Langsung ke konten utama

Maaf, Bapakmu Aneh

Untuk Anak Lelakiku,

Le, cah bagus, mungkin saat membaca surat ini bapak tidak sedang berada di sampingmu. Menemanimu bermain kuda kayu atau gangsing bambu. Mungkin bapak sedang berada di Amerika, Israel, Suriah, Jepang, Belanda, Portugal, Yunani, China, Rusia, atau Palestina. Atau di tempat yang 'lain'.

Le, cah bagus, anakku. Jadi lelaki itu tidak mudah. Tapi cukup menyenangkan. Bapakmu ini tumbuh dan berkembang dengan cara yang tidak semua manusia di bumi ini mengalaminya. Bapakmu bukan sosok yang diidam-idamkan oleh orang tua-orang tua perempuan di belahan bumi manapun. Mereka bilang, bapakmu ini, aneh. Dan saat bapak balik bertanya kepada mereka, aneh yang seperti apa, mereka menjawab, pokoknya aneh. Ada yang bilang karena salah didikan, ada yang bilang karena salah pergaulan lingkungan, bapak terima itu semua le. Karena tidak ada hal yang paling indah selain penerimaan setelah terjadinya penolakan. Bapak ditolak, tapi bapak tidak balik menolak. Melainkan menerima kenyataan seperti itu.

Le, cah bagus, anakku. Bapak akan sedikit bertutur tentang keanehan-keanehan yang disematkan pada bapak. Salah satu yang bapak ingat adalah saat bapak melamar menjadi guru di sebuah sekolah. Ada beberapa tes yang harus bapak lewati. Sebenarnya bapak kurang begitu yakin, namun ini demi nenekmu yang menghendaki bapakmu ini jadi guru. Le, kalau bisa besok kamu yang menurut sama ibumu. Jangan banyak membantah sama beliau, ya? Jangan kayak bapakmu ini. Nah, test pertama seperti sebuah wawancara tentang wacana dunia pendidikan dan sekolah alam. Atau lebih tepatnya kita disuruh presentasi Le. Jaman itu ada sebuah trend, bahwa setiap kita presentasi harus menggunakan power point. Bapakmu ini, tidak membawa apa-apa. Modalnya cuma mulut. Teman-teman pelamar yang lain presentasi dengan berdiri layaknya orang-orang normal. Bapak duduk seperti orang Jepang. Karena para penguji yang tidak lain adalah guru-guru di sekolah itu juga duduk.

"Apa motivasi anda melamar ke sini?"
"Saya sedang riset pak. Saya keliling kemana-mana, ke sekolah-sekolah untuk riset pak."
"Riset apa?"
"Riset mencari model pendidikan yang layak untuk anak saya kelak."
"Sekarang sudah punya anak?"
"Belum pak. Tapi saya memang melakoni ini semua demi anak saya kelak."
"Bagaimana pendapat anda tentang dunia pendidikan saat ini." tanya salah satu penguji saat itu.
"Saya sederhana pak. Saya tidak muluk-muluk. Saya mau anak-anak di sini punya pengetahuan satu level di atas google."
"Itu muluk-muluk!"
"Tidak pak. Saya yakin mereka mampu."

Tahu Le, mereka menertawakan bapak. Tapi bapak biasa saja. Karena impian bapak seperti itu. Kita hidup di bumi ini katanya merdeka. Tapi sebenarnya kita dikontrol oleh kekuatan yang spele namun kita tidak menyadari itu. Bapak menangis dalam hati Le. Bapak merasa kita semua punya hak atas ilmu pengetahuan asal kita semua mau berfikir. Kalau mereka tidak bisa menerima konsep bapak yang katanya muluk-muluk itu, bapak harap akan ada yang lain yang menerimanya. Setidaknya, kamu.

Malamnya bapak lari ke atap. Melihat bintang-bintang di angkasa lalu berteriak-teriak dalam hati memanggil Kanjeng Nabi. 

"Duh Kanjeng Nabi, maaf sebelumnya. Aku ingin mengutarakan satu hal kepadamu. Pikiranku dianggap terlalu jauh untuk ukuran orang normal. Padahal sebenarnya aku mengadopsi cara berfikir panjenengan saat menolak tawaran Jibril yang akan melemparkan gunung kepada kaum Thaif yang telah menghinamu dan melemparimu dengan batu hingga berdarah-darah. Tapi engkau berkata kepada Jibril dengan penuh kebaikan, 'Biarkan mereka, jika mereka tidak bisa diajak dalam kebaikan, anak-anak mereka kelak pasti bisa'"
"Terus?" Kanjeng nabi menjawab dengan senyuman Le. Besok kamu juga harus begitu ya. Banyakin senyum.
"Apakah salah kalau perbuatan saya sekarang saya niati untuk kebaikan anak saya kelak Kanjeng Nabi."
"Tidak. Kamu tidak salah. Yang perlu kamu lakukan adalah memahami isi kepala orang-orang di jamanmu. Kamu harus tahu itu. Ya. Nggak apa-apa. Kalau mereka tidak bisa menerima idemu, aku mau menerima ide itu. Kirimkan kepada aku semua isi kepalamu itu sebelum kamu utarakan kepada orang-orang."
"Caranya?"
"Perbanyak sholawat. Itu satu-satunya cara memanggilku."

Le, cah bagus, anakku. Bapak tidak punya banyak harapan kepadamu. Kamu yang akan menentukan kemana melangkah, seberapa jauh, kapan waktunya berhenti, dan bagaimana menyiapkan semua perjalananmu kelak. Kamu mungkin akan sedikit mewarisi keanehan-keanehan bapakmu ini. Satu hal yang perlu kamu ingat, meski kamu besok dilahirkan dengan penuh keanehan seperti bapak, kamu harus tetap menghormati perempuan. Jangan mempermainkan mereka meski kamu dipermainkan. Kalau kamu suka, lamarlah. Kalau ditolak jangan terburu-buru putus asa. Kalau mereka tidak menyambut keseriusanmu karena kamu dianggap kurang mapan dan belum bisa bertanggung jawab, tak apa le. Bapakmu sudah sering seperti itu. Ya le? Kenapa senyum-senyum begitu? Lagi dekat sama perempuan? Anak mana? Besok kenalkan pada bapak. Kalau kamu serius, langsung bapak lamarkan. Kamu pengennya yang berhijab atau tidak? Sudah tahu asal-usul kenapa hanya perempuan yang disuruh menutup aurat? Atau berhijab?

Awalnya, Iblis lah yang menginginkan buah khuldi. Hawa hanya dimintai tolong. Tapi karena sangat absurd bagi perempuan untuk memanjat pohon maka Hawa meminta kepada Adam untuk memanjat pohon dan mengambil sebuah kesalahan. Kenapa Adam mau? Karena Adam sangat menghormati perempuan Le. Dia mau menuruti Hawa bukan lantaran dia kalah oleh perempuan. Tapi itu lebih sebagai bukti penghormatan kepada orang yang dikasihinya, dan Adam tidak pernah menganggap Hawa sebagai makhluk materialistik. Dan geger itupun dimulai. Terus karena Hawa sangat sayang kepada keturunannya, lantas dia memohon kepada Alloh,

"Ya Alloh, tolong syariatkan kepada kepada kaumku kelak untuk menutupi auratnya terlebih telinganya. Cukuplah aku yang berhasil diperdaya Iblis lewat bisikan. Tapi tolong, jaga telinga-telinga perempuan di masa depan dari bisikan-bisikan sejenis itu." 

Lalu Alloh mengabulkan permohonan Hawa. Tahu bagaimana reaksi Adam mengetahui apa yang menjadi kegelisahan Hawa, dia mendukung semampunya. Adam pun ikut berdoa. Begitu Le. Atau kamu punya cerita yang lain? Kapan-kapan ceritakan temuan-temuanmu kepada bapak ya Le. Ini cara bapak menyelamatkan cara berfikir bapak. Supaya bapak melakoni kehidupan ini tidak dengan terpaksa dan terlanjur. Mungkin kamu akan mengarang cerita lebih asyik daripada bapak. Sebenarnya bapak punya banyak cerita yang aneh-aneh hasil kreasi bapak sendiri, tapi nanti tidak seru kalau bapak ceritakan semua. Bapak ingin mendengar dan melihat cerita-ceritamu Le. Bapak tunggu ya.

Kamu saat ini hidup di Indonesia Le. Menghadapi perempuan-perempuan Indonesia itu tidak gampang Le. Apa lagi menjalin hubungan dengan mereka. Kamu hanya butuh satu saja, di antara sekian juta. Tapi justru di situlah letak kesulitannya. Terlalu banyak pilihan itu juga membingungkan. Ketemu jodoh itu macem-macem Le caranya. Ada yang sekali dua kali ketemu langsung menikah. Ada yang pacaran delapan tahun, tapi tidak jadi menikah. Ada yang pacaran sepuluh tahun lalu menikah. Ada yang menunggu tiga bulan, molor menjadi satu tahun, molor lagi sampai kapan waktunya dan hubungan mengambang. Macem-macem modelnya. Kenapa bapak memberitahumu supaya kamu besok tidak kaget. Jangan gampang kaget dan terheran-heran terhadap apapun. Jangan gampang mengatakan 'Luar Biasa'. Kenapa ketawa? Mengejek bapak kamu? Iya. Bapakmu ini sudah berhadapan dengan banyak hal. Eits, jangan salah lho. Bapakmu ini setia lho. Malah ketawa lagi. 

Sekian dulu dari bapak. Maaf, bapakmu aneh. Kamu harus bersyukur, meski bapakmu aneh, tapi kamu memiliki ibu yang hebat. Dia yang mampu mengerti isi kepala dan isi hati, sekaligus isi kantong bapak. Baik-baik sama beliau ya. Salam rindu untukmu anakku. Ingin kuusap rambutmu sekarang duhai anakku tersayang. Salam salam salam....


Planet Mars, 31-03-2014

Bapakmu yang Aneh...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lamaran Laa Roibafiih

Di suatu tempat yang sunyi, tersebut lah salah seorang pemuda yang sedang dirundung pilu. Di tengah-tengah kegelapan yang merubungnya dia tak mau membuka mata. Terpejam sampai tak tahu kapan waktunya. Meringkuk ia di sana. Rambutnya sangat kusut. Pakaiannya juga tak pernah berganti. Bau asam menyeruak dari tubuhnya. Bahkan ia sudah tak bisa melihat beda, mana makanan mana kotoran. Juga hati yang tak mengerti mana jeda, mana kesempatan, dan mana kerterburuan..... Hingga secercah cahaya datang. Cahaya yang kecil tapi cukup menenangkan. Cahaya yang dibawa seorang perempuan. Cahaya yang terpancar dari senyum simpulnya. Cahaya yang mungkin tak akan pernah padam atau dipadamkan. Cahaya yang jumlah tidak hanya 99. Cahaya yang berisi penuh dengan harapan. Tangan terjulur menawarkan kesegaran alur. Uluran yang sangat sayang untuk dilewatkan.  "Kemarilah. Ku temani kamu berjuang." perempuan itu berkata seraya wajahnya diterangi cahaya. "Kamu, mau menemaniku?" pemud...

Reposisi Kegembiraan Nabi

Ini hal yang cukup menggembirakan. Sangat menggembirakan. Iya. Benar-benar menggembirakan. Bagi orang yang tidak punya predikat bahkan pekerjaan apapun ini, 'diajak' kemana-mana adalah hal yang menggembirakan. Saya sudah tidak perlu bersusah payah menjadwal diri saya harus bangun jam sekian, harus makan jam sekian, harus mandi jam sekian, harus ke kantor jam sekian. Karena itu saya malah alhamdulillah. Tidak ada tanggungan apa-apa. Jadi kemana-mana saya ngikut saja sama ajakan teman-teman. Saya tidak punya pendirian yang kuat sebagai laki-laki? Iya, kalau cara berfikirmu lahiriyah. Kalau rohaniyah kamu akan menemukan hal-hal baru jika berinteraksi dengan spesies sejenis saya ini. Nggak percaya? Ketemuan yuk! Sambil ngopi-ngopi gitu. Ngemil-ngemil. Berdua aja sih. Khusus perempuan tapi. Nggak. Becanda. Saya percaya saja bahwa orang-orang yang mengajak saya keliling kemana-mana itu orang-orang baik dan disayang sama Allah sama Rosul. Karena diantara teman-teman, saya adalah yang...

Puasa Tidak Kuat

Ini sudah masuk pergantian tahun Islam dan Jawa. Biasanya paling enak kalau mengingat-ingat masa lalu. Kalau ada yang baru, biasanya yang lama malah bikin rindu. Sedikit membongkar-bongkar file-file usang. Tapi saya tidak akan membahas tentang manuskrip kuno saya yang dari abad ke-4 sampai sekarang belum berhasil saya selesaikan. Huruf depannya S belakangnya I. Betul! SAPI! Skripsi skripsi! Itu barang teraneh yang pernah saya temui dalam hidup. Semoga Desember ini kelar. Februari 2013 bisa ikut adek-adek lima atau enam tingkat di bawah saya wisuda. Nanti gelarnya Sarjana Masbuk saja, tidak usah Sarjana Seni (S.Sn). "Saya nikahkan Didik Wahyu Kurniawan Sarjana Masb..... Lho ini nggak salah?" "Apa pak?" "Ini?! Mana ada gelar Sarjana Masbuk? Jangan guyon ah dek!" "Ada pak penghulu. Serius. Nih!" menyodorkan buku Sarjana Masbuk. Sombong dikit lah. Sekali-kali. Iya, bulan puasa lalu hampir tidak ada catatan. Sayang sekali memang. Tapi a...