Senin itu saatnya mengungkapkan hal-hal yang nyenengin. Selasa Rabu, kita lewati saja bersama rindu yang menggebu. Tiba Kamis, jatahnya untuk yang romantis. Jumat, Sabtu, Minggu biar ku jalani denganmu di sisiku.
Horeeeee.....
Hari ini saya akan bagi-bagi ucapan terima kasih. Yang pertama untuk kalian yang sudah setia membaca. Yang kedua untuk keluarga kalian yang sudah setia membaca. Yang ketiga kepada saudara-saudara kalian yang sudah setia membaca. Ada semacam perasaan haru di hatiku. Rasanya ada yang selalu mendoakan saya tanpa mau diketahui oleh siapapun. Boleh lah saya berprasangka demikian. Saya yakin kalian benar-benar mendoakan saya supaya saya menjadi orang yang bermanfaat bagi banyak orang. Ah kalian. Makasih ya. Pampers mana pampers?
Kalian itu lho. Bikin saya seneng terus tiap hari. Sebenarnya saya, kalau memang diijinkan oleh Tuhan, maunya setiap hari nulis terus. Nulis di share nulis di share nulis di share. Beneran. Kalau benar-benar bisa sedikit membuat hati kalian bahagia, saya mau menjalani hal yang demikian itu. Tapi saya masih sering kalah oleh hal-hal teknis teman-teman. Coba saya jabarkan ya. Kalian nyimak lho. Nanti kalau ada yang salah saya tolong saya dikoreksi.
Pertama, saya belum punya laptop atau komputer. Ada cerita aneh yang anehnya melebihi alien penyuka tempe penyet Lamongan. Begini. Sekitar seminggu yang lalu saya coba memecah celengan. Saya kalkulasi. Sepertinya sudah cukup lah kalau untuk sekedar beli pc komputer. Tanpa monitor, tanpa keyborad, tikus, dan perangkat lainnya. Saya menghubungi seorang teman yang kebetulan akan membuka usaha jual beli komputer. Jadi saya yakin dia sudah memiliki referensi tentang harga-harga komputer.
"Kalau komputer sekarang harganya berapa? Komputer aja. Yang rakitan nggak apa-apa. PC aja soalnya udah ada monitor di kamar nggak terpakai." ini obrolan via sms.
"Ada sih mas. Mau yang spesifikasinya seperti apa?"
"Ya pokoknya yang performa MS Word-nya paling oke. Word 97-2003 sudah cukup."
"Hahaha... "
"Sama bisa buat internetan, sama photoshop aja."
"Mau yang bisa buat PES juga nggak?"
"Asal bisa buat main pinbol aja cukup."
"Hahaha.. sebentar aku tanyain temenku."
"Yup."
"Ada mas mungkin sekitar 900ribuan. Spesifikasinya ini ini ini."
"Boleh lah itu."
"Misal kalau sekitar 1,2 gitu mau nggak mas. Udah lumayan juga buat nonton film sama nyetel lagu."
"Bioskop di Solo semakin banyak. Tape recorder ku juga masih bunyi."
"Hahaha.. maksudnya kalau buat ngetik sama nyetel lagu bersamaan gitu nggak lemot."
"Aku kalau ngetik nggak suka ada bunyi-bunyian kecuali bunyi yang ku dengar secara tak sengaja."
"Iya iyaaa... tumben mau beli ini itu. Lagi banyak duit nih kayaknya."
"Duitnya dikit. Manfaatnya yang banyak. Aaahhh cepetan kenapa sih."
"Iya sabar lho. Ini aku masih nunggu balesan temanku. Komputer mau buat apa sih mas?"
"NGETIK! Masih nanya lagi!"
"Nggak. Kok tumben tumbenan. Katanya kalau nulis bisa dimana aja?"
"Iya bisa. Di Mars juga bisa! Cepetan ah!"
"Sensi amat. Ini ada mas sekitar 1,5 an. Spek nya ini ini ini. Seken."
"Lha? Yang kamu tawarin semuanya ke aku seken? Nggak ada yang baru?"
"Nggak ada mas. Dollar naik. Harga juga naik."
"Bener juga ya. Ini kan Indonesia. Lupa aku. Itu sudah bagus buat ngetik to?”
“Ya iya lah mas. Cuma buat ngetik aja kan?”
“Rencananya sih mau pake mesin ketik aja. Tapi takut berisik. Nggak. Gini lho. Ya siapa tahu aja habis ini jadi banyak tawaran menulis. Kan nggak ngerti juga. Ya siap-siap aja sih.”
“Oke mas. Besok apa kapan gitu tak anter muter-muter ke toko komputer. Aku udah punya list daftar toko-tokonya. Kita cari bareng-bareng.”
Beberapa hari kemudian, kita berdua muter-muter berboncengan. Pake motor maticnya. Kalau pake motor grand pa saya, motor saya bisa sesak nafas karena dia gendut. Kita masuk di toko pertama. Saya suruh teman saya itu masuk duluan. Kalau jujur demi Alloh, saya nggak mudeng soal beginian. Seumu-umur baru punya komputer sekali. Dan itu pentium 3. Yang kemudian tiba-tiba dijual karena rusak laku dengan harga 150 ribu. Fantastis!
“Mas kalau PC seken harga 1,5 gitu ada nggak mas?”
“Oh ada mas. Ini 1,2 malah. Spek nya ini ini ini.”
“Gimana?” temen saya itu menatap mata saya dalam-dalam dengan tatapan iba apa saya punya duit segitu banyaknya.
“Uhmmm, 1,2 ya? Kita cari yang lain dulu deh. Aku nggak mudeng soalnya.”
Kemudian kita muter-muter lagi. Sepanjang perjalanan kita bahas angka 1,2 itu terus menerus. Kita korelasikan dengan ungkapan Jawa “Ono Rego Ono Rupo”. Mau bagus? Keluarkan uang yang lebih banyak. Tapi dalam hati saya sudah mengiyakan. Komputer itu mau saya bayar keesokan harinya. Teman saya terus terusan tanya duit saya ada berapa. Saya diam aja. Pokoknya ada. Masuk lah kami berdua di sebuah toko. Dan di sana berjajar laptop dengan teknologi yang terbaru. Ada yang cukup disentuh. Ada yang bisa dipijit sambil disentuh. Ada juga yang maunya cuma dipijit. Saya melongo lihat harga-harganya. Itu duit semua? Ternyata bukan hanya manusia. Komputer aja nggak mau didiemin. Mereka juga butuh disentuh, dipijit, diperhatikan. Kalau didiemin aja mana berfungsi? Saya pura-pura tanya-tanya biar kelihatan punya duit banyak. Pengen punya sih. Pengen banget malah. Mau saya beli terus saya banting di depan tokonya terus saya beli lagi yang baru. Sebel tau. Akhirnya kami pulang. Tapi perasaan saya ada yang mengganjal. Tak apalah. Saya niatkan untuk membelinya. Kalau nggak gini gimana mau berkarya dan berbuat lebih banyak untuk agama nusa dan bangsa.
Oke. Saya santai aduhai naik motor menuju kos. Kadang sambil nyanyi-nyanyi sendiri. Lagunya bebas. Bahkan lagu 'sekali nyanyi' habis itu lupa juga sering. Bikin sendiri di jalan. Dinyanyiin. Begitu sampai tempat, lupa semuanya. Saya parkir motor untuk kemudian naik melewati tangga dengan sedikit kebahagiaan di dada, “Ah, aku akan punya komputer. Bisa lebih sering nulis. Cita-citaku jadi penulis dalam waktu dekat akan segera terwujud.”
Begitu masuk kamar. LHAAAA MONITORNYA MANAAAA????? Waduh, sudah diambil yang punya apa ya? Ini sama aja dong beli komputer tapi nggak ada monitornya.
“TUHAAAAN!!!” Saya teriak-teriak.
Tuhan bales, “Woy, Aku Maha Mendengar woy! Nggak usah teriak woy!”
“Ini gimana?? Kan udah aku niatkan untuk beli komputer. Tapi kenapa sekarang ganti monitornya yang nggak ada. Kalau begini caranya kan aku harus beli monitor juga. Duit dari mana Tuhan?” Tuhan diem aja.
“Tuhan! Jangan diem aja dong! Kan aku udah niat untuk berubah! Untuk mewujudkan apa yang aku impikan! Tapi kenapa Engkau bikin skenario seperti ini?” Tak ada respon. Yang terdengar malah suara siulan santai.
“Tuhaaannn, ini kan aku niatkan juga untuk bisa menghidupi keluargaku kelak? Kenapa ceritaMu seperti ini Tuhaaaan.”
“Mau Aku jawab?”
“Nggak. Nggak usah terima kasih.” Saya ngambeg.
“Beneran nggak mau tahu jawabannya?”
“Nggak. Sekali nggak tetap nggak.”
“Cieee ngambeg cieee. Baru juga monitor yang diambil.”
“Lha?”
“Iya kan baru monitornya yang diambil. Coba aku cabut semua ide di kepalamu itu. Mau kalau aku tak mengijinkan satu ide, satu hidayah pun masuk di kepalamu. Mau?”
“Eh, beneran?”
“Mau Aku berbuat seperti itu?”
“Kan lebih mahal ide daripada monitor Tuhan.”
“Makanya. Gimana? Masih ngambeg? Mau minta nggak usah hidup sekalian? Putus asanya mau diterus-terusin? Mau dimaksimalin?”
“Eh Han. Eh Tuhan, ya nggak gitu-gitu banget lah. Kan aku cuma tanya dimana monitornya?”
“Kamu ke bawah. Lihat di dalam bengkel itu ada apa. Monitor di kamarmu itu udah dimanfaatin. Sekarang jadi barang yang lebih berguna. Kemaren-kemaren kamu diemin ngapain?”
“Kan pas ada duit lebih aku mikirnya mau beli laptop Tuhan. Tapi duitnya kepake terus. Baru kepikiran kenapa kok nggak komputer aja yang lebih murah. Gitu Tuhan.”
“Tau. Dikira Aku nggak tau apa. Cara berfikirmu itu dibenahi dulu. Diatur yang bener. Apa nulis harus pake laptop? Nulis itu pake hati dudul!”
“Iya deh. Situ yang lebih tahu. Ya udah aku tunda dulu belinya. Nabung lagi.”
“Nah. Permintaanmu nggak Aku turuti biar Aku tahu kesungguhanmu cah bagus. Kamu sungguh-sungguh mencintai apa sekedar pelampiasan semata. Udah ah.”
“Lha? Mau kemana? Aku jangan ditinggalin Tuhan.”
“Yang ninggalin kamu siapa? Yang ada kamu juga yang sering jauh.”
“Iya ya.”
Saya kucek–kucek mata. Saya nggak mau larut dalam masalah ini. Case closed!
Ada hal lain yang membuat saya cukup bergembira. Sebulan yang lalu saya memasukkan naskah saya ke salah satu penerbit. Saya yakin bakal diterbitkan karena track record saya cukup baik di wilayah ini. Saya sudah pernah punya buku dengan penerbit nasional. Kalau nasional aja bisa, lokal mah mudah. Saya sedikit menari-nari di dalam kamar. Oke, Tuhan belum menghendaki saya punya komputer atau laptop tapi mungkin saya akan diijinkan untuk punya buku lagi. Tuhan sangat tahu kalau saya sangat bersungguh-sungguh di wilayah ini. Saya merelakan basah kuyup terkena air hujan sewaktu mengirimkan naskah ini ke kantor penerbit. Tuhan pasti menilai itu sebagai sebuah kesungguhan. Cukup optimis bahkan satu level di atas optimis. Saking optimisnya wajah saya selalu kelihatan ceria. Tambah semakin optimis lagi karena saya sudah meminta doa dari ibu saya. Doa ibu, siapa yang bisa mengalahkan?
Dan hari pengumuman itu semakin dekat. Kerabat dan teman dekat semuanya sudah saya mintai doa. Makin banyak yang berdoa makin besar potensi dikabulkan. Saya siul-siul terus. Kemudian hari itu tiba. Saya sudah sedikit menahan untuk tidak menghubungi salah seorang pegawai di sana. Tapi kok tidak ada apa-apa. Akhirnya saya hubungi beberapa orang untuk meminta kontak beliau. Dapat. Saya sms, tidak sampai. Aduh. Gimana sih ini? Profesional nggak sih. Katanya hari ini mau ngasih kabar diterima atau ditolak. Saya kontak lagi. Nggak ada respon. Pagi saya lakukan itu. Baru siangnya.....
“Maaf mas Didik baru bales. Naskah mas Didik belum berjodoh dengan penerbit kami. Kalau mas Didik punya naskah yang lain boleh dikirim lagi. Mau diambil kapan naskahnya?”
“TUHAAAAANN!!!!”
“Ini anak. Dibilangin nggak usah teriak-teriak juga! Apa lagi!”
“Ini naskahku ditolak! Kenapaaa? Jangan diem aja gitu dong! Tuhaaannn! Aku udah rela ujan-ujan. Naskahnya juga udah aku jilid rapi. Aku udah minta doa ibu, keluarga, teman-teman semua. Tapi masih Engkau.... aaahhhh!!!!”
“Sini bawa sini naskahmu.”
“Mau buat apa?”
“Ya Aku baca lah.”
“Lha? Beneran mau? Itu naskahnya aneh lho. Cara nulisnya juga amburadul kayak biasanya. Tuhan mau baca?”
“Bahkan, sebelum kamu kirimkan ke penerbit itu Aku sudah baca. Berulang kali Aku baca. Berulang kali cah bagus.”
“Lha terus?”
“Aku bikin manusia itu kan bermacam-macam. Kalau kamu paksakan isi kepalamu diterima oleh mereka ya kamu namanya ngambil hak-Ku. Nggak boleh dong. Kalau kamu mau diterima kamu harus mau menerima. Terima dulu kekalahan ini kalau ini kamu anggap sebagai kekalahan. Kalau kamu menerima kekalahanmu, kamu akui, di situlah letak kemenanganmu yang sesungguhnya.”
“Cieee bikin quote cieee...”
“Heh!”
“Nggak kok Tuhan. Aku nggak papa kok. Udah biasa ditolak.”
“Cieee sok kuat cieee... Mau Aku tambahin lagi ‘penolakan-penolakan’nya?”
“Tuh kan. Kuat salah, lemah juga salah. Udah ah. Aku ngambeg.”
“Cah bagus. Sini sini. Kamu mau apa? Punya buku berapa? Best seller semua? Mau sekarang Aku bikin ceritamu seperti itu?”
“Uhmmm, itu jangan-jangan aku cuma mau pamer intelektualitasku gara-gara banyak masalah yang tak mampu ku selesaikan ya Tuhan? Hanya ingin menunjukkan kalau aku bisa ini bisa itu ya? Atau aku ingin pamer bahwa aku yang paling dekat denganMU? Aku yang paling layak Engkau turuti, Engkau kabulkan doanya?"
“Tuh. Udah mulai pinter kamu. Pelajari lagi ya cah bagus. Perintah pertamaKu untuk kalian itu BACALAH! Sederhana kan?”
“Iya. Tapi baca juga ada metodenya. Tidak sekedar membaca. Panjang pendeknya harus akurat supaya harmonisasinya tetap terjaga. Harus detail juga mana yang harus dibaca jelas, samar, atau dengung. Harus tahu kapan harus berhenti. Berapa durasi berhentinya. Ada yang dibaca lebur jadi satu. Ada yang jelas maknanya, ada yang disembunyikan maknanya sampai kapanpun tetap menjadi misteri. Semuanya tergantung tanda bacanya juga. Supaya nafas ini tidak mudah habis sehingga energi kita tetap kuat dari awal sampai akhir. Tuhan aku mau tanya.”
“Apa lagi cah bagus? CiptaanKu sing aneh dewe.....”
“Uhmmm, katanya melakukan apa-apa di dunia ini yang penting niatnya ya?”
“Hu’um. Terus?”
“Kan aku udah niat berbuat untuk keluarga dan sesama. Aku udah niat bermanfaat bagi orang banyak lewat jalan menulis.”
“Niat aja nggak cukup cah bagus.”
“Terus?”
“Harus NIAT BANGEEETTT!”
“Peluuukkk....”
“Itu bantal tuh! Cah bagus, Aku dekat dengan siapa pun. Apalagi sama bantalmu itu! Bangun!”
Komentar
Posting Komentar