Langsung ke konten utama

Selamat Dulu Berdoa Kemudian

Entah berapa kali lagi saya harus mengucapkan banyak terima kasih untuk orang-orang di sekitar saya. Semua. Baik yang jauh secara fisik tapi dekat secara hati, maupun yang dekat secara hati dan dekat secara fisik. 

Ini tentang peristiwa ulang tahun saya kemarin. Yang unik dari setiap ucapan selamat ulang tahun itu berisi doa. Tidak sekedar ucapan selamat saja. Contoh misal kita mau makan, kita berdoa dulu, lalu baru mengucapkan 'selamat makan'. Atau sebelum tidur. Berdoa dulu, baru setelahnya diberi ucapan selamat tidur. Kalau ucapan selamat ulang tahun itu, selamat-nya dulu baru doa-nya. "Selamat ulang tahun, semoga panjang umur, barokalloh, sukses, tercapai semua yang dicita-cita, WUADB...". Hampir senada dengan ucapan selamat menempuh hidup baru bagi pasangan yang baru saja menikah.

Untuk WUADB ini saya mikir panjang. Saya terima sms itu lewat tengah malam. Shubuh baru saya buka. Ini mungkin karena ilmu bahasa saya selalu ketinggalan. Iyah. Saya manusia modern tapi untuk mencerna budaya-budaya bahasa saya selalu kelabakan. WUADB. Saya sekilas bacanya WADAB! Kalau Wahab pernah dengar. Tapi ini WUADB. What's up bukan. Ini apa? Namun ternyata yang dibutuhkan hanya penggunaan logika yang tepat guna. Saya karang-karang sendiri. Karena kata orang-orang dulu, bangsa kita punya formulasi khusus untuk memahami suatu peristiwa apa saja. Namanya uthak athik gathuk. Kalau orang modern mungkin memahaminya sebagai suatu cara konyol dan asal-asalan saja. Tapi bagi saya uthak athik gathuk itu sesuatu yang mengasyikkan. Seperti memasang puzzle yang berceceran. Kalau gathuk (terhubung) ya syukur. Kalau nggak terhubung sudah terbiasa. Ya. Dengan keminiman daya intelektualitas yang ada di dalam tubuh saya ini saya nyatakan bahwa WUADB itu kependekan dari Wish U All D'Best. Wohoooo.... Ketemu kan. Siapa dulu.... Didik W.Kurniawan e..... Kalau artinya saya tidak tahu. Pasti baik. Pasti doa. Karena kalau memakai logika 'cara mengucapkan ulang tahun' dilihat posisi WUADB di akhir semua ucapan, pastilah ini doa. Selamat dulu, berdoa kemudian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...