Sms hari Rabu itu cukup menegangkan bagi saya. Antara senang dan bingung. Antara gembira tapi tak tahu harus berteriak atau pingsan histeris. Isinya sederhana. Anak-anak LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) PSYCHE dari fakultas psikologi UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta) meminta tolong kepada saya untuk menjadi pemateri dalam rangka pelatihan anggota baru mereka. Dalam pesan singkat itu mereka meminta kesediaan saya untuk berbagi cerita soal editing buku. Saya garuk-garuk kepala, cabut rambut sendiri, sambil kedip-kedip genit di depan cermin,
"Ini apalagi?! Editing Buku?! Urusannya sama saya apa?! Itu terus saya nyari materinya dimana?! Lagian saya kan bukan cowok matre yang selalu berurusan dengan materi? Kalau menghadapi adek-adek mahasiswa yang masih berbau SMA, baru semester awal, kan mau tidak mau saya harus berbicara agak sedikit intelektual atau ilmiah akademis tentang perbukuan. Tapi apa?!! Apa yang akan saya bagi?! Sedangkan saya tidak punya apa-apa untuk dibagi?!"
Akhirnya saya..... Tidak tahu akhirnya, lha wong belum berakhir? Bodohnya saya, saya langsung mengiyakan saja tawaran itu tanpa mikir. Karena bagi saya popularitas, harta, dan perempuan masih mendominasi sebagai rujukan dalam hidup ini. Iya, jomblo laknat ya seperti itu cara mikirnya. Saya pikir kalau orang sudah menganggap saya penulis terkenal, maka dengan mudah akan saya bohongi mereka dengan data-data yang tidak valid. Dengan begitu saya akan mendapatkan kepercayaan dari mereka, lalu dengan mudahnya mereka akan memberikan harta mereka, karena sudah saya gendam secara tidak langsung. Lalu setelah saya kaya saya tinggal milih saja perempuan-perempuan itu untuk saya pinang. HAHAHAHA....
Tetapi kemudian, bayangan di dalam cermin itu memelototi saya. Tajam sekali sampai saya sendiri mundur beberapa meter untuk memastikan apakah bayangan itu benar-benar melotot. Saya dekati perlahan-lahan. Hampir saja saya memegang hidungnya, tapi bayangan itu berteriak dengan keras,
"KERAS! KERAS! KERAS!"
Saya melongo, ternyata bayangan itu pekok juga.
"APA?!"
"Nggak ada apa-apa kok. Cuma mau megang hidung aja. Boleh?"
"BOCAH PEKOK! DIMANA KORELASI ANTARA POPULARITAS, HARTA, DAN PEREMPUAN?"
"Bisa nggak, kalau nggak pakai capslock ngomongnya? Korelasi antara popularitas, harta, dan perempuan terletak pada....... Mmmm, pada.... nggak tahu. Nyerah aja deh."
"Nggak ada korelasi bocah bagus..." suara bayangan dalam cermin itu melemah, "Nggak ada, sama sekali nggak ada korelasinya..." dia seperti menghela nafas sebentar, mungkin kecapekan terlalu sering pakai capslock kalau ngomong, "ada yang popularitasnya tinggi, tapi dia miskin, dan tidak ada perempuan yang mau dengannya, karena sebagian perempuan itu beranggapan akan sangat beresiko sekali jika punya pasangan yang memiliki popularitas tinggi. Ada yang berharta tapi popularitasnya biasa saja, bahkan dia seorang juragan kaya raya, tapi hidup membaur seperti yang lain. Yang tidak kaya juga masih punya peluang untuk mendapatkan perempuan. Ngerti?"
Saya manggut-manggut imut. Wajah yang tadinya cemberut penuh keriput akhirnya bisa sedikit imut. Setelah itu kemanapun pikiran ini pergi, saya turuti meski itu terkadang berisi kenangan-kenangan manis yang menyakiti. Iya saya biarkan berkelana pikiran ini kemana-mana. Saya ke Jogja, saya ke Klaten, saya warung-warung hik, dengan harapan bertemu dengan apa yang saya sebut dengan 'materi editing' tadi. Karena kalau sampai tidak ada bahan, sayang sekali rasanya. Mereka sudah meminta tolong kepada saya, saya harus menolong mereka. Semampu saya. Kemudian di jalan saya dipertemukan dengan materi itu. Saya tarik garis sederhana, bahwa materi editing yang akan saya berikan adalah, "Tentang Aku, Kamu, dan Kita..."
Iya, hidupmu bisa menjadi materi itu sendiri. Saya menggunakan 'Aku' sebagai bahannya. Peristiwa-peristiwa yang lalu, yang telah lewat, enak atau tidak enak hidupmu, itu materi yang harus kamu olah menjadi sesuatu yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Karena konon rumusnya adalah, manusia yang baik bisa dilihat dari seberapa banyak dia berguna bagi orang lain.
Kemudian 'Kamu' merujuk kepada peserta pelatihan. Ajak mereka berdialog. Tanya jawab. Tentu dengan kondisi yang menyenangkan. Tidak terlalu serius. Dan 'Kita' bisa bersama-sama saling bertukar pikiran, bertukar ilmu, sebagai pijakan untuk melangkah. Untuk bersama mengurus majalah LPM itu di masa depan. Tapi saya tidak ikut karena saya bukan penghuni kampus UMS. Rumah akademik saya masih ISI Solo. Iya materi sederhana itu yang akan saya gunakan. Aku, kamu, kita.
Senin sore minggu berikutnya adalah jadwalnya. Saya selalu bilang ke panitia untuk mengingatkan saya karena jam 3 sore saya sering ketiduran di dalam gua. Tapi karena harus berbagi saya tidak tidur. Bahkan saya menulis di blog beberapa jam sebelum saya berangkat. Untuk merefresh otak biar lebih cemerlang. Aslinya sih biar nggak ketiduran aja.
Kembali melenggang dengan grand pa ceper 97 kesayangan ke kampus UMS. Itu motor paling aneh. Ngiritnya minta ampun. Tapi kok saya tidak kaya juga. Oh, oke, tidak ada korelasinya antara ngirit dengan kaya. Baiklah. Ibu sudah menawari untuk mengganti motor itu dengan yang matic. Saya nggak mau. Kalau harus diganti lebih baik menggantinya dengan mobil sekalian. Karena dengan punya mobil saya akan mudah memilih perempuan mana yang akan saya pinang. Oh, oke, tidak ada korelasi antara punya mobil dan menikah. Baiklah.
Panitia yang sebagian besar mahasiswa angkatan 2009 itu sudah menunggu di luar ruangan. Common room namanya. Ruang rapat. Ber AC, agak kedap suara. Jadi semacam pelatihan privat untuk sekitar 11 orang anggota baru. Alhamdulillah, saya dapat berkenalan dengan pemateri sebelumnya. Perempuan yang dulu pernah belajar di salah satu surat kabar Solo dan menjadi peserta Solo Batik Carnival. Entah dia dari fakultas mana, yang jelas cantik. Oh, oke, tidak ada korelasi antara berkenalan dan pin BB. Tapi saya berhasil dapat pin BB nya. Kredibilitas jomblo laknat masih melekat. Yes! Tapi nggak ngaruh juga ding dalam hidup saya meski saya dapat nomer urut antrean e-ktp nya juga.
Kemudian saya masuk ke ruangan tersebut. Kata yang saya ucapkan adalah, Astagfirullah. Agak kaget karena tempatnya nyaman. Benar-benar privat dan sangat kondusif untuk berdialog. Yang saya tidak ngerti di acara kampus seperti ini adalah, bahwa pemateri atau pembicara harus mengisi curiculum vitae. Sejenis biodata seperti jaman SD dulu.
Nama: Didik W. Kurniawan
TTL: Pati 26 Nov 1985 (sebenarnya kolom ini tidak mau saya isi, ketauan tuanya)
Hobi: Bermain
Cita-cita: Jadi Dokter
Riwayat Pendidikan; SD 98, SMP 2001, SMA 2004, ISI Solo 2004-sekarang.
Pengalaman Organisasi: Nggak pernah ikut.
Prestasi: Buku Sarjana Masbuk (terpaksa pamer ini)
Motto Hidup: Merdeka!
Cermati. Apa fungsinya coba? Dan itu benar-benar dibacakan di depan peserta. Respon mereka, minimal senyum sambil menutup mulut mereka. Takut ketahuan manisnya mungkin. Kecuali yang peserta cowok.
Kemudian saya mulai cerita ngalor ngidul seputar pengalaman saya bersama majalah Cangkir sebagai editor biadab. Bahwa jadi editor itu ada enak dan ada tidak enaknya. Kalau dari segi teknis, banyak tidak enaknya. Karena ia bertanggung jawab atas pesan yang akan disampaikan dari pihak majalah atau penulis ke pembaca. Dia harus bersikap netral. Jangan terlalu terbawa emosi. Kalau dari segi keilmuwan banyak enaknya. Karena ia yang pertama kali menyerap ilmu dan itu didapatkan dengan gratis. Ia yang harus pertama kali paham maksut isi tulisan. Namun ia juga harus teliti, dan rela berlama-lama di depan laptop atau monitor sampai megap-megap karena kurang tidur. Sebagai editor setidaknya dia ngerti beberapa bahasa lokal. Karena bahasa Indonesia yang sekarang itu asimilasinya sudah nggak karu-karuan. Terus yang harus dijaga adalah ciri khas dari penulisnya jangan sampai hilang. Misalnya seperti Ustaz yang sering mengucapkan Jamaaa'aaahhhh oh jama'ahhhh. Tidak bisa kita memotong tulisan itu demi kepentingan lay out majalah. Tulisan itu harus tetap ada supaya karakter penulisnya tidak kabur. Atau kalau memang penulisnya agak puitis, ya biarkan seperti itu. Sebagai editor harus jeli, kata 'yang' pun tidak bisa dianggap remeh. Misal ada kalimat '..jatuh yang mencintai..". Kalau kata 'yang' nya dihilangkan menjadi 'jatuh mencintai' ya dramatisasinya berkurang. Terkadang harus tega untuk benar-benar membuang pernyataan-pernyataan yang tidak terpakai. Yang penting niatnya jelas, yaitu ingin menyampaikan pesan. Pendekatan yang dipakai bisa Sidiq, tabligh, amanah, fatonah. Ingin menyampaikan pesan dengan amanah dan terpercaya.
Entah, mungkin ini yang disebut berkah atau anugerah. Saya banyak sekali menemukan kalimat demi kalimat yang mengalir secara otomatis dari mulut saya yang membuat mereka hampir tidak berhenti tertawa yang tidak saya ketahui dan tidak saya rencanakan sebelumnya.
"Saat kita menyunting atau mengedit.... Menyunting?" saya berhenti sejenak, "eh menyunting? Menyunting kan sama dengan meminang? Berarti Ku Edit Kau Dengan Bismillah?" saya berbicara sendiri seperti orang gila di hadapan perempuan-perempuan cantik itu. Mereka terpingkal-pingkal melihat saya berpikir.
Eh itu bukan menyunting yah? Mempersunting yah? Nah itu yang bener. Tapi kalau mau menjadi editor, saat mau mengedit tulisan, boleh kok ngomong sama tulisannya,
"Wahai tulisan, Ku Edit Kau dengan Bismillah. Bismillahirrohmaannirohiim..." kemudian, ngedit deh.
*Peluk anak-anak LPM PSYCHE UMS ahhhhh... baik yang baru maupun yang lama, yang perempuan aja tapi!
Komentar
Posting Komentar