Langsung ke konten utama

Mahasiswa Religi-US

Oke. Saya akan memulai catatan ini dengan sedikit berita kehilangan. Boleh di-skip bagian ini. Kalau bisa. Kalau nggak ya boleh dibaca meski dengan sangat terpaksa.

TELAH HILANG:
Tas Imut berwarna Hitam berisi:
1. Sepasang sarung tangan warna hitam seharga Rp. 15.000,- (kondisi 99% amburadul)
2. Masker seharga Rp. 5.000,- (kondisi 99% terkontaminasi air liur)
3. Uang tunai Rp. 8.000,- (terdiri dari pecahan seribu dan dua ribuan)
4. Card reader mungil senilai Rp. 6.000,-
5. Pulpen seharga Rp. 1.500,-
6. Flashdisk 256 MB seharga Rp. 130.000,- (di tahun 2006 segitu harganya)
Bagi yang menemukan, tolong barang nomor 2 langsung dibawa ke laboratorium untuk disterilkan terlebih dahulu. Barang nomor 5 nggak usah digunakan untuk menyimpan file-file film drama Korea. Nggak MUAT! Terus kalau nemu file-file skripsi langsung di delete aja. Itu skripsi terkutuk! Pantas dilaknat kaum-kaum intelek negeri ini! Percaya sama saya! Beneran!

Kalau anda cerdas, anda pasti memiliki pertanyaan begini, "Kenapa benda nomor 2 dan nomor 5 saja yang menjadi perhatian seorang spesies tanpa insang bernama Didik? Kenapa tidak semuanya? Padahal yang namanya kehilangan adalah kehilangan. Kehilangan tidak mengenal level. Atau memang kehilangan itu bertingkat? Sesuai tingkat rasa kepemilikan kita terhadap sesuatu?". Mulai menarik kan pembahasannya? Maklum, udah sarjana sih. Iya. Sombong dikit boleh kan? Tapi benarkah demikian itu?

Untuk barang nomor 2, saya memiliki rasa khawatir yang cukup tinggi. Karena kalau sampai jatuh ke tangan yang salah, khususnya ilmuwan-ilmuwan jahat, masker itu nantinya akan diteliti sedemikian rupa untuk menciptakan monster paling menjijikan di muka bumi ini. MONSTER LIUR. Monster seperti di film-film itu? Yang bentuknya digambarkan secara buruk rupa? Oh tentu saja tidak. Monster Liur tidak berparas buruk. Dia berparas tampan. Anggap saja seperti saya. Hanya saja dia memiliki air liur yang berbahaya. Jika air liur tersebut berpindah ke bagian tubuh makhluk lain, maka makhluk tersebut secara alami akan mengikuti seluruh perintah si Monster. Apa yang dikatakan si Monster akan dilakukan sercara suka rela tanpa bayaran. Tanpa gaji hasil sertifikasi. Mengerikan bukan? Makanya saya sangat mewanti-wanti untuk siapa saja yang menemukan masker saya itu dimohon untuk segera membakarnya. Oke skip saja paragraf ini. Paragraf-paragraf sebelumnya juga. Sudah?

Sebenarnya saya ingin curhat masalah flashdisk saya yang 256 MB itu. Catet ya. MB. Mega Byte. Atau seperempat Giga byte. Itu flashdisk pertama yang pernah saya miliki. Dia yang menemani saya bertahun-tahun. Sempat menjadi tempat naskah-naskah juga. Termasuk naskah buku Sarjana Masbuk. Dia yang menyimpannya dalam bentuk word. Mau nangis rasanya. Saya beli ketika saya masih jaya-jaya nya menjadi mahasiswa semester 5. Itu sekitar tahun 2006-2007 kalau perhitungan saya tidak meleset. 

Di suatu pagi yang cerah, Didik Wahyu Kurniawan, seorang mahasiswa imut jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta sedang berada di kampus untuk mengikuti mata kuliah menabuh gamelan. Tiba-tiba seorang dosen pengampu memanggilnya.

"Didik?"
"Iya pak saya?"
"Kamu sudah mengajukan beasiswa?"
"Belum pak. Saya tidak mengajukan beasiswa apapun."
"Mau beasiswa?"
"Beasiswa? Mau mau pak."
"Ya sudah. Sehabis mata kuliah ini kamu pergi ke akademik. Bilang saja mau mendaftar mengajukan beasiswa dari propinsi. Lumayan itu."
"Iya pak."

Kemudian setelah jam kuliah Didik menuju ke akademik. Dan pendaftaran beasiswanya segera di proses. Tahulah kalian cerita selanjutnya. Iya saya mendapat beasiswa dari pemerintah propinsi itu. Dulu kalau nggak salah nominalnya Rp. 1.200.000,- dipotong pajak. Pajak apa juga nggak ngerti. Lumayan bisa buat bayar spp. Nah duit sisa pembayaran spp itulah yang saya gunakan untuk membeli flashdisk di toko yang direkomendasikan oleh teman saya. Saya mampunya beli yang 256 MB. Jaman itu kalau punya flashdisk 500 MB aja sudah dianggap Dewa. Apalagi yang 1 Giga. Sudah kayak orang yang paling ngerti dunia komputer. Sudah bisa buat menyimpan film macem-macem. Dari film berwarna, hitam putih, sampai film satu warna, blue film. Besok-besok saya mau buat rainbow film. Nah itu. Sampai mana tadi? 

Iya. Dulu sudah sangat bersyukur sekali mampu memiliki flashdisk 256 MB karena di kampus masih era disket 3,5 floopy. Saya rawat flashdisk itu. Sejak saat itu saya tidak pernah membeli flashdisk lagi. Sampai di tahun 2013 ini saat flashdisk berkapasitas 32 Giga dijual kayak krupuk, saya masih setia bersama flashdisk 256 MB. Sering ditertawakan teman-teman karena tidak muat untuk menyimpan file-file film. Maaf teman-teman, mulai sekarang saya kalau nonton film milih di bioskop saja. Saya bukan pendukung gerakan kapitalisme. Tapi sorry kalau saya harus melanggengkan gerakan copy-copy tanpa tahu darimana sumber file itu. Oke. Nggak masalah kalau kalian menganggap bahwa dengan copy mengcopy file film itu akan membatu popularitas dari film dan aktor tersebut. Tapi sekali lagi maaf. Ini tirakat saya sekarang. Pun kalau mendownload, saya cari yang legal. Tidak asal download. Termasuk dengan lagu-lagu. Saya tidak berani asal mendownload saja. Hasil download an dulu sudah saya delete semua. Nggak tahu salah apa benar cara saya ini. Saya merasa harta yang ada pada saya sekarang ini banyak yang haram. Saya nggak mau lagi menumpuk harta-harta yang nggak jelas. Kalaupun mendengarkan musik saya pilih menonton live panggung. Karena di sana saya benar-benar merasakan atmosfer yang berbeda dan banyak ilmunya dari yang hanya sekedar mendengarkan mp3. Apalagi mp3 yang kualitasnya rendah. Maaf. Kalau kalian punya karya, dan karya itu sudah di publish dan layak dijual, kalian akan tahu rasanya. Iya, tidak perlu ijin memang untuk mendownload seperti itu, tapi saya nggak mau melakukannya.

Bahkan teman saya yang juga penulis buku tidak percaya, kalau flashdisk saya cuma 256 MB itu dan saya tidak punya komputer apalagi laptop. Tapi kok saya sudah punya buku karya sendiri. Kok kamu, saya juga nggak percaya. Dan memang nggak mau percaya pada apa yang sudah terjadi. Bahwa saya penulis? Preeet! Itu kan cuma bagian dari proses yang harus saya syukuri. Yang harus mau saya jalani untuk sementara waktu. Di lain tempat saya dikenal sebagai anggota grup nasyid. Di belahan bumi lain saya disinyalir pelaku perdagangan on line. Di satu hati, saya disetujui sebagai salah satu penghuninya. Iya hidup ya kayak gitu. Gampang berubah. Hari ini bujang, besok sudah jadi suami orang. Semua juga bisa di-professional kan kalau mau. Tapi saya saya yakin tidak semua-nya bisa diprofessionalkan. Ini saya bahas apa tadi sampai kesini. Nggak apa-apa ya? Masih sanggup baca kan? Belum nyambung dengan judulnya? Sabar ya kakak.

Dia juga yang menyimpan file skripsi saya bertahun-tahun. Bagi saya dia sangat berjasa. Dia saksi betapa religiusnya saya saat menjadi mahasiswa S1. Saya kuliah S1 hampir 9 tahun. Dan kalian harus tahu, bahwa mahasiswa religius itu mahasiswa yang tak kunjung lulus. Karena dia lebih banyak dan lebih seing memanjatkan doa. Selalu mendekat kepadaNya. Berkeluh kesah hanya kepadaNya. Selalu menyapa Tuhan, "Ya Tuhan, kuatkan aku untuk menghadapi pertanyaan 'Kapan lulus?' Tuhan. Kuatkan aku Tuhan. Kuatkan aku untuk memasang muka 'kasihan' di hadapan dosen pembimbing Tuhan.  Kuatkan aku Tuhan..."

Dan ini tidak hanya berlaku bagi mahasiswa S1 saja, tapi bisa juga semuanya, yang sedang, dan masih belajar. 

"Kalau kalian mau terus belajar dan mengambil hikmah atas pelajaran, hanya sejengkal jarak kalian dengan Tuhan...."

"Woy! Tuhan lebih dekat daripada itu kaleeeee...." kata si Monster sambil meneteskan liurnya ke dalam cangkir minumanku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...