Langsung ke konten utama

Di Balik Layar e-book 'Maaf, Bapakmu Alien'

Begini. Salah satu dorongan munculnya ide e-book ini adalah keinginan saya untuk memperbaiki 'jurus' menulis yang selama ini seperti ala kadarnya. Kegelisahan saya cukup lama. Beberapa kali saya mencoba untuk menemukan cara menulis yang runtut, enak dibaca, serta tidak seperti hasil mutilasi atau berupa potongan-potongan semata. Namun beberapa draft naskah panjang juga tak kunjung menemu hasil akhirnya. Dengan kata lain, saya masih harus banyak belajar. Ketika keinginan untuk memperbaiki itu muncul, saya lantas berpikir, dari sekian file draft naskah, mana yang harus saya selesaikan? Bukan. Ini bukan semata pembuktian atau eksistensi kepenulisan saya. Jujur untuk menulis sesuatu yang panjang dan berkesinambungan saya belum memiliki kemampuan untuk itu. Saya terbiasa dengan cerpen, artikel pendek, opini kilat atau puisi tanpa makna.

Setelah membuka draft naskah lama, saya semakin gelisah. Kalau harus menyelesaikannya, berarti saya harus membaca ulang. Maka daripada saya membaca ulang, lebih baik saya bikin yang baru. Dengan beberapa catatan; saya harus istiqamah. Bagi saya, ini cukup berat. Untuk urusan bagi-membagi waktu saya belum jago. Jadi saya harus memilih tema yang pas. Pas buat saya sendiri. Pas buat keyakinan saya. Dan pas buat kemampuan saya yang pas-pasan ini. Sebuah tema yang mampu memantik dan selalu memantik bagi diri saya sendiri. Saya tarik garis ke masa lalu. Sampailah saya pada  momentum setahun yang lalu. Sebuah peristiwa yang mengubah hidup saya. Pernikahan.

Banyak pilihan kala itu. Ada 'Nikah Masbuk'. Saya coret karena saya ingin sesuatu yang baru. Tidak lagi terkait dengan 'Sarjana Masbuk' meski akhirnya ada satu singgungan di sana (termasuk blog ini juga sarjanamasbuk). Lalu ada 'Pernikahan Antar Galaksi'. Yang ini memiliki tingkat absurditas yang cukup aduhai. Referensinya yang bikin pusing. Selama pencarian itu, saya gemar memosting di FB sesuatu tentang 'Alien', 'UFO', dunia keluarga, dan dunia pendidikan. Akhirnya hidayah itu muncul, ketemu lah dengan  'Maaf, Bapakmu Alien'.

Dari keputusan tersebut saya kemudian membuat jadwal sebelum saya membagi bagian-bagian apa saja yang akan saya tulis. Deadline-nya dari awal Desember hingga akhirnya Desember. Asumsinya 30 hari. Naasnya di rentang waktu itu banyak agenda di kantor sekaligus jadwal liburan. Saya hampir mundur. Saya belum menyampaikan niatan membuat naskah ini kepada istri. Saya coba beranikan diri untuk merembug masalah ini. Bagi saya ini penting. Tapi belum tentu seperti itu menurut istri saya.

Istri saya menyetujui sekaligus menjadi sponsor utama agenda ini. Dengan catatan, setiap saya selesai atau mengambil waktu jeda menulis, istri saya yang pertama kali membaca. Tidak masalah bagi saya. Saya juga memiliki syarat, jangan ganggu saya ketika saya sedang menulis. Deal, kami sepakat, dan istri meminjamkan netbooknya kepada saya. Iya. Sampai saat ini saya belum memiliki laptop atau komputer sendiri. Cukup janggal untuk seorang penulis di era modern.

Naskah ini sebagai kado atau peringatan setahun pernikahan kami, jadi mau tak mau paling lama Januari 2016 harus jadi dan bisa dibagikan. Maka saya kemudian mencari beberapa orang untuk diajak kerja bareng. Ketemu lah mas Wisnu. Dengan pesan singkat saya katakan bla bla bla. Beliau langsung menyanggupi. Covernya sudah jadi, padahal naskah masih di dalam kepala.

Mulai lah saya sedikit menjajah diri saya sendiri. Sekali menulis harus dapat 10 halaman kertas kwarto. Jadi mau berapa jam, pokoknya harus dapat 10 halaman. Setahap demi setahap dapat terlampaui dengan baik. Saya masih belum berpikir soal kualitas tulisan. Saya baru berkutat terhadap kesetiaan kepada waktu. Saya tulis bagian demi bagian. Saya manfaatkan hari Minggu. Pokoknya begitu senggang langsung menulis. 

Tantangan muncul justru pada saat liburan kantor. Di titik ini saya lemas. Selesai nggak nanti? Saya liburan di dua kota, Pati dan Kebumen. Bawa netbook? Nggak. Mau diketik di mana? Begitu batin saya. Gelisah saya semakin menjadi dan akhirnya pasrah. Saya mau menikmati liburan ini tanpa memikirkan naskah.
Istri saya mencium gejala kegelisahan saya ini pada saat liburan di Kebumen. Kemudian dia bertanya, ada apa? Saja jawab singkat, laptop. Dia menjawab santai, oalah, pakai punya Mbak Edah (saudara kembarnya). Saya melotot. Ternyata ada laptop di Kebumen. Saya tulis bagian yang berjudul 'Belanja-Belanja' di sana. Dua jam dapat 12 halaman.

Begitu. Deadline semakin mepet, mau tak mau harus saya selesaikan. Kemudian saat di dalam kamar, istri bilang, dia kangen 'dedek' bayi yang dulu sempat ada di perutnya. Saya jawab singkat, dedek pulang. Jadi lah itu judul di bagian terakhir 'Maaf, Bapakmu Alien'.

Saya cukup begembira karena saya mampu menjadi lelaki setia. Termasuk setia kepada waktu. Untuk cara bertutur, masih gaya saya yang dulu. Mungkin bisa berubah, mungkin tidak. Maka saya pilih Mas Erie Setiawan yang tidak pernah membaca tulisan-tulisan saya sebelumnya untuk memberikan Kata Pengantar. Saya yakin bakal objektif. Apa adanya. Dan, kritis. Itu yang saya harapkan, dan alhamdulillah saya dapatkan.

Kalau ada yang tanya kenapa gratis? Jawabnya "SUATU SAAT KALIAN PASTI AKAN MEMBAYARNYA! HAHAHAHA!"

Terima kasih kepada yang sudah mau direpotkan. 

Demikian, di balik layar ini saya tulis dalam kondisi 'umbel menetes secara masif'.

Solo, 1 Februari 2016


Didik W. Kurniawan.

DOWNLOAD DI SINI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lamaran Laa Roibafiih

Di suatu tempat yang sunyi, tersebut lah salah seorang pemuda yang sedang dirundung pilu. Di tengah-tengah kegelapan yang merubungnya dia tak mau membuka mata. Terpejam sampai tak tahu kapan waktunya. Meringkuk ia di sana. Rambutnya sangat kusut. Pakaiannya juga tak pernah berganti. Bau asam menyeruak dari tubuhnya. Bahkan ia sudah tak bisa melihat beda, mana makanan mana kotoran. Juga hati yang tak mengerti mana jeda, mana kesempatan, dan mana kerterburuan..... Hingga secercah cahaya datang. Cahaya yang kecil tapi cukup menenangkan. Cahaya yang dibawa seorang perempuan. Cahaya yang terpancar dari senyum simpulnya. Cahaya yang mungkin tak akan pernah padam atau dipadamkan. Cahaya yang jumlah tidak hanya 99. Cahaya yang berisi penuh dengan harapan. Tangan terjulur menawarkan kesegaran alur. Uluran yang sangat sayang untuk dilewatkan.  "Kemarilah. Ku temani kamu berjuang." perempuan itu berkata seraya wajahnya diterangi cahaya. "Kamu, mau menemaniku?" pemud...

Reposisi Kegembiraan Nabi

Ini hal yang cukup menggembirakan. Sangat menggembirakan. Iya. Benar-benar menggembirakan. Bagi orang yang tidak punya predikat bahkan pekerjaan apapun ini, 'diajak' kemana-mana adalah hal yang menggembirakan. Saya sudah tidak perlu bersusah payah menjadwal diri saya harus bangun jam sekian, harus makan jam sekian, harus mandi jam sekian, harus ke kantor jam sekian. Karena itu saya malah alhamdulillah. Tidak ada tanggungan apa-apa. Jadi kemana-mana saya ngikut saja sama ajakan teman-teman. Saya tidak punya pendirian yang kuat sebagai laki-laki? Iya, kalau cara berfikirmu lahiriyah. Kalau rohaniyah kamu akan menemukan hal-hal baru jika berinteraksi dengan spesies sejenis saya ini. Nggak percaya? Ketemuan yuk! Sambil ngopi-ngopi gitu. Ngemil-ngemil. Berdua aja sih. Khusus perempuan tapi. Nggak. Becanda. Saya percaya saja bahwa orang-orang yang mengajak saya keliling kemana-mana itu orang-orang baik dan disayang sama Allah sama Rosul. Karena diantara teman-teman, saya adalah yang...

Puasa Tidak Kuat

Ini sudah masuk pergantian tahun Islam dan Jawa. Biasanya paling enak kalau mengingat-ingat masa lalu. Kalau ada yang baru, biasanya yang lama malah bikin rindu. Sedikit membongkar-bongkar file-file usang. Tapi saya tidak akan membahas tentang manuskrip kuno saya yang dari abad ke-4 sampai sekarang belum berhasil saya selesaikan. Huruf depannya S belakangnya I. Betul! SAPI! Skripsi skripsi! Itu barang teraneh yang pernah saya temui dalam hidup. Semoga Desember ini kelar. Februari 2013 bisa ikut adek-adek lima atau enam tingkat di bawah saya wisuda. Nanti gelarnya Sarjana Masbuk saja, tidak usah Sarjana Seni (S.Sn). "Saya nikahkan Didik Wahyu Kurniawan Sarjana Masb..... Lho ini nggak salah?" "Apa pak?" "Ini?! Mana ada gelar Sarjana Masbuk? Jangan guyon ah dek!" "Ada pak penghulu. Serius. Nih!" menyodorkan buku Sarjana Masbuk. Sombong dikit lah. Sekali-kali. Iya, bulan puasa lalu hampir tidak ada catatan. Sayang sekali memang. Tapi a...