Langsung ke konten utama

Runtuhnya Benteng Puasa

Jauh sebelum lebaran, bapak mertua saya sudah menawarkan hal yang cukup menggiyurkan.
"Kalau kamu pulang Kebumen nanti tak sembelihkan ayam. Bapak piara ayam. Jumlahnya lebih dari cukup sekarang."

Sudah pasti. Imaji tentang bagaimana ayam-ayam kampung itu  tersaji dalam varian olahan masakan. Mungkin opor. Mungkin goreng gurih. Atau bumbu Bali. Bayangan itu meraung-raung memenuhi relung. Ayam kampung memang memiliki daya magis daripada ayam boiler.

Teknik yang sangat bagus. Ini bisa menjadi pelajaran bagi teman-teman yang ingin mengundang saya. Kalau ingin saya datang, siapkan saja sesaji, pilih salah satu dari dua ini. Kambing atau ayam. Selesai persoalan kalian.

Jadi, jauh sebelum puasa usai sebenarnya puasa saya sudah runtuh. Mungkin soal tahan menahan masih kuat. Namun isi kepala sudah tak karu-karuan. Melebihi acara masak memasak di teve. Baru dapat minggu kedua di bulan puasa aja, undangan buka bersama berdatangan. Apa inti dari buka bersama? Buka (makan dan minum) atau Bersama (menjalin ukhuwah)?. Oke taruh lah yang penting kebersamaannya. Tapi kalau makan dan minumnya tiga biji kurma tok dan segelas air putih, makannya di rumah beralaskan tikar rusak, apa tamu undangan bisa legawa? Maka dari itu undangan buka bersama bagi saya adalah godaan yang luar biasa mengoyak seluruh isi kepala. Belum lagi kalau dalam undangan itu sudah ada bocoran menu buka puasanya. Bisa tambah amburadul sistem pertahanan puasa saya. Remuk lek!

Dan bapak mertua memenuhi apa yang sudah dikatakan kepada saya. Bahwa akan ada persediaan ayam yang cukup untuk saya bantai.
Kurang lebih lima hari saya di Kebumen, 4 ekor ayam dan 1 enthog (sebangsa unggas mirip bebek tapi bukan), disembelih. Rasanya aduhai pemirsa. Ibu mertua membuat beberapa macam olahan. Dan  semuanya saya suka. Bahkan yang digoreng sampai saya jadikan cemilan. Lebih baik saya ngemil ayam kampung goreng daripada khong guan. Lha nggak ada yang merk khong guan. Ada satu container pun saya tetep nggak tergoda.

Hampir setiap seperti malam terakhir bapak mertua saya menyembelih piaraannya. Sempat saya mendengar suara agak ramai di dapur. Ternyata ibu mertua sudah mengolah daging-daging itu sebelum Shubuh. Begitu pagi menjelang, makanan sudah tersaji di meja makan untuk sarapan. Dan istri melengkapkapinya dengan tempe mendoan.

Memang, moment lebaran cocoknya  dirayakan dengan makan-makan. Namanya juga kemenangan. Menang ya makan-makan. Kalau menang kenapa kita bilangnya "kosong-kosong"? Kalau kosong-kosong kan seri namanya?

Kalau kalah? Kita yang dimakan nafsu keduniawian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lamaran Laa Roibafiih

Di suatu tempat yang sunyi, tersebut lah salah seorang pemuda yang sedang dirundung pilu. Di tengah-tengah kegelapan yang merubungnya dia tak mau membuka mata. Terpejam sampai tak tahu kapan waktunya. Meringkuk ia di sana. Rambutnya sangat kusut. Pakaiannya juga tak pernah berganti. Bau asam menyeruak dari tubuhnya. Bahkan ia sudah tak bisa melihat beda, mana makanan mana kotoran. Juga hati yang tak mengerti mana jeda, mana kesempatan, dan mana kerterburuan..... Hingga secercah cahaya datang. Cahaya yang kecil tapi cukup menenangkan. Cahaya yang dibawa seorang perempuan. Cahaya yang terpancar dari senyum simpulnya. Cahaya yang mungkin tak akan pernah padam atau dipadamkan. Cahaya yang jumlah tidak hanya 99. Cahaya yang berisi penuh dengan harapan. Tangan terjulur menawarkan kesegaran alur. Uluran yang sangat sayang untuk dilewatkan.  "Kemarilah. Ku temani kamu berjuang." perempuan itu berkata seraya wajahnya diterangi cahaya. "Kamu, mau menemaniku?" pemud...

Reposisi Kegembiraan Nabi

Ini hal yang cukup menggembirakan. Sangat menggembirakan. Iya. Benar-benar menggembirakan. Bagi orang yang tidak punya predikat bahkan pekerjaan apapun ini, 'diajak' kemana-mana adalah hal yang menggembirakan. Saya sudah tidak perlu bersusah payah menjadwal diri saya harus bangun jam sekian, harus makan jam sekian, harus mandi jam sekian, harus ke kantor jam sekian. Karena itu saya malah alhamdulillah. Tidak ada tanggungan apa-apa. Jadi kemana-mana saya ngikut saja sama ajakan teman-teman. Saya tidak punya pendirian yang kuat sebagai laki-laki? Iya, kalau cara berfikirmu lahiriyah. Kalau rohaniyah kamu akan menemukan hal-hal baru jika berinteraksi dengan spesies sejenis saya ini. Nggak percaya? Ketemuan yuk! Sambil ngopi-ngopi gitu. Ngemil-ngemil. Berdua aja sih. Khusus perempuan tapi. Nggak. Becanda. Saya percaya saja bahwa orang-orang yang mengajak saya keliling kemana-mana itu orang-orang baik dan disayang sama Allah sama Rosul. Karena diantara teman-teman, saya adalah yang...

Puasa Tidak Kuat

Ini sudah masuk pergantian tahun Islam dan Jawa. Biasanya paling enak kalau mengingat-ingat masa lalu. Kalau ada yang baru, biasanya yang lama malah bikin rindu. Sedikit membongkar-bongkar file-file usang. Tapi saya tidak akan membahas tentang manuskrip kuno saya yang dari abad ke-4 sampai sekarang belum berhasil saya selesaikan. Huruf depannya S belakangnya I. Betul! SAPI! Skripsi skripsi! Itu barang teraneh yang pernah saya temui dalam hidup. Semoga Desember ini kelar. Februari 2013 bisa ikut adek-adek lima atau enam tingkat di bawah saya wisuda. Nanti gelarnya Sarjana Masbuk saja, tidak usah Sarjana Seni (S.Sn). "Saya nikahkan Didik Wahyu Kurniawan Sarjana Masb..... Lho ini nggak salah?" "Apa pak?" "Ini?! Mana ada gelar Sarjana Masbuk? Jangan guyon ah dek!" "Ada pak penghulu. Serius. Nih!" menyodorkan buku Sarjana Masbuk. Sombong dikit lah. Sekali-kali. Iya, bulan puasa lalu hampir tidak ada catatan. Sayang sekali memang. Tapi a...