Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2012

Pakaianmu Pakaianku

Beberapa hari ini sempat bingung. Maunya beli banyak barang. Yang utama celana panjang, sepatu sneaker, sama kemeja. Karena kata orang-orang yang pernah suka sama saya, saya akan lebih keren kalau memakai tiga komposisi tadi. Celana panjang, sepatu, kemeja, yang rapi. Bukan yang lusuh bin sobek-sobek disana-sini. Entah kenapa bagian lutut dari celana panjang itu yang paling rawan sobek. Mungkin karena saking sering nya aku gunakan untuk bertekuk lutut di hadapmu ya? Yah dan seperti yang sudah-sudah setiap saya pergi ke toko, hasrat membeli ini semakin lama semakin memudar. Iya. Memudar. Apalagi kalau melihat antara isi dompet dan bandrol harga. Oke. Fix. Batal! Saya sering tidak sadar. Saat masuk toko itu, perasaan saya seolah-olah saya masih anak-anak usia SD. Karena kalau mendengar kata 'beli sepatu baru', 'beli baju baru', 'beli celana baru', yang tertangkap di memori otak yang aneh ini adalah bahwa saya masih SD. Jadi saya mikirnya juga baju-baju itu ha...

Cantik itu Basic

Karena semakin tidak banyak yang dikerjakan, akhirnya saya membelokkan motor grand pa ke tempat potong rambut langganan saya. Namanya potong rambut Pelajar. Murah meriah. Hanya tujuh ribu perak sekali potong. Potong rambut Pelajar ini hanya menyediakan jasa potong. Tidak ada keramas, creambath, toning, seperti salon-salon kecantikan dan ketampanan. Murni pure hanya dipotong. Dari sekian bisnis yang saya tahu, potong rambut adalah bisnis jasa yang hampir-hampir tidak menyediakan diskon bagi para pelanggannya. Tidak ada tempat potong rambut yang mau mengembalikan potongan rambut pelanggannya jika pelanggan tersebut tidak puas terhadap hasil potongannya. Yang dipotong juga harus menyiapkan keikhlasan sedini mungkin jika nanti di akhir kenyataan yang terjadi tidak sesuai apa yang diharapkan. Saya juga menyiapkan hati ini seikhlas-ikhlasnya manakala dengan tanpa rencana saya mampir ke potong rambut pelajar ini. Saya sepertinya kecanduan dengan salah seorang tukang potongnya. ...

Selamat Dulu Berdoa Kemudian

Entah berapa kali lagi saya harus mengucapkan banyak terima kasih untuk orang-orang di sekitar saya. Semua. Baik yang jauh secara fisik tapi dekat secara hati, maupun yang dekat secara hati dan dekat secara fisik.  Ini tentang peristiwa ulang tahun saya kemarin. Yang unik dari setiap ucapan selamat ulang tahun itu berisi doa. Tidak sekedar ucapan selamat saja. Contoh misal kita mau makan, kita berdoa dulu, lalu baru mengucapkan 'selamat makan'. Atau sebelum tidur. Berdoa dulu, baru setelahnya diberi ucapan selamat tidur. Kalau ucapan selamat ulang tahun itu, selamat-nya dulu baru doa-nya. "Selamat ulang tahun, semoga panjang umur, barokalloh, sukses, tercapai semua yang dicita-cita, WUADB...". Hampir senada dengan ucapan selamat menempuh hidup baru bagi pasangan yang baru saja menikah. Untuk WUADB ini saya mikir panjang. Saya terima sms itu lewat tengah malam. Shubuh baru saya buka. Ini mungkin karena ilmu bahasa saya selalu ketinggalan. Iyah. Saya man...

Garis-Garis Hujan

Hujan dan lagi-lagi hujan. Sialnya, kalau hujan datang, yang lain juga ikut datang. 'Yang lain' itu adalah, rindu, kangen, gundah, keluh, kesah, semuanya datang secara bergiliran absen masuk ke hatiku. Efeknya, lemes tak terkira. Mau berbuat apa-apa juga nggak enak. Yang ada cuma bantal sama selimut. Apa? Memberdayakan mereka? Makan bantal? Diapain? Tidak ada yang bisa dilakukan selain meratap dan meratap. Maunya fitnes di dalam kamar menghilangkan 'yang lain' itu. Tapi fisik sudah terlanjur lemes mau sit up, push up juga sudah males. Oh iya, ada lagi yang kalau hujan datang, ia juga ikut tiba. Namanya kenangan. Sudah, kalau si kenangan ini ikut datang, tambah runyam masalahnya. Sudah aku larang-larang. Sudah aku kasih police line juga masih merangsek terus membombardir barikade pintu hatiku. Mau mengusir mereka, tapi bingung dengan cara apa dan bagaimana metodenya. Iya. Kalau sudah begini, nggak ada yang bisa diperbuat selain menerima dan menerima. Sampai kepala i...

Ku Edit Kau dengan Bismillah (?)

Sms hari Rabu itu cukup menegangkan bagi saya. Antara senang dan bingung. Antara gembira tapi tak tahu harus berteriak atau pingsan histeris. Isinya sederhana. Anak-anak LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) PSYCHE dari fakultas psikologi UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta) meminta tolong kepada saya untuk menjadi pemateri dalam rangka pelatihan anggota baru mereka. Dalam pesan singkat itu mereka meminta kesediaan saya untuk berbagi cerita soal editing buku. Saya garuk-garuk kepala, cabut rambut sendiri, sambil kedip-kedip genit di depan cermin, "Ini apalagi?! Editing Buku?! Urusannya sama saya apa?! Itu terus saya nyari materinya dimana?! Lagian saya kan bukan cowok matre yang selalu berurusan dengan materi? Kalau menghadapi adek-adek mahasiswa yang masih berbau SMA, baru semester awal, kan mau tidak mau saya harus berbicara agak sedikit intelektual atau ilmiah akademis tentang perbukuan. Tapi apa?!! Apa yang akan saya bagi?! Sedangkan saya tidak punya apa-apa untuk dibagi?!...

Jus Kenangan

Masih sering ku tengok dari lantai dua. Dari dalam kamar yang kecil tapi luas ini. Dari kamar yang sederhana tapi mewah ini. Dari kamar yang sunyi namun ramai ini. Sebuah tempat, yang menyimpan dan merekam beberapa peristiwa. Tentang aku, kamu, bahkan tentang buku. Buku yang hampir kita tulis bersama, namun harus rela karena Yang Kuasa belum bersedia menerbitkannya. Ku beri nama warung itu, Jus Kenangan. Iya, ini tentang jus. Jus. Iya jus! Iya justru ini saya lagi mau bercerita. Tempat sederhana itu berada di kawasan belakang kampus UNS Surakarta. Warung yang selalu ramai, banyak dikunjungi para pelanggannya yang sebagian besar dari kalangan mahasiswa. Warung yang terkadang pula dijadikan tempat rapat aktivis kampus sambil minum jus. Ini dia ketrampilan orang Indonesia. Kalau anda melihat ada tulisan 'JUAL ANEKA JUS BUAH', bukan berarti warung itu hanya menyediakan menu jus buah saja. Bisa ada es buah, es dawet, bahkan es teh. Orang Indonesia selalu menyelipkan menu tambah...

Puasa Tidak Kuat

Ini sudah masuk pergantian tahun Islam dan Jawa. Biasanya paling enak kalau mengingat-ingat masa lalu. Kalau ada yang baru, biasanya yang lama malah bikin rindu. Sedikit membongkar-bongkar file-file usang. Tapi saya tidak akan membahas tentang manuskrip kuno saya yang dari abad ke-4 sampai sekarang belum berhasil saya selesaikan. Huruf depannya S belakangnya I. Betul! SAPI! Skripsi skripsi! Itu barang teraneh yang pernah saya temui dalam hidup. Semoga Desember ini kelar. Februari 2013 bisa ikut adek-adek lima atau enam tingkat di bawah saya wisuda. Nanti gelarnya Sarjana Masbuk saja, tidak usah Sarjana Seni (S.Sn). "Saya nikahkan Didik Wahyu Kurniawan Sarjana Masb..... Lho ini nggak salah?" "Apa pak?" "Ini?! Mana ada gelar Sarjana Masbuk? Jangan guyon ah dek!" "Ada pak penghulu. Serius. Nih!" menyodorkan buku Sarjana Masbuk. Sombong dikit lah. Sekali-kali. Iya, bulan puasa lalu hampir tidak ada catatan. Sayang sekali memang. Tapi a...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Strata Tak Terhingga

Huaaahhhhh!!! Menguap dulu deh. Iya ini saya lagi dan masih saya lagi. Iya. Masih jomblo. Masih belum lulus juga. Masih ditolak oleh beberapa orang tua perempuan yang saya suka. Kenapa? Nekat? Nggak lah. Pelajaran pertama dalam hidup itu bergerak. Jadi saya tetap mengupayakan sesuatu meski hasilnya sudah bisa diprediksi 100% bakal gagal. Apanya? Oh, rasanya? Rasanya sih tetap sama. Sama sama. Iya sama pas seperti ditolak. Kalau saya bilang kecewa, tingkat kekecewaan tiap manusia kan berbeda. Itukan juga belum bisa dijelaskan secara ilmiah. Kalau saya, kecewa sama bahagia itu bukan output yang absolut atau output terakhir. Itu sifatnya hanya sementara dan masih bisa diolah lagi menjadi, misalnya kreativitas. Gini gini saya jelaskan pelan pelan. Kalau saya sendiri, kecewa dan bahagia itu masih berupa input, masukan untuk bahan menulis ide. Saya belajarnya sama para petani itu. Mereka hampir setiap hari menanam dan merawat, tapi juga belum pasti apakah nanti panennya akan ber...

Berdiri, Duduk, Berbaring

Sekarang semakin jelaslah bahwa hidup saya itu cuma terdiri dari tiga aktifitas. Pertama berdiri, yang kedua duduk, yang ketiga berbaring. Sudah cuma itu saja. Sempat saya pikir saya sudah begitu bermanfaat dan berarti bagi banyak orang. Eh tak tahunya apa yang selama ini saya lakukan cuma tiga hal itu tadi. Sangat tidak mungkin, pas pertama kali lahir saya langsung bisa duduk santai sambil mengangkat kaki. Atau tiba-tiba dengan penuh semangat begitu keluar dari gua garba langsung berdiri dengan mengepalkan tangan seraya berteriak, "OHHH IBUUU INIII ANAKMUUUU!!!!". Karena setelah hampir dua puluh tujuh tahun baru sekarang saya paham ternyata aktifitas hidup saya cuma muter-muter di wilayah itu. Kalau nggak berdiri, duduk, ya berbaring. Oalah. Ternyata selama ini saya tidak pernah melakukan apa-apa. Mbah saya pernah berkata di suatu Magrib. "Kamu itu harus sering berdoa. Minta yang spesial dalam hidupmu." "Mbah, saya udah terlalu sering berdoa. Dan ...

Aku Penulis? Kamu Nggak?

Lagi. Saya harus terjerumus dalam dunia yang saya sendiri sampai sekarang saya tidak begitu paham. Tulis menulis. Celakanya lagi saya dititipi Tuhan satu buku kecil. Judulnya Sarjana Masbuk. Itu buku yang ndilalah diterbitkan oleh penerbit nasional. Tapi saya sering menyebut itu buku kemaki . Tahu kemaki ? Kemaki itu bahasa Jawa yang menunjuk pada sesuatu yang pongah, sombong, angkuh. Gimana tidak angkuh? Buku sekecil itu harganya hampir Rp. 40.000. Isinya juga gitu gitu aja. Yah, dan karena hal itu jidat saya dilabeli oleh orang orang sekitar saya P E N I, eh P E N U L I S! Yeah! Penulis. Lebih mending daripada label yang dulu, pengangguran. Mungkin untuk tataran akademisi, sebagai penulis dan punya buku dengan skala nasional itu satu prestasi tersendiri. Sedangkan saya masih tetap nyinyir dengan hal itu. Iya sih, agak lumayan memang. Agak ada gunanya sedikit untuk dunia akademisi. Seperti saat saya harus menghadap ketua jurusan (kajur) untuk minta pergantian pembimbing skr...