Langsung ke konten utama

Kamu, Cerminku

Ini Senin, dan saya belum pernah merasa setampan ini sebelumnya. Dari dulu belum pernah. Kalau bisa dirata-rata sejak kecil saya sangat benci dengan cermin. Terhadapnya saya tidak memiliki antusias. Atau bahasa sekarang menyebutnya saya orang yang tidak terdidik untuk menonjolkan kepercayaan diri sendiri. Itu kenapa kata teman-teman psikologi saya lebih banyak mengalami kehilangan demi kehilangan. Genggaman saya terhadap sesuatu yang sangat cintai sangatlah lemah. Genggaman yang rentan dan mudah sekali terlepaskan. Tak apa itu versi mereka, dan saya sepakati pendapat mereka. Toh, sebelum mereka melemparkan pernyataan semacam itu mereka sudah melakukan penelitian demi penelitian dan mengumpulkan teori sebanyak dan se-valid mungkin. Yang jelas, saya belum pernah merasa setampan ini.

Cermin itu benda paling memuakkan sejagat raya. Itu benda yang seolah-olah menegaskan siapa diri saya tapi ternyata dia juga yang menipu saya habis-habisan. Saya membuang energi dengan mempercayai apa yang saya lihat di cermin. Untuk bahan introspeksi? Iya, namun ternyata itu bukan fungsi yang utama. Lebih seringnya saya terlena atau akibat yang lebih fatal adalah minder semindernya. Kok rambut saya nggak lurus? Kok hidung saya nggak mancung? Ini kenapa jerawat tiba-tiba minta dipanen gini? Kok bulu hidung menjulur panjang sepanjang jembatan Suramadu? Oh ternyata aspal masih kalah hitam dengan kulit saya? Dan akan lebih banyak lagi muncul pertanyaan demi pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dipertanyakan. Jadi bercermin salah? No. Tak ada yang salah. Cuma saya sudah tidak perduli dengan cermin-cermin kaca itu. Males beud! Iya saya masih sering bercermin. Tetapi saya tidak pernah mempercayai apa yang terlihat di cermin. Saya tunjuk-tunjuk cermin sambil berkata, "Dasar pembohong! Dasar tukang tipu!"

Bentar, garuk-garuk dulu. Mungkin karena malu sehingga lebih baik aku menjauhimu, cermin. Malu karena sudah tak tehitung jumlah orang yang kecewa lantaran keberadaan saya. Mungkin ini dosa yang sulit diampuni. Dari dulu tak ada prestasi yang bisa diwujudkan. Lebih sering membuat orang tua marah daripada membuat mereka tersenyum cerah. Mau masuk sekolah kalau sudah tahu bahwa akan pulang pagi atau seharian jam pelajaran kosong. Benar-benar tak ada yang bisa dibanggakan. Maka terhadap orang-orang yang sudah sering kubuat kecewa karena tidak amanahnya saya, saya minta ma, bentar garuk-garuk dulu, maaf.

Bentar-bentar. Ini kenapa jadi gatal gini sih tubuhnya. Padahal udah mau nulis yang serius lho. Eh, enak aja. Saya sudah mandi! Ih beneran ini. Kenapa gatalnya mobile gini. Ini hape apa gatal sih! Dari kepala pindah ke tangan. Dari tangan pindah ke kaki, pindah lagi ke sekitar perut. Hai gatal! Nggak capek kamu lari-lari terus kayak gitu! Beri waktu aku setengah jam untuk menyelesaikan ini! Nah gitu dong. Oke, yang sabar ya gatal. Gatal sabar disayang Tuhan. 

Menghela nafas dulu. Kalau mau menulis serius itu harus bisa mengatur pernafasan. Biar tulisannya stabil, yang membaca juga bisa mencerna dengan mudah. Nggak enak kan kalian baca yang bagian 'bentar-bentar garuk-garuk dulu'. Mungkin akan saya ulangi dari bagian yang, uhmmm, yaaaang, oke ini aja.

Iya. Maaf untuk semua yang sudah sering saya kecewakan. Saya tahu saya belum amanah. Karena sebentar lagi lebaran, jadi saya mohon untuk dimaafkan. Saya baru tahu, kalau kamu tidak amanah, rezekimu akan dipindah. Saya punya sedikit cerita untuk kalian tentang ini. Dan saya suka menangis kalau ingat cerita ini.

Suatu waktu, tersebutlah seorang pengusaha muda yang bergerak di bidang niaga. Dengan sekuat tenaga pengusaha muda itu mencoba menerapkan cara berjualan yang aneh dan tidak semua orang mau melakoninya. Meski cara itu masih digunakan untuk kolega-kolega terdekat saja. Teman dan sahabatnya. Saat menawarkan barang dagangannya, dia sering berkata,
"Uhmm, saya ambilnya sekian. Terserah kamu mau memberi untung saya berapa."

Cara ini sebenarnya cukup disayangkan oleh beberapa teman yang kebetulan menjadi pengusaha juga. 
"Kalau caramu seperti ini, kapan kamu bisa kaya? Kalau kamu tidak kaya, hanya sedikit orang yang bisa kamu bantu. Jualan itu ya nyari untung."

Setiap mendengar hal-hal semacam ini, tidak ada yang bisa dilakukan selain tersenyum. Karena perkataan temannya tadi tidak salah. Selama ini jumlah uang terbesar yang pernah mengisi tabungannya hanya sebesar lima juta rupiah. Tidak pernah lebih dari itu. Padahal kalau dia mau membesarkan bisnisnya, mau tidak mau dia harus memperbesar modalnya. Mungkin dengan cara berhutang. Tapi dia tidak pernah mau melakukan hal itu namun tetap bersikukuh menjalankan perdagangannya. Sebenarnya apa yang telah terjadi terhadap? Bagi orang lain mungkin dia sedang melakukan bunuh diri. Dia lebih bodoh daripada kedelai. Lebih bodoh daripada monyet. Karena konon monyet saja bisa mencari uang. Atau sedekahnya yang kurang. 

"Ini harga yang harus saya bayar. Ini modal saya. Bukan uang yang banyak, tapi amanahnya. Saya takut kalau tidak amanah. Saya sudah sering membuat kecewa banyak orang. Saya tak lancar mengaji. Sholat juga masih seperti itu, pikirannya sering kesana kemari. Cuma baru sebatas itu yang bisa saya lakukan." begitu ujarnya kepada seorang perempuan.
"Tapi mas, kalau begitu caranya bagaimana kamu menghidupi keluargamu kelak?"
"Belum tahu. Yang penting saya bisa mengukur, saya amanah atau tidak. Kalau bisa dipercaya, saya yakin rezeki akan datang dengan sendirinya. Karena rezeki itu hanya akan datang kepada orang-orang yang memang punya tanggung jawab untuk memikul amanah."
"Kamu aneh mas."
"Iya. Saya kalau berjualan, apalagi kalau sama teman sendiri selalu saya bilang harga belinya apa adanya lalu terserah dia mau memberi untung saya berapa."
"Mas, Kanjeng Nabi juga kayak gitu kalau berjualan."

Entah benar atau tidak perkataan perempuan itu, pengusaha itu tiba-tiba tak bisa menghentikan air matanya. Matanya menangis, mulutnya tersumbat tapi hatinya bersholawat. Dia lantas ingat, betapa sebenarnya sangat berat hidup dengan memikul amanah yang besar. Sepertinya sederhana tapi menjadi orang yang bisa dipercaya orang lain itu tidak gampang. Namun segera dia tersenyum sambil menatap langit dan hatinya terus memanggil-manggil Kanjeng Nabi. Di sisi lain dia memang belum bisa membuat orang sekitarnya bangga, tapi dia tahu, di sana Kanjeng Nabi membalas senyumnya. Dan tidak ada yang lebih menggembirakan selain melihat langsung senyum Kanjeng Nabi. Hatinya, hangat. Karena dia tahu, dunia ini selalu lebih memaksa manusia untuk berbuat kecurangan- kecurangan dan kebohongan-kebohongan yang bahkan dilakukan secara turun temurun, atau lebih parahnya sudah tertanam di bangku-bangku pendidikan di berbagai tingkat. Dia merasa, ini salah satu jalannya supaya kecurangan-kecurangan yang pernah dia lakukan tidak menurun ke anak cucunya.

"Mas, " perempuan itu menyadarkannya, "Jangan pernah lepaskan aku ya."
"Tidak akan. Terima kasih karena selama ini bisa memahamiku dan membantu memahami diriku sendiri. Kamu cerminku. Aku tak akan melepaskanmu. Aku akan menggenggammu sejuta kali lebih kuat daripada aku menggenggam hapeku..." pengusaha itu tersenyum. Kemudian mereka hidup bahagia dan tinggal di sebuah kastil kecil di Skotlandia ditemani oleh seekor naga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lamaran Laa Roibafiih

Di suatu tempat yang sunyi, tersebut lah salah seorang pemuda yang sedang dirundung pilu. Di tengah-tengah kegelapan yang merubungnya dia tak mau membuka mata. Terpejam sampai tak tahu kapan waktunya. Meringkuk ia di sana. Rambutnya sangat kusut. Pakaiannya juga tak pernah berganti. Bau asam menyeruak dari tubuhnya. Bahkan ia sudah tak bisa melihat beda, mana makanan mana kotoran. Juga hati yang tak mengerti mana jeda, mana kesempatan, dan mana kerterburuan..... Hingga secercah cahaya datang. Cahaya yang kecil tapi cukup menenangkan. Cahaya yang dibawa seorang perempuan. Cahaya yang terpancar dari senyum simpulnya. Cahaya yang mungkin tak akan pernah padam atau dipadamkan. Cahaya yang jumlah tidak hanya 99. Cahaya yang berisi penuh dengan harapan. Tangan terjulur menawarkan kesegaran alur. Uluran yang sangat sayang untuk dilewatkan.  "Kemarilah. Ku temani kamu berjuang." perempuan itu berkata seraya wajahnya diterangi cahaya. "Kamu, mau menemaniku?" pemud...

Reposisi Kegembiraan Nabi

Ini hal yang cukup menggembirakan. Sangat menggembirakan. Iya. Benar-benar menggembirakan. Bagi orang yang tidak punya predikat bahkan pekerjaan apapun ini, 'diajak' kemana-mana adalah hal yang menggembirakan. Saya sudah tidak perlu bersusah payah menjadwal diri saya harus bangun jam sekian, harus makan jam sekian, harus mandi jam sekian, harus ke kantor jam sekian. Karena itu saya malah alhamdulillah. Tidak ada tanggungan apa-apa. Jadi kemana-mana saya ngikut saja sama ajakan teman-teman. Saya tidak punya pendirian yang kuat sebagai laki-laki? Iya, kalau cara berfikirmu lahiriyah. Kalau rohaniyah kamu akan menemukan hal-hal baru jika berinteraksi dengan spesies sejenis saya ini. Nggak percaya? Ketemuan yuk! Sambil ngopi-ngopi gitu. Ngemil-ngemil. Berdua aja sih. Khusus perempuan tapi. Nggak. Becanda. Saya percaya saja bahwa orang-orang yang mengajak saya keliling kemana-mana itu orang-orang baik dan disayang sama Allah sama Rosul. Karena diantara teman-teman, saya adalah yang...

Puasa Tidak Kuat

Ini sudah masuk pergantian tahun Islam dan Jawa. Biasanya paling enak kalau mengingat-ingat masa lalu. Kalau ada yang baru, biasanya yang lama malah bikin rindu. Sedikit membongkar-bongkar file-file usang. Tapi saya tidak akan membahas tentang manuskrip kuno saya yang dari abad ke-4 sampai sekarang belum berhasil saya selesaikan. Huruf depannya S belakangnya I. Betul! SAPI! Skripsi skripsi! Itu barang teraneh yang pernah saya temui dalam hidup. Semoga Desember ini kelar. Februari 2013 bisa ikut adek-adek lima atau enam tingkat di bawah saya wisuda. Nanti gelarnya Sarjana Masbuk saja, tidak usah Sarjana Seni (S.Sn). "Saya nikahkan Didik Wahyu Kurniawan Sarjana Masb..... Lho ini nggak salah?" "Apa pak?" "Ini?! Mana ada gelar Sarjana Masbuk? Jangan guyon ah dek!" "Ada pak penghulu. Serius. Nih!" menyodorkan buku Sarjana Masbuk. Sombong dikit lah. Sekali-kali. Iya, bulan puasa lalu hampir tidak ada catatan. Sayang sekali memang. Tapi a...