Langsung ke konten utama

Lupakan Indonesia

Kali ini saya akan lebih serius dalam menyajikan catatan. Saya tidak mau lagi bersendau gurau. Ini sudah memasuki bulan-bulan yang kritis. Di mana bangsa Indonesia akan mengalami hal-hal yang penting dalam sejarah kehidupannya. Sekali salah melangkah, semuanya akan kacau. Selanjutnya tak akan pernah lagi dikenal sebuah kepulauan yang memiliki armada perang maritim terbesar, yang sering membuat bangsa lain bergidik. Sekali berlayar mereka menggunakan kapal berjumlah di atas 500 kapal. Bahkan kabar yang tersiar jumlahnya hampir ribuan yang berlayar ke belahan penjuru dunia. Semenanjung Arab dan Afrika. Karena saat itu wilayah Eropa dan Amerika masih berupa daratan gersang dan tidak subur. Jika di April nanti terjadi kesalahan lagi, maka bangsa ini akan semakin sulit diidentifikasi. Sebenarnya siapa Indonesia? Siapa orang Indonesia? Siapa keluarga-keluarga di Indonesia. Setiap bayi yang lahir di negeri ini kemudian menjadi bayi yang linglung. Yang tahunya begitu besar dia akan bersekolah, karena dianggapnya sekolah adalah tempat untuk mendapatkan pendidikan dan martabat yang lebih baik di dalam kehidupan. Semua bayi akan menjadi seragam cita-citanya. Lahir hidup, sekolah, bekerja, berkembang biak, mati, selesai. 

Salah di April, tak akan ada satu ilmuwan pun lahir. Tidak ada ilmuwan khusus di bidang petir sebagaimana seorang Ki Ageng Selo. Tak ada ilmuwan khusus di bidang hujan. Karena mengarahkan air hujan dikira menentang kodrat alam. Bahkan hujan boleh diminta dimana ia akan diturunkan. Tak akan ada lagi ilmuwan teleportasi. Yang dengan hitungan detik merubah molekul-molekul atom menjadi sangat kecil dan memindahkannya ke tampat yang jauh. Karena itu dianggap 'santet'. Tidak ada lagi ilmuwan di bidang botani yang paham bahwa pohon bukan sekedar pohon, tetapi ia juga makhluk yang hidup. Sebagaimana menghormati makhluk hidup yang lain, hewan. Kita seharusnya tidak hanya belajar menjadi pawang hewan, tapi juga pawang tumbuhan. Tetapi karena menghormati makhluk hidup selain manusia, sudah dianggap melenceng dari akidah mau apa lagi kita. Tak ada lagi ilmuwan yang mampu menggunakan energi levitasinya yang berkolaborasi dengan energi udara, karena hanya jin dan setan yang boleh terbang, manusia tidak. Harus pakai pesawat. Pesawatnya bukan bikinan sendiri. Pesawatnya bikinan orang lain. Kita disuruh membayar kalau mau terbang.

Oke, kalian akan melupakan dua paragraf di atas dalam hitungan, lima, empat, tiga, dua, dan satuuuu.....

Celana saya sobek.
Ceritanya begini. Jadi ada semacam tradisi setiap selesai manggung, tim nasyid yang saya tunggangi selalu mengadakan ritual pemujaan terhadap makanan. Kita puja-puji mereka (makanan) sesuai data empiris yang kita miliki masing-masing.

"Eh makan di SS aja sambelnya enak." ritual pemujaan terhadap sambal.
"Jangan makan di warung sana aja eh teh nya enak dan banyak." ritual pemujaan terhadap es teh.
"Mending mi ayam atau bakso aja yang seger." ritual pemujaan terhadap makanan berkuah.

Saat itu memang kondisi tubuh saya lagi sedang tampan-tampannya. Saya main dengan cukup energik. Iya lah berbagi kebahagiaan dengan orang lain kan harus gitu rumusnya. Totalitas itu perlu tapi jangan lupa totalan juga setelahnya. Iya, apa saya over energik ya kemarin itu? Selesai main malah jadi nggak doyan makan. Padahal ritual pemujaan terhadap makanan wajib saya lakoni demi untuk keberlangsungan hubungan sosial saya dengan teman-teman di nasyid ini. Semua berdiskusi mencari tempat ritual pemujaan, saya sendiri menahan badan yang aneh rasanya. Normalnya, saya seharusnya lapar karena banyak sekali energi yang saya keluarkan. Tapi perut ini seolah berbicara,

"Jangan siksa akuuuu..."
"Siksa? Bukannya dengan datangnya makanan ke dalam dirimu membuatmu semakin bahagia?"
"Tidaaaakkkk... kamu salah! Dengan datangnya makanan, itu akan membuatku bekerja lebih berat! Aku ingin istirahat!"
"Tapi kan, kalau aku nggak makan, nggak enak sama teman-teman yang lain. Gimana?"
"Uhmmm, iya deh. Dikit aja ya."

Teman-teman sudah memilihkan tempat yang menyediakan menu serba sambelnya. Warung berinisial SS itu selalu penuh di hari Minggu siang. Kita menunggu sebentar di luar. Saya datang belakangan. Saya lepas jaket karena hari itu sangat gerah. Kemudian jaket yang selalu dekil di bagian lehernya itu saya tarus di motor. Lantas saya menyusul teman-teman di dalam. Menu-menu telah di pilih. Ritual pemujaan makanan di mulai. Saya mengambil nasi secukupnya. Sambel cumi, cumi goreng, paha ayam goreng, tempe, sambel terong, entah sambel apa lagi dan menu apa lagi sudah mulai berdatangan. Hari itu bisa dikatakan sebagai Hari Sambal Sedunia. Mudah-mudah segera terwujud hari ini. Karena sambal adalah hasil olah rasa manusia-manusia Nuh Shanta Hra, Nuswantoro, Nusantara, Indonesia, yang saya yakin mereka telah melalui beberapa riset panjang dan lama untuk menghasilkan berbagai macam sambal. Meski bahan dasarnya sama, cabai. Sambal, tidak hanya sekedar sambal. Itulah kita. Memiliki daya kreativitas yang bangsa lain tidak memilikinya. Beri kita bahan dasar yang sama, lalu kita lihat. Seribu orang tidak hanya menghasilakn seribu jenis sambal, tapi bermilyar-milyar sambal, selama cabai masih ada dan murah harganya. Atau mereka saking besarnya daya kreativitas yang mereka miliki, mereka tidak butuh riset. Asal meng-uleg dan sambalpun lezat tersaji.

Oke, kalian akan melupakan kalimat, Nuh Shanta Hra sampai kalimat terakhir paragraf di atas dalam hitungan, lima, empat, tiga, dua, dan satuuu...

Teman-teman sangat lahap. Saya juga. Saya paksa untuk melahap semua. Karena menyisakan makanan itu termasuk tanda kekufuran. Kalau memuja makanan sih masih belum dianggap kesyirikan. Kalau memuja pohon, nah itu baru. Makanan yang saya pesan hampir 100% habis. Dan perut ini semakin tidak enak. Kemudian langit gelap. Angin berhembus begitu kencang. Hujan turun lebat sekali. Dan, saya membiarkan jaket saya kehujanan karena untuk berdiri saja saya sudah kesulitan, apalagi jalan dari dalam warung ke tempat parkiran. Setelah melalui basa-basi formal membicarakan, mungkin tentang agama, mungkin peta perpolitikan, mungkin juga soal cinta, saya pamit. Dan petaka itupun dimulai.

Saya berboncengan dengan Ustaz. Motornya didominasi oleh warna putih. Merknya Minerva. Keren sih. Laki banget. Tau kan bentuknya seperti apa motor itu? Setengah moge lah. Tapi kejantanan anda akan semakin afdhol jika ada berada di posisi depan atau sebagai orang yang memboncengkan. Sedangkan saya, berada di posisi yang diboncengkan. Dan untuk menjangkau posisi jok belakang yang cukup tinggi, saya harus membuka kaki saya setinggi mungkin. Si Ustaz sudah berada pada posisinya. Sekarang giliran saya menempatkan diri. Saya angkat kaki saya, terdengar suara kreeeeekkkk...... dari wilayah pantat saya. Lubang sepanjang 20 cm menganga. Saksi mata kejadian itu cuma satu, dan dia teman saya sendiri. Untungnya bukan perempuan yang lihat. Saya duduk, dan saya bisiki si ustaz dari belakang, "Celana saya sobek."

Cocok. Jaket basah kuyup, celana sobek, dan perut terasa semakin aneh adalah kombinasi yang pas sepanjang sejarah kehidupan umat manusia. Untungnya saya terlahir di Indonesia. Sebuah bangsa yang tahan menderita. Bangsa yang dijajah, lantas pura-pura merdeka hanya untuk mengundang penjajah-penjajah berikutnya. Bangsa yang pura-pura berdemokrasi hanya untuk menguji seberapa adidaya bangsa yang katanya mengaku-ngaku sebagai bangsa adidaya. Bangsa yang pura-pura membodoh-bodohkan dirinya hanya untuk memancing, seberapa cerdas generasi mudanya untuk mengenal siapa diri mereka yang sesungguhnya. 

Oke, kalian akan melupakan catatan di atas dalam hitungan, lima, empat, tiga, dua, dan satuuuu....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...