Langsung ke konten utama

Hidayah Abu-Abu

Selamat siang teman-teman. Catatan kali ini akan saya selesaikan dengan cepat. Namun ada hal-hal yang kalian harus persiapkan sebelum membaca catatan ini. Pertama, tisu kering. Tisu kering bukan tisu basah. Kedua, obat flu. Ketiga, jangan pernah membaca catatan ini di tempat umum. Alasannya hanya satu. Cerita kali ini akan menguras habis air mata kalian. Mengurasnya sampai kering kerontang. Tak tersisa. Dimulai dari se ka rang!

Solo.
Hari Kamis malam itu saya sedang berkomunikasi dengan seseorang via telpon. Tiba-tiba terdengar suara dentuman keras. Saya pikir ini kamar sebelah sedang kesurupan lantas membentur-benturkan kepalanya ke tembok hingga menimbulkan getaran yang hebat. Tapi sekeras itukah kepalanya? Saya mencoba tenang dan tidak berprasangka apapun. Saya melanjutkan kembali aktivitas saya sebagaimana wajarnya. Lalu terdengar lagi dentuman keras itu. Kalau pun kamar sebelah sedang kesurupan pasti ini kesurupan terdahsyat sepanjang sejarah umat manusia. Sehebat-hebat kesurupan. Mungkin dia kesurupan Hulk hingga tembok yang terbentur dengan kepalanya bergetar hebat. Seperti degup jantung pengantin baru. Rasa penasaran saya semakin menjadi. Saya buka jendela kamar dan, oh, ternyata suara dentuman tersebut berasal dari luar. Semakin sering dan semakin jelas karena malam semakin sepi. 

Jum'at pagi, Solo tertutup abu. Bagi saya, ini adalah peristiwa yang cukup mengejutkan. Kemudian hati menjadi gelisah tak bertuan. Ada apa gerangan Tuhan? Langit gelap. Matahari tak cukup mampu menembus udara yang bercampur abu. Saya mencoba menenangkan diri namun sia-sia. Gelisah ini semakin bergelisah-gelisah. Dan satu hal yang tidak saya ketahui adalah mengapa saya gelisah? Ada urusan apa hingga saya harus gelisah? Di bawah orang-orang sibuk membersihkan abu-abu yang menumpuk di jalan. Pagi menjelang siang itu saya putuskan untuk mengaji, tapi saya urungkan. Apa dengan mengaji abu tersebut bakal menyingkir? Saya langsung menuju lantai tiga. Dan, yap, full abu. Karena ini adalah tempat favorit saya, jadi mau tidak mau harus saya bersihkan. Saya menatap langit sambil meronta, "Mbok hujan. Kalau nggak, gerimis aja gapapa.". Sejurus kemudian rintik air turun. Gerimis datang dan ku sambut dengan senyuman. 

Abu itu tebal betul. Tapi harus dibersihkan kalau tak mau jadi kerak. Yang ditakutkan adalah kalau sampai menyumbat aliran air. Oke. Saya bersihkan pelan-pelan sampai hari menjelang siang. Saatnya sholat jumat tiba. Saya bergegas untuk menunaikannya. Tapi hati ini bertambah gelisah kala khotib yang usianya terbilang tua mengabarkan bahwa, di tahun 60'an pernah terjadi hal yang serupa. Gunung meletus. Dan tak lama kemudian ada peristiwa besar di tahun 65 yang mengubah Indonesia dalam banyak hal. Utamanya, cara berfikir manusianya. Beliau, si khotib mengkorelasikan dengan letusan Kelud kali ini. Ada peristiwa apa setelah ini? Begitu tafsir beliau. Saya manggut manggut karena kantuk. Jujur lah, tanya itu suami, bapak, atau saudara laki-laki kalian, kalau khotib sedang berbicara menjelang sholat Jumat, kebanyakan dari mereka lebih banyak mengantuk atau menyimak? Dalam sholat Jumat yang tidak ngantuk cuma 1, ya khotib itu sendiri. 

Saya pulang dengan gelisah yang membabi buta. Gunung meletus pertanda peristiwa. Lantas kejadian atau peristiwa mana yang tidak menjadi 'penanda' bagi peristiwa-peristiwa berikutnya? Sedangkan sebelum peristiwa pipis pun ada peristiwa 'kebelet' sebagai tanda. Sedangkan sebelum peristiwa makan pun ada peristiwa lapar sebagai penandanya. Ah, si khotib ada-ada saja. Sejak saat itu saya putuskan untuk tidak melakukan tafisir apapun terhadap meletusnya Kelud. Saya yakin tafsir tentang Kelud akan dikait-kaitkan dengan peristiwa apapun termasuk dengan surat di Kitab suci. Kalau memang pas, silakan cari surat-surat lainnya. Kemudian tafsirkan kejadian apa yang akan berlangsung berikutnya. Kalaupun saya gelisah, itu karena saya memang tidak paham dengan ilmu gunung beserta letusannya. Setahu saya gunung itu hanya sebuah tempat tinggi sekali yang di kiri kanannya terdapat banyak pohon cemara. That's enough.

Begitu. Karena saya tidak paham saya akan melakukan apa yang mampu saya lakukan saja. No more tafsir. Saya niatkan untuk santai sejenak dari tafsir apapun. Kemudian, jum'at berlalu begitu saja. Dengan kondisi alam Solo yang dipenuhi abu tentunya. 

Sabtu.
Ini adalah cerita tragis yang saya maksud di mukadimah tadi. Adalah badan kurus dan masih pegal-pegal karena membersihkan abu di lantai 3 hari kemarin. Tentu, sebuah pekerjaan yang belum tuntas karena abu masih menumpuk dan mulai mengeras. Untung kegiatan belajar mengajar di sekolah alam diliburkan jadi saya tidak mengajar. Kondisi alam agak cerah. Saya masih bermalas-malasan di kasur. Saya pegang ponsel baca-baca twitter. Kemudian,

"Ayo kerja bakti. Bersihkan atap kos belakang. Terjadi penumpukan abu di sana hingga mengakibatkan cahaya matahari tidak bisa masuk. Itu berarti.."
"Gelap gulita Jendral! Mari Jendral! Kita sapu habis abu-abu itu!"

Saya mempersiapkan perlengkapan perang. Masker, kacamata, dan topi anti peluru. Siapa tahu abu datang lagi. Dan misi itu dimulai.

Sang Jendral sudah berada di depan, saya mengikutinya dari belakang. Mengendap-endap kita. Suara kaki kita tahan betul agar tidak menimbulkan hal-hal yang mencurigakan. Jendral memberi aba-aba aman. Kita naik ke lantai dua. Perlu dipahami, atap kos yang akan kita bersihkan adalah, atap kos putri. Sebuah misi yang sulit. Karena jika sampai kita ketahuan dan mereka berteriak maka mereka akan menganggap kita sebagai 'tukang intip' dan akan menghujani kita dengan sapu, kemoceng, dan sepatu hak tinggi. Jadi, jangan sampai misi rahasia ini gagal.

Sang Jendral berhasil naik ke atap lewat satu lompatan dari sebuah tangga dengan selamat setelah sebelumnya menyebutkan kata kunci, "Assalamualaikum..." Kata kunci yang membawa keselamatan. Saya, panik. Karena, medannya ternyata sulit bagi saya. Aduh, saya tak selincah sang Jendral. Sang Jendral sudah berada di atap dan memulai misi. Sedangkan saya masih mencari cara untuk naik ke atap. Tubuh saya terlalu tinggi sehingga mempersulit saya untuk melakukan lompatan seperti sang Jendral. Saya berfikir keras hingga keringat ini mengucur deras. Lalu,

"Komandan! Ayo! Dimana kamu! Aku butuh pertolongan segera!"
"Baik Jendral! Saya akan segera menyusul!"

Setelah clingak-clinguk akhirnya saya melihat sebuah tembok di dekat jemuran. Oh, lewat sana! Saya geser tangga. Dan yap! Saya semakin panik karena ternyata tangganya labil. Tiba-tiba saya menjadi phobia ketinggian. Ah sial! Batin saya. Entah karena apa saya beranikan diri meskipun dengan bersusah payah akhirnya saya berhasil sampai ke atap. Namun ternyata tidak sampai di situ saja. Medannya cukup sulit untuk dilewati. Genteng terlalu rapat sehingga untuk berjalan pun sulit. Ketakutan saya bertambah karena kemaren saya mendengar berita bahwa abu itu sangat licin dan membuat rapuh genteng, jadi berhati-hatilah jika sedang membersihkan atap. Bisa-bisa anda terjatuh dari atap. Yang paling mungkin dilakukan adalah jalan sambil jongkok. Berasa abdi dalem keraton ini. Tapi misi harus segera diselesaikan. Dengan penuh perjuangan, abu-abu itu kembali kita sapu dan kita taruh di ember yang sudah dibawa sang Jendral sebelumnya. Banyak sekali, hingga berember-ember. Kita berdua bahu membahu, tapi sebenarnya lebih banyak jendral yang bekerja daripada saya. Beberapa genteng menjadi korban. Pecah. Matahari sudah mulai muncul. Target kita misi ini harus selesai sebelum jam 11.00. Abu-abu dipindahkan dari atap ke ember-ember. 

Tugas utama saya adalah membuang abu-abu tersebut ke belakang kos yang artinya saya harus turun dari lantai dua ke lantai satu secara berulang-ulang. Saya melakukannya. Ember pertama belum apa-apa. Pun dengan ember kedua dan ketiga. Di ember keempat kaki sudah mulai bereaksi karena naik turun tangga. Otot tangan menegang. Tak apa. Demi waktu yang semakin habis misi harus segera diselesaikan. Saya paksakan, laki-laki tak boleh lemah. Naik turun terus hingga hanya dua ember abu yang tersisa. Alhamdulillah akhirnya kurang sedikit lagi. Saya angkat ember ke lantai satu, dan ketemu dengan tentangga sebelah.

"Dik, kamu ngapain?"
"Ini membersihkan abu dari atap kos mas."
"Kamu angkatin gini?"
"Iya."
"Dari lantai dua?"
"Iya."
"Kok nggak kamu kerek aja pakai tali. Kan lebih enak."
"ASTAGHFIRULLAH!!!"

HENTIKAN KEBODOHAN INI YA TUHAN!!!! Kenapa hidayah ini datangnya di dua ember terakhir!!!! Kenapa nggak dari awal TUHAN!!!!! Saya kan nggak bakal capek dan kotor gini TUHAN!!!!

Minggu.
Lagi. Adalah badan kurus, pegal-pegal, dan tergolek lemah di kasur dan dikejutkan oleh suara berisik di lantai 3. Ah, siapa lagi sih itu. Pikir saya yang memang sangat malas sekali untuk beranjak dari kasur. Tulang belulang udah kayak habis terbanting gini. Di lantai 3 malah bikin gaduh. Saya keluar untuk mandi dan pergi refreshing entah kemana karena kondisi alam Solo berkurang abunya akibat hujan yang datang. Setelah mandi, saya urungkan niat untuk pergi dan bergegas ke lantai 3. Ternyata di sana sang Jendral sendirian melakukan misi membersihkan abu.

"Jendraaaal!! Saya dataaaang!!!"

Lalu saya membantu beliau. Ternyata abu yang mengeras masih banyak karena belum sempat dibersihkan. Saya tak peduli meski sudah mandi misi ini harus benar-benar tuntas. Kotor, bukan halangan. Ember-ember dipersiapkan dan diisi abu setengah basah yang mirip adonan semen ini. Tugas saya, mengangkat ember-ember ini dari lantai 3 ke lantai 1. Kalau kemaren dari lantai 2 ke lantai 1, sekarang, dari lantai 3 ke lantai 1. Misi semakin berat kawan. Saya angkat dengan tangan. Ternyata tangan tak cukup kuat. Lemah sekali. Lalu saya gendong. Gendongan juga tak cukup kuat. Lalu saya pikul di pundak kanan. Nah, ini lumayan mudah. Teknik yang saya pelajari dari para kuli panggul. Namun, pundak kanan juga tak bertahan lama. Ah, saya masih pundak kiri. Saya pakai pundak kiri hingga selesai. Kali ini lebih banyak daripada kemaren. Sangat ngos-ngosan apalagi belum sarapan. Dari pagi hingga menjelang siang. Setelah hampir ember terakhir ada suara datang,

"WOY! KENAPA NGGAK DIKEREK AJA? KAN KEMAREN UDAH TAK KASIH HIDAYAH MESKI KAMU ANGGAP TELAT DATANGNYA!"
"Ups...." 

Saya malu kemudian berlari ke kasur dan pura-pura tidur.

"DIKASIH HIDAYAH JUGA MASIH BEGO AJA INI ANAK. APALAGI NGGAK DIKASIH SAMA SEKALI."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...