Langsung ke konten utama

Aku Yang Tidak Ikhlas

 

Cerita berawal dari tas slempang kesayangan yang dibrakoti tikus. Kan entut ya? Jadi keluarga kami itu belum beres urusan sama tikus. Padahal itu tas slempang favorit. Buatan tangan berlabel TIT. Itu pernah aku ceritakan dulu kalau kalian ingat. Pemiliknya seorang mahasiswa ISI Solo yang berasal dari Pati. Satu daerah denganku. Garapannya bagus. Kuat awet. Tahan lama. Dihajar panas hujan oke saja.

Dan kenapa bisa dibrakoti tikus. Itu juga salahku. Tas slempang itu aku jadikan tempat penyimpanan mie instan. Karena itu satu-satunya tempat aman untuk menyimpan. Pikirku. Aman dari tikus dan aman dari Kya, anak pertamaku. Itu bocah umur belum tahun ketiga tapi kalau lihat mie, baik itu instant maupun non instant, sudah kayak ketemu sesuatu yang harus segera diganyang.

Nahas. Di suatu pagi, istri mendapati tas itu sudah sobek bagian depannya. Mie instant rebus di dalamnya, jelas. Sudah berlubang bungkusnya dan berkurang pula. Dan bekas brakotan tikusnya kentara. Hah! Brengsek. Hidup ingin sederhana bahagia saja tak bisa.

Kenapa aku marah-marah? Karena tas itu adalah tas outfitku kalau pergi kemana-mana. Nyaman saja rasanya. Tambah ganteng sih enggak. Tambah kaya juga mustahil. Tambah cerdas, tambah intelek, tambah religius juga enggak mungkin. Kalian pernah enggak sih pakai sesuatu terus merasa seluruh sel-sel dalam tubuh merasakan kebahagiaan kecil? Nah kayak begitu.

Kenapa aku tambah marah-marah. Karena tempat kerjaku mengadakan kegiatan absurd. Kami diberi akomodasi ke Jogja. Sampai Jogja terserah mau apa saja. Well? Tak kusia-siakan momentum itu dong. Lagian ini  kali pertama aku bakal punya pengalaman naik commuter alias kereta listrik yang belum lama dioperaasikan pengganti kereta api Prameks relasi Solo-Jogja. Wah “senangnya hatiku hilang panas demamku inzana oh inzana”. Laki-laki yang ngerti lagu iklan obat ini kalian enggak usah mendekati wanita, sudah bau tanah kalian.

Tapi masa iya ke Jogja pakai tas bolong. Inisiatif segera kulahirkan. Tas yang bolong itu aku tembel pakai emblem brand milik band Soloensis. Bodo amat kalian tahu band ini apa enggak. Yang jelas emblem yang dikasih langsung oleh vokalisnya, mas Isyak, berhasil menyelamatkan kebolongan hakiki yang melanda tas slempangku. Sampai di sini, rasa percaya diriku tidak jadi njungkel. Sudah lama aku tak sepede ini. Bakal asyik ini perjalanan ke Jogja. Bakal seru nih. Bakal punya waktu untuk merajut kenangan-kenangan baru. Aku curiga, jangan-jangan aku puber kedua? Tapi perasaan pubertasku harian deh. Ah itu nanti. Skip sebentar malasah puber.

Hari itu datang. Malam harinya aku tak bisa tidur dong. Iya kan biasa mau pergi-pergi begitu enggak bisa bobo dengan nyenyak. Ya tahu lah ya. Enggak ding. Aslinya aku ada ketemu sama salah seorang yang mau bikin Jasa Curhat. Klinis sih. Enggak asal-asalan begitu. Ya kan memang ada apa istilahnya, psikolog psikiater begitu. Ketemunya enggak sengaja. Aku bilang “aku wedangan dekat rumahmu, sudah abis nasi satu.” Ya satu bungkus dong. Masa iya satu butir. Mana ada sego kucing dijual per butir? Begitu aku kirim pesan enggak lama dia datang. Kami ngalor ngidul ngetan ngulon ngobrol apa saja. Ditemani satu orang PNS yang sebenarnya dia enggak cukup ikhlas jadi PNS. Jadilah kami bertiga semakin enggak karuan obrolannya. Dan tak terasa sudah lewat dini hari. Ya kan mau ke Jogja, pulang dulu lah ya. Kapan-kapan tak ceritakan obrolan kami. Seru kok. Penuh ilmu dan sedikit saru.

Pagi menjelang, matahari semakin terang. Rutinitas selepas shubuh tak terhindarkan. Dari cuci piring sampai cuci baju semua terlakoni dengan baik. Iya enggak usah heran kalau ada lelaki yang masih melakoni dua kegiatan tersebut setelah melepas status lajangnya. Bagi aku, itu sudah kayak reflek saja. Jaman kos dulu hampir tiap hari aku kayak begitu. Wajar sih. Asyiknya lagi ada kok penelitian tentang aktivias mencuci piring dan mencuci baju. Kalau tidak salah ingat dan catat, dua kegiatan itu bisa melatih kesadaran kita. Tindakan sadar yang tentu saja positif. Bagi yang suka mencuci piring dan mencuci baju, baik manual maupun mesin, kesadaran kita akan terlatih. Kesadaran yang bisa membangun perspektif kita terhadap sebuah paradigma. Iya, kita bakal jadi lebih peka dengan keadaan. Keadaan apa saja, tapi khusus kepada penyelesaian masalah, yang tidak semua orang mau menanganinya. Bisa dibilang, mencuci piring dan baju melatih kita menjadi pribadi yang solutif. Begitu. Percaya? Kebangetan kalian.

Selesai semua. Anak bojo saya pamiti. Mereka melepas saya dengan dipenuhi pikiran “mesti ngko neng kono koyok cah ilang.”

Iya. Bojoku hafal banget tabiat suaminya. Mesti ora jelas. Ora ono tujuan. Ora ono gol. Ora ono pikiran arep ngopo arep ngopo. Paling mulih tase yo kosongan ora nggowo oleh-oleh. Dan itu iya. Aku pernah pentas di Kalimantan selama tiga hari. Pulang, cuma bawa baju kotor. Itupun hanya kaos satu biji. Enggak ada makanan khas apa itulah. Iya daripada pulang bau parfum cewek, dan bawa baju ganti banyak supaya tidak ketahuan mana baju yang ada bekas lipstiknya? Mending kan enggak bawa baju ganti. Masih dengan prinsip lama, Lelaki yang setia adalah lelaki yang jarang ganti bajunya. Percaya saja lah.

Tapi sebelum berangkat, aku tanya kepada perempuan yang aku nikahi enam tahun lalu itu, “mau oleh-oleh apa?”. Jawabannya singkat, baju buat anak-anak.

Segera aku menuju stasiun Balapan. Di sana sudah menunggu teman-teman sejawat dengan dandanan terbaik mereka. Aku pikir ngapain dandan? Dandan dandan lawang? Toh hanya Jogja. Yang bagi aku sudah seperti rumah sendiri. Aku ke Jogja itu kayak aku enggak kemana-mana. Ya datar saja. Maka pakaian yang aku kenakan juga seadanya. Kemeja hitam usang berusia lebih dari sepuluh tahun, celana yang biasa aku pakai, sama sepatu yang biasa aku pakai kerja juga. Kali ini ditambah tas yang dibrakoti tikus tadi.

Waktu tiba kereta listrik itu datang. Sekarang pembayarannya pakai uang elektronik. Lebih canggih katanya. Pokoknya kalau serba digital sudah dianggap canggih. Paling enggak mewakili struktur kecanggihan dan menjadi simbol kemajuan. Iya kali. Tapi setelah naik, perasaan sama saja kayak kereta api Prameks dulu. Hanya sekarang karena pandemi diberi beberapa peringatan dan ditata agar berjarak. Itu kalau tak penuh sesak. Kalau penuh sesak ya bakal kemriyek. Kecepatannya juga sama saja. Enggak cepat-cepat amat. Kecuali kalau namanya Kereta Gluduk. Kereta Petir. Sok e cepet.

Kami berangkat pukul 08.17 dari stasiun Balapan. Sampai di statsiun Tugu Yogyakarta, banyak yang menyebutnya dengan stasiun besar, sekira pukul 09.30 lebih malah.

Begitu keluar dari stasiun Tugu aku menyendiri. Teman yang aku hubungi kemarin katanya masih ada agenda. Bisa ketemu siang. Dan dia sudah wanti-wanti agar aku tak buru-buru pulang ke Solo. Karena malam harinya ada acara yang lebih baik aku ikuti. Tidak langsung aku tanggapi. Ini kali keadaan sudah berbeda. Anakku dua di rumah. Istriku satu. Nek tak tinggal yo iso, cuma mesti repot. Apalagi ini tanpa rencana. Mesti ada crash kalau aku tetap memaksa. Meskipun nanti pada akhirnya istri bilang tidak apa-apa. Enggak tahu, rasanya makin kesini kedewasaanku semakin teruji.

Baru mau melangkahkan kaki, “Kami ikut Pak Didik. Kan yang tahu Jogja Pak Didik.”

Duh, malah dikinthili begini. Ya okelah. Toh yang nginthili sebagian besar ciwi-ciwi. Kalau yang nginthili laki-laki bodoh amat kutak sudi.

Begitu selesai kami mengambil gambar berfoto bersama di Selasar Malioboro yang belum juga difungsikan tapi memang kelihatan sudah dipersiapkan sedemikian rupa, kami berpencar. Bubar mbuh do neng ndi sekarepmu dhewe-dhewe. Ono sing neng Taman sari. Ono sing nyewo andong. Ono sing mbecak. Ono sing karo pasangane. Ono sing coba nggolek pasangan. Ono sing kosongan pikirane, itu aku. Sudah berbaur saja, pikiranku berkata begitu. Dinikmati saja kebersamaan dengan mereka yang menginthilimu. Toh mesti ono apike. Dan ono senenge.

Malioboro. Bagiku ini bukan tempat wisata. Ini tempat pengembaraan. Sesuai namanya Malioboro. Sudah banyak dibahas, bahwa tata ruang keraton Yogyakarta itu penuh perhitungan. Termasuk perhitungan filosofisnya. Sila dicari saja. Malioboro, pengembaraan para wali. Dan aku langsung blank. Nafsuku berteriak-teriak minta dituruti. Tapi tetap tak bisa. Kucoba bersikap sewajarnya, malah rasanya semakin aneh saja.

Sampai waktu teman-teman mau makan dan cari toilet umum. Masjid kantor DPRD Yogya yang biasa aku singgahi dulu ditutup karena pandemi. Buka paling waktu malam. Ya sudah berhenti di warung bakso depan hotel Mutiara. Makan-makan, guyon, saling lirik, saling lempar senyum, saling kecroh mengecrohi, saling berbagi cemilan, yang tentu saja bukan cemilanku, saling mengisyaratkan diri seperti enggan berpisah satu dengan yang lain. Kenapa, karena rombongan yang menginthiliku mungkin beberapa bulan lagi aku tak bakal lagi ketemu dengan mereka. Kandidat resign mungkin. Bakalan kangen pasti. Kalian yang kangen aku tapi. Bukan aku yang kangen kalian.

Setelah berhasil puas mengecrohi mas-mas penjual bakso, kami melanjutkan perjalanan lagi. Kali ini minta cari masjid. Aku arahkan ke masjid Muttaqien. Sebelah pasar Bringharjo. Masjid yang juga jadi tempat aku istirahat kalau di Jogja. Letaknya strategis. Diapit oleh beteng Vrederburg, Taman Pintar, Taman Budaya Yogya. Bangunan-bangunan itu berada di satu komplek. Sebenarnya seberang Taman Budaya Yogyakarta ada warung Soto Lamongan yang enak. Enggak terasa memang, waktu kayak cepat berlalu saja.

Di tengah perjalanan di, ada wasap dari Mas Helmi, “Antum mendarat di Kadipiro jam berapa? Ini aku sudah stand by. Jam dua nanti baru ada tamu dari Semarang.”

Kadipiro, gang Barokah, itu tempat aku sinau tulis menulis. Sekitar tiga belas tahun yang lalu aku pertama kali kesini. Dan itu akhirnya terjadi berulang-ulang bolak-balik kesini. Alamiah saja rasanya. Makanya aku bilang, kalau ke Jogja ya harus ke Kadipiro.

Pesan mas Helmi aku balas dengan senang riang gembira, “Abis ini aku kesana. Sekalian makan siang di Syini Kopi. Sudah buka kan? Laper.”

Setelah selesai sholat aku kirim pesan ke koordinator yang menginthiliku. Dijawab dengan pesan suara yang memecahkan telinga, “Pak Didik kan tour guide! Enggak boleh kemana-mana!”

Aku kaget. Sebelahku kaget. Sajadah masjid juga kaget. Lha? Bisa begini yak? Tour guide?

Sehingga yang terjadi selanjutnya bisa tertebak. Aku menjadi tour guide mereka. Gerimis merona. Kayak mau meluk, tapi mau meluk siapa? Kayak mau nggandeng, tapi tangan siapa? Kayak mau eek, tapi eek siapa? Aku ajak mereka blusukan ke pasar Bringharjo supaya tidak kehujanan. Tapi kami tetap dihujani dengan suara bakul-bakul menawarkan dagangan mereka. Tentu tetap dengan menerapkan protokol kesehatan.

Kami menyembul dari pintu utama pasar. Langsung masuk ke warung pecel. Kalian tahu lah ya. Enak. Harganya juga wajar. Tapi aku sarankan tanya dulu kalau mau pesan jeruk baby. Soalnya enggak ada di list menu. Enggak tahu harganya berapa. Tipsnya kan jelas kalau jalan-jalan di tempat wisata cari tempat makan yang ada bandrol harganya. Aku makan. Cukup kenyang. Sepiring nasi pecel, tahu bacem dan segelas kecil es teh.

Kami melanjutkan perjalanan menuju arah stasiun Tugu. Mereka mampir beli baju. Aku nunut. Karena ingat dititipi bojoku. Kebetulan anak salah seorang penginthilku usianya hampir sama dengan anakku, jadi ukuran bajunya aku tiru. Aku beli dua stelan. Anakku kan dua. Istriku enggak aku belikan. Emansipasi. Sambil menunggu mereka aku malah dolanan  hotwheels. Kebetulan anake bakule nggelar dolanan hotwheels. Lumayan. Iso ngang-ngeng ngang-ngeng sebentar mainan mobil-mobilan yang baru-baru ini aku gemari. Mobil tenanan rung nduwe soale. Mbuh nek bar nulis ini terus nduwe.

Setelahnya mereka nglamuti es krim McD. Sambil cari-cari bakpia. Akhirnya bakpia menyihir mereka. Mereka berhamburan entah kemana. Katanya ke pabrik bakpia 25 yang melegenda. Pesan becak dan wush, aku sendiri.

Kesempatanku mblayang. Pesen grab bike menuju Kadipiro. Pikirku meski sebentar aku harus kesana. Paling enggak mengisi energi menulisku yang mulai raib. Sampai di Syini Kopi mendung. Aku pesan teh jahe sambil menunggu mas Helmi selesai meeting dengan tamu dari BPK Semarang. Sudah banyak yang berubah tempat ini. Pikirku.

Sudah hampir habis separo teh jahe dan menjelang Ashar, mas Helmi keluar menemuiku. Cerita sebentar, dan ujung-ujungnya,

“Ya antum, sambil tunggu arsip-arsip skripsi aku kirim, bolehlah menulis yang lain dulu. Ayolah.”

“Okey mas.”

“Ya antum di sini saja sampai malam. Soale nanti malam ada live streaming dengan pihak Sukun Kudus. Ya antum bisa nulis nulis dikit lah.”

“Waduh mas. Belum bilang bojo e.”

“Ya enggak apa-apa. Aku enggak maksa aku ikhlas kok.”

“Aku malah sing gak ikhlas mas. Hahaha... soale ijek pengen neng kene.”

Ya, mesti nek kesini mesti ketiban tugas dan tugas. Bagiku itu beban. Awalnya. Tapi aku pikir, apa salahnya sih. Toh aku menulis juga bukan untuk ketenaran, kekayaan. Kalau bisa tenar dan kaya ya syukur. Kalau enggak, ya semoga aku tidak kehilangan kenikmatan menulis. Sekalian belajar menejemen waktu. Berhasil syukur, enggak berhasil ya belajar lagi. Dicoba lagi. Sampai kapan? Enggak ada jawaban yang pasti. Mati mungkin?

Pertemuan singkat itu segera berlalu. Aku memesan grab bike ke arah stasiun Tugu. Mendung menggantung. Kayake hujan segera turun. Mas ojol datang hatiku riang.

Baru setengah jalan lha kok mak bres! Udan deres ora karu-karuan. Mas ojol meminjami aku manthol. Sepatu aku lepas kami kembali bergegas. Supaya tidak tertinggal jadwal commuter pukul 15.50. Ngebut lagi menerjang hujan dan genangan-genangan. Termasuk kenangan. Karena bukan baru kali ini saja aku udan-udan neng Jogja. Wes biasa. Magrib seko Parang Tritis arah Solo numpak astrea Grand Impressa mok nganggo manthol, tanpa pakaian ya wes tau. Iso muntah-muntah turut ndalan. Dhewean sisan. Jenenge ae cah goblok.

Dan tekan pintu utama, stasiun Tugu kegoblokanku terbukti lagi.

“Lho mas ora sing sebelah parkiran kono to?”

“Ora i mas. Titik mu neng kene i.”

“Waduh. Udan deres e mas.”

“Lha piye mas?”

Tidak aku lanjutkan. Aku bayar ojol. Setengah berlari ora sepaton aku menuju loket di pintu lobi utama stasiun Tugu itu. Di depan petugasnya,

“Pak commuter bisa lewat sini?”

“Waduh. Nek KRL pintu sebelah selatan sana mas.”

Asyem-asyem. Aku misuh-misuh dengan lirih. Goblok tenan. Wes ping piro neng Jogja le le. Kok iseh salah panggon sih? Iya sejak era prameks dan sebelum beralih ke KRL memang pintu keluar dan pintu masuk berada di sebelah selatan.

Aku dihubungi temanku. Disuruh cepat. Aku bilang duluan saja. Aku pakai kereta setelahnya. Dia bilang masih ada waktu tujuh menit. Aku bilang sudah tidak mungkin. Hujan deras sekali soale. Agak berat sebenere kalau enggak segera pulang. Tapi dingin ini, basah ini, dan sendiri ini pasti bakal mengajariku banyak hal. Ada yang memang harus diikhlaskan. Angan dan mimpi, apalagi fantasimu datang bertubi-tubi. Tapi realitas tak boleh asal ditabrak. Iso tak langgar realitasku, tapi mesti ngko ono sing kacau.

Aku menunggu agak reda. Karena kereta yang aku tumpangi masih satu setengah jam lagi. Sekira hampir jam lima sore hujan berkurang. Aku melangkah lagi, menuju angkringan yang berada tepat di dekat rel di depan Loko Cafe. Enggak. Aku enggak milih Loko Cafe. Iya. Aku cuma ingin teh anget. Adem soale.

Di sana, di angkringan itu aku menikmati obrolan bapak penjual ronde dan kakek penjual asongan.

“Diganti lah. Sing ndangdut. Sing penyanyine menthul-menthul.”

Aku mesem. Ngampet ngguyu. Dan tenan gawai yang tertempel di gerobak wedang ronde itu menampilkan biduan yang bernyanyi lagu Dangdut. Menthul-menthul yoan. Bodo amat dengan suara yang enggak sampai menyanyikan reff lagu Tepung Kanji. Yang penting menthul-menthul.

Teh hangat dan satu keripik tempe tandas. Tiga ribu rupiah saja. Kemudian aku bergegas menuju pintu selatan Stasiun Tugu.

Sampai di sana ketemu dua temanku, suami istri yang akan melanjutkan perjalanan ke Kebumen. Mereka kaget. Kok bisa tahu mereka duduk di mana. Lupa to kalau aku dukun? Obrolan, lebih tepatnya menertawakan apa yang terjadi kepadaku terasa seru. Tapi itu segera berlalu. Kereta tiba. Kami berpisah.

Aku menunggu KRL yang jadwalnya molor. Berkali-kali suara perempuan meminta maaf melalui pengeras suara karena keterlambatan datangnya kereta. Aku pikir, bodoh amat. Itu bukan urusanku. Urusanku adalah, tidak ada.

Dan tulisan panjang ini membuktikan, bahwa energiku masih ada. Bahkan ini kali pertama aku bisa menulis 2500 kata lebih. Ada maknanya atau tidak. Berguna atau tidak. Sing penting aku wes ninggal jejak. Toh hidup hanya sekali. Kalau berkali-kali namanya bukan hidup, tapi cicilan.

Buat kamu yang baca ini sampai selesai, i love so much!

20.56, Sukoharjo, 3 April 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...