Langsung ke konten utama

Strata Tak Terhingga

Huaaahhhhh!!! Menguap dulu deh.

Iya ini saya lagi dan masih saya lagi. Iya. Masih jomblo. Masih belum lulus juga. Masih ditolak oleh beberapa orang tua perempuan yang saya suka. Kenapa? Nekat? Nggak lah. Pelajaran pertama dalam hidup itu bergerak. Jadi saya tetap mengupayakan sesuatu meski hasilnya sudah bisa diprediksi 100% bakal gagal.

Apanya? Oh, rasanya? Rasanya sih tetap sama. Sama sama. Iya sama pas seperti ditolak. Kalau saya bilang kecewa, tingkat kekecewaan tiap manusia kan berbeda. Itukan juga belum bisa dijelaskan secara ilmiah. Kalau saya, kecewa sama bahagia itu bukan output yang absolut atau output terakhir. Itu sifatnya hanya sementara dan masih bisa diolah lagi menjadi, misalnya kreativitas. Gini gini saya jelaskan pelan pelan. Kalau saya sendiri, kecewa dan bahagia itu masih berupa input, masukan untuk bahan menulis ide.

Saya belajarnya sama para petani itu. Mereka hampir setiap hari menanam dan merawat, tapi juga belum pasti apakah nanti panennya akan berhasil atau gagal. Bahkan mereka kadang merawat menggarap lahan yang bukan miliknya sendiri. Bagi saya itu aneh. Sangat aneh. Apalagi dengan sistem upah yang kadang jauh tidak begitu mempesona jumlahnya.

Apa? Penyebabnya? Penyebab apa? Ditolak? Waduh! Itukan sudah jelas juga jawabannya. Manusia modern jaman sekarang itu harus punya 'gelar'. Kalau punya gelar, nanti mesti punya pekerjaan. Kalau punya pekerjaan nanti bisa menghidupi sanak keluarga. Kan emang seperti itu logika jaman sekarang. Kenapa? Penulis? Walah, bagi saya menulis itu bukan profesi. Bukan. Makanya duit saya tidak pernah bertambah. Sempat dulu duit royalti pertama saya, saya belikan cincin. Niatnya untuk tabungan. Syukur-syukur nantinya bisa untuk melamar. Tapi karena saya kepepet butuh duit untuk si anu si itu, ya terpaksa saya jual itu cincin.

Kalau menurut naluri intelejensi saya yang setingkat lebih cerdas dibandingkan kuda nil ini, memang ada upaya-upaya konspirasi dari kelompok manusia tertentu untuk menekan angka pertumbuhan penduduk di dunia. Lebih khususon lagi penduduk Indonesia yang memiliki gen spiritual yang tinggi.

Saya curiga terhadap gelar kesarjanaan. Dari dulu tidak pernah dipatenkan. Selalu ada perubahan atas nama peningkatan kualitas dan mutu manusia modern. Dulu ada sarjana muda, terus Drs, Mba, terus apalagi itu. Nah sekarang kan gelar-gelar itu sudah lenyap. Diganti model Diploma dan Strata. Tambah curiga lagi kenapa harus angka di belakang gelar Diploma dan Strata itu. Kenapa tidak alfabet? Kalau alfabet kan nanti agak bisa dibatasi sampai sekitar 27 tingkat strata. Lha ini kok menggunakan angka?

Diploma (D)1, D2, D3, sekarang muncul D4 yang setara, entah yang setara itu dalam hal apanya, dengan Strata (S)1. Yang jelas itu digunakan sebagai patokan untuk mencari pekerjaan dalam dunia industri. Industri apapun termasuk institusi kepegawaian negara. Dulu pendidikan minimal SMA atau sederajat. Terus ganti lagi D3 sederajat. Terus ganti lagi S1 atau sederajat. Saya curiga, mungkin 10 tahun mendatang, pendidikan minimal harus S2. Dan saat ini gejala ini sudah terlihat. Dimana-mana para sarjana S1 yang konon kebingungan mencari pekerjaan kemudian memilih untuk menempuh studi S2 atas nama mencari ilmu dan kehidupan perekonomian yang lebih baik. Iya S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8, mungkin sampai Strata Tak Terhingga.

Lalu dimana letak konspirasinya? Maka dengan semakin tingginya syarat untuk agar diakui sebagai manusia yang berpendidikan, maka itu pula semakin banyak lelaki yang men-jomblo. Wa bil khususon lelaki yang seperti saya. Semakin lama gelar itu tidak diraih, maka kesempatan menikah juga semakin kecil. Kalau kesempatan menikah semakin kecil, berarti kesempatan untuk berketurunan dan berkembang biak juga semakin kecil. Dan itu salah satu cara untuk mengurai populasi kepadatan penduduk bumi. Karena dianggapnya bumi ini oleh orang-orang modern, semakin sesak. Padahal kalau dirunut lagi, manusia juga semakin mengecil dan menyempit. Termasuk menyempit cara berfikirnya. Salah satunya saya ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lamaran Laa Roibafiih

Di suatu tempat yang sunyi, tersebut lah salah seorang pemuda yang sedang dirundung pilu. Di tengah-tengah kegelapan yang merubungnya dia tak mau membuka mata. Terpejam sampai tak tahu kapan waktunya. Meringkuk ia di sana. Rambutnya sangat kusut. Pakaiannya juga tak pernah berganti. Bau asam menyeruak dari tubuhnya. Bahkan ia sudah tak bisa melihat beda, mana makanan mana kotoran. Juga hati yang tak mengerti mana jeda, mana kesempatan, dan mana kerterburuan..... Hingga secercah cahaya datang. Cahaya yang kecil tapi cukup menenangkan. Cahaya yang dibawa seorang perempuan. Cahaya yang terpancar dari senyum simpulnya. Cahaya yang mungkin tak akan pernah padam atau dipadamkan. Cahaya yang jumlah tidak hanya 99. Cahaya yang berisi penuh dengan harapan. Tangan terjulur menawarkan kesegaran alur. Uluran yang sangat sayang untuk dilewatkan.  "Kemarilah. Ku temani kamu berjuang." perempuan itu berkata seraya wajahnya diterangi cahaya. "Kamu, mau menemaniku?" pemud...

Reposisi Kegembiraan Nabi

Ini hal yang cukup menggembirakan. Sangat menggembirakan. Iya. Benar-benar menggembirakan. Bagi orang yang tidak punya predikat bahkan pekerjaan apapun ini, 'diajak' kemana-mana adalah hal yang menggembirakan. Saya sudah tidak perlu bersusah payah menjadwal diri saya harus bangun jam sekian, harus makan jam sekian, harus mandi jam sekian, harus ke kantor jam sekian. Karena itu saya malah alhamdulillah. Tidak ada tanggungan apa-apa. Jadi kemana-mana saya ngikut saja sama ajakan teman-teman. Saya tidak punya pendirian yang kuat sebagai laki-laki? Iya, kalau cara berfikirmu lahiriyah. Kalau rohaniyah kamu akan menemukan hal-hal baru jika berinteraksi dengan spesies sejenis saya ini. Nggak percaya? Ketemuan yuk! Sambil ngopi-ngopi gitu. Ngemil-ngemil. Berdua aja sih. Khusus perempuan tapi. Nggak. Becanda. Saya percaya saja bahwa orang-orang yang mengajak saya keliling kemana-mana itu orang-orang baik dan disayang sama Allah sama Rosul. Karena diantara teman-teman, saya adalah yang...

Puasa Tidak Kuat

Ini sudah masuk pergantian tahun Islam dan Jawa. Biasanya paling enak kalau mengingat-ingat masa lalu. Kalau ada yang baru, biasanya yang lama malah bikin rindu. Sedikit membongkar-bongkar file-file usang. Tapi saya tidak akan membahas tentang manuskrip kuno saya yang dari abad ke-4 sampai sekarang belum berhasil saya selesaikan. Huruf depannya S belakangnya I. Betul! SAPI! Skripsi skripsi! Itu barang teraneh yang pernah saya temui dalam hidup. Semoga Desember ini kelar. Februari 2013 bisa ikut adek-adek lima atau enam tingkat di bawah saya wisuda. Nanti gelarnya Sarjana Masbuk saja, tidak usah Sarjana Seni (S.Sn). "Saya nikahkan Didik Wahyu Kurniawan Sarjana Masb..... Lho ini nggak salah?" "Apa pak?" "Ini?! Mana ada gelar Sarjana Masbuk? Jangan guyon ah dek!" "Ada pak penghulu. Serius. Nih!" menyodorkan buku Sarjana Masbuk. Sombong dikit lah. Sekali-kali. Iya, bulan puasa lalu hampir tidak ada catatan. Sayang sekali memang. Tapi a...