Langsung ke konten utama

Puasa Tidak Kuat

Ini sudah masuk pergantian tahun Islam dan Jawa. Biasanya paling enak kalau mengingat-ingat masa lalu. Kalau ada yang baru, biasanya yang lama malah bikin rindu. Sedikit membongkar-bongkar file-file usang. Tapi saya tidak akan membahas tentang manuskrip kuno saya yang dari abad ke-4 sampai sekarang belum berhasil saya selesaikan. Huruf depannya S belakangnya I. Betul! SAPI! Skripsi skripsi! Itu barang teraneh yang pernah saya temui dalam hidup. Semoga Desember ini kelar. Februari 2013 bisa ikut adek-adek lima atau enam tingkat di bawah saya wisuda. Nanti gelarnya Sarjana Masbuk saja, tidak usah Sarjana Seni (S.Sn).

"Saya nikahkan Didik Wahyu Kurniawan Sarjana Masb..... Lho ini nggak salah?"
"Apa pak?"
"Ini?! Mana ada gelar Sarjana Masbuk? Jangan guyon ah dek!"
"Ada pak penghulu. Serius. Nih!" menyodorkan buku Sarjana Masbuk. Sombong dikit lah. Sekali-kali.

Iya, bulan puasa lalu hampir tidak ada catatan. Sayang sekali memang. Tapi akan saya coba ingat-ingat lagi. Mungkin saya akan nangis tersedu atau tertawa gila.

Bulan puasa lalu, diawali dengan adegan penyiksaan terberat. Ada grup musik aneh. Ini grup yang menurut saya dihuni oleh makhluk yang bukan manusia juga bukan alien. Lebih tepatnya kalau ada manusia menikah dengan alien, nah keturunan barunya ya makhluk-makhluk seperti mereka ini. Grup itu namanya Kidungan. Tidak jelas format musiknya. Pokoknya alat musik yang mereka gunakan, ketipung, cuk, gitar, bass. Dan saya nggak mau menjelaskan deksripsi masing-masing alat. Yang jelas cuk itu bukan kependekan dari janCuk! Anggap saja bentuknya dangdut daripada bingung-bingung mikirnya. Dan saya adalah salah seorang yang ada di dalam grup itu. Mangap-mangap sambil maen gitar.

Penyiksaan itu dimulai di awal bulan puasa. Kalau nggak hari ketiga atau keempat. Kidungan mendapatkan tawaran maen di acara 'amal' di sebuah kampus negeri. Biasa kan kalau puasa banyak acara-acara berlabel 'amal'? Acaranya bertepatan dengan hari anak nasional yang diselingi dengan berbagai macam lomba untuk anak-anak. Masa' untuk bapak-bapak. Karena para personilnya yang manusia bukan alien juga bukan, jadi mereka menerima tawaran itu. Dan kerennya, acara dimulai sekitar jam dua siang. Ah, itu bukan masalah saya pikir. Tapi ternyata posisi panggungnya outdoor tanpa atap. HEE?!! Dengan sangat heroik dan dramatis saya ucapkan kepada para personil yang lain yang manusia bukan alien juga bukan itu,

"Pokoknya, tidak saya niati puasa hari ini. Nggak kuat langsung minum!" mereka semua tertawa. Biarlah dianggap lelaki lemah. Saya terima dengan pasrah.

Baru menyanyi dua laguan kerongkongan ini serasa dimasuki pasir panas. Mual melanda. Cekot-cekot kepala. Gersang sekai tubuh ini. Sudah kurus gersang pula. Pas seperti tiduran di padang pasar di bawah terik sinar matahari. Tapi karena saya pura-pura heroik dan malu di depan anak-anak kecil kalau saya pingsan, saya paksa tubuh ini dengan semboyan yang sama, "Nggak kuat, minum!"

Eh, untungnya, acara inti segera dimulai, yaitu beberapa lomba untuk anak-anak. Ada lomba dongeng dengan alat peraga, menghias tempat sampah, dan lomba lainnya. Saya ternyata mendapat jatah menjadi juri untuk lomba dongeng dengan alat peraga. Yes! Penderitaan nyanyi saya agak berkurang. langsung saja saya segera beralih untuk menilai beberapa peserta.

Peserta 1: "Alkisah hiduplah seekor tupai di hutan. Tupai ini senang sekali..."
Komentar (batin) saya: "Tokoh utamanya tupai, tapi alat peraganya boneka monyet, yang notabene adalah figuran. Oh tupai yang zuhud, tidak mau terkenal dan dikenal..."
Peserta 2: "Ini cerita tentang kura-kura..." (lalu tidak jelas suaranya, sampai tiba-tiba) "..dan kura-kura itu mati."
Komentar (batin) saya: "Mati? Oh betapa singkat hidup ini. Hidup memang begitu. Terkadang dipenuhi dengan cerita-cerita tak jelas, dan tahu-tahu kematian menghampiri kita."
Peserta 3: "Mmmmm..." (agak lama)
Saya: "Ayo cerita. Ditunggu lho.."
Peserta 3: "Mmmmm...." (sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya ala anak kecil)
Saya: "Ayo... mana ceritanya...."
Peserta 3: "Mmmmm, mmmmm, mmmmm, saya lupa mas. Beneran lupa..."
Saya (batin): "Baiklah. Manusia adalah tempat salah dan lupa."

Akhirnya saya pilih seorang pemenang yang bercerita dengan sederhana dengan alat peraga mirip seperti seorang dalang yang memainkan wayangnya. Berkisah tentang kucing kerajaan milik seorang putri cantik nan anggun. Kenapa menang? Ya karena saya pilih. Orang jurinya cuma saya. Keputusan juri dari abad ke-2 sampai abad ke-21 kan sama, tidak dapat diganggu gugat!

Kembalilah saya bergabung dengan teman-teman Kidungan. Mangap-mangap lagi. Disiksa lagi hingga menjelang adzan magrib tiba. Kemudian terdengar asma Allah dikumandangkan. Yes!!! Penderitaan berakhir. Pikir saya...

Kemudian tawaran maen Kidungan di hari puasa bertubi-tubi datang. Tapi anehnya saya seolah sedang dilatih untuk menjadi pribadi yang kuat. Kuat dalam arti sebenarnya. Ada acara seminar, ada acara bakti sosial yang harus mangap-mangap dari jam sembilan pagi hingga setengah dua belas siang, dan acara kumpul dengan anak-anak yatim. Malah untuk pertama kalinya kami, yang manusia bukan alien juga bukan ini, berhasil dangdutan di serambi masjid PLN kota Solo! Yes! Masjid lho, dangdutan lho.... Dan saya harus berulang kali minta maaf kepada hadirin yang hadir. Iya lah, masa' hadirin yang tidak hadir. Mana ada?

Sejak saat itu saya agak sedikit yakin bahwa, puasa itu...mmm... kalau diniati dengan hati iiii....mmmm iiii...mmmm iiiiii... Pokoknya gini deh, intinya, kalau saya niati tidak puasa, saya malah kuat tidak makan minum dari adzan Shubuh sampai adzan Magribh. Tapi kalau saya niati puasa, malah belum tentu kuat. Gitu. Tapi kalau untuk merindumu, aku selalu tidak kuat....
Sebagaimana tidak kuatnya aku meneruskan tulisan ini gara-gara ingat kamu...


KIDUNGAN: ki-ka, Manda, Arga, Didik, Simbah (semuanya manusia bukan alien juga bukan)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...