Langsung ke konten utama

Aku Penulis? Kamu Nggak?

Lagi. Saya harus terjerumus dalam dunia yang saya sendiri sampai sekarang saya tidak begitu paham. Tulis menulis. Celakanya lagi saya dititipi Tuhan satu buku kecil. Judulnya Sarjana Masbuk. Itu buku yang ndilalah diterbitkan oleh penerbit nasional. Tapi saya sering menyebut itu buku kemaki. Tahu kemaki? Kemaki itu bahasa Jawa yang menunjuk pada sesuatu yang pongah, sombong, angkuh. Gimana tidak angkuh? Buku sekecil itu harganya hampir Rp. 40.000. Isinya juga gitu gitu aja.

Yah, dan karena hal itu jidat saya dilabeli oleh orang orang sekitar saya P E N I, eh P E N U L I S!

Yeah! Penulis. Lebih mending daripada label yang dulu, pengangguran. Mungkin untuk tataran akademisi, sebagai penulis dan punya buku dengan skala nasional itu satu prestasi tersendiri. Sedangkan saya masih tetap nyinyir dengan hal itu. Iya sih, agak lumayan memang. Agak ada gunanya sedikit untuk dunia akademisi. Seperti saat saya harus menghadap ketua jurusan (kajur) untuk minta pergantian pembimbing skripsi di kampus saya.
"Kira-kira apa sebabnya kamu ingin ganti?"
"Ya, yang jelas kan sudah setahun lebih skripsi saya belum selesai juga. Jadi otomatis kan skripsi saya dikembalikan kepada jurusan pak."
"Terus kenapa sampai tidak kamu kerjakan?"
"Malas mungkin pak. Tapi saya sudah nulis bu...."
"Ooooohhh. Yang itu. Sarjana Ma Mabuk itu?"
"Sarjana Masbuk pak."
"Iya Sarjana Masbuk. Saya kira kamu malah sudah lulus."
"Belum pak."
"Itu isinya apa?"
"Ya catatan hidup gitu pak."
Dan pembicaraan sampai hampir dua jam lebih itu sama sekali tidak menyinggung soal kuliah, skripsi, tapi tentang hidup, dan cerita dari pak Kajur bahwa beliau juga sempat menelurkan beberapa buku. Delapan tahun lebih kuliah. Baru kali ini ketemu dengan yang sejenis. Sama sama penulis.

Ternyata punya buku itu agak sedikit membantu hidup saya. Buku itu kadang saya jadikan kartu pengenal. Tinggal sebut judul saja untuk tahu siapa saya. Iya. Karena bagi saya menulis itu sama dengan menorehkan hidup dan kehidupan. Jadi bukunya juga buku hidup.

Tapi saya sering protes sama buku kecil itu. Kenapa justru dia yang sudah keliling Indonesia. Sedangkan saya masih saja disini. Di depan monitor di dalam kamar ukuran 3x3 meter. Memang kemaki tenan buku itu. Bahkan sempat sekali malah dibedah secara akademis oleh anak-anak lembaga pers mahasiswa universitas muhammadiyah surakarta (UMS). Dibedah dari sudut pandang psikologi. Bahwa meskipun hidup kita awut-awutan, tapi cobalah sedikit menemukan makna di balik itu semua. Dan katanya saya sudah melakukan itu di dalam buku saya. Padahal di acara itu saya lebih banyak ngebanyol. Melawak dengan duduk. Sit down comedy.

Nggak enaknya lagi kemaren saat saya nongkrong dan ngobrol dengan Arga (menejer siluman saya) di mal, saya ketemu dengan anak anak dari lembaga pers itu. Apa katanya coba?
"Eh eh, kayaknya pernah lihat?"
"Mas yang penulis itu yah?"
"Pantesan masbuk (telat/nggak lulus lulus) mas, kerjaannya di mal gini."
Mereka sambil tertawa tawa. Saya senyum saja sambil sedikit menutup muka.

Rasanya mau loncat dari lantai tujuh belas saya. Sayangnya mal itu hanya berlantai empat. Jadi batal loncatnya.

Tapi kemudian justru saya ingat dengan apa yang keluar dari cocot saya sendiri di acara itu.
"Manusia lahir ceprot itu sudah menulis." kata saya kepada peserta Sharing itu. Mereka menunggu kalimat saya selanjutnya.
"Menulis kebahagiaan untuk kedua orangtuanya."
 Jadi kalau kamu menyebut aku penulis, kamu nggak? Cek lagi deh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...