Lagi-lagi saya harus memetakan tubuh saya sendiri, memahami anatomi tubuh saya sendiri. Meskipun sudah tua begini, sampai sekarang saya belum khatam terhadap tubuh saya sendiri. Agak repot juga. Makanya sekarang saya harus lebih sering meneliti tubuh saya sendiri daripada menelaah tubuh orang lain. Egois? No. Jangan secepat itu menyimpulkan sesuatu, karena ini bukan sekedar tali yang dapat dengan mudah disimpulkan begitu saja. Egois itu seolah kita mengerjakan sesuatu untuk orang lain, tapi sejatinya itu untuk kepentingan diri sendiri. Jadi kalau niatnya untuk orang lain ya dikerjakan semaksimal mungkin untuk orang lain. Perkara nanti kita kena imbasnya, itu hukum otomatisasi. Paham?
Sewaktu kecil, kelas 1 SD mungkin, saya pernah punya sejenis penyakit yang diderita Nabi Ayyub AS. Gatal-gatal. Tentu saja skala penyakitnya tak sebesar kanjeng Nabi Ayyub. Gatal-gatal di kaki yang kadang sampai muncul nanah juga. Kalau penilaian orang lain saat itu, penyakit saya cukup parah sebenarnya. Kedua kaki saya diperban seperti saya memakai kaos kaki. Ilmu kedokteran modern saat itu, mengharuskan saya disuntik secara rutin untuk mencegah gatal-gatal yang ditimbulkan dan menghindari beberapa jenis makanan. Di antaranya, ikan laut, udang, kepiting, cumi, kerang. Padahal, rumah saya termasuk area pesisir yang sehari-hari dekat dengan makanan-makanan itu. Gimana nggak tersiksa coba. Itu rasanya seperti kamu berada di dalam kamar dengan seorang perempuan yang bukan istrimu. Mau apa coba kalau selain puasa? Eh, analoginya kok gitu sih. Terus nggak boleh juga makan daging ayam. Karena menurut mereka itu adalah pemicu mempercepat timbulnya gatal di kulit.
Cukup lama saya dikaruniai penyakit seperti itu. Anehnya, ibu saya sabar. Saya masih diakui sebagai anaknya. Masih dirawat, dicarikan obat diboncengin sepeda buatan China kesana kemari. Iya sih, cinta orang tua terhadap anaknya itu absurditasnya luar biasa. Cuma Tuhan yang sanggup mencintai dan menyayangi orang tua saya. Iya cuma Tuhan. Cuma Tuhan sama Kanjeng Nabi Muhammad saja. Kalau saya sih meskipun saya berkorban mati-matian membahagiakan orang tua saya sampai kapan pun nggak akan pernah bisa menggantikan kasih sayang mereka terhadap saya. Makanya, doa yang diajarkan Tuhan sama saya, "Ya Allah, ampunilah dosa orang tuaku, dan SAYANGI lah mereka sebagaimana mereka menyayangi saat aku masih kecil...". Celakanya, kita selalu menjadi anak kecil di depan orang tua kita. Bener doa itu. Kita menyapa Tuhan, biar Tuhan aja yang menyayangi mereka. Kita mah cukup seolah-olah berbakti aja. Nangis? Iya sih air mata kita dan orang tua itu kayak satu kesatuan. Kalau ingat orang tua yang pertama kena efeknya ya mata kita. Wajar itu. Yang model beginian nggak diajarkan di sekolah formal.
Ibu saya mengupayakan segala macam jenis pengobatan. Sampai pernah ada metode yang cukup unik. Entah siapa yang mengajari ibu saya. Jadi kaki saya ini harus direndam dengan air laut. Lucu kan? Tidak boleh makan segala jenis hasil dari laut, tapi harus direndam dengan air laut. Hayo gimana logikanya? Saya yang saat itu masih kecil ya seneng aja diajak main air laut di pantai Kartini sana. Jadi tambah lucu karena metode pengobatan ini dengan mengajak saya bersenang-senang. Bukan merawatnya di atas ranjang seperti rumah sakit itu. Ini metode pengalihan perhatian yang cukup efektif. Panjenengan belajar dari mana tho Mbok? Saya tahunya pas sudah gede kalau ternyata aktivitas saya di pantai itu dalam rangka pengobatan bukan karena liburan.
Lagi, karena tak kunjung sembuh juga Ibu saya menggunakan metode yang mungkin bagi sebagian orang dianggap, tolol. Jadi, oleh ibu saya, saya diberi makan segala jenis makanan yang dilarang untuk saya. Saya mulai diakrabkan dengan semua makanan laut dan ayam. Pikiran ibu saya saat itu sederhana. Kalau hanya diberi makan tahu dan tempe serta daging sapi dan kambing yang mahal, lantas darimana gizi anak saya. Di awal saya cukup tersiksa karena kaki ini gatalnya minta ampun. Gatal, tapi jangan sampai digaruk. Karena kalau digaruk akan timbul luka baru dan penyakit saya tak akan pernah sembuh. Kalau gatal, yang digaruk bukan pusat gatalnya, melainkan area terdekatnya saja. Coba deh. Nanti akan anda temukan sensasinya. Gatal, jangan digaruk. Anda akan merasakan kegelian yang luar biasa dahsyat pembaca yang budiman.
But, you know apa yang terjadi selanjutnya. Penyakit saya lambat laun hilang. Yang masih menimbulkan tanda tanya besar dalam hidup saya sampai sekarang, Ibu saya dulu adalah pegawai instalasi gizi di rumah sakit. Dia tahu betul apa itu gizi makanan, apa itu pengobatan dengan kedokteran modern. Logikanya ibu harus 'nurut' terhadap anjuran dokter yang melarang saya makan ini makan itu. Tapi kenapa ibu saya malah menggunakan metode terbalik seperti ini? Ini kalau tidak paham, bisa menganggap bahwa ibu saya terlalu kejam pada anaknya. Nggak tahu. Ibu saya juga mungkin nggak kenal dekat dengan Nabi Ayyub. Tapi kalau melihat kronologisnya, akhirnya saat itu Ibu saya mampu membuka hatinya lebih luas bahwa, "Oh iya, anak saya memang lagi diberi cerita hidup yang seperti itu...". Jadi itu bukan menyiksa anaknya, tapi menerima anaknya dalam kondisi apapun.
Dari sana saya jadi paham sekarang. Bahwa kalau saya sedang merasa terkena alergi, itu bukan penyakit. Alergi itu cuma proses pergantian sel tubuh dengan kecepatan di atas kecepatan normalnya. Pernah pakai krim pemutih wajah? Efeknya apa? Kulit agak memerah kan? Well, kemaren saya merasa kena alergi karena makan udang, tapi tahu yang terjadi? No, itu bukan penyakit. Itu proses pergantian sel kulit karena setelah itu sel kulit wajah saya bertambah halus. Nggak percaya? Silakan cium pipi saya. Ini khusus untuk kamu lho. Hahahaha....
Thank's Mom.... "Darimana penyakitmu, itulah obatnya...."
Komentar
Posting Komentar