Langsung ke konten utama

Cantik itu Basic

Karena semakin tidak banyak yang dikerjakan, akhirnya saya membelokkan motor grand pa ke tempat potong rambut langganan saya. Namanya potong rambut Pelajar. Murah meriah. Hanya tujuh ribu perak sekali potong. Potong rambut Pelajar ini hanya menyediakan jasa potong. Tidak ada keramas, creambath, toning, seperti salon-salon kecantikan dan ketampanan. Murni pure hanya dipotong. Dari sekian bisnis yang saya tahu, potong rambut adalah bisnis jasa yang hampir-hampir tidak menyediakan diskon bagi para pelanggannya. Tidak ada tempat potong rambut yang mau mengembalikan potongan rambut pelanggannya jika pelanggan tersebut tidak puas terhadap hasil potongannya. Yang dipotong juga harus menyiapkan keikhlasan sedini mungkin jika nanti di akhir kenyataan yang terjadi tidak sesuai apa yang diharapkan.

Saya juga menyiapkan hati ini seikhlas-ikhlasnya manakala dengan tanpa rencana saya mampir ke potong rambut pelajar ini. Saya sepertinya kecanduan dengan salah seorang tukang potongnya. Hanya beliau satu-satunya orang yang paham bagaimana rambut saya harus diolah. Dan setelah hampir bertahun-tahun bercakap-cakap dengan beliau, anehnya sampai hari ini saya tidak tahu namanya. Ini yang sering saya alami. Akrab dulu, baru tahu namanya. Atau akrab saja tanpa tahu namanya itu sudah cukup daripada tahu namanya tapi tidak akrab. Seperti tahu nama Abu Rizal Bakrie, SBY, Prabowo, Jokowi, Sukarno, tapi tidak  pernah akrab sama mereka. Saya juga sering lupa nama-nama orang yang pernah kenal dengan saya sepintas, tapi kalau untuk urusan wajah, saya masih bisa ingat.

Beliau yang tahu persis bagaimana kondisi rambut saya daripada saya sendiri. Di awal-awal perkenalan dulu, beliau sering tertawa atau lebih tepatnya menertawakan bentuk rambut saya. Katanya rambut saya aneh. Ada yang keriting, ada yang lurus, ada yang nggak keriting juga nggak lurus. Heterogen yah? Macem-macem yah? Saya pasrah. Terserah apa katanya. Toh yang memiliki kewenangan untuk memperlakukan rambut saya juga bukan saya sendiri. Untuk urusan ini saya tidak bisa percaya pada diri saya sendiri. Saya harus mempercayakan kepada ahlinya. Saya butuh orang lain, yang tentu saja harus lebih paham daripada saya.

"Mau dimodel apa?"
"Terserah mas. Apa saja. Tapi saya ingin ganti model. Belah pinggir."
"Oke. Ada apa to kok ganti model? Mau ngelamar?"
"Ngelamar apa?"
"Lamaran lamaran. Nikah."
"Wah. Siapa yang mau mas. Hahaha..."
"Hahaha. Eh rambutmu kok keliatan lurus to?"
"Nggak ngerti. Itu rambut seperti hidup di dunianya sendiri. Kadang keliatan lurus, kadang keriting, kadang bergelombang, kadang seperti akar serabut nggak jelas bentuknya juga."
"Hahaha. Oke, belah samping yah."
"Belah pinggir aja mas."
"Iya samping."
"Pinggir mas."
"Sama aja."
"Beda mas. Yang ada aku di sampingmu, bukan aku di pinggirmu. Kerja sampingan, bukan kerja pinggiran. Orang pinggiran, bukan orang sampingan."
"Hahaha..."

Meskipun menang dalam diskusi samping-pinggir itu, toh saya juga harus rela kepala saya dipegang-pegang. Bahkan saya harus nurut sama beliau. Disuruh nunduk ya nunduk. Disuruh menengadah juga harus mau. Hasil akhir rambut saya bergantung padamu mas.

Setelah selesai dengan penuh guyon, saya mulai memandang cermin dalam-dalam. Saya lihat apa yang berubah dari wajah saya. Dari belah tengah, ke belah pinggir. Dari gondrong ke agak pendek. Lama sekali, sambil menanti uang kembalian dari tukang potongnya. Terus, saya tatap terus wajah saya, dan, oke, fix, sama sekali tidak ada yang berubah. Oke, fix, saya masih tetap tampan. Karena tampan itu basic dan letaknya di dalam diri. Bukan hasil akhir dari polesan luar. Tampan itu bahan mentah, bukan bahan jadi. Seperti foto. Kalau gambar aslinya bagus, mau diedit seperti apapun hasilnya akan bagus. Tapi kalau file aslinya kurang bagus, mau diedit seperti apapun juga susah. Yang ada lebih baik diacak-acak sekalian gambarnya.

Kalau dasarnya tampan, mau dibelah pinggir atau belah tengah rambutnya juga tetap tampan. Bukan lantas karena baju, sepatu, mobil baru terus semakin tampan. Ketampanan itu tidak bisa bertambah atau berkurang karena dia tidak bergantung pada umur. Yang tua masih bisa menyandang predikat tampan, yang baru lahir pun sangat besar peluangnya untuk dipanggil tampan. Iya, ketampanan itu ada di dalam diri, bukan di luar. Kalau tidak percaya, tanya pasangan suami istri yang sudah berusia senja yang hidup dalam rumah tangga yang harmonis. Tanya kepada istrinya, suaminya yang tua itu tampan atau tidak. Jawabannya jelas..."iya suami saya memang sudah keriput, tapi tetap tampan di hati saya.."

Dan iya, setelah itu saya bertemu dengan beberapa teman. Komentar mereka sama. Kata mereka saya tambah bersih penampilannya. Iya kalau tampilan luar bisa tambah bersih atau pura-pura dibersihkan. Gampang itu. Tapi untuk urusan akidah, hati, siapa yang tahu. Dan memang tidak perlu mencari tahunya.

Kalau tampan itu basic, cantik itu basic juga dong. Mau baru bangun tidur juga kalau basicnya cantik akan tetap cantik. Kayak kamu. Apalagi kamu bangun tidurnya di pinggirku, eh di sampingku.....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...