Langsung ke konten utama

Motor Rahmatan Lil 'Alamiin

Sedikit saya kabarkan tentang sesuatu. Ini menyangkut masalah nasional. Kalau ada yang sudah membaca catatan saya yang kemarin yang ada urusan banjir dan 'rasa sayang' kakak saya terhadap adiknya yang lugu ini itu sebenarnya sebuah catatan yang belum selesai. Serius. Makanya nggak ada yang saya tag. Belum selesai tapi dengan sangat terpaksa harus saya hentikan karena ini juga menyangkut masalah nasional. Motor saya harus segera di-service. Sayang banget kalau saya tunda-tunda lagi. Ini dia, si grand pa, begitu saya menyebutnya, sudah lama tak dibelai oleh tukang pijit kesayangannya. Kemaren minggu dia ngambek. Gear rantai belakang 'ompong' sehingga rantainya lepas pas saya pakai. Untung lepasnya nggak pas di tengah jalan. Kan bisa repot.

Feeling saya pas sabtu malam sepulang latihan musik nasyid. Pas sampai di depan rumah sakit daerah rantai saya terasa ada yang menahannya. Jangan-jangan ada makhluk halus yang membonceng di belakang? Pikir saya saat itu. Karena film-film horor kan selalu menyajikan dan meyakinkan kita bahwa rumah sakit itu bukan hanya tempat untuk menyembuhkan pasien yang sakit tapi juga menyajikan hal-hal yang menakutkan. Kayak gitu kok dipelihara. Mana mau maju bangsa ini. Maju ke jurang iya. 

Sudah nggak enak perasaan ini. Kalau sampai lepas di tengah jalan bisa runyam saya karena kondisi jalanan saat itu sudah sepi. Bengkel juga sudah tutup semua. Doa saya, jangan sampai lepas di tengah jalan ya Alloh. Tahan dia untukku dan berilah aku kesabaran yang lebih. Kalau naik motor dengan kondisi rantai yang rawan gitu diusahakan jangan ngebut tapi stabil di angka-angka pelan. Kalau dipaksa ngebut pasti lepas. Mencoba untuk tenang dan santai karena jarak 'gua' tempat tinggal saya lumayan jauh jika harus menuntun motor. Belum lagi ditambah jalanan yang naik turun. Bisa olahraga malam saya. Akhirnya sampai juga dengan selamat.

Minggu pagi saya terkejut mendapati motor saya sudah berada di luar gua. Ini siapa yang makai tadi?

Memang sih, ini saya kasih bocoran sedikit tentang profil Grand Pa kesayangan saya. Begini. Sebenarnya dia adalah orang Jepang. Maksud saya dia adalah Honda Grand Impressa tahun 1997. Cukup jadul jika era sekarang. Entahlah. Keluarga saya itu punya keyakinan bahwa yang namanya motor adalah 'honda'. Selain itu bukan motor. Mungkin beberapa orang di wilayah Indonesia ini juga mengalami hal-hal seperti itu. Menyebut motor dengan kata honda. Menyebut pasta gigi dengan kata odol. Menyebut air minum kemasan dengan kata aqua. Bukan masalah besar sih. Itu pertanda kalau orang-orang Indonesia memiliki otak dengan kapasitas memori yang tak terhingga. Satu kata bisa mempengaruhi tujuh turunan. Begitu juga dengan keluarga saya. Motor pertama yang berhasil dibeli adalah Honda Grand Impressa 96. Baru beberapa tahun kemudian membeli honda grand impressa 97 (si grand pa). Setelah itu Supra entah tahun berapa dan disusul honda matic vario. Motor pertama untuk kakak saya di Magelang. Supra untuk ibu bapak. Vario dibawa kakak perempuan saya (yang berhasil mendeteksi adiknya lewat bentuk), dan terakhir grand impressa 97 sekarang jadi bagian dari hidup saya di Solo ini.

Motor ini dibeli dari seorang nelayan di daerah Juwana Pati. Kalau sering lihat berita daerah Juwana saat ini sedang dilanda banjir. Dibeli sekitar tahun 2000-an era Linkin Park, Limp Bizkit, POD, System Of A Down, dan beberapa grup musik metal lainnya juga boyband asal Taiwan, F4. Hafal ya saya? Hafal dong. Ini tadi baru googling. Aslinya motor itu bukan untuk saya tapi untuk keluarga. Saya belum begitu butuh dan memang jarang memakainya karena jarak antara sekolah ke rumah cukup dekat dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Atau kalau nggak, cukup teriak-teriak di depan rumah siapa tahu ada teman satu sekolah yang membawa motor dan mau untuk diboncengin. Pada masa saya sekolah, motor grand itu masih cukup istimewa. Oh, maaf saya ralat biar nggak ketahuan tuanya. Ah masa bodoh, udah terlanjur ketahuan tua juga. Lanjut deh. Saat itu saya lebih bangga membonceng. Karena membonceng itu kita memiliki posisi nilai tawar yang tinggi. Kita seperti 'bos' yang diboncengkan anak buahnya. Iya sih. Kalau nggak ya kayak 'anak' yang diboncengin bapaknya.

Si grand pa lebih sering di rumah dipake bapak untuk antar jemput ibu di pasar. Sampai lulus saya belum juga memakai motor sendiri. Awal kuliah di Solo juga masih sering jalan kaki. Kalau mau nonton bioskop ya naik bus kota. Hingga akhirnya di sekitar tahun 2007-an karena ibu bapak sudah ada motor supra, akhirnya si grand pa dihibahkan ke saya. Saya terima dengan senang hati. Bukan apa-apa. Ya senang aja dikasih motor. Saya sempat memakai Supra di Solo, tapi tunggangannya kurang nyaman di pantat. Bentuk bodinya terlalu aero dinamis. Saya disuruh memilih antara Grand atau Supra, atau mau dibelikan yang baru, pilihan saya tetap pada si Grand Pa. Kalau beli baru kayaknya nggak usah. 

Waktu berlalu, si grand pa ini yang akhirnya sering menemani saya kemana-mana. Kalau boleh dibilang ini motor perjuangan. Berkali-kali ibu menawari dengan sedikit mencemooh supaya saya mau meninggalkan grand pa.

"Motor kayak gitu kok dipakai. Nggak mau ganti?"
"Nggak usah bu. Ini masih enak dipakai. Ganti juga harus keluar duit lagi."
"Nggak apa-apa. Ibu belikan. Mana ada cewek yang mau sama kamu kalau motormu kayak gitu."
"Ya tergantung ceweknya mau dinikahi siapa. Motornya apa orangnya. Mana ada cewek yang mau dinikahi sama motor. Meski Ducati juga nggak bakalan mau. "
"Makan le. Kelaperan akut kamu rupanya."

Dia nggak pernah protes. Perawatannya juga simple. Cukup diganti oli sebulan atau paling lama dua bulanan sekali tergantung pemakaian. Nggak lho. Saya bukan sedang promo. Tapi beberapa orang di bengkel yang paham tentang permesinan semua mengakui kalau honda tipe grand impressa sampai tahun 1997 itu memiliki performa mesin yang tangguh asal perawatannya rutin, dan juga terkenal irit bensin. Jadi sangat pas di era harga bbm yang melangit ini. Lagian motornya sudah nggak diproduksi lagi. Buat apa saya promosi. Tapi itu dari segi mesin dalam. Tampilan luarnya sih memang tak sekeren yang dulu. Dia sudah dimodif. Shock bekkernya dipendekin jadi agak ceper gitu. Repot kalau dipinjem sama orang yang gendut. Jadi ngesot gitu. Terus kalau hujan kasihan karena posisi knalpotnya yang ikut-ikutan menjadi pendek jadi rentan kemasukan air kalau lewat di jalan-jalan yang banyak genangan airnya. 

Terus, gimana motor saya yang saya kunci stang tiba-tiba bisa berada di luar gua? Beberapa teman saya sudah paham. Seharusnya ini sih rahasia. Rahasia apa aib ya? Oke si grand pa secara mesin, tidak ada masalah, masih oke. Cuma bagian kunci kontaknya itu yang sudah aduhai. Dia bisa dinyalakan dengan kunci apapun. Catet ini teman-teman. Dia bisa dinyalakan dengan KUNCI APAPUN. APAPUN! Bahkan informasi yang terbaru, dia bisa dinyalakan dengan menggunakan, GUNTING biasa. Nggak usah susah susah pakai kunci letter T. Cukup gunting pemirsa. Apa? Ah nggak usah khawatir. Meski dia dikunci stang tetap bisa. Saya juga heran. Ini motor jadi motor kok 'TERBUKA' sekali. Rencananya saya mau beli Toyota Yaris, terus kuncinya mau saya pakai untuk Grand Pa saya. Serius. Doanya ya teman-teman.

Jadi kadang dia sering bikin saya kaget. Misalnya saya sudah buru-buru mau pergi, tahu-tahu dia nggak ada di luar gua. Motor ini sering jalan-jalan sendiri gara-gara saking terbukanya tadi. Mau dipakai siapa saja juga oke tanpa harus meminta kuncinya kepada saya. 

Seharian kemaren akhirnya dia meminta haknya untuk dipijat sama tukang pijit kesayangannya. 

"Kemaren baru ku ganti gear rantainya. Yang belakang. Sudah ompong ternyata."
"Ini nanti sekalian diganti kamrat rantai depannya."
"Berapa biasanya?"
"Empat delapan paling."
"Ya udah sekalian ganti oli sama service kayak biasanya. Kalau kayak gini dijual laku berapa?" tanya saya kepada tukang pijitnya yang juga sahabat karib saya.
"Ini sih kalau empat sampai empat setengah masih laku. Tapi kondisi luarnya harus dinormalkan. Diganti dengan yang lebih baru. Ini nyucinya waktu malam satu Suro aja ya?"
"Satu Suro aja kadang lupa."
"Mau kamu jual? Buat apa? Ini kan motor lara lapa (susah senang) to? Masa mau kamu jual. Sudah berapa tahun coba kamu sering bawa ke sini? Mending beli lagi yang baru."
"Iya sih. Dia motor perjuangan."
"Ini awet mesinnya. Kamu lihat aja motor-motor sekarang. Apa dia bakalan awet sampai seusia motor ini?"

Saya elus-elus motor saya. Sering dia saya tepuk bagian depannya.

"Kamu kalau mau dipijit, cari rezeki sendiri ya! Jangan nyusahin aku!"
"Yang penting jangan pernah tinggalkan aku di tengah jalan."
"Iya sayaaaang....."
"Satu lagi carikan aku saudara baru. Aku bosan sendirian."
"Iya sayaaaang....."
"Yaris satu sama Revo satu."
"Iya sayaaaang....."
"Biarkan aku jadi Motor Rahmatan Lil 'Alamiin...."
"I... yaa, sa... ngomong apa kamu barusan? Aku aja belum bisa kayak gitu."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...