Langsung ke konten utama

Seandainya Aku Kepala Sekolah

Ceritanya begini. Namun sebelum saya melanjutkan lebih jauh catatan ini, sepertinya saya harus lebih berhati-hati jika mau menuangkan ide dalam sebuah tulisan. Apalagi judulnya sudah menunjukkan ambisiusitas level 365 seperti itu. Seandainya... Aku... Kepala... Sekolah... Sebuah judul yang memiliki kadar keoptimisan yang tiada bandingnya mengingat saya saat ini hanyalah seorang guru yang baru melakoni satu bulan masa percobaan. Meski saya sendiri juga kurang begitu paham dengan posisi kepala sekolah karena menurut saya posisi guru sudah memiliki kemuliaan yang luar biasa dahsyatnya, lha kok ini ada satu posisi yang berada di atas guru yaitu kepala sekolah. Sekali lagi ingat, saya masih dalam masa percobaan. Jadi menjadi guru adalah cobaan bagi saya. Dan saya menganggap itu bukan cobaan yang remeh temeh. Melainkan cobaan yang luar biasa beratnya.

“Mas sekarang di mana?”
“Ngajar mas.”
“Jadi guru?”
“Semacam itulah mas.”
“Jadi guru itu tanggung jawabnya berat lho.”
“Nggak hanya tanggung jawabnya yang berat mas. Bangun paginya juga berat.”
“Sudah hafal berapa juz? Sekolahmu islami kan?”
“Al Kafiruun aja masih sering muter-muter mas.”
“Lho, gimana sih. Sebagai seorang guru kamu harus senantiasa memperbanyak hafalan dan memperbaiki bacaanmu. Masa kalah sama muridmu yang masih SD.”
“Iya mas. Alhamdulillah sekarang saya sudah mendapat tiga hafalan.”
“Tiga juz?”
“Nggak mas.”
“Tiga surat?”
“Nggak.”
“Tiga ayat?”
“Tiga huruf. Kalau titiknya dibawah itu ‘jim’. Kalau titiknya di atas itu ‘khok’. Kalau nggak ada titiknya itu ‘kha’. Saya lebih suka ‘kha’ daripada ‘khok’. Karena cara melafalkan ‘kha’ itu penuh dengan kelembutan, halus, tidak boleh ada sedikitpun satu kekasaran. Beda dengan ‘khok’ yang harus diucapkan dengan kasar dengan sedikit nuansa dahak. Jujur, saya lebih suka ‘kha’ ketimbang ‘khok’ mas.”
“Jadi kamu memilih ‘kha’ daripada ‘khok’?”
“Iya mas, saya memilih ‘kha’.”

Sampai mana tadi? Sampai lupa. Oh iya, maaf teman-teman, menurut ahli psikologis, saya ini termasuk orang dalam kategori konsentrasi rendah. Ingatannya buruk. Mudah lupa. Sulit menerima materi seandainya saya ini seorang murid. Tapi teman saya yang ahli psikologis itu belum melakukan penelitian lebih lanjut. Bahwa orang-orang yang masuk dalam kategori konsentrasi rendah memiliki imunitas fisik yang mumpuni. Dia memiliki efektifitas untuk segera menyembuhkan dirinya manakala terjadi kerusakan sistem di dalam tubuhnya. Atau minimal dia tidak akan merasakan sakit yang berkepanjangan. Nggak percaya? Saya punya sedikit cerita.

Tiga hari berturut-turut sekolah tempat saya menjalani cobaan, mengadakan semacam gathering, yang jujur, sampai saat ini, saya nggak ngerti apa itu arti gathering. Orang-orang banyak ngomong tentang getherang gethering saya cuma manggut-manggut aja pura-pura ngerti padahal nggak paham maksudnya apa gathering itu. Dalam acara apa tadi namanya? Oh iya, gathering itu ada berbagai macam lomba yang tentu saja mengusung konsep ‘alam’. Serius banyak banget lombanya. Pesertanya juga banyak dan mereka sangat antusias sekali mengikuti kegiatan tersebut.

Ada satu lomba yang paling membuat saya kagum. Dan ini mungkin lomba ini hanya ada di indonesia. Namanya, tarik tambang. Kebayang kan? Ada tambang batu bara di kasih tali di kedua sisinya lalu ditarik-tarik kesana kemari. Yang berhasil menarik tambangnya, dialah yang berhak memiliki tambang tersebut. Oke, ini analisis makhluk satu level di bawah kaki seribu. Entah kenapa masih saja dinamai tarik tambang, padahal jelas-jelas yang ditarik bukan barang tambang. Oke, ini analisis makhluk satu level di bawah bawahnya lagi kaki seribu. Pokoknya lombanya macem-macem. Ada otubond, satu kegiatan yang kurang saya mengerti juga. Permainan tradisional nusantara kurang outbond apa coba? Ada masak-masak, mewarnai, meski jelas-jelas sudah ada warnanya hitam dan putih, lalu ada orkes musik dari barang bekas, fashion show dari barang bekas, soccer alam, banyak banget sampai saya sendiri bingung. Ini saya mesti ngapain ya?

Akhirnya ketika semua acara hampir selesai di hari yang kedua, karena hari pertama tidak terlalu padat jadwalnya, saya memutuskan untuk mengambil sapu, melipat celana bagian bawah, dan,

“Maaf permisi saudara-saudara debu yang budiman. Ini saya bukan dalam rangka mengusir lho. Tapi mohon maaf, saya hanya menggeser kalian beberapa meter dari tempat kalian yang sekarang. Nggak papa kan?”
“Nggak papa.”
“Oke, terima kasih debu.”
“Eh Dik,”
“Iya?”
“Jangan kasar-kasar ya. Soalnya kami alergi sapu.”
“Sip lah.”

Saya menyapu area yang tadinya digunakan untuk fashion show dan orkes musik barang bekas. Banyak kardus makanan, botol plastik, dan beberapa benda yang benar-benar menjadi barang bekas. Saya sapu perlahan karena jika terlalu kencang kasihan para debu nanti mereka berteriak-teriak minta tolong. Ingat, saya menyapu karena kotor, bukan karena saya rajin. Paham ya? Saya belajar bukan karena rajin, tapi karena saya bodoh. Ngerti maksud saya? Itu yang ngangguk-angguk pojokan sendiri. Ngerti? Aduh, lupa lagi kan mau bahas apa.

Oh iya, itu baru hari kedua. Hari ketiga ini merupakan puncak acara. Ramai? Jelas. Asyik? Jelas. Banyak makanan? Nggak usah ditanya itu. Hari ketiga ini saya juga nggak ngerti harus berbuat apa. Datang pagi-pagi, dan yuhuuuu... kita fitnes angkat beban saudara-saudara. Angkat kursi meja, peralatan sound system, mondar-mandir kayak orang penting. Padahal orang-orang penting nggak gitu-gitu banget. Sebagai lelaki yang lebih patut menjadi seorang model, saya sangat tidak pantas sekali untuk terlihat mengangkat ini itu di depan orang banyak. Namun, sekali lagi, saya mengangkat ini itu bukan karena saya kuat dan ingin menunjukkan betapa kuat dan sehatnya saya, melainkan karena barang-barang tersebut tidak bisa berjalan sendiri. Dasar barang manja. Mintanya digendong! Udah gede kamu! Jalan sendiri apa nggak bisa!

Hampir saja saya sombong manakala saya berhasil mengangkat beberapa benda itu. Eh lha kok datang teman karib saya yang jadi petugas sound systemnya. Saya memanggilnya Otong.

“Heh. Ngerti huper?”
“Huper? Huper apa mas?”
“Huper huper yang aku bawa dari TK kemarin.”
“Huper apa sih?”
“Huper itu lho. Tadi udah tak taruh kantor.”
“Oalah, speaker itu tho.”
“Ho’oh.”
“Coba dicek di kantor yuk.”
“Lha, tadi tak taruh sini lho.”
“Oalah. Hupernya tak pake di kelas 2 belakang. Di lantai dua. Tadi aku angkat sama teman guru. Mau dipake lomba hafalan.”
“Weh, itu mau tak pakai di pendopo e. Ditukar speaker ini aja ya.”
“Ya udah mas sini tak bantu ngangkat.”
“Nggak usah.”

Lhaaaaa..... speaker segede gitu diangkat sendiri. Naik ke lantai dua lagi. Padahal tadi saya ngangkat berdua aja udah ngos-ngosan.

“Ini huper-nya tak ambil. Dicek dulu soundnya yang ini.”
“Iya mas. Cek cek cek. Udah mas.”
“Udah ya ini tak pake di pendopo.”
“Dibantuin ngangkat nggak mas?”
“Nggak usah.”

Lhaaaa..... lagi-lagi diangkat sendiri. Padahal menurut saya barang itu berat banget. Coba teman-teman kalau ketemu jenis speaker itu. Angkat sendiri naik ke lantai dua. Rasakan apa yang terjadi dengan lengan dan punggung anda.

Dari situ semangat saya kembali bangkit. Semangat untuk menyalakan kipas angin dan merebahkan diri sejenak di kelas. Capek lek.

Hu’um. Kalau dibilang capek ya tetep capek. Secara fisik memang capek. Tapi saya sedang melatih imunitas berfikir ala konsentrasi rendah tadi supaya rasa capek ini bisa sedikit berkurang. Caranya saya harus segera melupakan apa yang telah terjadi dan telah saya lakukan selama tiga hari kemarin itu. Tapi kongkritnya bagaimana? Apa saya bisa benar-benar lupa? Bagaimana caranya mengganti memori? Caranya sederhana. Masuk ke kantor, dan, duduk di kursi kepala sekolah. Otomatis rekan-rekan guru yang lain akan meneriaki,

“Heee, ada pak kepala sekolah... Mari kita amini, aamiin.... hahaha....”

Otomatis lagi, pikiran saya akan melayang-layang, seandainya kalau saya menjadi kepala sekolah gimana ya? Dan memori tentang fitnes angkat beban bisa sedikit bergeser dari koordinatnya berganti dengan bayangan-bayangan peristiwa seandainya aku kepala sekolah....

Seandainya Aku Kepala Sekolah...
Seandainya Aku Kepala Sekolah...
Seandainya Aku Kepala Sekolah...
Seandainya Aku Kepala Sekolah, akan ku ayomi sekolah seperti aku mengayomi keluargaku sendiri....

Seandainya Aku Kepala Sekolah...
Seandainya Aku Kepala Sekolah...
Seandainya Aku Kepala Sekolah...
Seandainya Aku Kepala Sekolah, terus apa nggak hancur itu sekolahnya? Punya kepala sekolah yang memiliki konsentrasi rendah seperti ini?

Seandainya Aku Kepala Sekolah, apakah aku masih mau angkat ini angkat itu?

Seandainya Aku Kepala Sekolah,... Astaga! Besok masuk Pagi! Bobok duyuuuuuu.......

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lamaran Laa Roibafiih

Di suatu tempat yang sunyi, tersebut lah salah seorang pemuda yang sedang dirundung pilu. Di tengah-tengah kegelapan yang merubungnya dia tak mau membuka mata. Terpejam sampai tak tahu kapan waktunya. Meringkuk ia di sana. Rambutnya sangat kusut. Pakaiannya juga tak pernah berganti. Bau asam menyeruak dari tubuhnya. Bahkan ia sudah tak bisa melihat beda, mana makanan mana kotoran. Juga hati yang tak mengerti mana jeda, mana kesempatan, dan mana kerterburuan..... Hingga secercah cahaya datang. Cahaya yang kecil tapi cukup menenangkan. Cahaya yang dibawa seorang perempuan. Cahaya yang terpancar dari senyum simpulnya. Cahaya yang mungkin tak akan pernah padam atau dipadamkan. Cahaya yang jumlah tidak hanya 99. Cahaya yang berisi penuh dengan harapan. Tangan terjulur menawarkan kesegaran alur. Uluran yang sangat sayang untuk dilewatkan.  "Kemarilah. Ku temani kamu berjuang." perempuan itu berkata seraya wajahnya diterangi cahaya. "Kamu, mau menemaniku?" pemud...

Reposisi Kegembiraan Nabi

Ini hal yang cukup menggembirakan. Sangat menggembirakan. Iya. Benar-benar menggembirakan. Bagi orang yang tidak punya predikat bahkan pekerjaan apapun ini, 'diajak' kemana-mana adalah hal yang menggembirakan. Saya sudah tidak perlu bersusah payah menjadwal diri saya harus bangun jam sekian, harus makan jam sekian, harus mandi jam sekian, harus ke kantor jam sekian. Karena itu saya malah alhamdulillah. Tidak ada tanggungan apa-apa. Jadi kemana-mana saya ngikut saja sama ajakan teman-teman. Saya tidak punya pendirian yang kuat sebagai laki-laki? Iya, kalau cara berfikirmu lahiriyah. Kalau rohaniyah kamu akan menemukan hal-hal baru jika berinteraksi dengan spesies sejenis saya ini. Nggak percaya? Ketemuan yuk! Sambil ngopi-ngopi gitu. Ngemil-ngemil. Berdua aja sih. Khusus perempuan tapi. Nggak. Becanda. Saya percaya saja bahwa orang-orang yang mengajak saya keliling kemana-mana itu orang-orang baik dan disayang sama Allah sama Rosul. Karena diantara teman-teman, saya adalah yang...

Puasa Tidak Kuat

Ini sudah masuk pergantian tahun Islam dan Jawa. Biasanya paling enak kalau mengingat-ingat masa lalu. Kalau ada yang baru, biasanya yang lama malah bikin rindu. Sedikit membongkar-bongkar file-file usang. Tapi saya tidak akan membahas tentang manuskrip kuno saya yang dari abad ke-4 sampai sekarang belum berhasil saya selesaikan. Huruf depannya S belakangnya I. Betul! SAPI! Skripsi skripsi! Itu barang teraneh yang pernah saya temui dalam hidup. Semoga Desember ini kelar. Februari 2013 bisa ikut adek-adek lima atau enam tingkat di bawah saya wisuda. Nanti gelarnya Sarjana Masbuk saja, tidak usah Sarjana Seni (S.Sn). "Saya nikahkan Didik Wahyu Kurniawan Sarjana Masb..... Lho ini nggak salah?" "Apa pak?" "Ini?! Mana ada gelar Sarjana Masbuk? Jangan guyon ah dek!" "Ada pak penghulu. Serius. Nih!" menyodorkan buku Sarjana Masbuk. Sombong dikit lah. Sekali-kali. Iya, bulan puasa lalu hampir tidak ada catatan. Sayang sekali memang. Tapi a...