Langsung ke konten utama

Jus Kenangan

Masih sering ku tengok dari lantai dua. Dari dalam kamar yang kecil tapi luas ini. Dari kamar yang sederhana tapi mewah ini. Dari kamar yang sunyi namun ramai ini. Sebuah tempat, yang menyimpan dan merekam beberapa peristiwa. Tentang aku, kamu, bahkan tentang buku. Buku yang hampir kita tulis bersama, namun harus rela karena Yang Kuasa belum bersedia menerbitkannya. Ku beri nama warung itu, Jus Kenangan.

Iya, ini tentang jus. Jus. Iya jus! Iya justru ini saya lagi mau bercerita. Tempat sederhana itu berada di kawasan belakang kampus UNS Surakarta. Warung yang selalu ramai, banyak dikunjungi para pelanggannya yang sebagian besar dari kalangan mahasiswa. Warung yang terkadang pula dijadikan tempat rapat aktivis kampus sambil minum jus. Ini dia ketrampilan orang Indonesia. Kalau anda melihat ada tulisan 'JUAL ANEKA JUS BUAH', bukan berarti warung itu hanya menyediakan menu jus buah saja. Bisa ada es buah, es dawet, bahkan es teh. Orang Indonesia selalu menyelipkan menu tambahan disamping menu utamanya, bahkan menu yang tidak ada dalam daftar menu sekalipun. Unik. Untuk itu jangan mudah percaya dengan apa yang terpampang. Mungkin anda bisa saja hanya sekedar beli es batu di tempat itu.

Saya tidak tahu persis siapa nama pemilik warung itu meski jaraknya dekat sekali dengan gua tempat tinggal saya ini. Tinggal menyeberang jalan selebar 5-6 meter saja. Saya sendiri terkadang bersama teman-teman menghabiskan waktu disana. Sambil ngomong ngalor ngidul membicarakan apapun. Dari masalah perempuan, lelaki sampai asal usul orang Jawa, gen spiritual, gen intelektual, gen emosional, dan gen paling populer, Gen Fredly. Mungkin inilah jenis pembicaraan yang sebenarnya haram untuk dibicarakan oleh organisme laknat seperti saya ini. Karena saya tidak ada referensi, hanya asal sekedar mangap tanpa tanggung jawab. Berani beraninya saya mengkudeta jenis pembicaraan selevel profesor ini. Saya S1 saja kan belum.

Tapi sepertinya 'tempat' atau 'ruang' memiliki pengaruh tersendiri. Kalau saya membicarakan tentang gen di forum kampus ilmiah, yah saya sama dengan bunuh diri intelektual namanya. Kalau mau bicara surga neraka ya cocoknya memang di masjid. Jangan bicara surga neraka di lokalisasi pelacuran. Karena para penghuninya mungkin lebih paham daripada kita. Untuk itu saya memilih lokasi yang tepat. Dimana tidak ada orang yang menggagas apa yang saya bicarakan. Kalaupun saya mengajak teman untuk berdiskusi, paling-paling maksimal hanya dua orang saya. Itupun sudah termasuk saya. Jadi misalnya kita berdebat, sampai adu jotos juga misalnya, kita tidak akan menimbulkan kerusuhan massal. Yang melihat pasti mengira,

"Biasa, mahasiswa kalau tidak lulus-lulus ya seperti itu, maunya tetep kelihatan intelektual, ngomongin apa segala macem, sok pinter, tapi ujung-ujungnya menemui kebuntuan demi kebuntuan, anehnya, jalan fisik mereka anggap satu-satunya penyelesaian..."

Warung jus ini hampir selalu ramai kalau mahasiswa tidak liburan. Pemilik warung ini sederajat dengan dosen. Selalu melayani mahasiswa dan mahasiswi. Sama-sama dapat duit juga. Hanya beda cara mendapatkannya. Yang satu menyediakan ilmu, yang satu menyediakan asupan energi. Konon, buah adalah salah satu suplai energi terbesar bagi manusia. Kalau tidak percaya tanya pasangan yang sudah menikah. Buah kan yah? Buah to? Iya buah. Buah yang itu! Buah apalagi emang?! Buah ya buah! Makanya jus buah juga banyak digemari oleh makhluk-makhluk pilihan berjenis mahasiswa ini. Banyak kandungan gizi dan vitamin dan bermanfaat bagi tubuh. Hampir semua bagian dari buah-buahan itu bermanfaat bagi manusia. Ya betul dong. Kan semua, apapun yang ada di alam ini disediakan untuk manusia. Hanya saja, yang diperlukan kan tata kelolanya saja. Bagaimana agar tanah tidak rusak. Bagaimana supaya tumbuh-tumbuhan banyak menghasilkan. Bagaimana cara menjaga hewan-hewan ternak agar sehat, dan menjaga dari kepunahan.

Di warung itu juga saya meninggalkan jejak-jejak peristiwa. Ada senyumnya, ada tawanya, ada lirikan matanya, ada cemberut bibirnya, ada tatapan tajamnya, ada kerutan dahinya, ada diam cantiknya, ada apa saja yang sebenarnya membuat saya cukup bahagia menjadi manusia. Namun, seperti jus yang selalu meninggalkan ampas, saya juga harus rela menjadi ampas. Yang harus siap dibuang oleh keadaan. Yang mau tidak mau berakhir di tempat sampah bersama para kulit dan biji.



Di suatu malam setelah pemilik warung membereskan dagangannya...

"Hey! Kalau tidak ada teknologi jus, saya tidak akan berakhir seperti ini." kata ampas.
"Heh! Kamu pikir cuma kamu saja yang menderita? Kami juga." kata kulit.
"Iya bener!" biji menimpali.
"Tapi kalian kan memang pantas untuk berada disini! Aku kan tidak! Coba kalau mereka memakan aku langsung tanpa menggunakan blender terlebih dahulu. Iya kan?!" ampas masih protes.
"Hmmm. Tapi lihat dirimu itu. Kamu itu bagian dari daging yang tidak terpakai. Kamu bukan lagi bagian dari daging itu sekarang. Kamu ampas! Ampas ya ampas! Selamanya juga ampas! Kalau aku kan suatu saat masih bisa berubah menjadi tumbuhan. Aku masih bisa bermanfaat untuk manusia. Itu berarti loyalitas dan kredibilitasku sebagai tumbuhan tidak perlu diragukan lagi." biji menjelaskan sambil sesekali memaki.
"Kalau aku sih, aku memang menyadari bahwa posisiku ditakdirkan untuk menjadi seperti ini. Aku menikmatinya kalau harus berakhir disini. Memang ini jalanku." kulit bersikap santai.
"Kalau itu urusan kalian! Pokoknya aku mau bermanfaat untuk manusia! AKU MAU MENJADI PRIBADI YANG BERMANFAAT!!! TUHAN!!! AKU MAU MENJADI PRIBADI YANG BERMANFAAT UNTUK YANG LAIN!!! TUHAN!!!"

Seorang lelaki paruh baya terlihat santai mengotori tangannya dengan sampah-sampah sisa dari aktivitas warung jus itu. Kulit, biji, ampas, buah-buahan busuk, semua dimasukkan ke dalam kantong plastik dengan wajah ceria.

"Lumayan..." kata lelaki itu sambil menyapaku yang duduk di emperan ruko.
"Buat apa pak?" aku bertanya.
"Yah buat makanan sapi lah. Di kandang sapi-sapi itu sudah menunggu. Kemarin habis merugi aku mas. Sedikit sih, cuma 600 juta. Tapi tak buat santai saja. Saya mau kerja keras, tangan saya boleh kotor, tapi saya nggak mau mikir berat-berat. Kalau rugi dalam dagang itu kan biasa. Apapun tidak ada yang sia-sia kalau kita mau belajar menggunakan akal. Tentu saja dengan santai. Hahaha..."

Saya melongo. Bayangan tentang dirimu menguap entah kemana. Menyublim mungkin....




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...