Sempat kaget saat tetiba ponsel ini bergetar. Apa yang membuat saya kaget? Toh peristiwa ponsel bergetar adalah peristiwa yang umum terjadi di era ini. Mari. Akan kuceritakan sesuatu kepada kalian. Namun, seperti yang sudah-sudah, tolong langitkan sekali, syukur 3 kali Al Fatehah. Untuk apa? Supaya hijab-hijab pegetahuan dan hikmah yang seharusnya belum bisa kita terima, akan segera kita panen berkahnya.
Hari masih pagi. Persis sehabis shubuh. Tertera nomer kakak saya di sana. Ada apa lagi ini? Begitu mau saya terima, panggilan itu berakhir. Kembali saya letakkan ponsel. Beberapa detik kemudian ia bergetar lagi. Kakak saya 'memanggil'. Saya terima. Tapi tak ada suara di sana. Untuk kemudian panggilan yang sudah saya jawab itu tetiba diakhiri tanpa ada respon balik. Ya Alloh ini ada apa. Kalau saya tidak panik, nanti malaikat pada bingung. Ini orang gimana sih, tahu keadaan kayak gini kok biasanya saja bawaannya. Serius saya bingung. Saya telpon balik kakak saya. Di reject terus. Ya Alloh ada apa ini. Berilah keselamatan kepada keluarga saya di sana. Saya ingin pulang tapi masih belum bisa ya Alloh. Jaga keluarga saya di sana ya Alloh. Sebisa-bisa saya berdoa dengan bahasa sekenanya. Lagi saya hubungi kakak saya namun berkali-kali di reject. Karena sudah cukup putus asa, saya kirim sms kepada beliau. Tetap dengan pertanyaan yang sama,
"Ada apa mbak?"
Agak lama pertanyaan dalam pesan tersebut tidak mendapat jawaban. Oke. Jantung serasa berhenti berdetak. Waktu melambat. Kepala pening dan nafsu makan 'zero'. Karena sedikit kesal akhirnya saya banting ponsel saya. Ke kasur yang empuk. Setelah saya lempar, ia bergetar. Saya makin panik. Jangan-jangan hape yang sempat dijadikan Obama untuk berkampanye dulu itu rusak. Itu kan hape satu-satunya, yang di masa lalu harganya mahalnya minta ampun tapi selang beberapa tahun saja langsung kalah pamor dengan teknologi yang punya logo mirip tabung gas elpiji 3 kiloan. Terus kalau rusak saya pake apa ya Alloh. Saya tengok hape itu. Saya elus-elus. Oh ada pesan masuk rupanya. Saya kira ia marah karena saya banting.
"Nggak ada apa-apa Dik. Tadi ada orang tidur di teras rumah. 'Bentuk'nya mirip kamu. Mbak kira kamu. Ngapain anak ini pagi-pagi begini tiduran di teras? Tapi mbak telpon ternyata masih kamu angkat tadi. Berarti bukan kamu yang lagi di tidur di teras tadi. Hahaha..."
Saya antara bahagia karena punya kakak yang cukup perhatian dan KESAL SEKALI karena kakak saya mendeteksi adiknya ini lewat 'BENTUK'. Nggak tahu apa kalau adiknya di Solo ini semakin hari semakin ganteng dan sempat menolak beberapa tawaran untuk menjadi model joki para caleg yang punya wajah pas-pasan. Itu kalau semua warga negara Indonesia memiliki kemampuan intelejensia seperti kakak saya apa nggak runyam negara ini.
"Siapa nama Menteri Pendidikan saat ini?"
"Maaf, kalau nama saya kurang tahu. Tapi saya hafal bentuknya. Tolong suruh beberapa orang ke sini. Saya pasti tahu yang mana yang menteri pedidikan, mana menteri perdagangan, dan mana menteri dalam negeri."
"Oke ketiga-tiganya silahkan maju."
"Oh cukup-cukup. Nggak perlu terlalu dekat. Nah! Itu itu! Iya yang itu! Yang sebelah kiri sendiri! Iya itu yang pakai batik warna abu-abu! Iya itu menteri pendidikan! Jelas itu dia! Saya hafal BENTUKNYA!"
"Oh itu ustadznya datang!!! Saya hafal BENTUKNYA!!!"
Tahu lah kakak saya itu. Jadi cuma dilihat bentuknya nggak dilihat wajahnya sudah bisa mendeteksi itu adiknya apa bukan. Tapi memang deteksi bentuk tadi itu sangat diperlukan oleh kakak saya di Pati sana. Kekhawatiran atas siapa orang yang tidur di teras rumahnya itu bukan tanpa alasan. Rumah kakak saya berada di pinggir jalan penghubung antara wilayah Pati Selatan (Kayen, Sukolilo) ke arah kota Kabupaten. Wilayah ini adalah salah satu dari sekian wilyah di sekitar Pati yang terkena luapan air alias banjir. Saya khawatir karena sebagian keluarga saya juga berada di wilayah itu. Jadi kondisi perbatasan kota Pati, baik itu timur, selatan, barat, dan utara semuanya terkepung oleh air. Kebetulan rumah ibu bapak berada di kota kabupaten dan tidak terkena banjir. Namun jalanan di depan rumah mbak Anik di daerah Ploso Malang, Pati bagian selatan semuanya tergenang air.
Sehari sebelum kakak saya menghubungi saya, kita sudah berkomuikasi saling menanyakan keadaan dan kabar. Berharap semuanya baik-baik saja. Akses ke arah kota terputus. Kalau mau melewati jalan harus menggunakan jasa penyeberangan. Saat itu air masih cukup tinggi. Dan rumah kakak saya adalah sedikit dari rumah di wilayah itu yang kebetulan tidak terkena banjir. Air hanya sampai teras depan rumah.
"Ini tetangga banyak yang mengungsi di sini Dik."
"Ya mbak, punyanya apa dibagi-bagikan ke tetangga mbak."
"Sudah Dik. Adanya mie instan sama tempe. Makan seadanya."
"Inggih mbak."
"Di sini dijadikan posko NU Dik."
"Inggih mbak.
Kakak saya khawatir kalau-kalau saya tiba-tiba pulang ke Pati, dan karena tidak dapat angkutan untuk menuju ke arah kota. Mungkin kakak saya membayangkan saya jalan kaki dari Solo ke Pati. Setelah beberapa hari perjalanan saya, kehabisan bekal, baterai ponsel habis, tidak ada pertolongan, sehingga saya pingsan begitu sampai di teras rumah sebelum saya mengetuk pintunya.
"Adikkuuu.. kamu kenapaaaa???"
Begitu orang itu menengok, "Oh bukan maaf maaf. Saya kira kisanak adik saya. Bentuk kalian mirip."
Komentar
Posting Komentar