Langsung ke konten utama

Betapa Setianya Aku

Yeah! Sepertinya saya cukup bersemangat sekali untuk menulis hari ini. Tak pernah se-bergairah ini. Udara pagi lagi baik sama saya. Tadi saya ngomong sebentar sama dia.

"Kamu tumben baik banget sama aku." tanyaku.
"Ye! Aku juga tiap pagi, tiap hari berganti juga pasti dibilang baik sama manusia. Menyegarkan hidup mereka katanya." tutur udara.
"Salah siapa situ labil!" bentakku, "Kalau pagi seger, begitu siangan dikit aja, eh udah panasnya minta ampun!"
"Hus!" giliran udara menghardikku, "Kamu tuh yang bodoh! Aku stabil bukan labil! Manusia itu yang bikin kita, makhluk udara, jadi labil begini!" udara bertambah sewot. Saya nyengir.

Taulah, bisa tersinggung juga udara. Makanya sekarang saya kalau bangun pagi, lebih tepatnya kalau bisa bangun pagi, lebih tepatnya lagi, kalau beruntung bisa bangun pagi, saya suka menyapa makkhluk berjenis udara itu. Ada rumusnya kalau mau. Mau nyoba? Tapi ini cara saya lho. 
Pertama: senyum, ucapin salam, yang sejenis assalamualaikum juga gapapa
Kedua: sebut asma Allah, yang cocok gitu, misal yang standart digunakan Allahu Akbar 3 kali boleh
Ketiga: bilang aja gini, "Hai, kamu jangan marah ya, segarkan selalu hari-hariku."

Ntar paling dia bales gini, "Yang ngajarin siapa?" Jawab aja "Didik.". Paling dia juga bales lagi gini, "Oh, anak itu lagi? Sama orang gila kayak dia kamu percaya? Sebenarnya level dia itu baru bisa mengendalikan udara, sejenis kentut. Itupun dia masih sukar mengendalikan alias suka kentut sembarangan."

Iya, udara saja tahu siapa saya. Anehnya saya sendiri belum begitu tahu, apalagi paham siapa saya sebenarnya. Jangan-jangan saya adalah calon presiden RI tahun 3025? Saya cukup sering mendengarkan penilaian orang terhadap saya. Jadi saya malah seneng kalau ada orang, teman, yang mengomentari saya. Nah dari komentar-komentar yang terkumpul lantas saya kalkulasi, saya survey, saya cari mean, median, modus-nya bagaimana, setelah itu saya mencuri kesimpulan, tepatnya kesimpulan sementara, kalau saya ternyata seperti ini seperti ini dan seterusnya. 

Uhmmm, sementara ini saya mendapati 2 jenis kesimpulan tentang siapa saya berdasarkan hasil penilaian mereka. Pertama, saya jarang ganti baju, dan yang kedua, karena saya jarang ganti baju maka didapati pula kesimpulan kalau saya jarang atau bahkan divonis TAK PERNAH, mandi. Baik baik ya teman-teman saya itu. Mereka tahu siapa saya. Pujian mereka terhadap saya terlalu berlebihan. Baik, saatnya membuka press conference untuk menjelaskan itu semua kepada kalian. 

Air. Sebenarnya sejak kecil hubungan saya dengan air kurang begitu harmonis. Sering muncul imajinasi yang aneh-aneh tentang air. Ini serius. Jadi kalau saya mandi dan melihat air di bak mandi, seolah-olah ada monster berbentuk ular naga keluar dari dalam bak. Tidak, dia tidak memakan saya. Cukup menatap saya dengan tatapan -hai-aku-naga-kamu-siapa-mau-mandi-bareng-?-. Jadi rasanya geli aja gitu. Masa mandi bareng sama naga? Kalau mandi bareng sama istri enak. Lha ini? Masa mandi bareng sama naga? Iya kalau dia tiba-tiba nggak nyembur ngeluarin api? Oleh karena itu Didik kecil yang imut bin lucu sudah terlatih untuk tidak mandi. Mandinya kalau dibawain sapu sama nenek, dan terjadilah adegan kejar-kejaran. Nenek saya sedikit mengangkat jariknya, ambil kuda-kuda, dan muncul aba-aba, "DIDIIIIKKK!!! AYO MANDIIII!!! KALAU TIDAK NENEK PUKUL NANTIIII!!! CIYAAATTTT!!!". Sejak saat itu pula kecepatan lari saya 10 kali lebih cepat dari The Flash, dan sering menjadi juara lomba lari keliling RT.

Makanya air sekarang agak ngambeg sama saya. Dia protes, dan bilang kalau imajinasi saya terhadapnya berlebihan. Sampai-sampai kalau pergi ke pantai sekarang juga masih seperti itu, sering keluar imajinasi yang aneh-aneh setiap melihat air laut. Saya bayangin kalau laut itu sebenarnya kompor raksasa, tempat memasak air yang berasal dari beberapa sungai. Sampai sini bisa dimengerti ya? Laut itu apa tadi? Kom? Kompor, bagus. Dengan dibantu sinar matahari, dimasaklah air tersebut sampai menjadi uap air. Tugas udara, adalah menghantarkan uap-uap air itu menjadi air hujan dan didistribukan ke gunung-gunung. Gunung sendiri adalah semacam galon raksasa. Makanya air gunung itu sangat segar sekali. Ada yang belum mengerti? Ada yang mau ditanyakan? Nggak ada? Oke, diam berarti nggak ada yang bertanya.

"Air, kamu bisa nggak sih nggak ngambeg gitu?"
"Nggak! Nggak bisa! Kamu ngapain dekat-dekat sama aku?! Pergi sana!"

Kalau gitu, gimana caranya saya bisa mandi coba? Air dideketin aja nggak mau. Apalagi dicolek-colek pakai gayung. Atau sini ada nggak yang bisa berkomunikasi dengan air? Yang nggak dibenci sama air? Ada? Siapa? Air? Air siapa? Airlangga? Kamu lucu lho mas...

Sudah mulai paham ya. Bentar. Senyum sebentar boleh ya. Iya, jadi ingat nenek gara-gara cerita tadi. Beliau satu-satu nenek yang saya yang masih sempat saya temui dari keluarga ibu. Kakek dari keluarga ibu sudah lama meninggal sewaktu saya belum lahir. Kakek nenek dari keluarga bapak juga hampir sama ceritanya. Beliau tinggal dan ikut merawat saya dan kakak-kakak saya kalau ibu bapak pergi. Namanya, Mbah Minah. Lengkapnya mungkin Aminah, atau Suminah, atau Minah saja saya tidak tau. Tapi menurut imajinasi saya yang aneh ini namanya Aminah. Kayak nama ibu dari seseorang. Paham ya? Masih senyum nih saya.

Kami tinggal di rumah yang memiliki sejarah yang cukup aneh. Sangat aneh. Begini. Bentar ya cerita dikit. Ntar abis itu saya lanjutin lagi dengan pembahasan kenapa saya jarang ganti baju. Mungkin cerita ini ada sambungannya dengan hal itu. 

Menurut cerita, rumah yang terletak di salah satu sudut kota Pati itu adalah salah satu rumah tertua di kompleksnya. Konon beberapa ratus tahun lalu, terlalu jauh nggak ya, tersebutlah seorang juragan tembakau yang memiliki tanah yang begitu sangat luas menghampar. Di tanah tersebut berdiri bangunan-bangunan yang memiliki arsitektur sama, Joglo, rumah adat Jawa. Besarnya bangunannya hampir sama, termasuk luas halaman depan rumahnya. Sampai sekarang masih terlihat beberapa rumah yang terletak di sebelah rumah tersebut. Rapi sekali, seperti komplek perumahan sekarang tapi dengan halaman yang luas sekitar lima sampai sepuluh meter persegi. Lalu terjadilah sebuah peristiwa kebakaran hebat yang merugikan juragan tembakau tersebut sehingga beliau memutuskan untuk menjual tanah yang dia miliki. Kemudian datanglah seseorang yang misterius yang membeli salah satu bangunan. Konon, orang misterius tersebut adalah Dukun.

"Dulu, disini masih sering ditemukan tumpukan kemenyan le. Waktu ibu kecil aja masih kadang masih lihat penampakan kera putih di atas kamar yang sekarang kamu tempati. Kadang kera itu suka merusak dagangan Mbahmu. Kayu di atas, yang menjadi penyangga utama rumah ini, itu usianya sudah ratusan tahun. Dulu semapat ada yang mau menggergajinya, tapi tukang yang mau memotong itu kemudian jatuh sakit selama tiga puluh hari." ibu menuturkan kepada saya. Saya manggut-manggut sambil ngemil keripik tempe kesukaan saya.

"Dulu lengkap ada cengkir, kendhi segala macem. Sekarang sudah nggak ada. Keranya juga sudah lama pergi." ibu melanjutkan. Saya hanya berpikir, "Anaknya bayangin naga, ibunya bayangin kera putih, cocok lah."

Begitu sedikit cerita tentang rumah yang baru saja direnovasi dapur dan kamar mandinya itu. Jujur, rumah itu lebih adem daripada yang dulu. Adem banget. Halamannya masih luas dan ada pohon jeruk nipisnya. Minuman kesukaan saya kalau badan lagi kurang fit, wedang jeruk nipis. Ibu kemaren sempat promo sama saya, biar saya segera pulang melihat dapur dan kamar mandinya yang baru.

"Le, nggak pulang? Dapur sama kamar mandinya sekarang bagus lho. Bapak yang ngecat. Bagus wes pokoknya. Kamu bisa tidur di dalamnya." keren ya promo ibu saya. Anaknya disuruh tidur di tempat yang tepat, kamar mandi. Mungkin ibu saya ingin memperbaiki hubungan saya dengan air yang sudah rusak hampir bertahun-tahun dengan cara saya harus tidur di kamar mandi. Cara yang bagus bu. Siapa tahu juga ide saya tentang membuat air minuman kemasan khusus untuk air hangat segera terwujudkan. Syukur ada teman-teman yang ahli fisika kimia matematika atau sejarah mau membantu saya. Menurut saya kenapa di setiap bungkus atau botol air minum kemasan selalu tertulis,
"Lebih nikmat jika diminum dalam keadaan dingin" ? Karena memang belum ditemukan kemasan atau botol yang bisa menjaga minuman tetap panas minimal hangat yang dijual menjadi satu dengan minumannya dengan harga yang sama dengan air kemasan biasanya. Agar tidak perlu lagi repot-repot membawa termos kemana-mana. Terus agak memaksa, kalau teh masih mending diminum dingin, tapi kalau kopi, jahe, jeruk semuanya dipaksa diminum dalam keadaan yang dingin. Karena setahu saya di tempat tropis yang kadang juga bisa menyebabkan dehidrasi ini, minuman hangatlah jawabannya. Jadi kalau dehidrasi bukan minum yang dingin tapi yang hangat. Ini ngawur saja sih. 

Baiklah. Sudah ya. Sampai sini dulu. Itulah sedikit sejarah kenapa saya jarang mandi. Kalau jarang ganti baju, saya akan memberi jawaban yang cukup singkat dan filosofis sekali, gini. Ehem! Siap dengernya? Oke. Saya mulai. Bismillah, 

"Sama baju aja aku setia kok, apalagi sama istri....."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...