Cek cek cek...
Cek satu, dua, tiga....(aaaaa)
Yang duduk paling belakang bisa menangkap suara saya? Ha? Bisa ya? Sip. Mas operator tolong echo-nya dikurangi sedikit. Cek (eek).. Yap sip.
Yang pertama, selamat datang bagi teman-teman semua. Sesuai dengan apa yang saya instruksikan kemarin bahwa saya akan melakukan klarifikasi perihal jidat saya yang menghitam. Tapi mohon bagi teman-teman seperti biasa mari kita satukan persepsi, asumsi, dan segala hal yang berkait paut dengan itu demi kelancaran acara jumpa pers ini. Nanti akan ada sesi tanya jawab. Kalau mampu saya jawab, saya jawab. Kalau kurang puas dengan jawaban saya, saya minta teman-teman semua mau menerima dengan hati yang legowo. Maka mulai dari sekarang dan beberapa menit ke depan saya mohon teman-teman memperluas hati masing-masing. Supaya apa yang akan saya sampaikan ini nantinya benar-benar bisa diserap, setidaknya menjadi ilmu hikmah. Atau minimal teman-teman semua bisa mendapatkan satu kalimat premis bahwa, "Tuhan itu Maha Indah. Dia ciptakan makhluk ganteng bernama..."
Haaaahhh, menghela nafas panjang dulu. Lakukan peregangan otot sambil sesekali menguap. Karena menulis itu juga semacam olah raga, jadi harus ada pemanasan. Seperti apa bentuk pemanasan itu? Ada yang menyebutkan pemanasan, ada yang menyebutkan intro, ada yang menyebutnya prolog.
Sebagai manusia, sudah selayaknya saya mensyukuri nikmat Tuhan. Bahkan hukumnya wajib bagi saya sekarang. Saya dilahirkan di keluarga yang 'bukan siapa-siapa, 'bukan juga apa-apa'. Saya mendarat di bumi pertama kali di bawah selakangan kaki seorang perempuan mulia, yang berusaha mati-matian untuk menjaga keutuhan keluarganya. Dia rela melakukan apa saja, yang mungkin tidak banyak manusia di bumi ini mau melakukannya, sekali lagi demi keutuhan keluarga yang sudah dibangun bersama suaminya. Mereka, ibunda dan ayahnda saya. Yang sampai sekarang ini selalu memasang wajah biasa saja tatkala anaknya berkata,
"Bu, Pak, aku sudah punya buku lho..."
"Dik, cepat makan dulu. Ibu masak banyak." Jawab ibu. Cukup nyambung kan?
Saya, lahir dengan darah kesabaran dan kelucuan tanpa batas. Iya kesabaran dan kelucuan tanpa batas. Jadi tak perlu susah susah untuk menyuruh saya bersabar. Sabar itu salah satu elemen penting yang terkandung di darah saya. Amin. Sedangkan lucu, dalam hal ini bapak sudah berpesan kepada saya.
"Kamu ndak usah melucu di hadapan orang lain. Salah-salah itu malah bisa menghina mereka. Kamu ndak perlu melucu. Kamu itu sudah lucu. Orang ketemu kamu, kenal kamu, pasti banyak tertawanya daripada menangisnya. Pasti banyak senyumnya daripada cemberutnya. Pasti banyak bahagianya daripada sengsaranya. Karena ketika bibirmu tersenyum, sesungguhnya sel-sel di dalam hatimu lah yang pertama kali tersenyum. Dan ketika orang lain tersenyum kepadamu, sel-sel darah dalam tubuhmu itu akan menjadi lebih bahagia."
Pertanyaan saya kepada teman-teman yang hadir disini, apakah saya memang seperti itu? Apakah kehadiran saya di setiap momen perjumpaan baik langsung ataupun lewat tulisan, benar-benar seperti itu? Kalian tersenyum tatkala bertemu atau membaca tulisan saya? Bukan sekedar senyum emoticon melainkan langsung dari dalam hati teman-teman sekalian? Atau itu hanya cara bapak saya mengajari saya untuk menjadi pribadi yang lebih kuat? Saya tak pernah tahu itu. Cuma satu yang saya yakini, kalau kita mengirimkan energi yang baik energi itu akan benar-benar sampai dengan baik pula, meski sudah tidak utuh bentuknya karena terjadi pergesekan gelombang demi gelombang. Tak apa, meski sedikit yang penting baik.
Dan di hari ini, Jum'at ini, saya sudah duduk di hadapan teman-teman sekalian untuk melakukan klarifikasi besar-besaran, ber-tabayyun ria demi keseimbangan alam berfikir dan alam semesta teman-teman sekalian. Akan saya mulai dengan pertanyaan singkat. Apa reaksi teman-teman ketika melihat atau berjumpa dengan orang yang menghitam jidatnya. Takut? Kagum? Segan? Takjub? Atau tak berekasi apa-apa?
Saya ini pernah diprasangkai macem-macem oleh orang. Saya pernah dikira lulusan pondok pesantren. Pernah dikira seorang sufi. Entah apa sufi itu. Dan ada sebutan yang paling ekstrim, "Antum ikhwan underground?" Yeeesss!!! Runyam-runyam dah! Bapak saya bukan Kyai, bukan ustadz, bukan haji, bukan cendekiawan muslim, apalagi al ustadz, Kyai Haji, muslim negarawan atau apapun yang merujuk kepada itu semua. Ibu saya juga bukan aktivis akhwat. Mau jadi aktivis gimana, orang cuma lulusan SMP yang beruntung jadi pegawai negeri karena ada gerakan Kuningisasi waktu itu. Yang tua-tua pasti tahu soal sejarah Indonesia ini. Apa itu kuningisasi.
Sebenarnya saya tak risau dengan sebutan itu semua. Apa gara-gara dahi saya menghitam? Tak tahu. Namun di sisi lain memang ada semacam beban moral ketika orang lain mengenal diri kita tidak sebagaimana adanya. Saya jamin, itu repot. Bahkan merepotkan sekali. Misal ini, lagi asyik makan dengan calon istri, tiba-tiba ada sms masuk, "Mas, mau tanya-tanya soal Nabi Musa."
Bagaimana perasaan kalian coba? Padahalkan kalian lagi mau suap-suapan.
"Sayang-sayang, hak hak hak.... Sayang! Kenapa wajahmu berubah jadi Fir'aun?"
Pahit.
"Gantian kamu yang nyuapin aku ya yang... Hak hak hak.. Sayaaanggg!! Sendokmu berubah jadi ular!!!"
Susah.
"Sayaaang.. sup kita terbelaaaah... Aaaaa..."
Sedih.
Ada satu rahasia yang sebentar lagi tidak menjadi rahasia lagi. Perlu teman-teman ketahui, bahwa jidat saya menghitam sudah sejak lama. Tapi karena rambut saya dulu gondrong dan sering menggunakan model rambut poni lempar ala Andhika Kangen band, jadi jidat saya itu tertutupi. Beneran sudah sejak lama. Iya memang, selama setahun saya pernah dekat dengan aktivis kampus sebelah yang tinggal di sekitar masjid. Selama itu pula saya dipercayai bisa mengaji dengan baik, sehingga saya perlu menularkan ilmu saya kepada adik-adik TPA. Padahal saya hanya mendongengi anak-anak dan mengajak mereka bernyanyi-nyanyi. Saya juga jadi rajin ke masjid karena bapak kos saya adalah seorang muadzin. Jadi kalau beliau mau berangkat ke masjid untuk adzan, yang pertama kali diketuk adalah pintu kamar kos saya, "Ayo Le! Mejit po ra?"
Tapi kadang ada enaknya juga kok punya dahi menghitam. Beneran. Tahulah kalian yang ikhwan-ihkwan itu. Iya soal 'itu'. Ah pura-pura nggak tahu lagi. Yang ikhwan-ikhwan itu bisa ditanya. Iyaaa.. itu kalau ada sisa jajan pengajian semalam pasti dapat. Bercanda. Serius amat. Dikira soal akhwat?
Nanti, woy! Nggak usah ngangkat tangan! Sesi tanya jawabnya belum mulai! Itu ngapain!
Yah beginilah hidup di negara yang serba membingungkan. Gara-gara prasangka yang bukan-bukan itu pula saya iseng-iseng membingungkan diri dengan bertanya soalnya jidat yang menghitam ini. Kalau akhwat, perempuan, kok jarang ada yang jidatnya menghitam. Tertutup bedak? Mungkin iya. Tapi tidak juga. Saya mulai curiga. Kenapa yang banyak menghitam itu laki-laki? Tapi kalau perempuan konon katanya yang menghitam kaki. Sensitivitas kulit? Berarti kulit laki-laki lebih sensitif? Bukannya lebih sensitif perempuan? Ini jangan digeneralisasi lho. Saya ngomong pakai kata 'sebagian besar'. Sejauh yang saya temui, lebih banyak laki-laki yang menghitam jidatnya daripada perempuan. Ini cukup membuat fikiran saya gatal.
Atsaris Sujud. Bekas sujud. Ada yang beranggapan seperti itu. Bahwa hal itu dikarenakan terlalu lama dan sering digunakan untuk bersujud. Dan tanggapan saya untuk ini,
"Jidat menghitam itu sebagian besar ada di kaum laki-laki. Itu cara Alloh untuk mengingatkan bahwa masih ada 'hitam', kesalahan, kegelapan, dalam dirimu. Semakin kamu sering bersujud, semakin pula Alloh mengingatkan betapa masih hitam hidupmu. Sujud itu saat yang tepat untuk mengakui kesalahanmu dengan segenap kerendah hatian. Untuk yang masih bersih, itu karena Alloh masih menutupinya. Kenapa perempuan tidak menghitam? Ada fase haid bagi perempuan, itu sudah cukup menjelaskan."
Oke sesi tanya jawab segera saya buka. Silakan angkat tangan...
Ya yang pojok pake baju merah! Sebut nama dan TK asal......
Komentar
Posting Komentar