Langsung ke konten utama

Berdiri, Duduk, Berbaring

Sekarang semakin jelaslah bahwa hidup saya itu cuma terdiri dari tiga aktifitas. Pertama berdiri, yang kedua duduk, yang ketiga berbaring. Sudah cuma itu saja. Sempat saya pikir saya sudah begitu bermanfaat dan berarti bagi banyak orang. Eh tak tahunya apa yang selama ini saya lakukan cuma tiga hal itu tadi.

Sangat tidak mungkin, pas pertama kali lahir saya langsung bisa duduk santai sambil mengangkat kaki. Atau tiba-tiba dengan penuh semangat begitu keluar dari gua garba langsung berdiri dengan mengepalkan tangan seraya berteriak, "OHHH IBUUU INIII ANAKMUUUU!!!!". Karena setelah hampir dua puluh tujuh tahun baru sekarang saya paham ternyata aktifitas hidup saya cuma muter-muter di wilayah itu. Kalau nggak berdiri, duduk, ya berbaring.

Oalah. Ternyata selama ini saya tidak pernah melakukan apa-apa. Mbah saya pernah berkata di suatu Magrib.
"Kamu itu harus sering berdoa. Minta yang spesial dalam hidupmu."
"Mbah, saya udah terlalu sering berdoa. Dan nggak ada yang dikabulkan sama sekali."
"Hush! Ora elok ngomong ngono kui! Bocah lagi ndek wingi sore ora usah ngomong ngono kui!"
"Mbuh Mbah mbuh! Spesial itu yang gimana mbah? Minta mobil canggih? Pesawat NASA? Bisa masuk gedung putih dan salaman dengan Obama?"
"Nggak! Yang spesial bagimu adalah kemampuan untuk menjelajahi segala informasi yang kamu serap setiap harinya baik yang sengaja maupun yang tidak kamu sengaja terima."
"Ki ngomong opo to mbah?"
"Le le. Mbah itu tahu betul apa yang sedang kamu hadapi sekarang. Jasadmu semakin membesar, popularitasmu semakin naik. Sebentar lagi hampir tujuh puluh lima persen penduduk Indonesia semua akan tahu siapa dirimu. Serius ini le. Tidak lama lagi. Namun Mbah lebih khawatir kalau kamu lebih tidak siap dengan itu semua le. Ndrawasi sekali itu le. Mengerikan. Mbah tidak mau melihatmu hancur di dalam kebesaranmu. Yang perlu kamu siapkan adalah informasi mengenai detail dirimu sendiri. Kenali setiap seluk beluk tubuhmu. Pacari kekurangan kelemahanmu. Ajak mereka bicara baik-baik. Tapi jangan sampai kamu lamar kesombonganmu. Ingat tubuhmu tidak bergerak sendiri. Ingat itu. Ada sistem, ada mekanisme, dan kamu harus paham itu. Pelajari sampai kamu benar-benar memahami. Kamu sekarang jarang sakit kan?"
"Iya sih mbah. Tapi masih sering lemes, ngantukan gitu."
"Nek kui nyat dasare koe ki males. Kampret i! Ingat le, apapun yang kamu lakukan harus sesuai irama alam. Sudah paham to, kalau ternyata cuaca alam ini tergantung suasana hatimu, atau hatimu dan cuaca ini saling berpengaruh?"
"Iya mbah, mbah sudah sering bilang itu. Kan dulu pelajaran pertama adalah mencari korelasi antara pawang hujan dan pawang hati mbah. Jadi misal suhu di luar sana mencapai 40 derajat celcius, asal hati kita ayem, tenang, syaraf rileks ya tetap terasa sejuk. Atau semisal kita hujan-hujanan, tapi karena hujan-hujannya mengantar kekasih kita pulang ke rumah ya nggak bakalan sakit. Atau lagi kalau mendung kenapa tiba-tiba hati kita jadi gelisah gelisah nggak jelas. Gitu kan mbah?"
"Sip! Kamu masih ingat. Sudah diamalkan?"
"Emmmm, baru yang hujan-hujanan sambil nganter kekasih pulang mbah. Hehehe... Kalau yang panas-panasan belum. Mending tidur di kamar mbah."
"Terus kalau ditarik garis lebih jauh lagi, apakah sebenarnya kamu bergerak atas kemauan dan kehendakmu sendiri, atau ada yang menggerakkanmu?"
"Mmmmm, kalau itung-itungan untung atau nggak, lebih untung yang digerakkan mbah. Mekanisme tubuh berjalan sesuai syariatnya, jadi tidak gampang sakit atau error mbah."
"Kok kamu tahu? Tumben? Habis kembang melati berapa kilo semalem?"
"Woo asu i! Ora tak pangan yo! Sorry mbah metodologi kita sudah beda. Kalau mbah dulu masih menggunakan ritual ritual seperti itu aku nggak. Maaf yeeee!!!"
"Hahaha, makin cerdas kamu le. Berarti kamu nggak pergi ke kuburan-kuburan lagi gitu?"
"Nggak mbah. Lagi males! Kuburan sekarang beda dengan kuburan yang dulu. Justru aku sering bertanya kenapa di kuburan-kuburan orang yang dianggap spesial, sakti, keturunan raja dan sebagainya, di sekitar situ selalu ada semacam, sendang, pepohonan rindang, mirip tempat wisata."
"Terus kira kira kenapa itu le?"
"Ya kalau aku sih nganggepnya sederhana mbah. Kuburan itu, kalau bisa letaknya di sekitar rumah kita. Tidak terpisah atau dilokalisasikan sendiri. Itu kan semacam tempat pembaringan atau tempat tidur terakhir keluarga kita. Jadi kenapa harus dipisahkan jauh dari kita? Terus kenapa dibuat ada sendang dan taman seperti itu, supaya anak turunnya nanti memiliki sikap mental yang jelas. Tidak gampang takut dan cengeng kalau melihat kuburan. Apalagi itu kuburan Mbahnya sendiri. Syukur syukur mereka paham, bahwa hororisme itu hanya produk budaya manusia. Pocong itu tidak akan ada di Amerika sana. Suster ngesot tidak akan kita jumpai di Saudi Arabia. Vampire hanya ada di China, kecuali kalau vampire nya sengaja mengadakan tour keliling dunia. Paling benci lagi kalau ada kuburan yang diangker-angkerkan mbah. Apalagi kalau di kuburan itu bersemayam jasad keluarga kita. Berarti secara tidak langsung kan itu menghina keluarga kita dengan menganggap keluarga kita 'Setan' mbah?"
"Kamu sepertinya sudah siap turun gunung lagi le. Mbah tak bisa menemanimu terus. Mbah juga harus segera balik ke tempat asal muasal mbah. Kalau memang sudah saatnya kamu harus berdiri lagi, berdirilah yang tegap le! Yang kokoh! Tapi jangan lupa ambil jalan tengah, dengan duduk. Mendudukkan segala sesuatu pada tempatnya. Jangan risau dengan 'berbaring', karena sejatinya tempat berbaringmu sudah disediakan, bahkan setiap saat menunggumu."
"Tapi aku belum nikah itu mbah? Punya resep?"
"Asu i! Bocah pekok! Nanti kalau kamu nikah aktifitasmu juga cuma 'berdiri' 'duduk' 'berbaring' sama istrimu. Kalau nggak gitu, gimana anakmu lahir? Hahahaha...."

"Kalau tak bisa kau lakukan dengan berdiri, lakukanlah dengan duduk. Kalau masih tak sanggup, berbaringlah....."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Grup Neraka, Pemilu Neraka

Oke. Untuk teman-teman yang baru hadir bisa mengambil tempat duduk yang disediakan. Di depan kalian sudah ada satu paket makanan kecil beserta air minum dalam kemasan. Mari kita berdialog dalam suasana yang santai, rileks, dan tidak ada curiga antara satu dengan yang lain meski baju yang teman-teman kenakan semuanya tidak ada satupun yang sama. Baju couple itu baju yang jelas-jelas beda antara satu dengan yang lainnya. Namun tatkala masing-masing kuat pendiriannya bahwa mereka berbeda satu sama lain justru itulah unsur utama penyatuan itu. Berpasangan itu jelas-jelas menyatukan unsur yang berbeda. Bukan menyatukan unsur yang sama. Sandal kanan pasangannya sandal kiri. Keduanya disebut sepasang sandal. Satu laki-laki satu perempuan keduanya disebut mempelai berdua. Satu aku satu kamu disebut dengan cinta. Mas panitia tolong dicek satu persatu jangan sampai tidak ada yang tidak mendapatkan snack. Karena teman-teman saya yang hadir disini mereka datang secara ikhlas. Jadi sedikit sna...

Speed Siput

Sebenarnya tadi saya mau nulis dengan judul 'Energi Selingkuh'. Tapi takutnya nanti menciderai hati pembaca yang budiman maka saya tunda untuk mempublikasikan tulisan yang rawan kecaman dan cemoohan tersebut. Mari sebelum kita menginjak-injak acara berikutnya ada baiknya sejenak kita menundukkan kepala dan mengucapkan dalam hati, semoga kalian memiliki pasangan yang loyal alias setia. Sudah hampir setengah tahun ini, saya dan istri secara alamiah sepakat untuk menggunakan 1 hape berdua. Tidak ada konsepsi khusus semua terjadi begitu saja. Tidak ada masalah secara ekonomi. Karena sejak awal Januari sampai sekarang ini kami masih dalam tahap menimbang kira-kira hape apa yang cocok dengan karakter keluarga kami. Apakah yang sekedar kuat buat ML? Atau yang tidak perlu memakai ML? Atau yang bisa dengan nikmat ML di berbagai tempat? Tak terasa sampai hampir setengah tahun ini kami berbagi menggunakan hape. Hape yang masih 3G. Nomor WA milik saya. Nomor untuk telpon dan sms GSM mil...

paHAMILah

Sudah hampir tujuh bulan ini perut istri saya membesar. Kadang konstraksi kecil. Kayak ada yang memukul-mukul dari dalam. Lucu rasanya. Jadi perempuan itu gitu ya? Bisa hamil. Membawa makhluk hidup di dalam perutnya selama lebih kurang 9 bulanan. Saya tanya sama istri saya, "Kayak gitu rasanya gimana? Bawa perut gede." "Sekarang ya berat. Kenapa?" "Nggak papa." Perempuan kalau hamil itu kayak punya gelombang positif berlapis-lapis. Katanya karena dibantu dari dalam. Pusat energinya double. Ada yang bilang sih, kalau hamil itu gampang lemes. Bawaannya pengen tidur. Saya pikir itu wajar. Butuh sering isi ulang daya. Toh tidurnya itu bukan karena alesan males. Perempuan hamil itu mendapat bermacam fasilitas. Baik dari Tuhan maupun dari manusia. Coba aja kalau nggak percaya. Yang jomblo itu kalau udah nikah nanti kan tau. Nggak perlu baper. Nggak perlu banyak konsep. Nggak perlu nyari bahagia. Nggak mesti kok nikah itu mesti bahagia. Nggak mesti seneng-se...