengada-ada. Saya sendiri juga awalnya tidak percaya dengan yang dilakukan teman saya, si pemilik bengkel kecil di Solo Selatan.

Ini bermula saat motor kesayangan saya, honda grand astrea impressa 97 mengalami mogok parah yang kedua kalinya. Pada mogok parah yang pertama dulu, kata teman saya si pemilik bengkel, motor saya 'diganggu'. Saya tidak percaya. Pokoknya motor yang hasil pemberian ibu saya itu harus bisa aktif kembali. Mesinnya oke. Si pemilik bengkel itu sendiri yang bilang. Karena saya sudah langganan selama bertahun-tahun untuk sekedar perbaikan ringan dan ganti oli. Maka saya percayakan motor itu kepadanya. Alhasil setelah digarap selama empat hari berturut-turut akhirnya motor yang sudah mangkrak berbulan-bulan di kontrakan saya itu bisa ditunggangi lagi.

Sebelum mogok parah yang kedua, motor saya mengalami kejadian memilukan. Kejadiannya setelah maghrib pada saat saya pulang membeli lampu kalau tak keliru. Di tikungan ada mobil antrian mobil dan beberapa motor menunggu sebuah mobil yang akan belok ke gang. Saya kaget lalu dengan spontan saya menginjak rem. Reflek yang bagus ya begitu-itu. Nginjak rem. Bukan nginjak harga diri orang laen. Tsaaahhhh...

Naasnya ada motor RX King mencium slebor belakang saya. Muaaahhh.. pelan sih. Lebih seperti belaian daripada tabrakan. Pelan banget. Motor hanya maju nol koma nol nol sekian senti meter saja. Saya lirik pengendara RX King itu yang ternyata seorang laki-lako yang memboncengkan perempuan paruh baya. Lelaki itu membalas senyuman saya dengan senyuman juga. Jalan di depan sudah lega. RX King melenggang, lalu dari belakang motor saya muncul suara,
"Klonthaaaang..."

Lha apa kuwi? Saya kira itu adalah bagian dari motor RX King. Ternyata bukan. Saya lihat plat nomor saya sudah tergolek di tanah. Dan slebor belakang saya meninggalkan lubang yang menganga. Dengan perasaan agak gimana, saya ambil potongan slebor belakang beserta plat nomor saya bawa pulang.

Sampai di rumah istri saya bertanya. Saya bilang ini tertabrak dari belakang. Istri histeris. Takut kalau saya kenapa-kenapa. Ya saya beri dia pengertian baik-baik. Bahwa tabrakan yang terjadi memang sangat pelan sekali. Dia baru tersadar setelah melihat tubuh saya yang baik-baik aja dan ganteng-ganteng aja.

Itulah cikal bakal mogok parah yang kedua. Setelah kejadian itu dua hari kemudian motor saya tak bisa dinyalakan. Dengan sedikit kesal akhirnya saya biar dia mangkrak kembali. Cukup lama. Dua bulanan mungkin. Namun hati saya iba melihat tunggangan yang sudah menemani saya berjuang bertahun-tahun dipenuhi dengan debu dan jaring laba-laba. Kemudian di bulan suci ini saya niatkan untuk mengaktivkan dia lagi.

Saya meminta bantuan teman untuk mendorong dari rumah ke bengkel. Alhamdulillah selamat sampai di bengkel langganan. Si pemilik bengkel tersenyum dan seolah berkata,
"Ini pasti 'diganggu' lagi."

Dengan perasaan pasrah saya tinggal motor itu sendirian. Saya pulang bersama teman saya.

Kemarin saya dihubungi si pemilik bengkel. Saya ajak istri saya untuk mengambil motor itu. Karena katanya motor itu siap pakai.
Sesampainya di bengkel,

"Motormu aku pasangi jimat biar tidak diganggu lagi."
"Haaa???" Saya dan istri saya njumbul.
"Iya. Saya pasang di dalam. Dekat mesin. Saya gantung di sana."
"Haaa???"
"Saya beri 'bungkusan'. Isinya merica yang saya tumbuk harganya empat ribu. Katanya itu lebih efektif untuk mengusir tikus. Saya pasang biar motormu nggak diganggu tikus lagi. Biar kabel-kabelnya aman dan nggak mogok lagi."

Mendengar penjelasan itu istri saya ngempet ngguyu alias menahan tawa. Saya cuma senyam senyum klenyam klenyem.

Saya kira jimat apaan. Rupanya jimat biar nggak diganggu tikus. Kalau gitu CCTV itu juga jimat dong? Biar harta benda kita aman dari gangguan pencuri? Iya kan? Kalau jimat buat ngawasi orang yang mau korupsi ada nggak ya?

Tsaaaahhhh.... sok bijak. Padahal motornya di Solo, STNK-nya di Pati. Pelanggaran pelanggaran!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lamaran Laa Roibafiih

Di suatu tempat yang sunyi, tersebut lah salah seorang pemuda yang sedang dirundung pilu. Di tengah-tengah kegelapan yang merubungnya dia tak mau membuka mata. Terpejam sampai tak tahu kapan waktunya. Meringkuk ia di sana. Rambutnya sangat kusut. Pakaiannya juga tak pernah berganti. Bau asam menyeruak dari tubuhnya. Bahkan ia sudah tak bisa melihat beda, mana makanan mana kotoran. Juga hati yang tak mengerti mana jeda, mana kesempatan, dan mana kerterburuan..... Hingga secercah cahaya datang. Cahaya yang kecil tapi cukup menenangkan. Cahaya yang dibawa seorang perempuan. Cahaya yang terpancar dari senyum simpulnya. Cahaya yang mungkin tak akan pernah padam atau dipadamkan. Cahaya yang jumlah tidak hanya 99. Cahaya yang berisi penuh dengan harapan. Tangan terjulur menawarkan kesegaran alur. Uluran yang sangat sayang untuk dilewatkan.  "Kemarilah. Ku temani kamu berjuang." perempuan itu berkata seraya wajahnya diterangi cahaya. "Kamu, mau menemaniku?" pemud...

Reposisi Kegembiraan Nabi

Ini hal yang cukup menggembirakan. Sangat menggembirakan. Iya. Benar-benar menggembirakan. Bagi orang yang tidak punya predikat bahkan pekerjaan apapun ini, 'diajak' kemana-mana adalah hal yang menggembirakan. Saya sudah tidak perlu bersusah payah menjadwal diri saya harus bangun jam sekian, harus makan jam sekian, harus mandi jam sekian, harus ke kantor jam sekian. Karena itu saya malah alhamdulillah. Tidak ada tanggungan apa-apa. Jadi kemana-mana saya ngikut saja sama ajakan teman-teman. Saya tidak punya pendirian yang kuat sebagai laki-laki? Iya, kalau cara berfikirmu lahiriyah. Kalau rohaniyah kamu akan menemukan hal-hal baru jika berinteraksi dengan spesies sejenis saya ini. Nggak percaya? Ketemuan yuk! Sambil ngopi-ngopi gitu. Ngemil-ngemil. Berdua aja sih. Khusus perempuan tapi. Nggak. Becanda. Saya percaya saja bahwa orang-orang yang mengajak saya keliling kemana-mana itu orang-orang baik dan disayang sama Allah sama Rosul. Karena diantara teman-teman, saya adalah yang...

Puasa Tidak Kuat

Ini sudah masuk pergantian tahun Islam dan Jawa. Biasanya paling enak kalau mengingat-ingat masa lalu. Kalau ada yang baru, biasanya yang lama malah bikin rindu. Sedikit membongkar-bongkar file-file usang. Tapi saya tidak akan membahas tentang manuskrip kuno saya yang dari abad ke-4 sampai sekarang belum berhasil saya selesaikan. Huruf depannya S belakangnya I. Betul! SAPI! Skripsi skripsi! Itu barang teraneh yang pernah saya temui dalam hidup. Semoga Desember ini kelar. Februari 2013 bisa ikut adek-adek lima atau enam tingkat di bawah saya wisuda. Nanti gelarnya Sarjana Masbuk saja, tidak usah Sarjana Seni (S.Sn). "Saya nikahkan Didik Wahyu Kurniawan Sarjana Masb..... Lho ini nggak salah?" "Apa pak?" "Ini?! Mana ada gelar Sarjana Masbuk? Jangan guyon ah dek!" "Ada pak penghulu. Serius. Nih!" menyodorkan buku Sarjana Masbuk. Sombong dikit lah. Sekali-kali. Iya, bulan puasa lalu hampir tidak ada catatan. Sayang sekali memang. Tapi a...