Langsung ke konten utama

Garis-Garis Hujan

Hujan dan lagi-lagi hujan. Sialnya, kalau hujan datang, yang lain juga ikut datang. 'Yang lain' itu adalah, rindu, kangen, gundah, keluh, kesah, semuanya datang secara bergiliran absen masuk ke hatiku. Efeknya, lemes tak terkira. Mau berbuat apa-apa juga nggak enak. Yang ada cuma bantal sama selimut. Apa? Memberdayakan mereka? Makan bantal? Diapain? Tidak ada yang bisa dilakukan selain meratap dan meratap. Maunya fitnes di dalam kamar menghilangkan 'yang lain' itu. Tapi fisik sudah terlanjur lemes mau sit up, push up juga sudah males. Oh iya, ada lagi yang kalau hujan datang, ia juga ikut tiba. Namanya kenangan. Sudah, kalau si kenangan ini ikut datang, tambah runyam masalahnya. Sudah aku larang-larang. Sudah aku kasih police line juga masih merangsek terus membombardir barikade pintu hatiku. Mau mengusir mereka, tapi bingung dengan cara apa dan bagaimana metodenya.

Iya. Kalau sudah begini, nggak ada yang bisa diperbuat selain menerima dan menerima. Sampai kepala ikut-ikutan pusing. Sampai wajah ikut-ikutan mendung. Sampai mata juga ikut-ikutan basah. Kalau nggak begini bukan hidup namanya. Niatnya sore ini mau ke studio musik West Brother untuk ngambil data revisi skripsi. Lumayan ada perkembangan di bab 2 dan bab 3. Berarti tinggal sedikit lagi ke bab 4. Desember 2012 nanti sidang. Februari ikut adek-adek lima atau enak tingkat di bawah wisuda. Dan gelar sarjana masbuk benar-benar tercapai.

Itu. Begitu itu. Kalau dirunut lagi, hidup saya ini masih nuruti apa kata orang. Orang tua dan orang lain. Orang tua maunya saya sarjana. Spele alasannya, biar pas lamaran besok anaknya ada sedikit harga diri dan martabatnya. Sarjana. Whatever lah. Aku coba turuti semampuku. Dulu, ada yang minta aku PNS, biar aku bisa melamarnya. Karena orang tuanya mau punya menantu seorang PNS. Iya, PNS itu, pegawai negeri sipil. Tapi sebentar dulu. Aku menuruti orang tuaku saja belum selesai. Kok sudah menuruti orang lain. Jadi ya, dengan terpaksa sekali, hubungan kami tidak bisa dilanjutkan. Itu klise. Sudah biasa kalau di Indonesia ini. Karena urusannya bukan cuma hati. Tapi kalau mau ditarik garis yang lebih jauh lagi bisa sampi ke awal mula negara ini berdiri. Mengapa bisa sampai muncul sistem dan pembagian kerja dan strata di masyarakat yang disebut sebagai pegawai negeri. Orang-orang yang mengabdikan dirinya untuk negeri yang diwujudkan mengabdi kepada rakyat banyak. Kalau saya mengabdi kepada orang tua saja belum lulus, masa mau mengabdi untuk rakyat banyak. Sebenarnya juga orang tua saya tahunya saya saudah mau berhenti dan tidak melanjutkan kuliah lagi. Tahunya orang tua saya disini berkarya, meniti karir sesuai kesenangan saya. Saya sudah pamit kalau kalau mungkin tidak akan memiliki gelar sarjana.

Tapi ada 'garis' ternyata. Orang bilang, ikuti saja apa yang sudah diGARISkan Tuhan. Saya mencoba mencerna kata itu cukup lama. Mengapa idiom yang dipilih garis? Kenapa bukan titik? Yang merupakan cikal bakal terbentuknya garis? Atau kenapa bukan 'bangun'? Yang merupakan kumpulan garis-garis? Atau kenapa bukan lingkar? Sesuatu yang dililitkan?

Iya garis. Garis itu mungkin bermakna batas. Garis start, garis finish. Itu batas untuk memulai dan mengakhiri sesuatu. Kalau paham garis masing-masing enak. Hidup ini ada kontrol otomatisnya. Kalau dilanggar didiskualifikasi. Didiskualifikasi itu kalah sebelum berperang. Lebih baik kalah dalam peperangan daripada kalah sebelum berperang. Atau lebih baik didiskualifikasi daripada menang penuh kecurangan dan ketidakadilan?

Entahlah. Yang jelas yang sering ku lihat dari dalam kamar ini, hanya garis-garis hujan. Garis yang jatuh dari awan membasahi bumi. Yang sering mengantarkan aku pada kerinduan demi kerinduan....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Grup Neraka, Pemilu Neraka

Oke. Untuk teman-teman yang baru hadir bisa mengambil tempat duduk yang disediakan. Di depan kalian sudah ada satu paket makanan kecil beserta air minum dalam kemasan. Mari kita berdialog dalam suasana yang santai, rileks, dan tidak ada curiga antara satu dengan yang lain meski baju yang teman-teman kenakan semuanya tidak ada satupun yang sama. Baju couple itu baju yang jelas-jelas beda antara satu dengan yang lainnya. Namun tatkala masing-masing kuat pendiriannya bahwa mereka berbeda satu sama lain justru itulah unsur utama penyatuan itu. Berpasangan itu jelas-jelas menyatukan unsur yang berbeda. Bukan menyatukan unsur yang sama. Sandal kanan pasangannya sandal kiri. Keduanya disebut sepasang sandal. Satu laki-laki satu perempuan keduanya disebut mempelai berdua. Satu aku satu kamu disebut dengan cinta. Mas panitia tolong dicek satu persatu jangan sampai tidak ada yang tidak mendapatkan snack. Karena teman-teman saya yang hadir disini mereka datang secara ikhlas. Jadi sedikit sna...

Sesaji Di Dalam Kulkas

Seperti otomatisasi, kehadiran kulkas di ruang tengah seakan memanggil-manggil makanan untuk berduyun-duyun datang dan tinggal di dalamnya. Kulkas ini jauh dari kata hampa. Selalu terisi, dengan cara yang misterius dan tak terprediksi. Seperti kisah-kisah jaman dulu. Ada periuk yang tiba-tiba berisi nasi padahal tak pernah ada beras satu butirpun di sana. Di tempat teratas tentu saja ada kotak pembeku. Oleh istri dimanfaatkan untuk membuat batu-batu es. Jaga-jaga kalau ada tamu yang suka makan batu es. Emang ada? Banyak kawan saya berjenis makhluk pemakan batu es. Berapa? Banyak. Laki atau perempuan? Perempuan. Makan es batu seperti ngemil kacang kulit. Jadi freezer ini merupakan tempat sesaji untuk makhluk-makhluk itu. Di rak kedua tepat di bawah freezer sering digunakan istri sebagai tempat penyimpanan kaki ayam atau yang lazim kita kenal dengan 'cakar'. Lebih menggugah selera disebut dengan 'ceker'. Saya berada di garda depan untuk urusan ceker ini. Ceker adalah s...

paHAMILah

Sudah hampir tujuh bulan ini perut istri saya membesar. Kadang konstraksi kecil. Kayak ada yang memukul-mukul dari dalam. Lucu rasanya. Jadi perempuan itu gitu ya? Bisa hamil. Membawa makhluk hidup di dalam perutnya selama lebih kurang 9 bulanan. Saya tanya sama istri saya, "Kayak gitu rasanya gimana? Bawa perut gede." "Sekarang ya berat. Kenapa?" "Nggak papa." Perempuan kalau hamil itu kayak punya gelombang positif berlapis-lapis. Katanya karena dibantu dari dalam. Pusat energinya double. Ada yang bilang sih, kalau hamil itu gampang lemes. Bawaannya pengen tidur. Saya pikir itu wajar. Butuh sering isi ulang daya. Toh tidurnya itu bukan karena alesan males. Perempuan hamil itu mendapat bermacam fasilitas. Baik dari Tuhan maupun dari manusia. Coba aja kalau nggak percaya. Yang jomblo itu kalau udah nikah nanti kan tau. Nggak perlu baper. Nggak perlu banyak konsep. Nggak perlu nyari bahagia. Nggak mesti kok nikah itu mesti bahagia. Nggak mesti seneng-se...