Langsung ke konten utama

Teras Baca, Serasa Upaya

 

Sekitar Februari tahun 2020, sebelum Indonesia benar-benar dinyatakan terinfeksi Corona, Teras Baca ada. Ceritanya waktu itu, sepanjang jalan di depan kontrakan kami, oleh pemerintah daerah setempat disulap menjadi arena Car Free Day. Iya. Jalan yang lebh kurang memiliki lebar 4 meter, yang kalau ada dua mobil papasan, salah satu harus mengalah, pada setiap hari Minggu ditutup. Tidak boleh ada satu kendaraan bermotor yang lewat. Secara teknis sama dengan apa yang diterapkan di jalan protokol di beberapa kota di Indonesia.

Ini jelas mendatangkan peluang secara ekonomi bagi penduduk desa Purbayan dan sekitarnya. Masyarakat banyak yang memanfaatkan peluang untuk berdagang. Termasuk, istri saya. Sambil nyambi jualan apa saja barang yang layak dijual. Salah satunya buku anak dengan harga di bawah sepuluh ribuan. Merespon kesempatan itu, kami berdua diskusi kecil. Apa mungkin ya kami membuat semacam tempat pustakan kecil dengan buku-buku dengan harga di bawah sepuluh ribuan itu? Free. Apa bisa menarik perhatian anak-anak yang ada di Car Free Day? Apa ada yang mengunjungi?

Pertanyaan itu kami respon dengan menggelar buku di teras. Karena di teras lantas kami beri nama Teras Baca. Begitu saja. Dan bisa ditebak karena keadaan yang sangat ramai, hanya ada satu dua anak tetangga yang mampir.

Dan Maret 2020, secara resmi Corona diakui. You know lah ya.

Satu tahun lebih berlalu. Tidak begitu paham apa yang ada di kepala istri saya, dan bagaimana ceritanya istri ikut dalam salah satu komunitas. Semacam mengumpulkan wakif dalam bentuk buku. Yang hasilnya disumbangkan di tempat yang memang ditargetkan. Sebagian besar produknya berisi buku-buku bernafaskan islam.

Ya, sebagai suami yang sayang istri saya hanya bilang, “yang penting niatnya dijaga. Target enggak apa-apa, tapi dihitung resikonya.”

Bijak sekali memang. Karena sebenarnya saya ini seorang cerdik cendekia nan bijaksana.

Waktu berlalu. Semenjak kelahiran anak kedua kami si Bana Gendhul, dengan nama ori Sabana Rizkiyaddin, rasa-rasanya memang apa yang kami upayakan dulu menunjukkan tanda-tanda kemunculannya. Seperti dilahirkan lagi. Istri sudah mulai dianggap orang agak sedikit hampir penting di komunitas Wakafer-Wafaker (sebutanku untuk pengumpul dan penyalur wakaf). Berpaket buku dengan nilai jutaan rupiah Indonesia berdatangan. Tidak banyak memang. Tapi cukup untuk dibaca anak-anak sekitar tempat tinggal kami. Istri dan anak-anak juga mulai aktif di Tempat Pendidikan Al Quran.

Di suatu sore istri nyeletuk, “Bikin Teras Baca lagi yuk.”

Karena saya yang tidak terlalu nggagas, iya kalian juga sudah tahu saya kayak apa kan ya, saya bilang iya saja. Daripada istri ngambek tiada tara kan ya?

Kami memilih hari Selasa dan Kamis karena hari Senin, Rabu, dan Jumat anak-anak TPA. Kami buka sore hari setelah waktu Ashar. Iya kali masak dibuka habis Tahajud?

Dan sebagaimana yang teman-teman sudah saksikan di video yang dibagikan di akun instagramku, Teras Baca resmi dibuka pada hari Selasa, 20 April 2021. Di hari Kamisnya kami kedatangan 17 anak(nya orang). Ramai.

Ada target? Maaf jangan tanya saya soal target. Supaya anak-anak gemar membaca mungkin? Enggak. Supaya anak-anak minat bacanya tinggi? Enggak juga. Supaya minat baca di Indonesia meningkat di mata dunia internasional? Aduh. Enggak juga sih. Menargetkan untuk istiqomah saja enggak kok.

Lha terus apa buat kayak begitu? Apa untungnya? Hidup harus ada target dong. Enggak ngerti sih. Kalau ada yang mau ngirim buku ya kami terima. Kalau enggak kami cari sendiri. Nanti kalau saya ngomong untung, secara dialektika apa saya siap kalau ternyata rugi?

Tapi kata teman-teman cuma kayak gini, “Ini sudah waktunya bagimu Dik. Jatahmu. Buka puasamu.”

Teman-teman, terimakasih dukungannya selama ini. Dan sampai hari ini saya masih Didik W. Kurniawan yang kalian kenal. Begitu ya. Sini peluk.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...