Sebenarnya saya mau tertawa keras sekerasnya, tapi karena ini masih pagi, sepertinya belum layak untuk berteriak-teriak. Agak kurang santun juga jika saya merasa hidup saya ini sedang 'tidak apa-apa'. Kalau 'tidak ada apa-apa' berarti saya nggak hidup. Di tengah-tengah keraguan-keraguan dalam menentukan pilihan, antara 2 aktivitas yang harus lebih dikerjakan dan dikerjakan, beberapa teman, kalau bolehlah saya anggap sebagai saudara, datang berduyun-duyun tanpa saya undang. Mereka membawakan tanda untuk saya tangani. Cerita-cerita 'aneh' lagi-lagi menghampiri diri ini.
Lingkungan saya sekarang ini, adalah lingkungan 'dagang' dan 'menulis'. Kuat sekali pengaruhnya terhadap saya. Untung selama beberapa tahun ini saya dimampukan untuk beradaptasi meski apa yang saya lakukan, saya akui belum sepenuhnya total. Entah kenapa, sepertinya masih ada semacam ketakutan "ini nanti ke depannya seperti apa? masa mau begini terus? bisa hidup dari sini? bisa menghidupi?". Ketakutan yang dulu hampir membuat saya tidak mau melakoni aktivitas apapun, termasuk bernafas. Kalau teman-teman sekalian pernah mengalami putus asa yang seputus asanya, saya bisiki telinga kalian, "kalau masalah putus asa, saya dulu rajanya". Terlampau sering bahkan kata putus asa itu sepertinya sudah melamar saya berkali-kali, merayu saya berkali-kali, dan celakanya, dia berhasil. Berhasil membawa saya menjadi bagian dari hidupnya. Dan saya, sempat menikmatinya.
Perkaranya cuma satu. Kamu minta, nggak dikasih. Kamu berdoa nggak dikabulkan. Kamu sudah berusaha maksimal tapi dicuekin. Kamu berbuat tapi tak dilihat. Menurut ukuran manusia macam saya ini, iya seperti itu. Nggak enak kan rasanya? Emang nggak enak. Belum lagi kalau ada pertentangan dari orang-orang dekat sendiri, semacam keluarga dan calon mertua. Kalau itu semua menumpuk dan memenuhi pikiran kita, dijamin, tubuhmu error, kesehatanmu menurun. Imun dalam tubuhmu tersedot semua ke wilayah otak. Padahal seharusnya otak yang membagi-bagikan nutrisi. Tapi karena tidak sehat, akhirnya otak tidak bisa berbagi, distribusi sel darah mampet semua, macet, ya sudah. Minimal pusing kepalamu, mual perutmu karena asam lambung naik, setelah itu tulang kayak remuk remuknya, dada sesak, macem-macem, batuk pilek demam, semuanya kumpul dan tubuhmu jadi 'rumah sakit' dadakan. Kalau sudah seperti itu, selamat sakit. Sakit itu ada 2 kata teman saya yang ahli. Pertama, itu memang ujian, seperti kisah nabi ayub. Kedua, itu karena kita tidak mampu mengemban amanah tubuh kita sendiri. Reaktif sifatnya. Akibat hukumnya. Saya cuma mengangguk menanggapi beliau. Kalau saya memang lebih setuju ke opsi yang kedua. Kalau saya diuji, kok bukan levelnya.
Karena sempat bingung akut, saya beri pilihan terhadap diri saya sendiri. Silakan memilih, hidupmu mau yang modelnya gampang ditebak alur ceritanya, atau sama sekali tak bisa ditebak? Saya tidak bisa bisa memilih. Mau saya tebak, tebakan saya salah terus.
Ini mau tertawa keras juga bukan pada tempatnya. Kalau teman-teman melihat orang-orang yang sekarang tampak bahagia, selalu tersenyum di mana saja ia berada, seolah-olah tidak ada masalah, kalau ada masalah semua mampu diselesaikan, orang itu sudah khatam hidupnya. Jangan iri sama mereka. Mereka sudah sampai An Nass mungkin kita mandeg di Al Maa'idah, terlena oleh 'Hidangan-hidangan' dunia. Beneran. Kalau sudah menjadi 'manusia' sudah selesai hidupmu. Ini bukan berarti terus lebih baik mati. Nggak gitu. Mereka sudah selesai hatinya. Jadi mau ada masalah model apa, mampu mereka tangani kok. Tak banyak orang yang sudah lulus menjadi manusia yang mampu mengatasi penderitaan demi penderitaan dalam hidupnya.
"Dagangan saya tidak laku." sekilas wajar kalimat ini. Kalau yang mengucapkan orang yang baru memulai usahanya. Tapi akan terasa aneh jika yang mengucapkan adalah seorang pedagang yang berkali-kali laris dagangannya. Setiap hari ada saja pembeli yang datang. Akan lebih runyam lagi kalau sampai ia mengatakan, "saya gulung tikar saja."
"Tulisan saya ditolak sama penerbit." sekilas ini kalimat wajar ya? Seolah tidak mengandung apa-apa. Kalau oleh orang yang belum pernah sama sekali memasukkan naskah ke penerbit dan belum pernah ada karyanya yang diterima oleh penerbit dan dijadikan buku kemudian didistribusikan ke toko buku ternama, itu bukan masalah. Menjadi masalah ketika orang yang mengatakan hal itu adalah orang yang sudah punya lebih dari satu buku di penerbit yang sama, dan sekarang ditolak pula oleh penerbit yang sama. Menjadi masalah lagi, hal itu menimbulkan reaksi, "jadi malas menulis rasanya."
"Saya gagal bimbingan." sekilas kalimat ini juga kalimat yang wajar. Kalau yang mengucap spesies seperti saya yang kuliahnya entah bermanfaat atau tidak. Saya gagal bimbingan itu malah seneng. Lha nggak jadi ketemu dosen. Tapi akan lain cerita, kalau itu keluar dari mulut mahasiswa yang benar-benar dan sungguh-sungguh ingin segera menyelesaikan studinya untuk menuju jenjang pendidikan berikutnya dan membahagiakan orang tuanya. Celakanya lagi kalau hal itu sampai kepada, "jadi males nyelesaiin skripsi. Biarlah."
"Lamaran saya ditolak lagi." sekilas wajar kan kalimatnya? Iya. Wajar kan? Kalau ngomongnya di depan saya langsung saya mutilasi dan potongan tubuhnya saya paketkan ke Mars. Nggak tahu lagi ngomong sama siapa ini orang apa ya?
Saya pernah dikasih tips sama kepala jurusan sewaktu kita sharing masalah tulis menulis sembari berbincang soal revisi skripsi.
"Mas, kalau mau jadi penulis hebat, syaratnya gampang. Harus mau menderita."
Saya langsung bereaksi. Semua buku yang saya miliki mau saya bakar. Saya mau hidup tanpa mengenal laptop, pulpen kertas komputer apapun yang menjadi sarana saya untuk menulis. Itu tips apa penyiksaan pak? Saya mau tinggal di Mars saja pak.
Itu saja teman-teman. Saya kasih clue,
Awal niat menulis saya sudah dibukakan dan dirangkum secara apik oleh Tuhan dalam 'SURAT CINTA AL FATEHAH'
Perjalanan kuliah saya selama 8 tahun lebih -tentu ini bukan waktu yang pendek bagi manusia normal- sudah dirangkum dan dijadikan sederhana sekali oleh Tuhan menjadi 2 kata. Bayangin aja. Cuma jadi 2 kata 'SARJANA MASBUK'
Perjalanan cinta saya yang selama ini diliputi keragu-raguan, semoga juga akan dirangkum Tuhan menjadi sederhana dan menguatkan keyakinan saya, 'LAMARAN LAA ROIBAFIIH'
Saya mau melanjutkan perjalanan ini dulu. Ilmu itu tak ada ujungnya. Kecewa sedikit ya boleh lah. Banyak juga nggak apa-apa. Terserah kalian.
Perjalanan hidupku selama 8 tahun lebih hanya diselesaikan oleh Tuhan menjadi 2 kata saja. Tapi mungkin 2 kata itu yang akan membuatku dikenang selama-lamanya. Dan cintaku akan semakin kuat jika tak ada ragu di dalamnya. Semoga tak ada lagi air yang keluar dari mata, kecuali, bahagia.
*Mohon doanya untuk realisasi KELAS MENULIS. Konsepnya seperti apa? Tunggu yah... Makasih kakak kakak yang ganteng dan cantik-cantik...
Komentar
Posting Komentar