Langsung ke konten utama

Postingan

Seandainya Aku Kepala Sekolah

Ceritanya begini. Namun sebelum saya melanjutkan lebih jauh catatan ini, sepertinya saya harus lebih berhati-hati jika mau menuangkan ide dalam sebuah tulisan. Apalagi judulnya sudah menunjukkan ambisiusitas level 365 seperti itu. Seandainya... Aku... Kepala... Sekolah... Sebuah judul yang memiliki kadar keoptimisan yang tiada bandingnya mengingat saya saat ini hanyalah seorang guru yang baru melakoni satu bulan masa percobaan. Meski saya sendiri juga kurang begitu paham dengan posisi kepala sekolah karena menurut saya posisi guru sudah memiliki kemuliaan yang luar biasa dahsyatnya, lha kok ini ada satu posisi yang berada di atas guru yaitu kepala sekolah. Sekali lagi ingat, saya masih dalam masa percobaan. Jadi menjadi guru adalah cobaan bagi saya. Dan saya menganggap itu bukan cobaan yang remeh temeh. Melainkan cobaan yang luar biasa beratnya. “Mas sekarang di mana?” “Ngajar mas.” “Jadi guru?” “Semacam itulah mas.” “Jadi guru itu tanggung jawabnya berat lho.” “Nggak ha...

Guru Berkebutuhan Khusus

Guru. Bagi saya ini istilah yang menyedihkan. Apalagi kalau disematkan pada makhluk tak jelas jenisnya seperti saya ini yang manusia bukan, alien juga bukan. Alien kok nggak punya pesawat. Aneh. Nggak. Ini bukan catatan sedih. Tenang saja. Baca aja sampai selesai nanti baru berkomentar. Kali ini saya ingin berbagi kebahagiaan dengan teman-teman semua karena lama kita tak bersua lewat. Interaksi semacam ini tak boleh terputus. Ini silaturahim virtual. Meskipun tak langsung ketemu, tapi saya tahu teman-teman memiliki keyakinan bahwa saya sebenarnya ini golongan manusia. Manusia tertampan nomer 2 setelah nabi Yusuf, dan bermilyar keturunannya. Iya kan? Makasih teman-teman. Begini. Mungkin Tuhan mengabulkan doa orang tua saya, khususnya ibu saya. Pernah satu kali saya pulang ke Pati dengan wajah berekspresi 'lebih baik mati daripada hidup begini'. Ibu menangkap gejala itu. Ibu tahu betul kondisi saya saat itu meskipun saya tidak langsung bercerita kepada beliau. Yang saya jaga...

Maaf, Bapakmu Aneh

Untuk Anak Lelakiku, Le, cah bagus, mungkin saat membaca surat ini bapak tidak sedang berada di sampingmu. Menemanimu bermain kuda kayu atau gangsing bambu. Mungkin bapak sedang berada di Amerika, Israel, Suriah, Jepang, Belanda, Portugal, Yunani, China, Rusia, atau Palestina. Atau di tempat yang 'lain'. Le, cah bagus, anakku. Jadi lelaki itu tidak mudah. Tapi cukup menyenangkan. Bapakmu ini tumbuh dan berkembang dengan cara yang tidak semua manusia di bumi ini mengalaminya. Bapakmu bukan sosok yang diidam-idamkan oleh orang tua-orang tua perempuan di belahan bumi manapun. Mereka bilang, bapakmu ini, aneh. Dan saat bapak balik bertanya kepada mereka, aneh yang seperti apa, mereka menjawab, pokoknya aneh. Ada yang bilang karena salah didikan, ada yang bilang karena salah pergaulan lingkungan, bapak terima itu semua le. Karena tidak ada hal yang paling indah selain penerimaan setelah terjadinya penolakan. Bapak ditolak, tapi bapak tidak balik menolak. Melainkan mene...

Lupakan Indonesia

Kali ini saya akan lebih serius dalam menyajikan catatan. Saya tidak mau lagi bersendau gurau. Ini sudah memasuki bulan-bulan yang kritis. Di mana bangsa Indonesia akan mengalami hal-hal yang penting dalam sejarah kehidupannya. Sekali salah melangkah, semuanya akan kacau. Selanjutnya tak akan pernah lagi dikenal sebuah kepulauan yang memiliki armada perang maritim terbesar, yang sering membuat bangsa lain bergidik. Sekali berlayar mereka menggunakan kapal berjumlah di atas 500 kapal. Bahkan kabar yang tersiar jumlahnya hampir ribuan yang berlayar ke belahan penjuru dunia. Semenanjung Arab dan Afrika. Karena saat itu wilayah Eropa dan Amerika masih berupa daratan gersang dan tidak subur. Jika di April nanti terjadi kesalahan lagi, maka bangsa ini akan semakin sulit diidentifikasi. Sebenarnya siapa Indonesia? Siapa orang Indonesia? Siapa keluarga-keluarga di Indonesia. Setiap bayi yang lahir di negeri ini kemudian menjadi bayi yang linglung. Yang tahunya begitu besar dia akan bersekolah...

Esok Untuk Kemarin

Lagi, catatan ini termasuk catatan yang berat. Jadi yang merasa kapasitas otaknya biasa-biasa saja, jangan pernah sekalipun mencoba meneruskan membaca catatan berikut ini. Saya, serius. Kalau teman-teman tetap memaksakan diri untuk terus membaca dan memuaskan rasa penasaran anda terhadap apa isi catatan saya kali ini efeknya adalah:  - kepala pening - tenggorakan sulit untuk menelan - mata merah - hidung mengeluarkan cairan yang dunia medis manapun belum mengetahui cairan apa itu - badan pegal-pegal, sepegal para kuli yang ikut membangun Piramida - jari kaki anda akan bergerak-gerak sendiri tak bisa dihentikan selama kurang lebih 7x24 jam Anda jangan lantas berfikir, ah Didik, paling juga kayak biasanya, paling dia lagi bercanda. Saya jawab: TIDAK. SUNGGUH SEKALI KALI TIDAK. Anda boleh memilih salah satu efek yang akan terjadi pada diri anda. Dan kalau anda masih tidak percaya setelah membaca kalimat ini berarti anda, SEHAT. Selamat yah...  Adalah hal yang...

Hutang Para Alien

Sejatinya adalah anugerah yang besar tatkala ada orang lain yang mendatangi diri kita lalu dengan mimik muka sedikit lesu, penuh kekalutan, dan dengan lirih berucap, "Bisa pinjam uang?" Pertama, di dalam cara pandang orang tersebut, kita adalah organisme yang memiliki lebih banyak uang daripada dia. Secara sederhana, bisa diambil kesimpulan sementara bahwa, kita lebih kaya daripada dia. Siapa, siapa yang tidak mau dianggap kaya. Karena kita cenderung sakit hati dalam tanda kutip, ketika ada orang lain yang mengata-ngatai diri kita miskin, jelek, bodoh. Meskipun pada kenyataannya, iya. Tapi tenang saja. Orang yang mengata-ngatai diri kita miskin, jelek, dan bodoh adalah tipikal orang yang berpengetahuan dangkal, tingkat intelektualitas sangat rendah, dan tidak memiliki kepekaan hati. Dia tidak tahu, bahwa meskipun kita jelek, miskin, dan bodoh di dunia, tapi belum tentu kita jelek, miskin, dan bodoh, di mana saudara-saudara???? Mars! Pinter. Kedua, jika ada orang ya...

Untuk Kalian Yang ......

Sebenarnya saya mau tertawa keras sekerasnya, tapi karena ini masih pagi, sepertinya belum layak untuk berteriak-teriak. Agak kurang santun juga jika saya merasa hidup saya ini sedang 'tidak apa-apa'. Kalau 'tidak ada apa-apa' berarti saya nggak hidup. Di tengah-tengah keraguan-keraguan dalam menentukan pilihan, antara 2 aktivitas yang harus lebih dikerjakan dan dikerjakan, beberapa teman, kalau bolehlah saya anggap sebagai saudara, datang berduyun-duyun tanpa saya undang. Mereka membawakan tanda untuk saya tangani. Cerita-cerita 'aneh' lagi-lagi menghampiri diri ini. Lingkungan saya sekarang ini, adalah lingkungan 'dagang' dan 'menulis'. Kuat sekali pengaruhnya terhadap saya. Untung selama beberapa tahun ini saya dimampukan untuk beradaptasi meski apa yang saya lakukan, saya akui belum sepenuhnya total. Entah kenapa, sepertinya masih ada semacam ketakutan "ini nanti ke depannya seperti apa? masa mau begini terus? bisa hidup dari sini? ...