Langsung ke konten utama

Postingan

Pakaianmu Pakaianku

Beberapa hari ini sempat bingung. Maunya beli banyak barang. Yang utama celana panjang, sepatu sneaker, sama kemeja. Karena kata orang-orang yang pernah suka sama saya, saya akan lebih keren kalau memakai tiga komposisi tadi. Celana panjang, sepatu, kemeja, yang rapi. Bukan yang lusuh bin sobek-sobek disana-sini. Entah kenapa bagian lutut dari celana panjang itu yang paling rawan sobek. Mungkin karena saking sering nya aku gunakan untuk bertekuk lutut di hadapmu ya? Yah dan seperti yang sudah-sudah setiap saya pergi ke toko, hasrat membeli ini semakin lama semakin memudar. Iya. Memudar. Apalagi kalau melihat antara isi dompet dan bandrol harga. Oke. Fix. Batal! Saya sering tidak sadar. Saat masuk toko itu, perasaan saya seolah-olah saya masih anak-anak usia SD. Karena kalau mendengar kata 'beli sepatu baru', 'beli baju baru', 'beli celana baru', yang tertangkap di memori otak yang aneh ini adalah bahwa saya masih SD. Jadi saya mikirnya juga baju-baju itu ha...

Cantik itu Basic

Karena semakin tidak banyak yang dikerjakan, akhirnya saya membelokkan motor grand pa ke tempat potong rambut langganan saya. Namanya potong rambut Pelajar. Murah meriah. Hanya tujuh ribu perak sekali potong. Potong rambut Pelajar ini hanya menyediakan jasa potong. Tidak ada keramas, creambath, toning, seperti salon-salon kecantikan dan ketampanan. Murni pure hanya dipotong. Dari sekian bisnis yang saya tahu, potong rambut adalah bisnis jasa yang hampir-hampir tidak menyediakan diskon bagi para pelanggannya. Tidak ada tempat potong rambut yang mau mengembalikan potongan rambut pelanggannya jika pelanggan tersebut tidak puas terhadap hasil potongannya. Yang dipotong juga harus menyiapkan keikhlasan sedini mungkin jika nanti di akhir kenyataan yang terjadi tidak sesuai apa yang diharapkan. Saya juga menyiapkan hati ini seikhlas-ikhlasnya manakala dengan tanpa rencana saya mampir ke potong rambut pelajar ini. Saya sepertinya kecanduan dengan salah seorang tukang potongnya. ...

Selamat Dulu Berdoa Kemudian

Entah berapa kali lagi saya harus mengucapkan banyak terima kasih untuk orang-orang di sekitar saya. Semua. Baik yang jauh secara fisik tapi dekat secara hati, maupun yang dekat secara hati dan dekat secara fisik.  Ini tentang peristiwa ulang tahun saya kemarin. Yang unik dari setiap ucapan selamat ulang tahun itu berisi doa. Tidak sekedar ucapan selamat saja. Contoh misal kita mau makan, kita berdoa dulu, lalu baru mengucapkan 'selamat makan'. Atau sebelum tidur. Berdoa dulu, baru setelahnya diberi ucapan selamat tidur. Kalau ucapan selamat ulang tahun itu, selamat-nya dulu baru doa-nya. "Selamat ulang tahun, semoga panjang umur, barokalloh, sukses, tercapai semua yang dicita-cita, WUADB...". Hampir senada dengan ucapan selamat menempuh hidup baru bagi pasangan yang baru saja menikah. Untuk WUADB ini saya mikir panjang. Saya terima sms itu lewat tengah malam. Shubuh baru saya buka. Ini mungkin karena ilmu bahasa saya selalu ketinggalan. Iyah. Saya man...

Garis-Garis Hujan

Hujan dan lagi-lagi hujan. Sialnya, kalau hujan datang, yang lain juga ikut datang. 'Yang lain' itu adalah, rindu, kangen, gundah, keluh, kesah, semuanya datang secara bergiliran absen masuk ke hatiku. Efeknya, lemes tak terkira. Mau berbuat apa-apa juga nggak enak. Yang ada cuma bantal sama selimut. Apa? Memberdayakan mereka? Makan bantal? Diapain? Tidak ada yang bisa dilakukan selain meratap dan meratap. Maunya fitnes di dalam kamar menghilangkan 'yang lain' itu. Tapi fisik sudah terlanjur lemes mau sit up, push up juga sudah males. Oh iya, ada lagi yang kalau hujan datang, ia juga ikut tiba. Namanya kenangan. Sudah, kalau si kenangan ini ikut datang, tambah runyam masalahnya. Sudah aku larang-larang. Sudah aku kasih police line juga masih merangsek terus membombardir barikade pintu hatiku. Mau mengusir mereka, tapi bingung dengan cara apa dan bagaimana metodenya. Iya. Kalau sudah begini, nggak ada yang bisa diperbuat selain menerima dan menerima. Sampai kepala i...

Ku Edit Kau dengan Bismillah (?)

Sms hari Rabu itu cukup menegangkan bagi saya. Antara senang dan bingung. Antara gembira tapi tak tahu harus berteriak atau pingsan histeris. Isinya sederhana. Anak-anak LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) PSYCHE dari fakultas psikologi UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta) meminta tolong kepada saya untuk menjadi pemateri dalam rangka pelatihan anggota baru mereka. Dalam pesan singkat itu mereka meminta kesediaan saya untuk berbagi cerita soal editing buku. Saya garuk-garuk kepala, cabut rambut sendiri, sambil kedip-kedip genit di depan cermin, "Ini apalagi?! Editing Buku?! Urusannya sama saya apa?! Itu terus saya nyari materinya dimana?! Lagian saya kan bukan cowok matre yang selalu berurusan dengan materi? Kalau menghadapi adek-adek mahasiswa yang masih berbau SMA, baru semester awal, kan mau tidak mau saya harus berbicara agak sedikit intelektual atau ilmiah akademis tentang perbukuan. Tapi apa?!! Apa yang akan saya bagi?! Sedangkan saya tidak punya apa-apa untuk dibagi?!...

Jus Kenangan

Masih sering ku tengok dari lantai dua. Dari dalam kamar yang kecil tapi luas ini. Dari kamar yang sederhana tapi mewah ini. Dari kamar yang sunyi namun ramai ini. Sebuah tempat, yang menyimpan dan merekam beberapa peristiwa. Tentang aku, kamu, bahkan tentang buku. Buku yang hampir kita tulis bersama, namun harus rela karena Yang Kuasa belum bersedia menerbitkannya. Ku beri nama warung itu, Jus Kenangan. Iya, ini tentang jus. Jus. Iya jus! Iya justru ini saya lagi mau bercerita. Tempat sederhana itu berada di kawasan belakang kampus UNS Surakarta. Warung yang selalu ramai, banyak dikunjungi para pelanggannya yang sebagian besar dari kalangan mahasiswa. Warung yang terkadang pula dijadikan tempat rapat aktivis kampus sambil minum jus. Ini dia ketrampilan orang Indonesia. Kalau anda melihat ada tulisan 'JUAL ANEKA JUS BUAH', bukan berarti warung itu hanya menyediakan menu jus buah saja. Bisa ada es buah, es dawet, bahkan es teh. Orang Indonesia selalu menyelipkan menu tambah...

Puasa Tidak Kuat

Ini sudah masuk pergantian tahun Islam dan Jawa. Biasanya paling enak kalau mengingat-ingat masa lalu. Kalau ada yang baru, biasanya yang lama malah bikin rindu. Sedikit membongkar-bongkar file-file usang. Tapi saya tidak akan membahas tentang manuskrip kuno saya yang dari abad ke-4 sampai sekarang belum berhasil saya selesaikan. Huruf depannya S belakangnya I. Betul! SAPI! Skripsi skripsi! Itu barang teraneh yang pernah saya temui dalam hidup. Semoga Desember ini kelar. Februari 2013 bisa ikut adek-adek lima atau enam tingkat di bawah saya wisuda. Nanti gelarnya Sarjana Masbuk saja, tidak usah Sarjana Seni (S.Sn). "Saya nikahkan Didik Wahyu Kurniawan Sarjana Masb..... Lho ini nggak salah?" "Apa pak?" "Ini?! Mana ada gelar Sarjana Masbuk? Jangan guyon ah dek!" "Ada pak penghulu. Serius. Nih!" menyodorkan buku Sarjana Masbuk. Sombong dikit lah. Sekali-kali. Iya, bulan puasa lalu hampir tidak ada catatan. Sayang sekali memang. Tapi a...