Langsung ke konten utama

Esok Untuk Kemarin

Lagi, catatan ini termasuk catatan yang berat. Jadi yang merasa kapasitas otaknya biasa-biasa saja, jangan pernah sekalipun mencoba meneruskan membaca catatan berikut ini. Saya, serius. Kalau teman-teman tetap memaksakan diri untuk terus membaca dan memuaskan rasa penasaran anda terhadap apa isi catatan saya kali ini efeknya adalah: 
- kepala pening
- tenggorakan sulit untuk menelan
- mata merah
- hidung mengeluarkan cairan yang dunia medis manapun belum mengetahui cairan apa itu
- badan pegal-pegal, sepegal para kuli yang ikut membangun Piramida
- jari kaki anda akan bergerak-gerak sendiri tak bisa dihentikan selama kurang lebih 7x24 jam

Anda jangan lantas berfikir, ah Didik, paling juga kayak biasanya, paling dia lagi bercanda. Saya jawab: TIDAK. SUNGGUH SEKALI KALI TIDAK. Anda boleh memilih salah satu efek yang akan terjadi pada diri anda. Dan kalau anda masih tidak percaya setelah membaca kalimat ini berarti anda, SEHAT. Selamat yah... 

Adalah hal yang cukup luar biasa bagi makhluk seperti saya ini bisa bertemu kembali dengan teman-teman semua dalam keadaan yang sehat. Iya sehat. Sehatnya saya tidak sama dengan sehatnya anda. Saya kalau sariawan suka makan yang pedes dan asem. Jus jeruk campur irisan cabe rawit. Kata teman-teman yang 'normal' saya dianggap aneh. Sariawan kok malah makan kayak gitu, kan namanya menyiksa diri sendiri. Nggak. Metode saya memang seperti itu. Kalau sakit dibikin lebih sakit sekalian. Paling juga pingsan. Ini metode yang nggak semua orang mau melakoninya. Saya diajari oleh orang yang bukan dokter. Katanya ada cara-cara praktis untuk membuat sakit cepat sembuh. Lalu saya tanya orang itu, bagaimana caranya? Jawabnya enteng, ringan banget selayak kapas tertiup angin dari baling-baling pesawat terbang,

"Cari sendiri. Tiap orang berbeda-beda. Dosismu tak sama dengan dosisku. Kalau kamu tanya obat mencret karena kebanyakan makan cabe sama orang yang suka sekali makan pedas, itu salah tempat."
"Terus saya harus tanya sama siapa?"
"Cari sendiri. Tiap orang berbeda-beda dosismu tak sama dengan dosisku. Kalau kamu tanya obat mencret karena kebanyakan makan cabe sama orang yang suka sekali makan pedas, itu salah tempat."
"Terima kasih."
"Cari..." tenang mulutnya sudah saya sumbat pakai knalpot kereta api.

Saya pernah dengar kalimat berikut ini. Kalau teman-teman tahu ini kalimat siapa atau termasuk jenis kalimat apa, saya diberitahu ya. Soalnya ingatan saya tak setajam teman-teman. Saya sering tidak ingat kemaren berapa liter air liur yang berhasil saya keluarkan. Karena belum sempat menghitungnya air liur itu sudah buru-buru mengering di bantal. Saya juga sering tidak ingat nama-nama anaknya Brawijaya 5 yang jumlahnya ada sekitar 127 yang ditugasi untuk menyebarkan Islam di nusantara. Eh, iya nggak sih? Tuh kan. Mudah lupa saya.

Kalimatnya begini teman-teman, "Yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia merugi. Yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka ia beruntung." Terus yang satunya apa ya? Bentar-bentar. Itu udah, itu udah, itu udah. Oh, "Yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka ia, maka ia... maka ia... maka, ia...". Aaah lupa. Teman-teman pernah dengar kalimat itu? Itu apa ya? Tolong saya dikasih tahu kalau teman-teman tahu ya. 

Karena saya merasa begini teman-teman. Bahwa apa yang saya lakukan hari ini hanyalah membayar hutang dari hari kemarin. Sehat saya hari ini saya gunakan untuk melakukan apa-apa yang seharusnya saya lakukan tapi tidak jadi saya lakukan karena saat itu saya sedang tidak sehat. 

Jadi sangatlah beruntung orang-orang yang memiliki keyakinan bahwa sedekah yang dilakukan hari ini akan mendapat balasan 700 kali lipat esok hari. Itu kalau orangnya oleh Alloh dianggap sebagai manusia yang taat dan patuh. Untuk manusia model saya yang banyak ingkarnya ini, kok rasanya aneh gitu kalau misal kalau hari ini saya melakukan amal dan dicatat sebagai kebaikan lantas keesokan harinya saya mendapat balasan 700 kali lipat dari kebaikan yang saya lakukan. Ini serius lho. Seserius kalau saya bilang saya mengetik ini di kala hujan. Misal kalau saya sekarang selalu berbuat baik kepada orang tua itu karena dulu saya nakal suka membangkang kalau diperintah.

Amal apapun yang saya lakukan, yang mungkin oleh Tuhan dicatat sebagai kebaikan, itu hanya untuk membayar keburukan di hari kemarin. Saya merasa begitu sih. Karena misal saya sudah bersedekah sekian ratus ribu, terus batin saya seperti ini, pasti nanti diganti sama Alloh sekian kali. Tapi pada kenyataannya kok malah rezeki saya biasa-biasa saja. Terus saya tanya sama Alloh,

"Ya Alloh. Mana? Engkau sudah berjanji untuk menggantinya dengan yang lebih banyak. Tapi apa?"
"Sudah."
"Sudah? Ini hidupku juga masih biasa saja."
"Ku ganti dalam bentuk lain."
"Dalam bentuk lain? Kenapa tidak dalam bentuk yang sama tinggal dikalikan 700. Semisal saya sedekah uang karena mengharap ridho-Mu lalu Engkau tinggal melipatkan 700 kali untukku,"
"Itu juga sudah."
"Mana? Ini uangku tak kunjung bertambah juga."
"Sudah kok."
"Masa sih? Periksa lagi coba."
"Sudah."
"Jangan buat saya bingung lho ya Alloh."
"Sudah. Sudah Ku ganti 700 kali."
"Mana? Nggak ada gini."
"Ada. Sudah."
"Ah, becanda Engkau."
"Beneran sudah."
"Iya. Tapi mana?"
"Kebaikan yang hari ini kamu lakukan sudah kubalas 700 kali dengan bentuk kebaikan yang sama pula. Dan kebaikan itu Aku gunakan untuk menutup keburukan-keburukanmu yang sampai saat ini jumlahnya masih 700 kalinya 700 kebaikan yang kamu lakukan. Bisa dipahami?"
"Oh, tinggal ngomong gitu aja kok apa susahnya. Jadi gimana nih? Niat ku harus diubah?"
"Iya kamu tahu apa yang harus kamu lakukan."
"Terus misal semua kebaikan yang aku lakukan pada akhirnya hanya impas untuk menutup segala keburukanku, bekal apa yang aku bawa pada saat aku kembali kepadaMu."
"Tenang. Yang penting berbuat baik dan selalu berbuat baik dulu. Nggak usah panik gitu. Malah enak nggak bawa apa-apa. Siapa tahu aja sih."
"Lha? Surga Neraka nya gimana?"
"Sudah. UrusanKu itu."
"Iya deh. Balik bumi dulu ya."
"Kopinya dihabiskan."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...