Langsung ke konten utama

Hutang Para Alien

Sejatinya adalah anugerah yang besar tatkala ada orang lain yang mendatangi diri kita lalu dengan mimik muka sedikit lesu, penuh kekalutan, dan dengan lirih berucap,
"Bisa pinjam uang?"

Pertama, di dalam cara pandang orang tersebut, kita adalah organisme yang memiliki lebih banyak uang daripada dia. Secara sederhana, bisa diambil kesimpulan sementara bahwa, kita lebih kaya daripada dia. Siapa, siapa yang tidak mau dianggap kaya. Karena kita cenderung sakit hati dalam tanda kutip, ketika ada orang lain yang mengata-ngatai diri kita miskin, jelek, bodoh. Meskipun pada kenyataannya, iya. Tapi tenang saja. Orang yang mengata-ngatai diri kita miskin, jelek, dan bodoh adalah tipikal orang yang berpengetahuan dangkal, tingkat intelektualitas sangat rendah, dan tidak memiliki kepekaan hati. Dia tidak tahu, bahwa meskipun kita jelek, miskin, dan bodoh di dunia, tapi belum tentu kita jelek, miskin, dan bodoh, di mana saudara-saudara???? Mars! Pinter.

Kedua, jika ada orang yang mendatangi kita dan meminta bantuan, itu berarti, dia sedang mengajari seberapa dermawan kah kita. Mungkin, dia sedang menguji dengan cara berpura-pura, atau bahasa halusnya, akting dalam tanda kutip, untuk mengetahui kepribadian kita. Kita orang yang baik hati atau tidak. Kalau ada yang mau meminjam uang kepada anda, tatap matanya dalam-dalam, lalu katakan,
"Aktingmu bagus. Punya piala Oscar berapa?"

Nggak. Becanda-becanda. Maaf. Minggu sore hujan deras begini adalah kesalahan yang hebat jika saya tidak menceritakan kepada teman-teman tentang satu hal yang mungkin tidak dialami, dan semoga saja teman-teman sekalian tidak pernah mengalami apa yang telah saya alami. Masih terkait dengan kata hutang, miskin, jelek, bodoh, dan tentu saja kosakata favorit saya, Mars, alien, serta kamu.

Sebenarnya yang ingin saya sampaikan begini. Jangan menganggap remeh, orang yang memiliki hutang kepada anda. Begitu aja sih pesan moralnya. Jarang-jarang kan ada tulisan pesan moralnya di awal-awal gini. Biasanya di akhir kan? Gaya tulisan ala planet Mars seperti ini. Sistem pendidikannya agak berkebalikan dengan sistem pendidikan di bumi. Kalau di bumi pesan moral selalu diberikan di akhir cerita. Namun lain halnya dengan sistem pendidikan di Mars. Pesan moralnya ditaruh di depan. Nanti para murid dipersilakan untuk se-kreatif mungkin menulis cerita yang mengandung pesan moral seperti yang telah disampaikan di awal. Tujuannya agar penduduk Mars memiliki kepekaan kreativitas sejak kecil. Dan untuk mengetahui tingkat imajinasi mereka. Jadi mereka selalu paham, bahwa kejadian apapun yang akan, sekali lagi, yang akan, mereka alami, mereka sudah menyiapkan data-data hikmah yang berupa kumpulan pesan moral, sebagai upaya antisipasi. Jadi, kemana-mana di dalam pikiran mereka yang ada adalah ilmu hikmah. Hikmah tidak diambil setelah kejadian terjadi. Namun hikmah memang sudah ada dan dipersiapkan bersamaan dengan setiap kejadian. Agak sulit dipahami ya? Baca selama 33 kali paragraf ini, nanti kalian akan paham. Kalau nggak paham-paham juga ya wajar. Itu kan sistem pendidikan di Mars bukan di bumi.

Jujur, kenapa beberapa minggu ini saya tidak bercerita kepada teman-teman semua, karena ada beberapa agenda yang harus saya lewati sewajarnya saya sebagai manusia. Supaya saya tidak dicurigai sebagai alien terus. Nyesek tau. Tiba-tiba di sebuah acara bedah buku, di depan orang banyak, ada seorang membawa michrophone di tangannya dan bertanya kepada saya,
"Mas manusia kan? Bukan alien kan?" 

Sakit. Sakit. Sakit banget. Padahal saya ke Mars cuma seminggu sekali. Itupun untuk kepentingan dagang. Bebatuan di sana bagus-bagus. Bagus buat nimpuk kepala orang.

Iya. Ada fragment-fragment yang harus saya lakoni. Utamanya terkait paut dengan aktivitas kesenian dan kebudayaan manusia. Ada launching dari grup nasyid, sama ngamen untuk saudara-saudara kita di sekitar Kelud. Lalu ada hal-hal yang memang ingin saya selesaikan segera. Ngganjel bahasa Jermannya. Jadi mohon keikhlasannya teman-teman ya. Saya tau kalian tipikal orang yang pemaaf. Ini saya sampai menitihkan air liur mengingat kebaikan teman-teman yang sudah mau meluangkan waktunya untuk membaca cerita amburadul seperti ini. Ah, kadang terharu juga, gimana saya bisa membalas kebaikan teman-teman sekalian. Saya merasa berhutang sama kalian. Tiap saat ada aja yang menagih, 
"Mana tulisanmu?"
"Kok nggak nulis lagi?"
"Ini nanti pasti jadi catatan."

Berarti saya hutang tulisan sama kalian kan? Saya menulis ini bukan dalam rangka pamer bahwa saya orang yang kreatif, tapi dalam rangka membayar hutang sama kalian. Kalau ditagih terus-terusan ya saya menulisnya terus-terusan. Kan yang namanya hutang harus segera dibayar. Ditagih, ditulis, ditagih, ditulis, ditagih, ditulis. Entah sampai kapan, selama kalian menagih ya saya terus menulis.

Punya hutang itu nggak enak. Apalagi hutang yang kita lakukan tanpa niat untuk berhutang sebelumnya. Saya kasih simulasi biar kalian paham apa maksud saya.

"Bu. Beli tolak angin dua."
"Dua aja mas?"
"Iya bu dua aja."
"Ini mas."
"Berapa bu?"
"Empat ribu mas."
"Ini bu."
"Waduh mas yang kecil aja."
"Yang kecil lagi bobo di rumah bu."
"Duitnya yang kecil aja. Nggak ada kembaliannya."
"Yang kecil nggak punya bu. Adanya cuma ini."
"Ya sudah bayar besok aja kalau mas ke sini lagi."

Ngerti kan? Itu namanya hutang tanpa niat. Saya beri bocoran sedikit. Sebenarnya ini rahasia negara. Skalanya nasional. Yang terjadi di Indonesia adalah seperti kasus di atas. Kita kaya. Secara fakta alam kita kaya. Sangat kaya raya. Tapi hutang kita banyak. Sampai tujuh turunan lebih sedikit juga kita bakal punya hutang terus.

"Mas Indonesia, mau beli pesawat ini nggak?"
"Pesawat apa mas Amerika?"
"Pesawat Singa Terbang Mas Sa". Mas Sa itu panggilan untuk Indonesia.
"Wuih. Mantap sekali namanya Mas Am." Tau kan siapa Mas Am?
"Iya. Kita lagi ada promo nih. Kalau Mas Sa mau ambil 200 unit, kita bakal kasih diskon."
"Kalau ambil 200 unit dapat diskon? Murah banget."
"Emang murah Mas Sa. Gimana? Mau nggak."
"Kualitasnya gimana?"
"Ya tau sendiri lah harga segitu murahnya kualitasnya seperti apa."
"Boleh deh Mas Am. Kita ambil 200 unit. Berapa totalnya?"
"Sekian mas."
"Oke saya bayar pake emas kualitas Banyuwangi ya."
"Waduh mas. Terlalu bagus itu. Terlalu mahal. Kita nggak punya kembalian."
"Lha gimana?"
"Gini aja. Mas Sa bawa aja dulu pesawatnya. Jadi nanti mas Sa bayar kalau sudah ada duitnya. Bunganya sekian persen. Atau kita barter. Kalau saya beli emas di Mas Sa, saya gantian dapat diskon. Hehe.."
"Uhmmm, ya udah deh. Kasihan. Tanda tangan di sebelah mana?"

Begitulah. Kita dibuat seolah-olah berhutang supaya tampak miskin. Kalau sudah tampak miskin, kita tidak boleh mendapatkan pendidikan. Dengan begitu maka dengan gampang mereka menyebut kita bodoh. Kalau sudah miskin dan bodoh, kata apalagi selain jelek yang disematkan pada wajah-wajah orang pribumi. Mereka lupa, mereka selalu mengimajinasikan bahwa alien, penduduk Mars adalah musuh mereka. Maka dengan keyakinan yang kuat saya nyatakan, bahwa kita penduduk Indonesia adalah mitra dagang yang sah penduduk Mars! Mari saudara-saudara kita nyanyikan Mars PKK!!!

Aneh ya? Lebih aneh lagi cerita yang berikut ini teman-teman. Saya selain sibuk tadi, juga lagi galau. BB saya rusak. Erorr nya aneh. Nggak bisa kirim sms ke satu nomer. Cuma satu nomer. Ke nomer yang lain bisa. Tapi kalau saya telpon ke nomer yang tadi, bisa. Kalau nomer itu sms ke saya ya bisa masuk. Tapi kalau saya sms ke satu nomer itu, nggak bisa. Lebih sedih lagi, satu nomer itu, nomernya kamu. Rencananya mau saya ganti dengan android. 

Alkisruh, saya kemudian browsing-browsing harga-harga android. Kok nggak ada yang seratus lima puluh ribuan ya? Saya pilih-pilih, saya tanya temen-temen yang sudah pake android. Katanya harga satu jutaan udah oke. Baiklah. Satu juta itu banyak ya? Dari mana duit sebanyak itu. Kalau satu juta mending buat beli komputer sekalian. Bisa buat nimpuk kepala orang. Satu juta satu juta satu juta.... akut lah galau saya. Ganti nggak ganti nggak. Yang lebih nyesek lagi, gimana cara saya kontak dengan juragan-juragan yang udah terlanjur pakai kontak BBM. Sampai mentok nggak ada cara saya kemudian diam aja nggak ngapa-ngapain.

Lalu, Tuhan memberikan ceritaNya kepadaku. Di satu Jumat pagi....

"Bisa pinjam uang?"
"Berapa?"
"Satu juta aja. Nanti satu minggu tak kembalikan."
"Satu juta ya? Kayaknya belum bisa. Buat apa to?"
"Buat ambil kekurangan biaya bikin kaos kampanye istriku."
"Oh nyaleg kok ya?"
"Iya. Gimana? Nanti seminggu tak kembalikan. Habis-habisan ini."
"Habis-habisan? Emang habis berapa?"
"Kalau 300 ya sudah lewat. Itu belum semuanya."
"300? Juta?"
"Iya 300 juta."
"Itu duitnya nyetak sendiri?"
"Nggak lah. Gimana? Ayolah tolong. Aku juga puasa. Puasa Jawa. Puasa Mutih."
"Puasa mutih itu makan yang putih-putih aja atau yang nggak ada rasanya?"
"Makannya cuma nasi sama air putih aja. Gimana?"
"Bukan begitu. Aku mau ganti hape aja bingung lho. Lihat BB ku ini. Udah tak solasi gini. Jarang-jarang lho sekelas blackberry sampai disolasi ini. Mau ganti android ya mahal."
"Iya. Ganti android aja. BB gemini itu emang kelemahannya gitu. Punyaku aja aku jual aku ganti android. Baru aja. Gimana? Pinjam satu juta aja."
"Itu nyalegnya DPRD ya?"
"Iya DPRD. 300 juta itu buat KPU, buat timses, belum buat suara per kepala."
"Maaf belum bisa."
"Dulu sebelum masuk politik nggak sampai habis segini banyak."
"Oh."

Sebenarnya ada ekspresi-ekspresi saya di dalam percakapan itu yang saya sensor. Takutnya kalian sakit perut dan nggak doyan makan malah. Salah satu contohnya pas saya mengucapkan,
"Oh."

Ekspresi saya mata melirik dari kanan ke kiri, dari kiri ke kanan selama 33 kali, mulut hampir keluar busa, kuping melakukan kontraksi secara spontan, hidung kembang kempis dengan kecepatan 80 km/jam, sembari berfikir, jangan-jangan ini alien yang mau pinjam duit?

WOY! KITA BUTUH SATU JUTA AJA BINGUNG! MALAH DIPAMERIN 300 JUTAAAAA!!!!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...