Langsung ke konten utama

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya hidup harus disyukuri. Harus tahu tugas masing-masing. Mungkin tugas saya sebagai contoh bahwa Tuhan juga bisa menciptakan manusia dengan tidak orisinil atau bahasa barangnya, saya manusia KW. Manusia yang kualitas keimanan, keilmuwan, dan ketaqwaannya dipertanyakan. Mungkin saya manusia KW 13. Jadi manusia bukan, alien bukan, jin bukan, setan bukan, iblis bukan, binatang bukan, tumbuhan bukan, tapi di saat tertentu saya bisa meniru mereka. Tentu dengan kualitas KW juga. Pegang apa-apa tidak pernah menjadi kebaikan, keindahan, apalagi kebenaran.

Iya sih. Kalau cinta ditolak terus itu akan berdampak pada dua kemungkinan. Pertama jadi kebal, yang kedua jadi bebal. Tapi logika menolak itu juga tidak semudah seperti yang dilihat. Menolak itu kadang lebih sulit daripada menerima. Bisa jadi pertimbangannya dua kali lipat lebih banyak pada saat menerima. Apalagi sebagai perempuan, sebenarnya cukup berat bagi mereka untuk menolak pinangan-pinangan para lelaki. Kalau jaman kerajaan dulu, kalau ada lamaran seorang pangeran atau raja yang ditolak putri dari kerajaan lain, bisa berakibat peperangan besar. Contohnya juga banyak. Makanya terakhir kali ditolak perempuan saya tertawa saja sambil berkata dalam hati. "Ini pasti bukan hal yang mudah bagi kamu. Aku ngerti kok.". Dan kalau melihat kondisi saya yang masih berstatus manusia kw 13 ini, sah sah saja kalau ditolak disana sini.

Mungkin dengan menuliskan semuanya, semua akan bisa selesai dengan kondisi damai di hati. Kalau untuk melupakan kejadian yang sudah-sudah, rasanya tidak mungkin, dan saya memang tidak mau. Biarlah itu menjadi data itu memori otak saya. Nanti kalau sudah tertumpuk dan terdesak dengan data-data yang baru juga mereka pasti akan menghapus dirinya sendiri. Atau kalau tidak akan berganti bentuknya.

Tapi mungkin jenis manusia kw 13 itu ada gunanya juga. Sebagai tempat pelarian orang-orang yang ingin mengambil keputusan-keputusan penting di dalam hidupnya. Sebagai ajang konsultasi pemuda-pemuda atau pemudi yang sedang ingin memutuskan siapa pendampingnya. Ini yang membuat saya cukup bahagia, meski sedikit saja. Iya, saya sering berbagi cerita-cerita kegagalan hidup saya. Sampai saya tidak paham sebenarnya hidup saya sebagai manusia ini gagal atau berhasil. Dari cerita-cerita itu, saya harap mereka tidak melakukan apa yang saya lakukan dulu. Misalnya ada satu teman saya yang jauh lebih muda daripada saya, ingin menjalani hubungan yang serius dengan perempuan yang ditaksirnya.

"Iya, kalau sudah ada jalan, ingin serius, langsung saja. Jangan seperti saya. Kalau sudah umur seperti saya isinya hanya bingung dan bingung saja. Sudah segerakan saja."
"Tapi dia ingin aku lulus, terus kerja dulu. Baru setelah itu lanjut ke pernikahan."
"Kalau kamu sanggup ya turuti. Kalau tidak ya tinggalkan. Mumpung masih muda."
"Iya. Semoga ia juga mau menunggu."
"Tapi hati-hati. Banyak yang kalah oleh waktu. Yang sudah pacaran delapan tahun saja bisa tidak jadi kok. Mau tak ajari wirid-wirid gitu?"
"Wah boleh lah. Tapi aku ragu."
"Kenapa?"
"Kamu punya wirid-wirid itu tapi kok tidak berhasil mengikat perempuan yah?"
"Asem! Heh! Wirid atau doa apapun itu gunanya untuk agar kita siap dengan segala kemungkinan. Ditolak siap diterima juga siap!"
"Halah! Alibi!"
"Masih nggak percaya juga? SAYA INI CONTOHNYA!"
"Biasa aja dong ngomongnya. Gede amat mangapnya. Kalau begitu aku nggak mau pakai wirid wiridan kayak kamu."
"Kenapa?"
"Lha kamu wiridmu kayak gitu. Berarti Tuhan menganggapmu lebih siap ditolak daripada diterima iya kan? Makanya kamu ditolak terus."

Bener juga kata teman saya itu. Mungkin Fir'aun dulu lebih rela ditenggelamkan di laut, mati beserta pasukannya, dan sangat mau agar jasadnya dijadikan sebagai contoh manusia yang gagal jadi manusia. Semoga presiden 2014 besok kualitasnya bukan manusia kw 13. Kalau memang Rhoma Irama, pasangannya harus bu Ani Yudhoyono.

"Aaaniii, Aaaaaaaaniiiiiiii, sungguh aku tahuuuu..."
"Kak Rhoma...."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...