Langsung ke konten utama

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat.

"Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain.

Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum?

Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam kategori negara berkembang, terus kalau udah berhasil melewati tahap negara berkembang, nanti Indonesia akan naik kelas menjadi negara maju. Terus biasanya kalau udah menjadi negara maju nanti naik kelas lagi menjadi negara adikuasa. Terus kalau udah berhasil menjadi negara adikuasa, lalu Indonesia menjadi negara apa lagi ya? Ada ide nggak teman-teman? Negara apa setelah negara adikuasa? Masa' kembali lagi ke negara miskin? Kenapa saya mengajak teman-teman untuk berfikir seperti ini karena beberapa waktu lalu saya berdiskusi dengan seorang filsuf. Dia pemikir keras. Sangat keras. Khususnya untuk hal-hal semacam ini.

"Pak Didik, Indonesia itu termasuk negara kaya atau miskin?" tanya si filsuf. Saya bingung nyari jawaban.
"Uhmm, Indonesia itu termasuk negara kaya." jawab saya sekenanya.
"Lho kok bisa?"
"Iya. Negara kita punya kekayaan alam yang luar biasa banyaknya."
"Apa kalau kita punya kekayaan alam lantas kita bisa disebut negara kaya?"
"Iya. Itu gelar otomatis."
"Tapi buktinya Amerika tak kaya alamnya tapi dia disebut sebagai negara adikuasa?"
"Itu politik pencintraan global."
"Tapi kenyataannya Amerika punya Spiderman, Superman, Hulk, Captain Amerika."
"Udah kamu masuk kelas sana. Buruan. Udah ditunggu Bu Guru. Nanti pulangnya jam 11. Temen-temenmu kelas 2A udah masuk semua itu lho."

Namanya Yusuf. Dia sahabat karib saya di sekolah tempat saya belajar. Saya banyak belajar padanya. Kita sering berdiskusi macam-macam. Hu'um. Di sekolah, saya tidak pernah menganggap saya seorang pengajar. Saya belajar bukan mengajar. Saya masih harus dan perlu banyak belajar. Tidak hanya kepada para rekan guru soal michro teaching, rpp, metode pengajaran, dan segala macam peraturan normatif sekolah, namun juga belajar pada murid. Lebih tepatnya berguru pada murid. Saya benar-benar menerima banyak pengetahuan baru. Untuk masalah diskusi-diskusi ilmiah, Yusuf ini partner saya. Mungkin dia boleh disejajarkan dengan para pengamat di negeri ini. Lihat saja analisisnya yang begitu mendalam tentang negara ini. Satu pertanyaan yang awalnya membuat saya beranggapan bahwa dia adalah anak yang aneh. Ternyata tidak. Ini anugerah. Pikirannya melesat jauh ke depan.

Dia juga sering menganalisa bahwa seolah-olah Spiderman, Superman dan superhero-superhero asal Amerika sudah benar-benar hidup dan menjadi bagian kehidupan dari orang Indonesia. Banyak yang sudah terinspirasi, termasuk dirinya, yang begitu mendamba sosok Spiderman.

"Bagaimana jaring itu bisa keluar dari tangan?"
"Apakah spiderman itu sudah jadi begitu sejak ia kecil?"
"Ada nggak spiderman kecil?"
"Apakah jaringnya bisa habis?"

Ini mungkin hanya pertanyaan yang terlontar dari anak SD. Tapi mungkin pertanyaan ini juga bisa keluar dari orang-orang dewasa yang juga mendamba superhero Amerika. Sebenarnya kalau kita menggemari sosok superhero melalui film dan komiknya, inti dari kekaguman itu akan bermuara pada

"Apa yang bisa kita pelajari?"

Begitu pula yang dilakukan seorang Yusuf. Dia mencoba mencari-cari apa yang bisa dipelajari dari Spiderman. Apakah dia ketika dewasa akan bisa melompat tinggi seperti Spiderman? Akankah tangannya juga bisa mengeluarkan jaring? Sampai mencoba memetakan apa saja kelemahannya.

"Pak Didik bisa mengeluarkan jaring?"
"Bisa. Orang Indonesia itu banyak yang bisa mengeluarkan jaring."
"Masa?"
"Iya."
"Siapa?"
"Para nelayan."

Dia mikir. Iya nak. Pikir lebih keras dan keras lagi. Kalau beberapa orang menganggapmu aneh, Pak Didik bahkan lebih aneh dari kamu. Bahkan banyak yang bilang kalau Aku seperti Kamu. Dan Kamu seperti Aku. Aku melihatmu seperti aku melihat diriku sendiri. Tatapan matamu bukan tatapan anak kecil. Aku kenal tatapan itu. Itu tatapan para pencari yang berusaha membuka hijab-hijab ilmu yang tersebar di langit dan di bumi. Sebagaimana nabi Yusuf mendapati pengetahuan-pengetahuan yang didapatinya lewat mimpi. Yusuf, aku belajar kepadamu... Dan terima kasih cuma kamu yang percaya kalau sebenarnya Pak Didik sering pergi ke planet lain.

Kamu, sedang berada di sumur yang dalam. Batman juga pernah seperti itu.
Kamu, sedang berada di kawah Candradimuka, Gatotkaca tau efeknya.
Kamu sedang ditempa melalui keadaan-keadaan yang sulit kamu pahami awalnya. Tapi Pak Didik yakin, lulus dari keadaan itu kamu akan melesat jauh. Kenapa? Pak Didik pernah merasakan apa yang kamu alami. Bahkan sampai detik ini. Yang kuat nak. Kamu nggak lemot, kamu mengajari kesabaran kepada Pak Didik.

*nb: untuk pertama kalinya bikin note lewat BB. Ini caraku membuka hijab pengetahuan baru. Laptop nggak punya, komputer entah kapan punyanya. Menulis tetaplah menulis...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...