Guru. Bagi saya ini istilah yang menyedihkan. Apalagi kalau disematkan pada makhluk tak jelas jenisnya seperti saya ini yang manusia bukan, alien juga bukan. Alien kok nggak punya pesawat. Aneh. Nggak. Ini bukan catatan sedih. Tenang saja. Baca aja sampai selesai nanti baru berkomentar. Kali ini saya ingin berbagi kebahagiaan dengan teman-teman semua karena lama kita tak bersua lewat. Interaksi semacam ini tak boleh terputus. Ini silaturahim virtual. Meskipun tak langsung ketemu, tapi saya tahu teman-teman memiliki keyakinan bahwa saya sebenarnya ini golongan manusia. Manusia tertampan nomer 2 setelah nabi Yusuf, dan bermilyar keturunannya. Iya kan? Makasih teman-teman.
Begini. Mungkin Tuhan mengabulkan doa orang tua saya, khususnya ibu saya. Pernah satu kali saya pulang ke Pati dengan wajah berekspresi 'lebih baik mati daripada hidup begini'. Ibu menangkap gejala itu. Ibu tahu betul kondisi saya saat itu meskipun saya tidak langsung bercerita kepada beliau. Yang saya jaga, senyum di depan beliau lebih utama daripada cemberutnya bibir ini. Namun sekali lagi Tuhan menciptakan sosok Ibu dengan canggih sekali. Ini merupakan misteri yang tak ada jawabannya. Betapa canggihnya teknologi yang diberikan Tuhan kepada sosok ibu. Ibu itu memiliki segudang informasi terkait dengan kondisi keluarganya. Suami, dan anak-anaknya. Tak tahu, saya sendiri juga heran, ini pola 'pikir' Tuhan seperti apa sih kok bisa sangat keren menciptakan tokoh dan karakter bernama 'Ibu'. Sampai sekarang saya tak menemu jawabannya dan memang berharap tak usah menemukannya. Ada sistem 'rasa' yang dimiliki seorang Ibu, hingga hanya dengan menatap wajah anaknya, beliau tahu apa yang sedang menimpa anaknya. Jadi bagi laki-laki yang berprofesi sebagai dukun, jangan sombong ya.
Ibu melihat wajah kusut saya. Saya menyalami beliau, menyium punggung tangan beliau, dan kedua pipinya. Mbokne, aku kangen. Begitu batin saya. Dan selalu ibu mempersilakan saya untuk makan terlebih dahulu daripada aktivitas apapun. Setelah makan ibu lantas bertanya berbagai hal tentang kegiatan saya di tanah rantau.
"Katanya kamu sekarang ngajar."
"Sudah nggak. Mau fokus dagang aja. Sama ngamen ke sana ke sini kalau ada yang ngajak. Sama nulis-nulis."
"Kok nggak ngajar lagi kenapa?"
"Lebih enak dagang. Dapatnya lebih banyak. Selama ini aku hidup dari dagang."
"Oh, ya udah, yang sungguh-sungguh."
"Doa restunya ya Mbok."
"Hu'um. Beres. Wes tak doakan anakku semua jadi guru."
Percakapan itu terjadi beberapa tahun lalu. Awalnya saya nggak peduli dengan ucapan Ibu. Guru? FKIP aja nggak. Iya, kalau kamu sih FKIP. Kuliah saya di jurusan etnomusikologi, sebuah jurusan yang saya sendiri kurang mengerti sampai sekarang. Karena saya kesasar pas mengambil kuliah dulu. Pengetahuan saya tentang dunia kampus itu sangat minus. Saya ngertinya jurusan Teknomusikologi. Bukan Etnomusikologi. Kalau nggak percaya silakan temui salah satu dosen di ISI Solo, dia tahu sejarah saya kuliah. Sekali lagi saya kesasar. Makanya ketika ibu berucap seperti itu saya sendiri kebingungan. Ini doa atau tuntutan bahwa saya harus jadi guru. Pusing temant-teman.
Kakak saya yang pertama Sarjana Ekonomi, tapi beliau niat dan mengambil akta 4 sekarang jadi guru. Kakak saya yang nomer 2 juga seorang guru, karena beliau FKIP jadi agak sungkan kalau tiba-tiba harus jadi teller bank karena itu jelas bukan lahan dia. Saya? Kuliah aja nyasar. Kompetensi sebagai seorang guru apalagi? Padahal kan saya minta restunya supaya dagangan saya laris dan lain sebagainya sampai bisa mencukupi kebutuhan keluarga saya kelak. Tapi seperti itulah ucapan ibu saya.
Guru guru guru. Dan profesi ini dari tahun ke tahun sangat diminati. Di salah satu perguruan tinggi negeri FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) sangat diminati dan hampir menyalip fakultas yang selalu memakai kedok. KEDOKteran. Motifnya macam-macam, dan mungkin salah satunya tergiru dengan kata sertifikasi atau apalah itu namanya. Jadi, Indonesia ini harusnya menjadi negara yang paling banyak bersyukur karena 2 profesi sebagai penyelamat sangat diminati di negara ini. Guru dan Dokter. Tak tahu itu menggiyurkan atau melenakan.
Hingga di suatu hari yang biasa saja, di mana jumlah mataharinya jumlah masih satu, presidennya masih SBY, pemilunya ya seperti itu-itu saja yang katanya kalau menang bakal ini bakal itu, air laut masih asin rasanya, dan televisi dengan berita yang sama, saya memasukkan lamaran kerja untuk pertama kalinya di dalam hidup saya. Dan lamaran kerja itu menjadi seorang, Guru...... (backsound film horor)
Setelah mengalami beberapa seleksi, saya tidak terlalu yakin diterima. Karena sangat sadar bahwa saya tidak pernah ada patut-patutnya untuk menjadi guru. Bagi saya guru itu bukan sekedar profesi. Tak akan bisa dinilai dengan sebulan 50 juta. Bagi saya, guru itu sebuah kemuliaan. Sebuah kehormatan. Sebuah kematangan berfikir yang memiliki tingkat akurasi hampir selalu mendekati kebenaran. Jaman dulu sangat jarang sekali ada orang yang mengangkat dirinya sebagai seorang guru. Dalam film-film silat pasti akan terdengar kalimat semacam ini,
"Kisanak, tolong angkat aku sebagai muridmu."
Yang ada orang mencalonkan diri menjadi seorang murid, orang yang menghendaki ilmu. Bukan mengajukan diri menjadi seorang guru. Iya, itu jaman dulu sekali. Ketika kamu dan aku belum dipertemukan. Belum ada WA tapi mungkin udah ada WC.
Hari-hari yang aneh pun mulai berdatangan. Dari yang harus bangun pagi dan mandi sebelum jam tujuh harus sudah berada di sekolah. Kemudian pulang di atas jam 12. Mungkin nanti harus bergelut dengan RPP, program tahunan, program semester, program ratapan. Atau mungkin mengikuti fase 'kalau bu ini punya ini aku juga harus punya ini, kalau pak itu hapenya ini hapeku juga harus itu, kalau bu ini tasnya ini tasku harus itu'. Teman-teman yang sudah kenal saya malah heran.
"Kamu itu orang abstrak, kok ikut-ikutan orang realistis." katanya.
Iya sih mungkin raga saya manusia, tapi otak saya otak alien. Yang ingin keturunannya memiliki pengetahuan minimal satu level di atas google. Yang pengen keturunannya bisa pergi tak hanya keliling bumi tapi juga keliling tata surya.
Rasanya tak adil saja jika ada istilah Anak Berkebutuhan Khusus tapi tak ada Bapak Berkebutuhan Khusus atau Ibu Berkebutuhan khusus. Ada murid yang harus didampingi seorang 'terapis' dan disebut dengan murid berkebutuhan khusus, seharusnya juga ada Guru Berkebutuhan Khusus, seperti, saya, yang masih butuh ini butuh itu banyak sekali. Butuh diakui dan disertifikasi, butuh dihargai, butuh dihormati tanpa mau menghormati sedikitpun. Butuh diamini segala omongannya dan semua-muanya.
Oh ya satu lagi, Ki Hajar Dewantara itu bukan Bapak Pendidikan tapi Bapak Penghajaran/Pengajaran Indonesia. Tahu sendiri kan siapa Bapak penDIDIKan? Kalau tidak tahu tanya murid-murid kelas 2 SD di sekolah tempat saya mengajar. Gitu aja sih. Lama nggak nulis belepotan juga otaknya...
Hingga di suatu hari yang biasa saja, di mana jumlah mataharinya jumlah masih satu, presidennya masih SBY, pemilunya ya seperti itu-itu saja yang katanya kalau menang bakal ini bakal itu, air laut masih asin rasanya, dan televisi dengan berita yang sama, saya memasukkan lamaran kerja untuk pertama kalinya di dalam hidup saya. Dan lamaran kerja itu menjadi seorang, Guru...... (backsound film horor)
Setelah mengalami beberapa seleksi, saya tidak terlalu yakin diterima. Karena sangat sadar bahwa saya tidak pernah ada patut-patutnya untuk menjadi guru. Bagi saya guru itu bukan sekedar profesi. Tak akan bisa dinilai dengan sebulan 50 juta. Bagi saya, guru itu sebuah kemuliaan. Sebuah kehormatan. Sebuah kematangan berfikir yang memiliki tingkat akurasi hampir selalu mendekati kebenaran. Jaman dulu sangat jarang sekali ada orang yang mengangkat dirinya sebagai seorang guru. Dalam film-film silat pasti akan terdengar kalimat semacam ini,
"Kisanak, tolong angkat aku sebagai muridmu."
Yang ada orang mencalonkan diri menjadi seorang murid, orang yang menghendaki ilmu. Bukan mengajukan diri menjadi seorang guru. Iya, itu jaman dulu sekali. Ketika kamu dan aku belum dipertemukan. Belum ada WA tapi mungkin udah ada WC.
Hari-hari yang aneh pun mulai berdatangan. Dari yang harus bangun pagi dan mandi sebelum jam tujuh harus sudah berada di sekolah. Kemudian pulang di atas jam 12. Mungkin nanti harus bergelut dengan RPP, program tahunan, program semester, program ratapan. Atau mungkin mengikuti fase 'kalau bu ini punya ini aku juga harus punya ini, kalau pak itu hapenya ini hapeku juga harus itu, kalau bu ini tasnya ini tasku harus itu'. Teman-teman yang sudah kenal saya malah heran.
"Kamu itu orang abstrak, kok ikut-ikutan orang realistis." katanya.
Iya sih mungkin raga saya manusia, tapi otak saya otak alien. Yang ingin keturunannya memiliki pengetahuan minimal satu level di atas google. Yang pengen keturunannya bisa pergi tak hanya keliling bumi tapi juga keliling tata surya.
Rasanya tak adil saja jika ada istilah Anak Berkebutuhan Khusus tapi tak ada Bapak Berkebutuhan Khusus atau Ibu Berkebutuhan khusus. Ada murid yang harus didampingi seorang 'terapis' dan disebut dengan murid berkebutuhan khusus, seharusnya juga ada Guru Berkebutuhan Khusus, seperti, saya, yang masih butuh ini butuh itu banyak sekali. Butuh diakui dan disertifikasi, butuh dihargai, butuh dihormati tanpa mau menghormati sedikitpun. Butuh diamini segala omongannya dan semua-muanya.
Oh ya satu lagi, Ki Hajar Dewantara itu bukan Bapak Pendidikan tapi Bapak Penghajaran/Pengajaran Indonesia. Tahu sendiri kan siapa Bapak penDIDIKan? Kalau tidak tahu tanya murid-murid kelas 2 SD di sekolah tempat saya mengajar. Gitu aja sih. Lama nggak nulis belepotan juga otaknya...
Komentar
Posting Komentar