Setelah kulkas bermukim di ruang tengah, istri mulai mengaktivasi kemampuan memasaknya. Setiap pagi selama bulan puasa sebelum berangkat ke tempat kerja, dia menyempatkan berbelanja di tempat mbak Sri yang letaknya mepet dengan kontrakan kami. Katanya mbak Sri belum lama membuka warung si rumahnya. Sekitar empat tiga tahun yang lalu. Namun usahanya tergolong cepat berkembang. Rumah yang sekaligus warungnya baru selesai direnovasi sebelum bulan puasa kemaren.
Hampir setiap pagi warung ini ramai pembeli. Mereka membeli berbagai macam kebutuhan. Dari yang pokok hingga yang bersifat pendamping saja.
Murah.
Kata itu yang mampu mewakili satu alasan kenapa warung mbak Sri berkembang pesat.
Mbak Sri selalu mengawali paginya dengan berangkat kulakan ke Pasar Legi sekitar jam empat pagi dan sampai di rumah jam setengah enam pagi.
Bagi istri berbelanja di warung tetangga menjadi sarana sosialisasi. Ketemu dengan tetangga yang lain. Membicarakan satu dua tema acak tentang apapun. Katanya istri saya juga tidak segan menanyakan resep dan bahan untuk memasak kepada mbak Sri.
Eksistensi kulkas menjadikan kehidupan keluarga kami sedikit berbeda. Arogansi saya sebagai seorang suami sedikit terkikis.
Dulu begini,
"Buat apa beli kulkas. Kita hidup di negara yang dilewati garis khatulistiwa. Garis khayal yang membagi bumi menjadi dua bagian. Tau akibatnya dari letak geografis yang seperti itu? Ya tropis. Panas. Kenapa harus ada kulkas. Kenapa tidak kita nikmati kepanasan ini? Kalau nggak mau kepanasan ya pindah saja ke kutub utara."
"Yah, kepalamu panas tho? Ini banyak makanan. Kalau nggak ada lemari pendingin, kemudian nggak layak buat kita makan, terus dibuang begitu aja? Makanan ya dimakan tho yah? Kalau dibuang namanya bukan makanan, tapi buangan. Iya tho?"
Sepertinya tidak hanya kemampuan memasaknya saja yang meningkat. Kemampuan analisis othak athik gathuk-nya juga menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan.
Kalau terasa panas yang dibutuhkan bukan dingin, melainkan sejuk.
Kalau terasa dingin yang dibutuhkan bukan panas, melainkan hangat.
Manusia tak butuh kedinginan.
Manusia tak butuh kepanasan.
Yang mereka butuhkan, kehangatan dan kesejukan.
Sebagaimana engkau mengasihi aku sewaktu aku kecil...
Komentar
Posting Komentar