Langsung ke konten utama

Malaikat Pelukis Iler

Sebentar, selonjoran dulu. Soalnya kemaren habis jalan-jalan. Liburan saya. Biar orang mengira saya seorang pekerja. Pekerja kan butuh liburan. Ini masih ngantuk-ngantuk. Apa? Nggak lah. Justru karena itu saya terlihat makin tampan. Iya. Kalian nggak harus setuju sih. Tapi model paling jujur sedunia adalah 'Bangun Bobo' mode on. Wajah terlihat apa adanya. Dimana iler yang mengering di sekitar mulut membentuk sebuah rangkaian abstraksi yang artistik. Lho iya kan? Kalian nggak sadar sih. Sebenarnya ada malaikat yang membentuk motif iler itu lho. Tenang aja malaikat bukan makhluk Mars kok. Susah lho itu bikinnya karena setiap manusia memiliki motif iler kering yang berbeda. Jadi pas tubuhmu tergeletak tak sadarkan diri, malaikat yang biasa menjagamu lantas mengambil kayu kecil seukuran korek api. Kemudian dia mendekati tubuhmu pelan-pelan supaya tidak menimbulkan goncangan yang bisa mengakibatkan kamu tersadar dan bangun dari bobomu. Pernah mengalami mimpi kan? Mimpi itu sebenarnya pengalihan perhatian supaya kamu tidak merasakan apa-apa ketika ada malaikat yang melukis motif iler di sekitar mulutmu. Mimpi itu kan kayak kamu lagi melihat pemutaran film. Filmnya mungkin lebih dari 9 demensi karena terkadang kita benar-benar merasakan dan mengalami peristiwa itu langsung. Nah, sebenarnya lagi, kamu bisa request mau diputeran film apa yang sesuai dengan suasana hatimu. Misalnya kamu belum pernah ke Jepang. Nah, sebelum bobo kamu bilang sama malaikatnya.

"Eh, nanti kalau kamu lagi gambarin ilerku, tolong nanti bawa aku ke Jepang ya."

Begitu kamu bangun kan hatimu seneng dan sama sekali nggak merasakan apa-apa sewaktu malaikat membikin ilermu, nah kamu langsung berdoa, "Ya Tuhan, semoga mimpiku tadi menjadi nyata.". Paham kronologinya kan? Besok pas bangun jangan langsung ke kamar mandi. Coba ngaca sebentar. Amati motifnya. Setiap hari kamu akan menemui motif yang berbeda. Makanya sering ucapin terima kasih kepada malaikat. Siapa tahu malaikatnya seneng terus laporan sama Tuhan.

"Ya Tuhan, berilah tambahan rezeki kepada si fulan karena telah menyukuri bentuk iler yang telah hamba buat."

Aduh. Bentar selonjorin kaki lagi. Badan masih pegel-pegel. Ini peradaban sangat aneh. Orang minta libur, begitu liburan badannya diaktifkan melebihi ambang batas. Terus pagi-pagi pas bangun bobo bilang, capek sih tapi seneng. Meski seneng ya tetep capek. Padahal ketika kamu seneng, rasa capekmu itu tidak seharusnya ada. Pas seneng, seluruh sel, kelenjar-kelenjar di dalam tubuh ini semua ikut seneng dan nggak ada yang capek. 'Capek tapi seneng' itu kayak ungkapan 'jelek sih tapi aku cinta'? Cinta kok masih jelek-jelekin. Terserah situ lah. Yang penting jangan lupa diamati iler masing-masing. Iya, urusi saja iler masing-masing. Nggak usah ngurusi iler orang lain. Bakalan beda. Tenang aja. Nggak usah berdebat soal iler siapa yang paling indah bentuknya. Atau nggak perlu juga saling bertukar iler. Bau gitu juga iler saya sendiri. Serunya topiknya. Kenapa jijik? Jorok? Sekarang situ punya iler nggak?

Bahasa kita itu keren lho. Sama-sama air di sekitar mulut aja beda-beda namanya. Tergantung cara mengeluarkannya. Kalau dikeluarkan dari tempat yang agak dalam, tenggorokan, dan hasilnya agak kental namanya, dahak. Jawa menyebutnya riyak. Kalau dari dalam mulut saja dan dikeluarkan dengan cara ditiup namanya, ludah. Jawa menyebutnya idu. Kalau keluarnya menetes pelan semampai gitu, namanya liur. Jawa menyebutnya iler. Dari ketiga jenis tadi hanya iler yang keluarnya tidak bisa kita sengaja dan kadang tak terduga alias di luar kontrol manusia. Bisa sih disengaja, tapi harus mangap dulu berjam-jam. Mau situ? Makanya sekali lagi ada malaikat khusus yang menangani iler.

Syukur kalau kalian sudah mulai paham. Jadi mulai hari ini kalau kalian melihat anak yang sering ngiler, jangan anggap anak itu anak yang nggak normal. Kalian tahu, semakin banyak iler yang keluar, semakin banyak pula malaikat yang berada di sekitarnya. Malaikat yang bergantian pagi, siang, sore, malam untuk melukis iler-iler itu. Anak-anak itu masih dijaga para malaikat. Kalau manusia udah dewasa gini, paling cuma didatangi malaikat pas lagi tidur aja. Kadang beberapa malaikat malah udah enggan mendekat kepada manusia. Kemaren saya sempat ngobrol sama salah satu malaikat pelukis iler. Dia khusus menangani saya.

"Ini tiap hari update motif gini nggak bingung kamu?"
"Yeee, kita cuma ngerjain aja. Soal desain sih bukan urusan kami."
"Uhmmm. Gitu ya."
"Iya. Kita kan paling taat. Software kita beda dengan manusia. Sangat beda. Kita cuma taat dan taat."
"Memang ada berapa divisi malaikat sih?"
"Pertanyaanmu aneh. Deret hitung yang pernah dikenal manusia, bahkan yang termutakhir sekalipun nggak bisa menentukan jumlah kami. Kalian bisa menghitung kecepatan cahaya. Kalian yakini itu yang tercepat. Padahal masih ada rumus cahaya di atas cahaya. Jadi jumlah kami lebih dari pengetahuan yang dimiliki manusia tentang cahaya. Selalu tak seperti yang kau kira."
"Kamu?"
"Aku khusus melukis iler saja."
"Eh, nanti motifnya yang agak lucu gitu bisa nggak sih?"
"Yeee, ya nggak bisa minta kepada kami kalau itu. Desainmu sudah tertulis."
"Emang nggak bisa ditawar apa?"
"Bisa sih. Tapi bukan sama kami. Kamu juga aneh. Iler aja ditawar. Kemaren minta pengen lulus, minta pengen bisa beli ini itu, punya ini itu, jadi ini jadi itu, sekarang iler aja juga ditawar. Diterima aja kenapa sih. Ini kan cuma iler."
"Iya ya. Cuma iler kok ya ditawar. Kenapa nggak diterima aja ya?"
"Asal kamu tahu, kami malaikat pelukis iler bertugas berada di bawah naungan Departemen Rezeki Manusia. Jadi syukuri saja. Terima aja, nggak usah banyak tanya. Dan masih banyak divisi-divisi yang lain. Semacam yang bertugas mengurusi rambut, sel kulit, kelenjar-kelenjar, hormon-hormon, kuku, dan sebagainya. Yang ngurusi karakter sound dan volume ngorokmu juga ada."
"Siap! Sekarang aku mau bobo. Eh tolong nanti mimpinya nggak usah yang dikejar-kejar atau digigit ular lagi ya. Soalnya sudah ada dia yang mengisi hidupku. Hehehe.."
"DIAM! DIBILANGIN NGGAK USAH NAWAR MASIH JUGA NAWAR! DASAR MANUSIA! EMANG SITU SIAPA? KOK AKU HARUS NURUT SAMA SITU? EMANG SITU TUHAN?!"
"Eh, satu lagi. Malaikat, tolong jaga dia ya. Karena kami saling mencintai."
"Kalau udah gini ya, iya deh. Manusia emang...... Engkau benar Tuhan..."
"Eh eh eh, kalau aku lagi rindu dengannya pinjami aku sayapmu ya, supaya aku bisa terbang menjumpainya.."
"Tau darimana aku punya sayap. Ini anak emang sarap..."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...