Langsung ke konten utama

Postingan

Malaikat Pelukis Iler

Sebentar, selonjoran dulu. Soalnya kemaren habis jalan-jalan. Liburan saya. Biar orang mengira saya seorang pekerja. Pekerja kan butuh liburan. Ini masih ngantuk-ngantuk. Apa? Nggak lah. Justru karena itu saya terlihat makin tampan. Iya. Kalian nggak harus setuju sih. Tapi model paling jujur sedunia adalah 'Bangun Bobo' mode on. Wajah terlihat apa adanya. Dimana iler yang mengering di sekitar mulut membentuk sebuah rangkaian abstraksi yang artistik. Lho iya kan? Kalian nggak sadar sih. Sebenarnya ada malaikat yang membentuk motif iler itu lho. Tenang aja malaikat bukan makhluk Mars kok. Susah lho itu bikinnya karena setiap manusia memiliki motif iler kering yang berbeda. Jadi pas tubuhmu tergeletak tak sadarkan diri, malaikat yang biasa menjagamu lantas mengambil kayu kecil seukuran korek api. Kemudian dia mendekati tubuhmu pelan-pelan supaya tidak menimbulkan goncangan yang bisa mengakibatkan kamu tersadar dan bangun dari bobomu. Pernah mengalami mimpi kan? Mimpi itu sebenar...

Kamu, Cerminku

Ini Senin, dan saya belum pernah merasa setampan ini sebelumnya. Dari dulu belum pernah. Kalau bisa dirata-rata sejak kecil saya sangat benci dengan cermin. Terhadapnya saya tidak memiliki antusias. Atau bahasa sekarang menyebutnya saya orang yang tidak terdidik untuk menonjolkan kepercayaan diri sendiri. Itu kenapa kata teman-teman psikologi saya lebih banyak mengalami kehilangan demi kehilangan. Genggaman saya terhadap sesuatu yang sangat cintai sangatlah lemah. Genggaman yang rentan dan mudah sekali terlepaskan. Tak apa itu versi mereka, dan saya sepakati pendapat mereka. Toh, sebelum mereka melemparkan pernyataan semacam itu mereka sudah melakukan penelitian demi penelitian dan mengumpulkan teori sebanyak dan se-valid mungkin. Yang jelas, saya belum pernah merasa setampan ini. Cermin itu benda paling memuakkan sejagat raya. Itu benda yang seolah-olah menegaskan siapa diri saya tapi ternyata dia juga yang menipu saya habis-habisan. Saya membuang energi dengan mempercayai apa ya...

Betapa Setianya Aku

Yeah! Sepertinya saya cukup bersemangat sekali untuk menulis hari ini. Tak pernah se-bergairah ini. Udara pagi lagi baik sama saya. Tadi saya ngomong sebentar sama dia. "Kamu tumben baik banget sama aku." tanyaku. "Ye! Aku juga tiap pagi, tiap hari berganti juga pasti dibilang baik sama manusia. Menyegarkan hidup mereka katanya." tutur udara. "Salah siapa situ labil!" bentakku, "Kalau pagi seger, begitu siangan dikit aja, eh udah panasnya minta ampun!" "Hus!" giliran udara menghardikku, "Kamu tuh yang bodoh! Aku stabil bukan labil! Manusia itu yang bikin kita, makhluk udara, jadi labil begini!" udara bertambah sewot. Saya nyengir. Taulah, bisa tersinggung juga udara. Makanya sekarang saya kalau bangun pagi, lebih tepatnya kalau bisa bangun pagi, lebih tepatnya lagi, kalau beruntung bisa bangun pagi, saya suka menyapa makkhluk berjenis udara itu. Ada rumusnya kalau mau. Mau nyoba? Tapi ini cara saya lho.  Perta...

Boediono dan Embargo Mars

Maaf lama ya nunggunya. Kemaren ada meeting sama beberapa perwakilan dari Mars. Tiga makhluk. Dari wilayah api, udara, sama tanah. Iya mereka hanya punya unsur itu sekarang. Karena perwakilan air sudah didelegasikan untuk tinggal di bumi. Sebagai duta besar Mars di bumi. Makanya Mars sekarang warnanya merah. Dulu sih mirip dengan bumi. Tapi karena perwakilan unsur air dikirim ke bumi jadilah ia terkesan gersang gitu. Apanya? Bentuk apanya? Fisik? Jiah! Mereka lebih tampan dari artis Korea yang cowok. Beneran. Tapi masih gantengan saya sih.  Iya, mereka datang menemui saya. Lebih tepatnya memenuhi undangan dari saya setelah sekian lama. Iya kalau anda baca buku Sarjana Masbuk di bab paling awal, mereka sebenarnya mau datang ke bumi gara-gara hanya jatuh cinta sama tempe penyet lamongan. Seminggu mereka disini. Aslinya hanya sehari yang saya jadwalkan, tapi karena mereka sudah kangen sama bumi. Sudah lama nggak ada yang mengundang ke sini. "Dulu sering nenek moyang kami ket...

Mahasiswa Religi-US

Oke. Saya akan memulai catatan ini dengan sedikit berita kehilangan. Boleh di-skip bagian ini. Kalau bisa. Kalau nggak ya boleh dibaca meski dengan sangat terpaksa. TELAH HILANG: Tas Imut berwarna Hitam berisi: 1. Sepasang sarung tangan warna hitam seharga Rp. 15.000,- (kondisi 99% amburadul) 2. Masker seharga Rp. 5.000,- (kondisi 99% terkontaminasi air liur) 3. Uang tunai Rp. 8.000,- (terdiri dari pecahan seribu dan dua ribuan) 4. Card reader mungil senilai Rp. 6.000,- 5. Pulpen seharga Rp. 1.500,- 6. Flashdisk 256 MB seharga Rp. 130.000,- (di tahun 2006 segitu harganya) Bagi yang menemukan, tolong barang nomor 2 langsung dibawa ke laboratorium untuk disterilkan terlebih dahulu. Barang nomor 5 nggak usah digunakan untuk menyimpan file-file film drama Korea. Nggak MUAT! Terus kalau nemu file-file skripsi langsung di delete aja. Itu skripsi terkutuk! Pantas dilaknat kaum-kaum intelek negeri ini! Percaya sama saya! Beneran! Kalau anda cerdas, anda pasti memiliki ...

Penyakit dan Orang Tua

Lagi-lagi saya harus memetakan tubuh saya sendiri, memahami anatomi tubuh saya sendiri. Meskipun sudah tua begini, sampai sekarang saya belum khatam terhadap tubuh saya sendiri. Agak repot juga. Makanya sekarang saya harus lebih sering meneliti tubuh saya sendiri daripada menelaah tubuh orang lain. Egois? No. Jangan secepat itu menyimpulkan sesuatu, karena ini bukan sekedar tali yang dapat dengan mudah disimpulkan begitu saja. Egois itu seolah kita mengerjakan sesuatu untuk orang lain, tapi sejatinya itu untuk kepentingan diri sendiri. Jadi kalau niatnya untuk orang lain ya dikerjakan semaksimal mungkin untuk orang lain. Perkara nanti kita kena imbasnya, itu hukum otomatisasi. Paham?  Sewaktu kecil, kelas 1 SD mungkin, saya pernah punya sejenis penyakit yang diderita Nabi Ayyub AS. Gatal-gatal. Tentu saja skala penyakitnya tak sebesar kanjeng Nabi Ayyub. Gatal-gatal di kaki yang kadang sampai muncul nanah juga. Kalau penilaian orang lain saat itu, penyakit saya cukup parah seb...

Puasa, Batal Deritamu

Ramadhan. Iya. Ramadhan kali ini tak banyak yang berubah pada diri saya. Susah memang jika punya wajah ganteng permanen kayak gini. Mandi salah nggak mandi juga salah. Sama-sama tetep ganteng soalnya. Bapak ibu kalau baca ini pasti seneng. Iya sih. Kalau menurut saya memang seharusnya semakin bertambah usia manusia, semakin muda bukan malah semakin tua. Dan tentu saja semakin ganteng. Kan katanya besok kita akan mengalami fase seperti anak kecil lagi. Berarti semakin muda dong bukan semakin tua. Bingung ya? Saya juga bingung kok. Kalau nggak membingungkan bukan saya namanya. Karena ketrampilan hidup saya cuma dua. Satu berbohong, dua membingungkan orang lain. Terus semakin bertambahnya usia, juga harus mampu untuk mengurangi makan dan tidur. Apa nggak bosen, masa usia bertambah, makan tidurnya juga ikut bertambah. Harusnya mampu dikurangi dong. Saya sih maunya mampu kayak gitu. Yang bilang tidur yang ideal harus 8 jam sehari siapa? Sini sini tak traktir granat! Itu kan perhitungan...