Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamkan memori kepada setiap anak kecil yang dia temui soal ketampanan.
"Mas kenalan. Namanya siapa?" si anak bertanya.
"Panggil aku, Mas Tampan. Atau Mas Ganteng."
"Hahaha.. iya mas Tampan."
Itu hanya satu dari sekian perilaku ramahnya terhadap anak kecil. Atau bolehah kita sebut dia memang sangat dekat dengan anak-anak. Mungkin, jauh di dalam jiwanya dia memang masih 'kecil'. Bahkan kecil sekali. Rambutnya yang tak lurus juga tak begitu ikal sekarang tak sepanjang yang dulu. Pernah dia membiarkan rambutnya panjang sampai ke bahu. Namun sekali lagi, ini era yang sudah terkontaminasi. Bahwa penampilan luarmu adalah bagian dari perwujudan akhlakmu. Maka, pun meski kerana terpaksa, akhirnya dia mengurangi panjang rambutnya. Celakanya, akhirnya dia lebih suka dengan model rambut yang sekarang. Dia begitu menikmatinya.
Di bagian bawah, dia begitu istiqomah mengenakan celana warna kremnya. Merknya boleh dikata adalah merk yang sedang menjadi idola. Merk luar katanya. Celana yang dibelinya sekaligus dua. Kembar. Sama. Apakah ini pertanda? Batinnya menggoda dirinya sendiri. Senyum pun tersungging mesra. Pertanda apa? Hanya dia yang mengerti isi hatinya. Kembar kata kuncinya. Ikat pinggang berlogo pramuka setia menjadi penyatu antara celana dengan tubuhnya. Tidak begitu erat memang. Kerana yang terlalu erat, mengikat kuat, kadang menyiksa. Dia ingin merasakan kenyamanan dan bernafas lega kala berbusana. Tidak terlalu wah, itu prinsipnya.
Cipratan minyak wangi tersebar secara acak melingkupi tubuhnya. Seketika kamar kecil tempatnya biasa mencurahkan segala seuatunya turut serta berubah menjadi wangi. Inilah perubahan kecil yang ia lakukan. Entah kenapa dulu kepalanya sering pusing tatkala mencium bau wewangian. Tapi begitu nyaman dengan bantal yang dipenuhi bau liur kering. Bantal yang sangat jarang jarang sekali diganti sarungnya namun ia begitu menyukai aromanya hingga ia mampu tertidur pulas di atasnya. Wangi rapi? Dua kata yang baru ia kenal akhir-akhir ini. Mungkin baru akan berjalan dua belas bulan.
Ponsel jadulnya bergetar. Tanda ada pesan masuk disana. Di angkatnya ponsel itu dari meja cokelat properti kamarnya. Oh, benar. Rupanya ia harus segera berangkat. Diraihnya kunci motor kesayangannya. Tak lupa sebelum berangkat ia cek kembali beberapa barang bawaan yang wajib ia bawa. Dompet, sarung tangan, masker, serta charger. Ia harus segera berangkat melakoni hari-harinya sebagai seorang musisi. Pemain musik. Lebih tepatnya pemain musik musiman. Ini bukan profesi utamanya. Hanya sekedar melepas penat ketemu bersama teman-temannya menghibur orang-orang di sekitarnya. Kalaupun ada beberapa lembar uang yang ia terima itu hanya efek semata. Kalau dapatnya banyak, berarti efeknya yang besar. Itu saja. Sederhana ia membangun pikirannya. Sesederhana ia melakoni beberapa cerita di dalam hidupnya. Yang kalau hanya dipikirkan saja tentu akan semakin lebih berat rasanya.
Jaket cokelat menjadi pelindung terluar. Ia tahu, karena tubuhnya yang ramping dan minim lemak, maka ia harus menutup rapat tubuhnya ketika berkendara jika tak mau angin datang menyerangnya. Pelan ia menikmati jalanan. Pelan bukan berarti malas. Ia hanya ingin menata hatinya di jalan. Karena jalan adalah tempat yang tak bisa tertebak kondisinya. Ia rasa, jalan memiliki iramanya sendiri. Orang mudah tersulut emosinya di jalan. Itu menurutnya. Jadi lebih baik ia mengkondisikan hatinya sendiri di jalan dengan motor yang memang dibuat untuk berjalan pelan. Kalau hatinya nyaman, waktu dan jarak bisa dilipat. Begitu ia menghibur dirinya sendiri di jalan. Hujan panas itu hanya persoalan luar. Hujan boleh membahasi badan dan panas boleh menyengatnya. Tapi tidak dengan hatinya. Kalau kamu bisa tersenyum di tempat yang menurutmu paling tidak nyaman, selamat datang di sejatinya alam kebahagiaan kawan.
........
Iyaaaaaa... Selamat datang semuanyaaahhhh.... Aduh senang sekali rasanya hari ini. Ini yang hadir dari kelompok pengajian mana saja? Oh bukan ya? Dari kelompok arisan manaaaa??? Bukan juga??? Terus darimana? Aduh wajahnya cantik-cantik ganteng-ganteng gini. Lama ya kita nggak kumpul-kumpul kayak gini. Iya, maaf, beberapa hari kemaren harus bertugas menemani teman teman musisi nasyid sih. Biasa, menghibur sekaligus berdakwah katanya. Hu'um walimatuh 'ursy. Iya acara pernikahan gitu. Ya galau juga sih. Kan kitanya belum menikah ya. Lihat orang menikah gitu ya ada rasa pengen juga. Siapa sih yang nggak seneng lihat orang yang berbahagia. Ya saya berdoa saja, semoga bisa segera menyusul mereka.
Sebelum kita mulai boleh dong saya minta tepuk tangannya. Eits, bentar ibu-ibu. Saya kasih aba-aba ya. Ada yang masih inget dengan ini, TEPUK ANAK SHOLEH!
Aku! plok plok plok!
Anak Sholeh! plok plok plok!
Rajin Sholat! plok plok plok!
Rajin Ngaji! plok plok plok!
Orang tua! plok plok plok!
Dihormati! plok plok plok!
Cinta Islam! plok plok plok!
Sampai mati! plok plok plok!
Tau lah ibu-ibu semangat banget. Sudah pada sarapan bu? Sudah? Sarapan sendiri? Suaminya nggak dimasain? Oalah. Ini salah jadwal kayaknya. Besok-besok kalau ngadain acara kayak gini jangan pagi hari. Aduh, panitianya gimana ini. Lihat berapa suami dan anak-anak yang tidak sarapan akibat ulah kalian, wahai panita! Nggak nggak bercanda ibu-ibu.
Ini kita enaknya ngobrolin apa bu'? Gosip? Oalah. Yang lain bu'. Politik aja gimana? Nggak ngerti ya? Sama bu'. Apa bu'? Cara memasak air yang baik dan benar? Yeee, semua orang juga bisa bu. Apa? Saya cerita lagi seperti biasanya? Hmmm, tapi ibu-ibu jangan ngerumpi sendiri ya. Nanti saya kayak orang gila lagi. Ngomong sendirian.
Begini ibu-ibu semuanya. Saya kemaren ada acara pentas di daerah Tawangsari, Sukoharjo sana. Dua hari bu'. Acara pernikahan. Saking senengnya yang punya rumah mungkin sampai mengundang temen-temen nasyid dua hari berturut-turut. Makanan dan minuman mengalir tanpa jeda bu'. Sampai perut ini tak kuat menampung. Masa rezeki mau ditolak. Kan nggak baik ya bu' ya. Makan minum makan minum terus bu'. Tak ketinggalan juga ada rokok yang dibagikan. Tapi kerana saya nggak merokok ya jatah saya, saya kasihkan yang merokok saja. Apa bu'? Seneng punya menantu yang nggak merokok? Aduh, jangan gitu ah bu'. Kan malu bu'. Oh bukan saya ya? Iya deh.
Hari pertama belum begitu banyak tamu yang hadir kerana acara inti adalah hari kedua. Pun demikian kita main total. Capek iya, tapi tetep harus menikmatinya. Katanya lelaki itu nggak boleh gampang capek. Lelaki itu harus berenergi. Bener begitu ibu'-ibu'? Iya meski sejatinya energi perempuan jauh lebih besar dari lelaki. Perempuan lebih kuat dari lelaki. Ia mampu membawa bayi di dalam perutnya kesana kemari sebelum dilahirkan. Belum lagi kalau melahirkan dan harus mengeluarkan banyak darah. Cieee, ibu-ibu dan calon ibu-ibu mulai terharu cieeee... Panitia tolong bagikan tisu. Kalau nggak ada pampers juga boleh. Air mata dan perempuan itu memang seolah satu paket ya bu'. Saya juga kalau inget perempuan yang sudah mau menemani saya berjuang sejauh ini saya juga suka menitihkan air mata. Menangis itu bukan pertanda lemah. Ia adalah perwujudan ekspresi jasmaniyah dari apa yang dirasakan oleh hati. Ya bu' ya. Mbak-mbak yang di sana itu juga sepakat ya?
Hari pertama nggak begitu ramai bu'. Hari kedua ini tamu undangan banyak yang berdatangan. Kayaknya yang menikah ini mempelai lelakinya dari anggota polisi sedangkan mempelai perempuan dari kebidanan kalau nggak salah. Suasana gerimis menambah aura makin romantis. Dingin menyerang tubuh yang tipis. Untungnya seragam tim nasyid ini cukup tebal. Kalau tidak ya alamat masuk angin saya bu'. Apa bu'? Oh iya lupa. Lelaki nggak boleh gampang sakit ya bu'. Lelaki sejati lelaki yang tak mudah sakit hati? Ibu itu boleh juga. Silakan maju kesini bu'.
Lantas kerana satu dan lain hal saya harus pulang berboncengan dengan teman saya. Saya memanggilnya 'ustadz'. Tad gitu. Tad ted tad ted gitu. Kalau kondisi serius saya memanggil beliau dengan sebutan ustad. Kerana ia memang pengajar di salah satu pondok. Beiau juga mengajar pelajaran bahasa Indonesia. Seorang ustad yang sangat saya hormati kerana kita terpaut beberapa tahun. Jelas lebih tua beliau lah bu'. Tahun 2007 saja saya masih duduk di bangku SMP lho. Saya memboncengkan beliau. Sebagai pemuda yang baik, harus menjadi garda depan bagi orang yang lebih tua. Kita satu rombongan mampir makan sebentar di warung ayam yang katanya adalah warung favorit di daerah itu. Lahap, terlihat sangat menikmati. Lantas ada yang berinsiatif untuk membawakan bungkusan bagi keluarga masing-masing di rumah. Lha? Saya kan belum berkeluarga ibu-ibu. Tapi lantas aku inget kamu. Ya aku bawain aja bungkusan itu untukmu.
Perut kenyang dengan cuaca yang terlihat mulai berawan. Angin sepanjang perjalanan cukup akrab untuk dijadikan kawan. Sawah-sawah yang terhampar memanjakan mata setiap pejalan.
"Tad, kalau boleh tahu tad. Sebenarnya jauh di lubuk hati antum, apa yang sebenarnya antum cita-citakan?" saya bertanya setelah kita berbincang masalah pernikahan.
"Jadi seperti ente."
"Ha?" kurang jelas pendengaran saya kerana kondisi jalan di depan pabrik tekstil itu lagi ramai.
"Jadi seperti ente."
"Seperti ane tad?"
"Iya."
"Maksutnya? Penulis tad?"
"Iya. Menjadi penulis. Buku, novel lalu menjadi penulis skenario. Bisa bekerja di rumah. Memiliki taman bacaan di rumah. Bisa bersama anak istri di rumah."
"Tad saya anggap ini doa untuk saya tad. Ternyata kita satu frekunsi soal itu. Insyaallah saya akan mewujudkan impian panjenengan tad. Saya mau menjadi apa yang seperti panjenengan cita-cita kan tad." Saya amini setiap pernyataan beliau. Katanya doa sepanjang perjalanan itu cenderung diijabahi.
Tiba-tiba capek pegal-pegal di tangan hilang. Selama ini saya nggak pernah bersyukur. Saya tidak peduli orang menyebut saya apa. Saya tak peduli tulisan-tulisan saya bermanfaat untuk orang lain apa nggak. Ternyata Tuhan mengabarkan dengan cara lain. Ada ustad dik, ustad yang di dasar hatinya ia mau menjadi sepertimu. Maka mulai sekarang, maui saja hidupmu dik.
Ustad, kau menginginkan hidupku, kau mau hidupku, aku harus lebih mau terhadap hidupku. Syukron ya Alloh, syukron Tad..
Teeeeeddd... Iyak ganti pelajaran.....
Komentar
Posting Komentar