Langsung ke konten utama

IndoMars, AlfaMars, Universitas Negeri Sebelas Mars

Catatan berikut ini akan saya tuturkan dengan bahasa yang formal dan kaku. Jadi saya mohon usahakan ada barang atau benda-benda di sekitar anda yang sekiranya nanti mampu mencairkan suasana ketegangan berfikir anda. Semacam segelas kopi hangat buatan istri, atau yang masih sendiri bisa menikmati kopi seduhan kekasih hati. Karena saat-saat ini adalah saat-saat yang cukup mengkhawatirkan bagi bangsa Indonesia. Maka siapkan hati seluas mungkin dan fikiran setenang mungkin untuk menghadapi bahaya di depan. Rumornya, April nanti, Mars akan menyerang kitaaaahhh!!!

Nggak sih. Alien itu seneng sama penduduk Indonesia. Paling seneng bahkan. Yang jelas yang sangat jatuh cinta dengan Indonesia itu penduduk Mars. Hu'um. Serius. Katanya mereka akan mengadopsi beberapa sistem yang digunakan bangsa ini. Jadi nggak usah minder kalau di bumi ini Indonesia tidak pernah menempati peringkat-peringkat atas untuk urusan prestasi yang baik-baik. Tenang saja. Tetap bangga menjadi bagian bangsa Indonesia. Kalau kalian tahu, banyak penduduk Mars yang sedang belajar kepada manusia-manusia Indonesia. Dalam berbagai bidang tentunya. Bolehlah teman-teman menertawakan kabar ini. Tapi yang jelas menurut mereka, selama mereka riset tentang tata surya yang luasnya sangat sulit dituliskan dengan kata-kata ini, bumi, adalah planet yang paling 'pelpex'. Mereka tidak bisa ngomong 'perfect'. Bisanya 'pelpex'. Mereka telah menjelajahi tata surya. Memang, bumi ini tidak sebesar planet-planet yang lain. Bahkan terkesan 'tiada' dibanding yang lain. Adem adem saja seperti tidak ada apa-apa. Dulu seperti itu anggapan mereka kepada kita.

Ceritanya begini. Mereka, para penduduk Mars itu, yang tentu saja, hanya beberapa makhluk sebagai perwakilan, sudah muter-muter ke segala bintang. Tapi karena tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan, maka mereka kembali menelusuri galaksi Bima Sakti. Mereka menemukan sebuah planet atau bintang yang sangat menyilaukan. Seperti jamrud.

"Apa itu?" ujar salah satu dari mereka. Yang tentu saja bahasa aslinya bukan seperti itu. Kalau temen-temen mau nanti kapan-kapan saya pinjami kamus bahasa Mars.
"Entahlah. Tapi sangat bersinar sekali." timpal yang lain.
"Apa sebaiknya kita ke sana?"
"Boleh boleh boleh."
"Pesawatnya gimana? Masih oke?"
"Masih. Tenang saja. Semua sistem beroperasi dengan baik."
"Baiklah. Kita akan segera ke sana."
"Sebentar. Jangan sekarang."
"Kenapa?"
"Aku belum menulis surat untuk kekasihku."
"Kamu. Masalah itu nanti. Ini persoalan penting. Kalau kita berhasil menemukan tempat yang layak, bukan hanya kekasihmu yang selamat. Calon mertuamu juga selamat."
"Oh. Baiklah kalau begitu. Tapi setidaknya biarkan aku menyapa kekasihku. Mungkin dari sebait puisi, syukur-syukur satu buah lagu."

Jangan heran. Mereka juga kayak gitu kok. Alkisah, mereka menuju ke arah cahaya tersebut. Sangat menyilaukan tapi justru semakin membuat penasaran. Mereka semakin mendekat. Semakin mendekat mereka semakin takjub. Semakin dekat semakin takjub. Semakin dekat semakin takjub. Semakin dekat semakin takjub. Akhirnya mereka melihat lebih jelas. Itulah bumi. Dan semakin mendekat lagi, Indonesialah yang mereka temukan. Tempat paling bercahaya. Tempat bersemayamnya cahaya di atas cahaya. Tempat paling disayang oleh Pencipta. Mereka lantas memarkir pesawat.

"Iya mas. Taruh sini aja. Eh ini mas apa mbak? Jangan dikunci stang ya."

Mereka mulai jatuh hati setelah mendengar kalimat itu. Kalimat yang menurut mereka penuh kelembutan, dan itu hanya terjadi di Indonesia. Manusianya sangat menjamin keamanan antara satu dengan yang lain. Terlihat sekali dari cara penduduk bumi memperlakukan pesawat mereka. Barang berharga itu ditinggalkan, dijamin keamanannya dengan tarif yang sangat murah, penuh dengan tanggung jawab keselamatan. Para penduduk Mars itu melongo, dan berkata lirih, "Ini dia yang kita cari..."

"Ini kembaliannya." jawab manusia berselimut kain oranye itu. Perwakilan penduduk Mars itu semakin heran. Ini keramahan model apalagi. Mereka kegirangan dan segera kembali ke Mars mengabarkan berita baik ini ke seluruh penduduk Mars yang lain. Dan mereka segera bersorak sorai bersama harapan yang baru.

Nah, rencananya April tahun ini mereka akan mengadakan kunjungan ke sini. Ke Bumi untuk studi banding lagi. Iya, apalagi kalau bukan pesta paling menggemaskan sepanjang sejarah umat manusia. Iya. Ih, masa gitu aja lupa? Iya pemilu pemilu! Masa kalian nggak ikut merasakan kegirangan ini sih? Alien saja sangat antusias kok. Masa kalian nggak? Eh, sambut dong pesta itu! Alien aja gemes lho. Saking gemesnya mereka juga akan ikut menyaksikan pesta ini teman-teman. Mereka akan menjadi bagian dari pesta ini juga. Sekedar info, tiket pesawat menuju ke bumi, udah SOLD OUT di Mars sana. Dari kapasitas tiga belas ribu, ditambah menjadi seratus tiga puluh ribu kursi. Para penyelenggarannya meraup untung besar-besaran. Kenapa? Karena mereka memahami bahwa kepergian mereka ke bumi bukan hanya untuk bersenang-senang, melainkan juga belajar mengenai sistem kenegaraan yang digunakan Indonesia ini. Dan mereka sangat berterima kasih kepada penduduk Mars yang telah melakukan riset sebelumnya. Yuhuuuu... Party's Time...

Mereka kagum terhadap beberapa manusia yang wajahnya terpampang dimana-mana. Baik yang dunia nyata maupun dunia maya. Atau yang sekedar menempel di pohon-pohon kecil. Mereka melihat ada kebaikan yang terpancang dari wajah-wajah tersebut. Wajah-wajah yang kemuliaannya tak kalah dengan juru parkir yang mereka temui. Itu manusia-manusia yang telah dipilih oleh Pencipta untuk kemudian dipilih oleh manusia-manusia yang lain, menjadi wakil-wakil yang tentu saja memikirkan para pemilihnya itu. Mereka adalah manusia-manusia yang rela mengorbankan jiwa raga, waktu, harta, pikiran, dan semuanya untuk kemakmuran bangsanya. Mereka layak untuk diberi kehormatan itu. Mereka tidak hanya sekedar wakil saja, tapi imam-imam di daerah pemilihan mereka. Mereka akan memimpin di daerah pemilihan masing-masing. Pemimpin yang mengerti bahwa tugas yang diampu bukan hal sepele melainkan amanah yang tidak hanya akan dipertanggung jawabkan di dunia, tapi di akherat kelak. Maka, hanya manusia-manusia terpilihlah yang berani mencalonkan diri menjadi imam. Dan sudah sepantasnya kalau mereka juga mendapat penghormatan dari penduduk Mars.

Udah ngeh kan sekarang? Makanya besok milih ya? Iya saya tahu kalian tipe manusia yang nggak tega'an. Hati kalian lembut, sehingga tidak tega melihat kertas-kertas yang bagus itu dicoblos dan sobek begitu saja. Itu ide desainnya mahal lho. Rumit juga. Ada gambar, foto, nomer urut, nama, nama partai, itu kalau salah satu huruf saja sudah runyam urusannya. Ya kalian milih ya. Atau gini aja deh. Paling nggak datang ke TPS. Masuk bilik. Perkara nanti di dalam bilik pemilihan kalian malah foto-foto 'selfie' dengan background kertas suara dan kalian pamerkan di instagram, path, atau, media sosial lainnya itu urusan kalian. Yang penting datang ya. Saya? Saya kan jadi guide tour wisatawan dari Mars. Kalau mereka kesasar gimana? Kan kasihan keluarga mereka menunggu di Mars. Ini kan termasuk memuliakan tamu. Ya nggak enak lah sama mereka.

Ini ada informasi terkini dari Mars selain tentang wisata mereka April 2014 kelak. Bahwa di Mars, mereka sudah berhasil mengadopsi sistem perekonomian dan pendidikan manusia. Sudah ada IndoMars, AlfaMars, dan Universitas Negeri Sebelas Mars di sana.

Demikian berita ini dibuat dengan ngawur sengawurnya. Ada benarnya, agaknya tidak mungkin. Jika ada salahnya, mungkin jumlahnya tak terhingga. Mari kita senandungkan doa kafaratul majlis bersama-sama...Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika... Aamiin...

Saya mohon pamit, mau menghantarkan perwakilan dari Mars. Salam. Oh, lupa, Makasih untuk Manda, Isti, Mage, atas guyonan-nya kemaren pas nungguin dia sidang skripsi. Ide ini dari kalian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...