Langsung ke konten utama

Boediono dan Embargo Mars

Maaf lama ya nunggunya. Kemaren ada meeting sama beberapa perwakilan dari Mars. Tiga makhluk. Dari wilayah api, udara, sama tanah. Iya mereka hanya punya unsur itu sekarang. Karena perwakilan air sudah didelegasikan untuk tinggal di bumi. Sebagai duta besar Mars di bumi. Makanya Mars sekarang warnanya merah. Dulu sih mirip dengan bumi. Tapi karena perwakilan unsur air dikirim ke bumi jadilah ia terkesan gersang gitu. Apanya? Bentuk apanya? Fisik? Jiah! Mereka lebih tampan dari artis Korea yang cowok. Beneran. Tapi masih gantengan saya sih. 

Iya, mereka datang menemui saya. Lebih tepatnya memenuhi undangan dari saya setelah sekian lama. Iya kalau anda baca buku Sarjana Masbuk di bab paling awal, mereka sebenarnya mau datang ke bumi gara-gara hanya jatuh cinta sama tempe penyet lamongan. Seminggu mereka disini. Aslinya hanya sehari yang saya jadwalkan, tapi karena mereka sudah kangen sama bumi. Sudah lama nggak ada yang mengundang ke sini.

"Dulu sering nenek moyang kami ketemu dengan nenek moyangmu." kata perwakilan api.
"Ngapain aja kalian?" tanya saya sambil menemani mereka makan.
"Kami dulu sering mengirimkan bebatuan ke bumi. Nenek moyang kalian sering melakukan pemesanan kepada kami. Ada yang minta dikirim setahun sekali, tiga tahun sekali, atau yang berdurasi lama 80 tahun sekali. Kata nenek moyang kalian, batu dari planet kami, Mars adalah yang terbaik untuk digunakan membuat bahan-bahan 'penyimpan' energi. Ngerti keris? Pokoknya semacam itu. Karena benda-benda itu sudah bergeser fungsinya, dari penyimpan energi menjadi senjata alat pemuas keserakahan di antara nenek moyang kalian, maka kami sengaja menghentikan ekspor bebatuan. Tapi kami tidak serta merta memutuskan kerjasama itu. Kami tidak melakukan embargo total. Kami mengirim beberapa benih bebatuan untuk dikirim dan di tanam di beberapa titik. Termasuk di bawah gunung dan di dasar laut. Hanya sengaja tidak kami beritahu manusia. Kecuali kamu."
"Oh." responku.
"Kami cinta makhluk bumi. Beberapa nenek moyang kalian ada yang ramah. Makhluk bumi mengajarkan kami banyak hal. Termasuk cara menjaga ekosistem di planet kami yang minim air. Ada beberapa manusia yang masih sering berkunjung ke Mars. Mas Didik mau ke sana?"
"Aku?"
"Iya. Mas Didik mau kesana?"
"Nggak. Tepatnya belum. Saya lebih ingin ke bulan sebenarnya."
"Mas. Mending ke Mars aja deh. Bulan itu bagian dari bumi. Di sana memang ada beberapa bidadari. Tapi cuma beidadari yang mengikuti kontes kecantikan 'alam semesta' saja. Masih banyak bumi mas kalau soal bidadari. Tuh salah satunya." Kata perwakilan tanah dengan nada mengejek seteleh melihat foto wallpaper di ponselku.
"Matane!"

Ya akhirnya ketiga makhluk itu pulang. Di planet mereka, mereka sebagai makhluk yang tergolong tinggi di antara makhluk-makhluk yang lain. Tapi kemana-mana mereka sama sekali tidak butuh pengawalan. Karena merekalah pengawal rakyatnya. Di bumi kayak gitu nggak sih?

Saya mengalami hal yang paling aneh yang pernah saya alami. Ceritanya, makhluk dhalim seperti saya ini masih saja diberi kesempatan untuk membersamai deklarasi sebuah Majelis ilmu, yang melembagakan dirinya menjadi sebuah Yayasan. Majelis Tafsir Al-Quran (MTA) yang awalnya berdiri di kota Solo. Yayasan ini punya acara hajatan besar di Istora Senayan Jakarta tanggal 15 September 2013 kemaren. Sebuah acara dalam rangka deklarasi nasional peresmian 128 cabang majelis yang sudah tersebar di beberapa wilayah di Indonesia. Kalau nggak salah inget sih. Nah saya, tidak sengaja ikut menjadi salah satu pengisi acaranya sebagai pemusik. Iyalah, beruntung lagi saya. Akhirnya, terhitung 3 kali ini saya ke Jakarta. Keren ya. Baru 3 kali mendatangi capital city of Indonesia ini.

Ada beberapa orang penting yang diundang. Rencananya akan hadir bapak presiden kebanggan kita semua, bapak doktor, haji, Susilo Bambang Yudhoyono. Jujur saya kangen sama beliau. Karena hanya sekali saya menatap langsung wajah sendunya. Namun ternyata acara di ahad pagi itu tidak bisa dihadiri beliau. Kalau tidak salah ingat hari itu ada pak Jokowi, kalau ini sudah sering lihat waktu menjabat walikota Solo, terus Bupati Sukoharjo, Solo juga, terus ada ketua MUI pusat, terus ini dia salah satu tokoh yang sering membuat saya tidak bisa tidur dan tidak doyan makan karena saking rinduuuuuunya saya sama beliau. Bapak Boediono. Wakil Presiden kita. Alhamdulilah ya Allah. Rasa ingin sujud syukur saat melihat beliau datang diiringi oleh lagu Indonesia raya yang dinyanyika secara karaoke oleh ribuan jamaah yang hadir di gedung Istora itu. Kalau tidak ada pengawalan yang ketat, saya mungkin sudah berlari dan segera memeluk beliau erat-erat. Saya ciumi tangan beliau sambil berkata...

"Pak, kemana saja anda. Saya sangat kangen dengan bapak. Bapak sudah jarang terlihat di televisi kecuali pas sholat idul fitri kemaren. Atau bapak memang tidak ingin sering tampil di media karena takut dianggap pencintraan? Oh bapak, betapa rendah dirinya engkau..."

Ingin sekali saya melakukan itu. Namun keinginan saya terhalang oleh ketatnya pengamanan. Rakyat jelata yang kadang jalannya melata seperti saya ini mana mungkin boleh memeluk erat beliau. Terpaksa saya tahan rindu ini. Gimana tidak ketat coba, orang kami yang duduk duduk di belakang panggung saja tiba-tiba didatangi seorang pengawal beliau. 

"Nanti kalau bapak berbicara, tolong diam." begitu katanya tegas kepada kami para musisi yang sedang ngamen ini.

Iya, saya memang cerewet! Tapi masa sampai segitunya sih! Setahu saya kita cuma diam kalau ada khotib berceramah sebelum sholat Jumat. Itu kan hari minggu. Bukan Jumat!

*Sebelum ke Mars, aku ingin ke bulan dulu. Lalu pulang membawa bintang-bintang di saku. Untuk memperindah hidupmu....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...