Ramadhan. Iya. Ramadhan kali ini tak banyak yang berubah pada diri saya. Susah memang jika punya wajah ganteng permanen kayak gini. Mandi salah nggak mandi juga salah. Sama-sama tetep ganteng soalnya. Bapak ibu kalau baca ini pasti seneng. Iya sih. Kalau menurut saya memang seharusnya semakin bertambah usia manusia, semakin muda bukan malah semakin tua. Dan tentu saja semakin ganteng. Kan katanya besok kita akan mengalami fase seperti anak kecil lagi. Berarti semakin muda dong bukan semakin tua. Bingung ya? Saya juga bingung kok. Kalau nggak membingungkan bukan saya namanya. Karena ketrampilan hidup saya cuma dua. Satu berbohong, dua membingungkan orang lain.
Terus semakin bertambahnya usia, juga harus mampu untuk mengurangi makan dan tidur. Apa nggak bosen, masa usia bertambah, makan tidurnya juga ikut bertambah. Harusnya mampu dikurangi dong. Saya sih maunya mampu kayak gitu. Yang bilang tidur yang ideal harus 8 jam sehari siapa? Sini sini tak traktir granat! Itu kan perhitungan rata-rata saja, dan tidak bisa diterapkan untuk semua manusia di muka bumi ini. Idealnya siapa? Terus makan harus 3 kali sehari demi kesehatan. Yang bilang siapa? Sini sini tak beliin tiket ke planet Mars! Kita puasa diajari cuma 2 kali sehari makan. Sahur dan buka. Dengan catatan kita nggak kebablasan tidur di waktu sahur dan ada sesuatu untuk dimakan pas waktu buka tiba. Kalau nggak ya bisa seharian nggak makan. Sahur juga boleh cuma dengan air putih. Buka juga boleh dengan kurma 3 biji. Iya 3 biji. Bukan 3 kg kurma ya. Paham? Puasa itu tidak hanya bagaimana mengatur pola makan, tapi juga melatih imun, ilmu kekebalan tubuh kita sehingga kita berani untuk berteriak lantang, "AKU ORA MANGAN ORA OPO-OPO!". Ini anak dibilangin nggak ngerti-ngerti juga. Gemes deh ah!
Gini. Kan mekanisme dasarnya itu, sahur, puasa, buka. Ini jangan sampai terbalik-balik. Kalau terbalik hidupmu bakal kacau. Kalau mau puasa, paling nggak dahuluilah dengan sahur. Kalau mau merasakan nikmatnya buka, ya setidaknya puasa dahulu. Sahur itu tindakan antisipatif untuk berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan yang terjadi yang tidak kita ketahui sebelumnya. Itu kenapa sahur letaknya di awal hari. Kalau terminologi Jawa, sahur itu berarti membayar. Membayar itu ada dua, pra bayar, dan pasca bayar. Sahur ini termasuk pra bayar, alias membayar di awal. Puasa, itu tadi latihan massal untuk tidak begitu mementingkan makan dan pengendalian imun tubuh. Sebenarnya tubuh kita itu sudah paham terhadap kebutuhannya sendiri dan melakukan puasa-puasa kecil. Puasa yang bisa berlangsung seumur hidupnya. Ada yang puasa terhadap udang dan seumur hidup nggak mau makan udang. Ada yang puasa terhadap daging kambing. Ada yang puasa terhadap minuman bersuhu dingin. Ada yang puasa terhadap penyedap makanan. Macem-macem lah. Ngerti maksut saya? Nah gitu dong. Cerdas dikit kenapa sih? Cerdas juga nggak mahal kok. Yang mahal itu biaya pendidikan yang seolah-olah mampu mencerdaskan. Sekarang buka. Buka itu proses pembatalan penderitaanmu. Begitu buka, batal lapar mu, batal haus mu, batal derita yang kau rasakan seharian tadi dan kau akan tersenyum cerah begitu tahu bahwa ternyata hidupmu nggak menderita-menderita banget. Paling kan suka sama anak orang terus ditolak melulu. Iya kan? Paham ya? Anak pinter harus paham dong. Nah kalau senyum gitu kan tambah cakep.
Semoga peradaban sekarang masih mengusung mekanisme dasar itu dengan benar. Tapi kok rasanya sudah nggak ya. Kayaknya, kayaknya lho ini, sekarang kok sudah terbalik menjadi, buka, sahur, puasa. Puasa belum mulai saja sudah membuat jadwal buka bersama. Puasa belum mulai sudah membuat rundown acara televisi di waktu menjelang buka dan sahur. Apa ini karena saking mulianya manusia untuk saling berbagi ya? Iya sih manusia Indonesia kan suka berbagi. Berbagi dengan Amerika, dengan Palestina, dengan Australia, dengan Mesir, dengan siapa saja kita berbagi kok. Jadi seneng dilahirkan di Indonesia. Bangga deh rasanya. Rasanya setiap hari ingin melakukan upacara bendera deh. Kenapa sih cuma hari senin dan hari-hari nasional tertentu saja upacaranya. Bagi saya itu kurang gregetnya. Setiap hari juga nggak apa-apa kok ada upacara bendera.
Iya sih jadi manusia Indonesia itu nggak menderita-menderita banget kok. Saya yakin Tuhan itu sayangnya minta ampun sama saya. Ibadah juga nggak dituntut-tuntut banget, hanya sekian persen saja dari seluruh aktivitas hidup kita. Sholat sholat. Ngerti sholat ya? Itu ibadah yang katanya pertama kali dihitung di akherat nanti aja boleh ditawar kok. Kalau nggak bisa berdiri, ya duduk. Kalau nggak bisa duduk ya berbaring. Kalau nggak ada air pakai debu, tayamum. Boleh diringkas juga rakaatnya. Kan aneh itu. Puasa juga gitu. Kalau mau sebenarnya Tuhan bisa saja mewajibkan puasa untuk manusia setiap bulan tidak hanya di bulan Ramadhan. Tapi kan kesannya nanti Tuhan kurang kreatif. Kayak ide saya tentang setiap hari upacara bendera tadi. Puasa juga boleh diganti harinya, jika berhalangan. Wajib, tapi bisa dilakukan dengan cara yang lain.
Kamu harus mau menderita, tapi boleh juga memaknai dan menikmati penderitaan itu dengan cara lain. Kamu harus mau menderita, tapi jangan lupa bersyukur dan berbagilah begitu tahu penderitaanmu dibatalkan saat malam menjelang....
*nyari topi, berangkat upacara*
Komentar
Posting Komentar